CERPEN: Cintaku Berat di Ongkos

SAAT itu saya baru saja membuka LPK atau Lembaga Pendidikan Komputer INDODATA di Komplek Perumahan Pondok Hijau Permai, dekat pintu tol Bekasi Timur. Sudah merekrut beberapa instruktur komputer lulusan Gunadarma, UI, Binus dan lain-lain. Untuk staf administrasi minimal sarjana muda dan saya pilih beberapa yang cantik. Lho, kok cantik? Ya, iiyalah. Buat daya tarik. jadi, ada unsur marketingnya, begitu.

Tetapi karena saya masih bujangan, tentu saya sangat masuk akal kalau jatuh cinta sama salah satu karyawati. namanya Vanny, pindahan dari Palembang. Sebagai laki-laki normal tentu saya tahu Vanny memang cantik, putih, mulus, seksi dan cukup gaul. Setelah tiga bulan melakukan pedekate, akhirnya Vannypun nempel di sisi saya. Semudah itu? O, tiga bulan penuh perjuangan.

Di kompleks perumahan itu dia tinggal sama kakak perempuannya yang sudah menikah. Pertama kali datang, saya diusir kakak perempuannya. Kedua, dites membaca Al Qur’an. Kedatangan ketiga kalinya ditanya, serius tidak dengan Vanny. Tentu, saya jawab serius.

“Kalau serius, sering-sering ke orang tua Vanny di palembang,” kata kakaknya Vanny saat itu. nama kakaknya Verra.

Ya,iyalah. namanya juga jatuh cinta. Sebulan sekali saya ke Palembang bersama Vanny. Kadang naik pesawat kadang naik bus. Tentu, untuk pengelolaan LPK INDODAT saya menunjuk wakil. Saat itu total karyawan saya ada 24 orang dan jumlah siswa yang kursus komputer ada 500 siswa. Pemasukannya lumayan.

Pertama kali ke Palembang naik pesawat dan turun di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, kalau nggak salah ingat. Yang penting saat itu langsung naik taksi dan meluncur ke rumah orang tua Vanny melewati Jembatan Ampera, dekan terminal Pak Jo, kalau nggak salah sebut namanya. Maklum, soal nama saya tidak begitu peduli.

Rumahnya cukup besar. Ternyata ayahnya seorang pengusaha sukses. Ibunya juga punya ruko di Kota Palembang, bisnis emas perhiasan. Di rumah ada tiga buah mobil. sayapun diperkenalkan ke kedua orangtuanya yang saat itu libur. Maklum, hari Minggu kedua orang tuanya memang libur. Sambutan kedua orang tuanya kaku. Tidak ada senyuman. bahkan sorot matanya yang tajam memandangi saya dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah saya ini teroris, begitu. Vannypun memperkenalkan saya dengan kedua adik perempuannya. Vanny tidak punya saudara laki-laki. Malam harinya saya menginap di Hotel Sriwijaya dan tidak mungkin tidur di rumah Vanny.

Esoknya, kedua orang tuanya tak ada di rumah. Sibu di tempat bisnis masing-masing. Saat itulah Vanny mengajak saya ke beberapa tempat wisata. Cukup mengendarai motor. Untung, saya membawa SIM A dan C.

“Kemana kita?” tanya saya yang sudah siap mengemudikan motor. Vanny ada di boncengan.

“Sudalah, ikuti saja petunjuk saya,” ujarnya.

Motorpun melesat. Paling dekat, istirahat sebentar di Jembatan Ampera. Berfoto bersama. Sebuah jembatan yang cukup bagus, melintasi Sungai Musi yang cukup lebar dan panjang.

Berikiut ke Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, sebuah site peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang terletak di tepian Sungai Musi. Di sini, terdapat sebuah prasasti batu peninggalan Kerajaan .

Lantas ke Taman Purbakala Bukit Siguntang, lokasi di perbukitan sebelah Barat Kota Palembang. Terdapat banyak peninggalan dan makam-makam kuno Kerajaan Sriwijaya. Wow, membuat bulu kuduk merinding.

Juga mampir ke Monumen Perjuangan Rakyat,sebuah museum yang menyimpan banyak benda – benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya.Terus ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, terletak di dekat Jembatan Ampera . Terakhir ke Masjid Cheng Ho Palembang

“Huh! Capek. Mondar-mandir…” keluh saya. Soalnya petunjuk Vanny tidak sistematis, jadi harus bolak-balik dan melewati jalan yang pernah dilewati. Tapi, tak apalah. Demi cinta. Saat itupun kami singgah makan siang di resto dekat Hotel Sriwijaya. Rasanya nikmat sekali.

Begitulah, sebulan sekali saya harus ke Palembang. Kata orang-orang, kalau tidak pandai-pandai mengambil hati kedua orang tuanya, jangan harap bisa mendapatkan Vanny. Indikasinya, selama kedua orang tuanya belum tersenyum berarti saya belum bisa melamar Vanny. Wah, kok “ono-ono wae,to”?

Tapi demi cinta, tak apalah. Tiap bulan saya tetap ke Palembang. Saat itu sekali ke Palembang menghabiskan biaya Rp 1 juta. Lumayan berat. Namun karena saya tertantag menundukkan hati kedua orangtuanya, semua harus saya hadapi. Tantangan demi tantangan harus saya hadapi. Bukan hanya disuruh membaca Al Qur’an, tetapi saya juga diwajibkan menguasai salah satu ilmu bela diri. Ini yang saya tidak punya. Terpaksa, sejak saat itu saya ikut mendaftar di perguruan silat yang ada di Bekasi. saya memilik silat karena ini merupakan budaya Indonesia.

Bulan-bulan berikutnya ketika saya sudah sedikit menguasai silat, sayapun diuji ayahnya. Saya ditantang duel. walaupun bohong-bohongan, tetapi saya tetap kalah. Kok aneh-aneh saja orang tua Vanny ini. Mau melamar anaknya saja harus ada syarat ini syarat itu.

Tanpa terasa, setahun sudah berlalu. pada bulan keduabelas itu, barulah kedua orang tuanya mau tersenyum kepada saya. Artinya, saya dianggap lulus tahap pertama. Huh, ada-ada saja.

“Orang tua saya memang orang Palembang kolot, Harry. Maih terikat tradisi nenek moyang dari silsilah kami Harap maklum,” begitu kata Vanny suatu saat ketika kami sedang makan makan siang di salah satu resto di Hotel Novotel.

Sebenarnya tidak hanya objek wisata saja yang kami kunjungi. Tak lupa sayapun mengunjungi pusat-pusat belanja seperti JM pasaraya, JM Plaju, Ramayana Departmen & Store, Senter Point Square, Carrefour Jakabaring ataupun ke The Fame City Walk. Tentu, harus belanja, terutama baju dan lain-lain.

Tanpa terasa sudah 13 bulan dan sudah 13 kali saya ke Palembang. Sebagai pengusaha, semua pengeluaran selama saya pacaran dengan Vannypun saya catat. Ha ha ha….Dicatat? Buat apa? Tak apalah. saya catat di buku pembukuan khusus. Sesudah saya hitung, selama 13 pacaran dengan Vanny, saya telah menghabiskan uang pribadi sebesar Rp 25.545.775. Hampir Rp 26 juta. Wow! Saat itu uang sebesar itu cukup besar. Pengeluuaran terbesr untuk biaya pesawat, hotel dan belanja.

Karena saya tak mau rugi, sayapun memutuskan untuk segera melamar Vanny. Sesudah meminta persetujuan kedua orang tua, maka untuk bulan ke-14 saaya ke Palembang lagi bersama Vanny untuk menanyakan syarat-syarat pelamaran dan pernikahan. maklum, Vanny yang orang Palembang menginginkan pernikahannya secara adat Palembang, tidak mau secara adat Jawa karena saya orang Jawa.

Hari tupun saya ditemui kedua orang tua untuk membicarakan proses lamaran dan syarat-syaratnya. Semua saya catat dengan baik.

“Dan jangan lupa, emas kawinnya,” kata ayahnya. saat itu Vanny duduk di sebelah saya.

“Syaratnya berupa uang tunai atau emas,” sahut ibunya.

“Sekitar berapa,Om,” saya ingin tahu.

“Sekarang sekitar Rp 100 juta,” jawabnya yang membuat saya luar biasa terkejut. Namun saya berusaha tenang. Uang sebesar itu, pada tahun 20011 sekarang nilainya sama dengan Rp 250 juta, senilai rumah mungil di kawasan Pamulang. Sesudah mencatat semua syarat-syarat, seperti biasa, sayapun mengantarkan Vanny belanja.

Sampai di Bekasi saya langsung meminta pertimbangankedua orang tua saya. Ternyata kedua orang tua saya tidak sanggup menyediakan uang sebanyak itu. Maklm, ayah saya sudah pensiun. Kekayaan orang tua saya juga tidak sebanyak itu.

Terus, bagaimana nih solusinya? Demi cinta ataukah demi orang tua? Kalau demi cinta, emas kawin sebesar itu tidak ada. Ditawar? Hehehe…emas kawin kok ditawar. Malu saya.

 

Tiba-tiba saya dikejutkan masuknya seorang cewek ke ruang kerja saya di LPK INDODATA. Oh, ternyata Elsya, mantan pacar saya yang baru menyelesaikan studi di University of California, Los Angeles, Amerika.

“Wow….kejutan,nih…!” sayapun menyambut kedatanganya dengan hangat. Sekaligus saya memanfaatkan kesempatan untuk kembali ke Elsya. Kebetulan juga Elsya masih sendiri dan mau menerima saya sbagai pacarnya lagi.

Tiga bulan kemudian saya saya memutuskan hubungan dengan Vanny. maklum, berat di ongkos. Sedangkan dengan Elsya tidak berat di ongkos karena Elsya orang Jawa dan kedua orang tuanya juga kaya dan pengertian. Satu bulan kemudian saya menikah dengan Elsya di sebuah gedung di Jakarta Selatan. Vannypun hadir dan menerima kenyataan itu secara dewasa.

Saya menyesal berpacaran denganVanny. Selama pacaran, telah menelan biaya Rp 25.545.775 dan kalau dinilai tahun 2011 nilainya sekitar Rp 50 juta.

Benar-benar berat di ongkos.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: