CERPEN: Chelsea dan Kucing Kesayangannya

SAYA sebenarnya merasa kasihan terhadap Chelsea. Baru enam bulan dia beserta kedua orang tua dan kedua adiknya pindah rumah ke sebelah rumah saya di Bogor, keluarganya terkena musibah. Sepulang dari Taman Safari, mobil yang ditumpangi dan hendak pulang ke Jakarta mengalami kecelakaan beruntun. Kedua orang tuanya dan kedua adiknya tewas. Terpaksa dia hidup sendiri. Namun untunglah, adik iparnya yang bertempat tinggal di Sukabumi mau menemaninya.

Karena saya kenal baik dengan Chelsea, maka sayapun sering membantunya. Membantu apa saja termasuk membayarkan rekening listrik, telepon, dan lain-lain. Kebetulan saya sudah bekerja di pemda Bogor dengan gaji lumayan. Sedangkan Chelsea masih kuliah semester empat di salah satu perguruan tinggi.

“Sudahlah, semua sudah kehendak Allah swt. Semua kehendakNya pasti ada maksudnya. Ada hikmahnya. Masa depan Chelsea masih panjang. Masih ada harapan yang lebih baik. Suatu saat Chelse pasti akan berkumpul lagi dengan kedua orang tua dan kedua adik, di sorga” Begitu sering saya memberikan nasehat dan semangat.

Saya memahami kehancuran hati Chelsea. Oleh karena itu tak ada salahnya sebagai tetangga perlu memberikan perhatian. Untunglah Chelsea mau mendengarkan nasehat saya, juga nasehat tetangga-tetangga lainnya. Soal makan tak jadi soal karena bisa berlangganan nasi rantang. Soal biaya juga nggak masalah karena para warga secara bersama-sama bergotong royong membantu. Uang kuliah saya yang membantu.

Sepulang kuliah Chelse sibuk bermain-main dengan dua ekor kucing Persianya yang cantik. Bulunya lembut halus. Penampilannya sehat dan lucu. Kucing-kucing kesayangannya itulah satu-satunya hiburannya.

“Yang ini mananya Kaisar” Suatu hari Chelsea memperkenalkan nama kucingnya ke saya.

“Yang satunya lagi, yang agak kecil, yang perempuan ini namanya Ratu” Jelasnya lagi. Saya manggut-manggut dan memuji kelucuan kucing-kucing itu.

Beberapa bulan kemudian kecingnya beranak. Lahir empat kucing, namun yang satu mati. Sayapun membantu membelikan rumah baru untuk kucingnya. Memang, para kucingnya punya rumah berupa sangkar yang bentuknya seperti rumah. Juga ada tempat tidur khusus kucing. Makananya disediakan di kamar makan khusus kucing. Chelsea memperlakukan kucing-kucingnya seperti memperlakukannya sebagai manusia.

“Terima kasih lho, saya sudah dibantu” Dia berkata kepada saya sambil mengelus-elus Kaisar.

“Ah, sesama manusia harus saling menolong”

“Merepotkan ya, Mas?”

“Ya, enggaklah. Itu sudah kewajiban”

Chelsea memang gadis yang ramah. Apalagi dia juga cantik. Dia disukai dalam pergaulan. Tak heran kalau di lingkungan RT ataupun di lingkungan kampus Chelsea punya banyak kawan. Hampir tiap hari ada saja temannya yang datang. Ya pria ya wanita.

Satu tahun berlalu. Kucing Chelsea sudah dewasa. Sekarang punya lima kucing yang lucu-lucu. Chelsea punya rencana untuk bisnis kucing Persia supaya bisa berpengfhasilan sendiri dan tidak meminta bantuan keuangan dari tetangga-tetangganya lagi.

Usul itu saya dukung. Bahkan saya siap membantu permodalannya secara gratis. Ternyata sambutan Chelsea positif. Minggu itu saya dan Chelsea kemudian ke pets shop atau toko binatang. Sekaligus membeli lima pasang kucing Persia.

Halaman belakang rumah Chelsea memang cukup luas. Saya membantu membuat istana-istana baru bagi para kucingnya. Kebetulan saya alumni fakultas teknik arsitek, jadi saya buatkan istana-istana kucing yang bagus. Tentu, ukurannya mini.

Juga saya bangun WC khusus kucing, kolam renang khusus kucing dan tempat makan khusus kucing. Tak ketinggalan tempat bermain yang menyenangkan bagi kucing-kucingnya.

“O, bagus sekali” Pujinya ketika melihat istana-istana kucingnya telah jadi. Karena Chelsea sudah berpengalaman memelihara kucing Persia, maka bisnis kucingnya cukup lancar. Bahkan dia mampu membayar satu karyawan yang bertugas merawat, memberi makan, memandikan, dan mengontrol kesehatan para kucingnya.

Dia iklankan kucingnya melalui website-nya http://www. chelsea. pussycat. com dan hampir tiap hari ada orang yang membeli kucingnya. Harganya jutaan rupiah. Jangan heran kalau kemudian Chelsea memberitahu para tetangganya bahwa dia sudah mandiri dan tak perlu bantuan keuangan lagi.

Waktu terus berjalan. Bisnis Chelsea semakin maju. Kalau dulu kucingnya cuma dua ekor, sekarang telah berkembang menjadi 90 ekor. Bukan hanya kucing Persia, tetapi juga kucing dari beberapa jenis lainnya. Manajemennya cukup bagus sehingga tidak mengganggu para tetangganya.

Sumber foto: http://wallpaperaleadesign.blogspot.com/2010/09/wallpaper-kucing-lucu.html

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: