CERPEN: Golput adalah Pilihan Anita

PALEMBANG. Kota ini tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Tapi, saya cukup senang tinggal di kota ini. Sudah tiga tahun saya di kota ini karena dapat tugas kerja sebagai konsultan sebuah proyek. Kantor cabang tempat saya bekerja tidak jauh dari Hotel Sriwijaya.

Karena tiap Sabtu libur, maka sering saya gunakan untuk jalan-jalan. Antara lain ke JM, semacam mal-nya kota Palembang. Sekadar beli baju, celana atau cukup cuci mata saja.

Ketika sedang memilih-milih baju, tanpa sengaja saya melihat cewek bekas teman sekolah sewaktu SMA dulu.

-“Hei, Anita,ya?”. Saya tegur dia. Cewek itu menengok dan melihat saya dengan wajah lupa-lupa ingat. Maklum, sudah 15 tahun tidak bertemu.

-“Siapa,ya?”. Dia malahan bertanya. Akhirnya saya jelaskan kalau dulu saya dan Anita pernah satu kelas di SMA. Akhirnya dia ingat bahkan langsung cerita tentang kenang-kenangan semasa sekolah.

Sesudah saya dan Anita membeli baju, kami berdua menuju restoran khusus ice cream yang tidak jauh lokasinya dari JM. Kami berduapun akhirnya ngobrol ngalor-ngidul. Ceritanya, sudah beberapa tahun Anita berstatus janda tanpa anak karena suaminya meninggal akibat stroke. Sayapun bercerita kalau saya sudah menikah dengan gadis Palembang tetapi belum dikaruniai seorang anakpun.

Bosan bercerita masa lalu, maka pembicaraanpun berubah ke topik politik. Maklum, sejak di SMA kami berdua suka sekali bicara soal politik.

-“Sebentar lagi ada pemilu,nih. Bagamaina kira-kira prospek capres-capres kita?”. Saya mulai membuka pembicaraan.

-“Ya, yang namanya politik ya begitu. Semua ingin menang dengan berbagai cara. Bahkan kalau perlu menghalalkan segala cara”. Anita menimpali.

-“Kalau pemerintahan sekarang bagaimana? Sekarang kehidupan PNS kan lumayan. Gajinya sudah naik rata-rata Rp 2 juta per bulan”. Saya mencoba memancing pendapat.

-“ Ha ha ha…Kalau saya melihat politik sih tidak dari sudut angkanya saja. Tetapi kita harus tahu bagaimana cara mencapai angka itu, apakah angka itu bias atau tidak. Angka itu dimanipulasi atau tidak. Memang sih, gaji PNS rata-rata Rp 2 juta perbulan. Tapi itu kan sebagai konsekuensi naiknya harga BBM hingga 333,33 persen. Coba, kalau BBM dinaikkan lagi sebesar 500 persen, tentu saja gaji PNS bisa naik lagi sekitar Rp 4 juta per bulan. Itu kan trik-trik politik saja”. Begitu analisa Anita. Sebuah analisa yang bagus.

-“Kabarnya, menjelang pemilu nanti pemerintah akan menciptakan tiga juta lapangan kerja”. Saya buka dengan masalah lain.

-“Ya, lagi-lagi soal angka. Tiga juta lowongan itu kerja apa? Kalau kerja srabutan ya mudah. Tapi coba, mampukah pemerintah menciptakan lapangan kerja formal bagi satu juta sarjana yang sekarang menganggur? Tentu tidak bisa.” Anita berargumentasi dengan cukup rasional.

-“Tapi anggaran pendidikan sufdah bagus,kok. Sudah 20 persen sesuai amanat UUD 1945”. Saya memulai masalah lain lagi.

-“ Ya iyalah. Tapi itu dengan resiko APBN membengkak dan defisit bertambah.

Defisit itu akan ditutup dengan cara utang. Utang itu yang membayar rakyat. Jangankan 20 persen. Kalau 40 persen atau 60 persen juga bisa kok. Nanti kekurangannya utang ke World Bank atau ke Jepang atau bikin utang bilateral lainnya. Rakyat kok nanti yang membayar”.

-“Ya, itulah politik. Trik-trik politik. Kebetulan 60 persen pemilih di Indonesia tergolong tidak rasional. Tergolong bodoh. Mereka memilih presiden atas pertimbangan yang tidak rasional. Misalnya, karena capresnya bekas anak presiden, karena capresnya lulusan S-3, karena capresnya dari partai Islam, karena capresnya orang Makassar, dan alasan-alasan bodoh lainnya.”

-“Iya,ya. Lantas bagaimana seharusnya?”. Ganti Anita yang ingin tahu.

-“ Ya, seharusnya kita tahu dulu apa visi, misi dan rencana kerjanya nanti kalau terpilih. Bagaimana cara merealisasikannya. Juga, realistis atau tidak. Di samping itu para capres harus mengikuti tes intelligence quoitient (IQ), emotional quotient (EQ) dan leadership quotient (LQ) dulu supaya kita benar-benar memilih capres yang benar-benar berkualitas”.

-“Kalau menurut saya sih, capres-capres yang ada sekarang ini tidak ada yang berkualitas”. Komentar Anita.

-“Kalau begitu, pemilu mendatang bagaimana?”. Saya ingin tahu.

-“Tetap datang ke TPS. Tapi, tidak ada yang saya pilih. Apalagi untuk calegnya. Tidak ada satupun caleg yang saya kenal. Memilih caleg kalau asal-asalan kan seperti memilih kucing dalam karung”.

-“Jadi, pilih golput?”

-“Ya, iya lah”. Anita menjawab dengan tegas.

-“Wah, kalau begitu, sama dong”. Saya menimpali dengan tertawa.

Seusai minum-minum ice cream, kami berduapun meneruskan perjalanan masing-masing. Pulang ke rumah.

Pikir saya.

-“Iya ya, daripada asal pilih atau salah pilih, lebih baik golput”.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: