CERPEN: Bukan Salah Dieta

NAMA lengkapnya Dieta Taniasari. Dia tinggal di Bandung. Saya mengenalnya melalui kegiatan sahabat pena. Semula kenal lewat surat, tukar menukar foto kemudian janji bertemu. Sayapun ke Bandung naik kereta api. Sesampai di stasiun saya cari seorang gadis mengenakan baju biru muda dan rok pendek biru tua dan sepatu berwarna biru seperti yang dijanjikan. Katanya, dia menunggu di sebuah tempat duduk. Akhirnya ketemu juga.

“Hallo, Dieta”. Sapaku ke seorang gadis cantik berambut pendek. Gadis itu bangkit dan langsung bersalaman dengan saya.

“Hallo, juga. Harry,ya?”. Pertanyaan itu tak perlu saya jawab. Tapi saya langsung gandeng dia keluar stasiun kemudian menyusuri jalan. Saya memilih hotel yang letaknya sangat dekat dengan stasiun.

Wah, ternyata Dieta memang secantik fotonya. Waktu itu dia berstatus mahasiswi fakultas psikologi di Bandung. Sedangkan saya berstatus mahasiswa fakultas sastra di Jakarta.

Sesampai di hotel, sesudah saya mandi, Dietapun segera mengajak jalan-jalan ke beberapa tempat di Bandung. Cukup naik kendaraan umum. Maklum, Dieta tak punya kendaraan jenis apapun.

Kami berjalan ke mana saja kami suka. Dari toko ke toko, dari taman ke taman dari restoran ke restoran. Sesudah capai, kami kembali ke hotel. Karena hari telah sore, Dietapun pamit pulang.

“Oke, besok kita jumpa lagi”. Saya melambaikan tangan. Dietapun melambaikan tangan sambil keluar ruangan. Tak lupa senyumnya yang menawan. Saya tak sempat mengantarkan karena capai seharian jalan kaki.

Esok harinya saya diajak ke rumahnya. Ternyata dia tinggal di sebuah gang kecil, rumahnya kecil tapi rapi dan terkesan indah. Ibunya ramah sekali. Bapaknya tidak ada karena sudah dua tahun yang lalu meninggal. Dua adik perempuannya masing-masing sekolah di SMP dan SMA. Dieta anak pertama.

Siang itu saya makan siang di rumah Dieta. Kata ibunya, Dieta yang memasak. Sebenarnya sih, rasa makanannya kurang enak. Namun karena saya lapar, saya makan juga. Sebenarnya saya tidak suka makan ikan, karena tak ada pilihan lain, ya terpaksa saya makan juga. Kenapa ya, kok sebelumnya tidak tanya dulu apa makanan kesukaan saya.

“Makan seadanya,Harry”. Ujar Dieta.

“Kok, Harry makannya sedikit,sih? Nggak enak ya masakan Dieta?” Komentar ibunya.

“Ah, saya orangnya kurus tante. Nggak bisa makan banyak”. Itu alasan saya. Dieta dan ibunya tertawa kecil. Ibunya tidak ikut makan. Sehabis makan, kami shalat  Dhuhur bersama. Kemudian saya dan Dieta kembali jalan-jalan mengitari kota Bandung. Kali ini acaranya dari toko buku ke toko buku lainnya. Kebetulan saya dan dIeta ingin membeli buku-buku kuliah

Hanya dua hari saya di Bandung. Sesudah berkemas, saya segera menuju pintu keluar kamar tidur. Namun sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk mencium bibir Dieta. Ternyata dia tak menolak. Siang itu saya kembali ke jakarta naik kereta api Parahiyangan. Itulah kenangan pertama saya dengan Dieta.

Bulan berikutnya Dieta membalas kunjungan saya. Dia datang ke tempat kos saya di Grogol bersama seorang teman perempuannya. Usianya sebaya Dieta. Namanya Windy. Teman kuliah Dieta di fakultas psikologi. Cantik juga. Mereka berdua berencana menyewa salah satu kamar kos di tempat saya yang juga melayani sewa harian. Ada 20 kamar kos. Yang khusus disewakan lima kamar.

Malam harinya, saya mengajak Dieta dan temannya jalan-jalan ke Ancol. Sayapun mengajak Syamsul, teman kos saya yang merupakan teman kuliah tetapi adik kelas.

Entah kenapa, selama di Ancol saya justru sering dekat dengan Windy. Sedangkan Dieta lebih sering berdua dengan Syamsul. Bahkan keesokan harinya ketika kami berempat ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), hal itu terjadi lagi. Bahkan ketika berfotopun, Dieta ambil pose bersama Syamsul dan saya berfoto dengan Windy.

“Wah enak ya tinggal di Jakarta. Objek wisatanya bagus-bagus”. Komentar Windy ketika kami berjalan-jalan di TMII. Tanpa saya sadari, saya dan Windy saling bergandengan tangan. Aneh juga, Dieta tak marah melihat itu.

Hari-hari selanjutnya memang hari-hari yang aneh. Sebulan sekali saya dan Syamsul ke Bandung. Anehnya, saya berkunjung ke rumah Windy , sedangkan Syamsul berkunjung ke rumah Dieta.

Akhirnya yang terjadi adalah, Syamsul berpacaran dengan Dieta dan saya berpacaran dengan Windy. Kalau itu terjadi, maka itu bukan salah Dieta memperkenalkan Windy ke saya. Toh, Dieta juga tidak marah. Bahkan memberikan dukungan. Sebuah persahabatan yang aneh, tetapi menyenangkan dan benar-benar terjadi.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: