CERPEN: Ketika Cintaku Terkapar di Kaliketek

BOJONEGORO 1969. Waktu itu saya masih duduk di kelas satu. Saya lulusan dari SMPN 2. Sedangkan Widya lulusan SMPN 1. Kami berdua satu kelas di SMAN 1 yang dulu namanya SMA Negara. Lokasinya di Jl. Panglima Sudirman.

Sejak SMP memang saya dan Widya sudah pacaran. Jadi, tak heran kalau di SMApun cinta kami berlangsung terus. Apalagi, kebetulan kami satu kelas. Kata orang, cinta pertama adalah cinta yang terindah. Kebetulan, kami berdua sama-sama cinta pertama.

“Harry, jangan lupa acara besok,” pesan Widya sewaktu pulang sekolah.

“Oh, ya. Besok saya jemput jam 07:00 WIB ya?” jawab saya.

Esoknya adalah hari Minggu. Tentu, kami manfaatkan sebaik-baiknya. Dengan masing-masing mengendarai sepeda ontel, kami bergerak menuju ke Kolam Renang Dander lewat Jetak. Waktu itu jalannya masih rusak. banyak lubang. banyak batu berserakan dengan ukuran mulai sebesar ibu jari hingga ukuran kepala kambing. Juga, berdebut. Jadi, harus pandai-pandai memilih jalan.

Menit demi menit kami jalani jalan yang buruk itu. Akhirnya, dua jam baru sampai di tempat tujuan. Padahal jarak dari Kota Bojonegoro cuma sekitar 14 kilo meter.

“Kita istirahat dulu,” ajak saya setiba di Dander. Kami berdua menyandarkan sepeda di sebuah pohon besar. Kemudian duduk berdua di sebuah tempat duduk yang terbuat dari semen.

Betapa indah hari itu. Suara kicau burung, suara debur air yang ditepuk anak-anak kecil, suara teriakan-teriakan kecil dari mereka yang berenang dan suara orang-orang berjualan menawarkan dagangannya.

“Beli jagung rebus,yuk!” ajak saya. saya dan Widyapun membeli jagung rebus yang masih hangat. Empuh, gurih dan manis rasanya. Sungguh benar-benar indah hari itu. Bahkan lagu-lagu yang diputar dari kaset milik orang lain menambah indahnya suasana.

Selesai makan jagung, kamu berduapun berenang sepuas-puasnya. Sayang, saya tidak membawa kamera foto sehingga tidak ada kenangan yang bisa diabadaikan.

Sebenarnya tidak Cuma di Dander saja cinta kami terukit. Kami juga pernah ke Waduk Pacal. Sebuah waduk yang sangat teduh dan indah. Sayang, tidak dibangun jalan setapak agar kami bisa mengelilingi waduk itu. Jadi, Cuma bisa naik atau menuruni tangga yang jumlahnya ratusan itu. Sayang, objek wisata itu tidak pernah dikelola secara profesional.

Di Kahyangan Api juga pernah kami kunjungi. Biasa-biasa saja. Tidak ada daya tariknya. Sepi dari pengunjungnya. Objek wisata inipun tidak dikelola secara profesional. Lha wong bupatinya juga tidak punya daya kreativitas. Maklum saja.

Atau kadang-kadang kami membeli salak di Wedi, Kalianyar. Dulu, salaknya besar-besar dan gurih. Tidak seperti sekarang, kecil-kecil dan sepet. Tidak ada usaha untuk mengembangkan salak Wedi menjadi buah-buahan kebanggaan warga. Maklum, orang Indonesia memang terkenal malas untuk berkreasi.

Karena di dalam kota tidak ada objek wisata, maka acara saya dengan Widya paling jajan bakso dan es campur. Padahal, kalau mau, di tengah kota bisa dibangun objek wisata yang menarik. Misalnya ada lapangan multi fungsi. Bisa untuk voli, sekaligus bisa untuk tenis, basket, sepatu roda dan lain-lain. Juga bisa dibangun sarana-sarana wisata lainnya.

Dulu, masih ada gedung bioskop. Lokasinya di Bombok. Gedungnya lumayanlah untuk ukuran saat itu. Kebanyakan memutar film India dan China. Sering juga sih film Barat. Dan tiap malam Minggu, saya dan Widya pasti menonton bersama.

Sampai suatu saat, kamipun rekreasi ke Kaliketek. Sebuah jembatan yang terletak di perbatasan Bojonegoro dan Tuban. Kami berdua masing-masing bersepeda. Untunglah, saya membawa kamera. jaman dulu, kamera masih menggunakan klise.

“Ambil foto saya,dong!” pinta Widya. Kamipun berfoto bergantian. Untuk foto bersama, saya meminta bantuan orang yang lewat. Tentu, saya ajari dulu. Cukup lama kami bersenang-senang di Kaliketek.

Sampai akhirnya, Widya berkata.

“Harry, ada sesuatu yang ingin saya katakan…”

“Apa itu? Katakan saja…” pinta saya.

“Sebelumnya saya mintab ma’af,Harry. Mungkin saya tidak bisa ,eneruskan sekolah di SMA di kota ini. Saya harus pindah…”

“Kenapa harus pindah?”

“Soalnya, bapak saya dipindahtugaskan ke Mojokerto. Maklum, pegawai negeri kan harus siap dipindahkan ke mana saja”

“Jadi, Widya akan melanjutkan sekolah di SMA Mojokerto?” saya pandangi Widya dengan tatapan mata serius.

“Mungkin saya tidak melanjutkan sekolah”

“Lho, kenapa? Sayang kan kalau tidak taman SMA?”

Widya diam saja. bahkan pelan-pelan saya lihat di pipinya mengalir dua butir air mata.

“Kenapa?” saya penasaran.

“Maaf Harry. Saya dijodohkan. Dan di Mojokerto sayapun harus menikah…”

bagaikan disambar petir saya mendengar ucapan Widya.

“Kenapa Widya mau? “ saya agak marah.

“Saya satu-satunya anak orang tua saya. Apalagi, ibu saya sering sakit. Saya ingin membahagian kedua orang tua, Harry…”

“Jadi, hubungan kita hanya sampai di sini?” kata saya penuh rasa kecewa.

‘Apa boleh buat, Harry. Yang penting, kita tetap saling mencintai. Sampai kapanpun.”

Sayapun terdiam. Tak bisa berbuat apa-apa. Saya tidak bisa memaksa Widya untuk menolak keinginan kedua orang tuanya. Memang sakit hati saya mendengar kalimat-kalimat itu. Rasa-rasanya percuma kami berpacaran sejak SMP.

Pikiran saya tiba-tiba kacau. Kacau sekali. Kecewa.Kecewa sekali. Saya putus asa. Benar-benar putus asa. Saya cium Widya untuk terakhir kalinya.

Saya lepaskan dekapan saya.

“Selamat tinggal,Widya!” kata saya. sayapun secepat kilat naik ke pagar besi jembatan. Saya berdiri di atas pagar itu.

“Harry….Jangaaan….!” saya dengar teriakan Widya. Saya tak perduli. Sayapun nekat. Meloncat dari pagar terjun ke Bengawan Solo.

Tahu-tahu, saya sudah ada di rumah seorang penduduk. Beberapa saat, saya melihat Widya ada di samping saya. Saya baru sadar, saya telah diselamatkan warga-warga di sekitar jembatan Kaliketek itu. Usaha bunuh diri saya gagal.

Saya cuma bisa mengucapkan terima kasih kepada Pak Sugriwo dan Pak Darno yang telah menyelamatkan saya dari arus Sungai Bengawan Solo.

Sampai kapanpun saya tak akan melupakan peristiwa itu.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: