CERPEN: Antara Anisa dan Anita

PALEMBANG. Antara Anisa dan Anita tidak ada hubungan saudara. Bukan saudara kembar. Bahkan keduanya tidak saling mengenal. Apalagi, Anisa adalah dulu adalah suku Palembang sedangkan Anita suku Betawi.

Anisa adalah istri saya. Sudah tiga tahun saya menikah dan tinggal di Palembang. Namun, hingga tahun ketiga saya belum dikaruniai anak. Sedangkan Anita adalah mantan teman SMA di Jakarta yang secara kebetulan saya bertemu di Mal JM. Dia sudah berstatus janda tanpa anak karena suaminya meninggal karena sakit. Karena saya membutuhkan sekretaris perusahaan, maka Anita saya angkat sebagai sekretaris di perusahaan saya.

Hubungan saya dengan Anisa biasa-biasa saja. Artinya, tidak ada kemajuan apa-apa. Anisa yang sebenar banyak bicara itu ternyata di tempat tidur dingin-dingin saja. Akibatnya, sebagai seorang suami saya hanya mendapatkan kepuasan biologis saja sedangkan kepuasan psikologis nol.

“Ma, masak tiga tahun kita begini terus. Posisinya begini terus. Tempatnya di sini terus. Kita kan butuh variasi,Ma”. Suatu saat saya berkata jujur kepada Anisa.

“Habis, maunya gimana, Pa?”.

“Ya, sekali-kali ganti posisi,kek. Atau sekali-kali kita lakukan hubungan suami istri di luar kota”. Saya mengusulkan.

“Ah, Tuhan memang belum memberi kita anak,Pak. Walaupun posisinya ganti-ganti atau kita lakukan di luar kota, kalau Tuhan belum memberi kita anak, ya kita nggak akan punya anak”. Sanggah Anisa.

“Bukan itu maksud saya. Selama ini saya hanya merasakan kepuasan biologis. Sedangkan kepuasan psikologis saya tidak merasakan”. Agak kesal saya menjawabnya.

“Maksudnya gimana sih, Pa? Apa sekali-sekali saya harus ada di posisi atas? Saya kan bukan pelacur,Pa?”. Bantah istri saya yang tidak mengerti juga maksud saya.

“Iya! Semua orang tahu. Tapi komunikasi seks kita buruk sekali,Ma. Seharusnya ada keterbukaan. Kalau Mama puas, katakan puas. Kalau belum, ya katakan belum”. Saya berusaha menjelaskan.

“Saya kan perempuan,Pa. Masak harus ngomong-ngomong begitu. Yang namanya suami kan harus tahu dan mengerti bahwa istrinya sudah puas atau belum”. Bantah Anisa.

Perdebatan kecil seperti itu sudah sering terjadi. Bahkan sudah berlangsung tiga tahun. Namun tidak ada kemajuan sedikit pun. Lama-lama saya kurang bergairah untuk melakukan hubungan intim. Bahkan kadang-kadang sebulan Cuma satu dua kali saja. Gairah seks saya menurun. Bukan karena impoten, tetapi Anisa kurang mampu berkreasi.

Beda dengan Anita. Dia tampil modern, berpandangan maju, kalau diajak bicara selalu nyambung. Itulah sebabnya tiap kali tugas ke luar kota, Anita selalu saya ajak. Sebagai sekretaris perusahaan diua cocok sekali. Mampu mengatur jadwal rapat, menyusun materi rapat, membuat ringkasan rapat dan bahkan mampu membuat laporan manajemen perusahaan dan sekaligus laporan keuangan sederhana. Maklum, Anita adalah lulusan Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia (ASMI).

Selama enam bulan ini saya sudah bertugas ke Medan, Lampung, Manado, Yogyakarta, dan kota-kota besar lainnya di dalam rangka memperluas jaringan bisnis di dalam negeri. Namun yang agak lama yaitu di Singapura. Saya butuh waktu 15 hari di negeri itu.

Mungkin waktu yang cuykup lama dan tiap hari bertemu Anita di hotel dan jauh dari istri, maka terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi. Walaupun saya dan Anita tidak satu kamar, namun tetap satu hotel.

Semula saya masuk kamar Anita murni untuk membicarakan masalah perusahaan. Namun karena saat itu Anita sedang mengenakan pakaian minim, maka sebagai laki-laki normal saya pun goyah juga imannya. Apalagi layanan Anisa kurang memuaskan.

Anita tampaknya cukup tanggap. Apalagi sudah lama hidup menjanda. Maka terjadilah perselingkuhan saya yang pertama dengan Anita. Kemudian disusul dengan perselingkuhan-perselingkuhan lainnya di berbagai kota.

Sungguh berbeda hubungan intim saya dengan Anisa dan dengan Anita. Kalau Anisa bersikap pasif, dingin, tidak kreatif dan tidak komunikatif, maka Anita justru sebaliknya. Kalau Anita tidak puas, maka dia bilang tidak puas. Kalau puas, ya bilang puas. Dengan demikian sebagai laki-laki saya bisa berusaha mencari solusi. Terus terang, hanya pada Anita saya memperoleh kepuasan biologis maupun psikologis. Apalagi Anita mau melayani saya dengan berbagai posisi dan gaya sejauh itu dalam kontek yang wajar.

Setahun kemudian saya terpaksa mengambil keputusan menceraikan Anisa. Maklum sudah tiga tahun lebih tidak punya anak, komunikasi sudah tidak harmonis, apalagi sudah lebih dari setahun saya pisah ranjang.

Setahun kemudian saya menikah dengan Anita dan dikaruniai bayi perempuan, montok, putih, cantik dan lucu. Saya membeli rumah baru di Komplek Perumahan Citra Mandala Persada. Sebuah perumahan mewah.

Namun saya membeli rumah yang ukuran biasa-biasa saja. Artinya, cukup mewah tetapi ukuran bangunan hanya 140 dua lantai dan tanah seluas 500 meter persegi. Hari-hari berikutnya saya merasakan kebahagiaan lahir dan batin bersama Anita dan anak perempuan saya yang montok dan lucu.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: