CERPEN: Ah…!!! Ada-Ada Saja

 

KEJADIANNYA sudah lama sekali,yaitu sekitar tahun 1965.Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMP di kota Semarang, Jawa Tengah. Persoalannya, dimulai dari kejadian yang tidak saya sengaja. Begini,saya keluar kelas secara terburu-buru,maklum jas istirahat.Saya menuju  ke kamar kecil untuk buang air kecil.Namun,baru saja saya melangkah ke luar kelas,saya menabrak siswi dari kelas lain.

“Aduh…lihat-lihat,dong!”,gadis itu memarahi saya.

“Maaf!”,kata saya sambil mengulurkan tangan meminta maaf.Siswi tersebut adalah siswi baru pindahan dari SMP kota Malang,Jawa Timur.

“Sekali lagi,saya minta maaf,Dewi…”,saya minta maaf lagi.Gadis itu bersedia menerima uluran tangan saya sambil berkata.

“Maaf sih,saya maafkan.Tetapi kenapa kamu mengganti namaku dengan Dewi?”,ucapnya ramah.

“Lho,kalau begitu siapa,dong?”,saya bertanya.Percakapanpun menjadi akrab.

“Panggil saja aku,Irsha”,dia menyebut namanya.

“Lengkapnya”,saya ingin tahu.

“Irsha Ardhika.Kamu siapa…?”,dia juga ingin tahu.Pandangannya tajam tapi bening.Cantik juga gadis itu.

“Saya Harry. Harry Laksamana”

“Kok kamu terburu-buru,mau kemana…?”,Irsha bertanya.

“Kamu,eh..Harry mau kemana kok terburu-buru…?”

“Mau..eh,ke..ke kantin. Minum-minum.Mau ikut”,saya tiba-tiba berbohong.Maklum,saya melihat ada kesempatan bagus saat itu.

“Kalau ditraktir sih,..boleh-boleh aja..”,jawab Irsha sambil tersenyum.

“Minum apa?”,tanya saya setelah kami berdua duduk di kantin.Terus terang,saya agak gugup duduk berdua dengan Irsha.Maklum,pelajar SMP jaman dulu tidak sebebas jaman sekarang.

“Coca Cola saja…”,pintanya.Sayapun segera memesan Coca Cola untuk Irsha dan Fanta untuk saya.

“Coca Colanya manis,ya…”,saya mulai memancing.

“Iya”,singkat jawab Irsha.

“Kalau begitu,sama dong dengan Irsha.Irsha juga manis…”,saya memberi pujian sejujurnya.Tampak Irsha tersenyum tersipu-sipu.

“Ah,…ada-ada saja…”,komentar Irsha singkat.

Seminggu setelah itu, persahabatanpun semakin akrab.Sepulang sekolah,kami berdua bersepeda berkeliling kota sambil berbicara dan bercanda.O,indah sekali rasanya saat itu.

“Jika kota Semarang ini boleh dibeli,maka saya akan membelinya”,kata saya sambil mengayuh pedal sepeda.Maklum,jaman dulu saya tidak punya sepeda motor.

“Untuk apa?”,Irsha bertanya singkat.

“Untuk kita berdua”,saya menjawab lebih singkat lagi.

“Untuk kita berdua? Ah,ada-ada saja…!”,Irsha tertawa.Ya Tuhan,betapa sempurna kecantikan Irsha.Saya menyukai semua ucapan maupun gerak-gerik Irsha.Semua terasa indah.Irsha,sungguh cantik.

Tiga bulan kemudian,seusai latihan kepanduan atau kepramukaan menurut istilah sekarang,Irsha saya boncengkan untuk pulang ke rumah.

“Pulang? Untuk apa.khan masih siang.Di rumah kita tidak bebas,ada papa sama mama”,katanya.

Saya pun tidak jadi mengantarkannya pulang ke rumah.

“Bagaimana kalau kita putar-putar kota sampai besok pagi?”,saya menggodanya.

“Ah,ada-ada saja…”,lagi-lagi Irsha mengatakan “Ah,ada-ada saja…”

Setahun kemudian.Kami telah kelas 3.Siang itu SMP kami mengadakan pesta pora karena seluruh kelas 3 dinyatakan lulus 100% dan berhak meneruskan ke SMA.Waktu itu,saya terpilih sebagai The Best Student II,sedangkan The Best Student I diraih Irsha.

“Selamat ya,atas kemenanganmu mengalahkan nilai-nilai saya.Irsha ternyata hebat!”,saya memberi ucapan selamat untuk Irsha.

“Ah,ada-ada saja….”,komentarnya singkat.

Siang itu kami berdua berkeliling kota dengan Irsha.Roda sepeda terus menggelinding di Jl.Sugyopranoto,belok kiri ke Jl.Pemuda,Jl.HA Salim,Jl.Patimura,terus melewati Jl.Citarum

Lantas saya berkata:

“Saya nggak menyangka kalau cewek secantik kamu ternyata mempunyai otak yang brilian”

“Maksudmu”,Irsha ingin tahu.

“Soalnya, maaf, biasanya cewek kalau cantik itu bego,karena waktunya habis untuk bersolek dan tidak punya waktu untuk belajar.Jarang lho,ada cewek cantik yang IQ-nya tinggi seperti Irsha”,lagi-lagi saya memujinya.

“Ah,ada-ada saja…!Cowok yang ganteng tapi bego juga banyak,kok!”,Irsha membalas meledek.

 

Sementara itu,sepeda telah melewati Jl.Bugangan.

“O,ya saya lupa bilang sama Harry kalau orang tua Irsha akan pindah ke luar kota.Nggak tahu ke kota mana”,ucap Irsha.Saya agak terkejut.Sampai-sampai sepeda saya berhentikan,sekalian istirahat.

“Irsha sungguh-sungguh”,nada bicara saya agak tak percaya.

Irsha mengangguk.Wajahnya tampak sedih.

“Irsha…Kelak jika saya telah dewasa dan telah bekerja,saya akan melamar Irsha”,saya nekat mengatakan kalimat itu tanpa persiapan.

“Ah,ada-ada saja…”,jawab Irsha singkat.

Saya kemudian mengantarkannya pulang ke Jl.Karanganyar.Hari sudah sore.Hari yang menyedihkan bagi kami berdua.

Tahun 2003,atau 38 tahun sesudah peristiwa itu…saya sudah beristri yang setia dan dikaruniai satu anak perempuan yang sudah dewasa.Saya tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai Konsultan Manajemen pada PT Sunan Ngampel dan sering dikirim ke luar negeri di dalam rangka tugas kantor.Negara yang pernah saya kunjungi antara lain Inggeris,Perancis,Amerika,Kanada,Italia,dan lain-lain di dalam rangka memperdalam “consulting management”.

Di PT Sunan Ngampel saya ditempatkan di unit baru.Manajemennya masih morat-marit.Bayangkan,karyawan karyawan lulusan SMA yang bernama Sukardi yang punya ijasah mengetik,ditempatkan di tenaga harian dan diperlakukan sebagai kacung,yaitu disuruh membeli makanan dan minuman.Padahal,tugas yang sebenarnya di bagian administrasi ringan.

Sedangkan saya sebagai konsultan sering dapat tugas angkat-angkat bangku, kursi, lemari, komputer,dll.

Tiba-tiba…..

“Mas Harry,dapat salam dari Irsha…”,kata Bobby Basuki mengejutkan saya.Dia teman sekantor,lulusan IPB.

Saya terkejut.Akhirnya saya tahu bahwa ternyata Irsha masih ada hubungan famili dengan Bobby.Kata Bobby,Irsha sekarang tinggal di Bogor bersama suaminya dan dua orang putera yang sudah dewasa

Oh,secepat kilat saya keluar kantor.Kularikan mobil Honda Accord saya menuju Bogor,mencari Jl.Cikuray 277 tempat Irsha tinggal.Sungguh,saya sangat rindu sekali.

Irsha terkejut melihat kedatangan saya.Maklum,.sudah 38 tahun tidak bertemu.Dia menangis terharu.

“Tiga puluh delapan tahun kita berpisah…Tapi,Irsha masih secantik dulu…”,saya masih seperti dulu.Selalu memuji kecantikannya.

“Ah,ada-ada saja….”,jawab Irsha.Jawabannya masih seperti dulu juga.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: