CERPEN: Cewek Dua Digit

SAAT itu saya kuliah di Universitas Udayana, Fakultas Teknik, semester enam. Sebuah universitas tertua di Bali dan berlokasi di Bukit Jimbaran. Sebagai orang Jawa, saya senang kuliah di universitas ini karena bisa memahami budaya orang Bali yang merupakan masyoritas mahasiswa di kampus itu. Ada dua kampus lain, yaitu Kampus Sudirman dan Kampus Nias. Namun, kampus saya merupakan yang terbesar.

Sebagai mahasiswa, wajar saja kalau tidak hanya mengurusi buku-buku ilmiah, tetapi juga terlibat persoalan-persoalan cinta. Masalahnya adalah, hampir tiap semester saya selalu ganti pacar, sebab merasa belum menemukan pacar yang ideal.

Semester pertama saya pacaran dengan Umi, semester kedua dengan Kamelia, semester tiga dengan Nungkie, semester empat dengan Frestya dan semester kelima dengan Anggie. Semuanya mahasiswi dari kampus Sudirman maupun kampus Nias dan dari kampus lain. Sampai semester enam, saya belum menemukan pacar yang sesuai dengan yang saya idam-idamkan.

“Harry! Jangan lupa, besok ada acara ospek di Kampus Nias…!” tiba-tiba saya ditegur Paul, teman kuliah yang berasal dari Timor.

“Oh, ya. Besok kita ke sana bersama,” jawab saya yang waktu itu tepat bubaran kuliah matakuliah terakhir.

Kenapa mahasiswa fakultas teknik sering ke Kampus Nias? Maklum, kampus fakultas teknik kebanyakan cowok semua. Ceweknya sedikit. Sedangkan di Kampus Nias ada Fakultas Pariwisata yang mayoritas merupakan mahasiswi.

Esoknya, saya dan Paul, yang kebetulan satu kos, dengan masing-masing naik motor menuju ke Kampus Nias yang jaraknya lumayan jauh dari Kampus Bukit Jimbaran. Dan sesampai di Kampus Nias, saya dan Paul langsung menuju ke ruang senat mahasiswa. Saya dan Paul merupakan aktivis mahasiswa dan tidak heran kalau saya dan Paul cukup kenal baik dengan aktivis-aktivis mahasiswa Udayana.

“Hai Harry! Hai Paul….Pasti mau cari cewek,ya?” sambut Nungkie dan Laura yang menjadi panitia ospek.

“Hehehe…Tahu saja…” sahut Paul. Nungkie dan Laurapun mengajak kami berdua ke aula yang tidak begitu luas. Di situ sudah ada sekitar 100 mahasiswi baru mengenakan pakaian seragam ospek yang unik dan lucu lengkap dengan “nama bagus” di dadanya masing-masing.

Terus terang, Nungkie dulu pacar saya. Namun, saya menilai Nungkie belum memenuhi kriteria gadis ideal saya. Nilainya paling tinggi tujuh.Meskipun demikian, saya dan Nungkie putus secara baik-baik.

Di aula, tampak para panitia ospek sedang mengajarkan hymne Udayana ke para mahasiswi baru yang biasa disebut cama atau cami. Hymne tersebut antara lain berbunyi:

Pujastuti Kehadapan Tuhan Maha Esa

Udayana Kau Ksatria Kusuma Negara

Kami Kau Berikan Pusaka Widya Maha Merta

Kuberjanji Setiakan Mengabdikan Darma-Mu

Udayana Jayalah Kau, Di Persada Bu Pertiwi

Udayana Megahlah Kau Untuk Indonesia Raya

 

Hymne itu harus dihafalkan semua cama-cami. Kemudian secara sample panitia menunjuk satu persatu cami untuk maju membawakan hymne tersebut dalam bentuk lagu. Kalau salah atau lupa, pasti dikenakan hukuman versi ospek.

Tiba-tiba ketika salah satu cami ditunjuk maju, sayapun segera mendekati Laura.

“Eh, Laura. Siapa dia namanya?”

“Uh, nama aslinya saya tidak tahu. Kalau nama bagusnya ada di dada,tuh. namanya Si Cemplon…” sahut Laura.

“Yah, tolong dong, carikan nama sebenarnya,” desak saya.

“Beres. nanti saya cari di daftar penerimaan mahasiswa baru. Tapi, traktir saya,ya ?” janji Laura.

“Beres!” saya menjawab senang.

Mata saya tak berkedip melihat cami yang berpakaian ospek itu. Langsing dan semampai. Kulit putih. Sempat matanya memandang saya dan membuat saya terkesiap. Betul-betul tipe cewek yang selama ini saya cari.

“Inilah yang saya namakan cewek dua digit,” saya katakan hal tersebut ke Paul. Paul yang asyik melihat acara ospekpun melihat ke arah saya.

“Maksudnya?” dia ingin tahu.

“Ada sepuluh kriteria cewek ideal saya.Pertama, Islam taat. Kedua, Jawa. Ketiga, Tinggi sekitar 160 cm-165 cm. Keempat, mahasiswi. Kelima, enak diajak bicara. Keenam, cantik. Ketujuh, punya wawasan berpikir yang luas. Kedelapan, jujur. Kesembilan, cerdas dan kesepuluh masih perawan. Sedangkan cewek-cewek  saya sebelumnya cuma bernilai 5 untuk Umi,6 untuk Kamelia,7 untuk Nungkie,8 untuk Frestya dan 9 untuk Anggie. Cuma satu digit. Kalau ini saya nilai 10 atau dua digit.Sempurna…” saya menjelaskan ke Paul sambil menunjuk cami yang bernama bagus Si Cemplon itu.

“Ooo, itu maksudnya. Saya juga mau,tuh…” canda Paul. kami berduapun tertawa.

Siangnya, saat jam istirahat ospek, Laurapun menepati janjinya. saya, Laura, Nungkie dan Paul sehera menuju ke kantin untuk makan siang bersama. Kami duduk dan langsung memesan makanan dan minuman.

“Harry! Cewek itu namanya Monika Sandra.Lulusan SMAN 6 Surabaya. Di Denpasaar dia ikut tantenya….” Laura lantas membacakan data-data Monika, termasuk tanggal lahir dan lain-lain. Semua datanya saya ingat-ingat.

Selesai ospek, Laurapun memanggil Si Cemplon dan diperkenalkan dengan saya. Kesempatan itu saya manfaatkan secara baik-baik. Ternyata, Monika ramah dan cukup cantik. Cantik? Tentu, itu tak perlu diragukan. Ternyata, bicaranya juga banyak. Bahkan tanya saya kuliah di mana, aslinya dari mana dan seterusnya.

“Oh, Mas Harry alumni SMAN 6 Surabaya? Satu alumni dong dengan saya…” begitu kata Monika dengan ceria. Kami berduapun mengobrol tentang SMAN 6 itu, tentang es campur yang enak di seberang sekolah itu dan cerita-cerita tentang Kota Surabaya.

Akhirnya sayapun akan menawarkan untuk mengantarkan pulang.

Sayang, tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekat Monika. Pengemudinya seorang pria berjaket dan berwajah ganteng. Tampang mahasiswa. Entah mahasiswa mana. Monikapun memperkenalkan saya dengan cowok iitu. Saya lupa namanya.

“Saya pulang dulu, Mas Harry…!” pamitnya sambil naik ke boncengan motor. Tak lama kemudian, motor itupun meluncur mengantarkan Monika. Sayapun agak berkecil hati. Hati saya menduga, cowok itu pasti cowoknya. Huh! Sial betul saya ini.

Malam Minggunya saya nekat mendatangi rumah Monika. Saya datang sendiri. Ternyata, sambutan Monika baik sekali. Dan tak lama dari dalam muncul cowok yang dulu menjemput Monika.

“Kenalkan Mas Harry, ini putera tante saya…” sayapun diperkenalkan Monika.

Ternyata Dewi Fortuna berpihak ke saya. Ternyata lancar-lancar saya melakukan pendekatan ke Monika. Tidakada hambatan yang berarti. Apalagi, tantenya juga bersikap ramah terhadap saya.

Perjuangan saya untuk mencari cewek dua digit tak sia-sia. Setelah lima semester, pada semester keenam itu saya berhasil mendapatkan cewek idaman yang memenuhi sepuluh syarat. Yaitu, Islam taat,Jawa,tinggi sekitar 160 cm-165 cm, mahasiswi, enak diajak bicara, cantik, punya wawasan berpikir yang luas, jujur, cerdas dan masih perawan. Mungkin, Tuhan telah memberi jalan bagi saya untuk menemukan jodoh.

Alhamdulillah.

Hariyanto Imadha

Facbooker/Blogger

 

 

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: