CERPEN: Ketika Matahari Terbit dari Barat

BEGITU saya terbangun, saya merasa heran. Semula saya tidak tahu saya berada di mana. Namun setelah saya lihat, saya baru menyadari saya berada di ruang menwa salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di jakarta. Saya masih lengkap memakai pakaian wisuda.

Beberapa saat kemudian saya mulai sadar tentang apa yang terjadi sebelumnya.

-“Sudah baikan,Mas?” tanya Wulandari, adik kelas saya. Saya mengangguk kemudian mencoba bangkit dari kursi panjang. Kemudian duduk degan lemas. Entah berapa lama saya jatuh pingsan, saya tidak tahu.

Tak berapa lama kemudian, beberapa sahabat baik sayapun berdatangan. Ada Shanty, Wulan, Prabowo dan lain-lain. Mereka ingin tahu, apa sesungguhnya yang terjadi. Merekapun saya ajak ke ruang kuliah yang masih kosong. Kira-kira ada sembilan sahabat baik saya yang berkumpul.

-“Ceritanya sangat menyakitkan sekali”. Saya mulai bercerita.

Saya katakan, saya berpacaran dengan Priska Adelia sebenarnya sejak saya duduk di kelas 1 SMP Negeri II, . Masih cinta monyet. Namun, sebenarnya saya dan Priska benar-benar saling mencintai. Meskipun demikian proses belajar tidak terganggu. Justru semangat belajar semakin tinggi.

“Hubungan saya dan Priska berjalan terus. Hari demi hari yang indah saya nikmati berdua. banyak tempat kenang-kenangan. Antara lain Jembatan Kaliketek, pemandian Dander dan lain-lain. Dulu saya berpacaran Cuma bersepeda saja. Saya membawa sepeda sendiri dan Priska membawa sepeda sendiri.” Cerita saya.

“Sudah banyaklah foto keang-kenangan, baik sewaktu di sekolah atau di luar sekolah. Orang tua Priska maupun orang tua saya juga sudah tahu persahabatan saya dengan Priska. Meskipun demikian hubungan saya masih di dalam batas kesopanan. Paling Cuma berciuman saja. Tidak lebih dari itu.” Saya melanjutkan cerita.

-“Nah, di bangku SMP itulah saya dan Priska sudah berjanji tidak akan berpisah dan akan tetap bersama hingga bangku SMA dan perguruan tinggi. Sebuah janji yang indah dan tak akan pernah saya lupakan. Bagi saya Priska adalah cinta pertama dan bagi Priska saya adalah cinta pertamanya”. Saya terus bercerita.

-“Tanpa terasa, saya dan Priska lulus SMP dengan nilai yang baik. Saya dan diapun akhirnya meneruskan di SMA yang sama, yaitu SMAN 1 . Sayang, saya tidak sekelas. Tapi, tak apalah, yang penting tiap hari masih bisa bertemu.”. Saya berhenti bercerita sebentar. Sesudah minum segelas Coca Cola dingin, sayapun melanjutkan cerita. Sahabat-sahabat saya diam memperhatikan saya. Mereka ingin tahu kelanjutan cerita saya.

-“Iya, akhirnya saya dan Priskapun lulus SMA dan sama-sama pindah ke Jakarta dan kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi ini. Tentu, saya selalu satu ruang sebab mendaftarnya bersama-sama.”.

Saya berdiam sejenak. Saya masih berpikir, perlu tidaknya saya menceritakan masalah-masalah yang bersifat pribadi. Misalnya, selama kuliah sebenarnya saya sudah berulangkali melakukan hubungan intim dengan Priska. Namun, akhirnya saya putuskan tidak perlu menceritakannya.

-:Ya, kalian semua tahu. Di mana ada Priska, di situ pasti ada saya. Walaupun banyak mahasiswa yang ingin mendekati, namun Priska tetap setia terhadap saya. Walaupun banyak cowok lebih kaya dari saya, tetapi Priska tetap memilih saya. Kalau saya hitung-hitung, saya sudah berpacaran selama 11 tahun. Sebuah waktu dan perjalanan hidup yang cukup panjang.”

Saya berhenti bercerita. Saya teguk lagi minuman Coca Cola kesukaan saya. Sedangkan sahabat-sahabat saya mengajukan beberapa pertanyaan yang mereka sangat ingin tahu jawabannya.

-“Ya, memang saya dan Priska sudah saling berjanji, sesudah wisuda saya dan Priska akan resmi menikah. Tapi,…apa yang terjadi? Sungguh menyakitkan. Sesudah wisuda, di luar ruangan ternyata sudah menunggu kedua orang tuanya. Semula saya menyambutnya dengan senang hati. Dan saya katakan kedua orang tua saya tidak bisa hadir karena sibuk di Jawa Timur.”

“Namun, yang menyakitkan adalah. Kedua orang tuanya memperkenalkan seorang pria. Katanya, dia adalah calon suami Priska yang selama ini studi di Amerika. Saat itu saya melihat Priska menundukkan muka dan menangis. Saya tanyakan kenapa semua ini bisa terjadi.”

Saya menghela nafas panjang. Rasa-rasanya tak sampai hati saya meneruskan cerita. Namun apa boleh buat, mereka adalah sahabat-sahabat baik saya. Mereka harus tahu.

-“Ya, Priska mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah menjodohkan Priska dengan pria itu sejak Priska masih bayi. Kedua orang tua Priska adalah sahabat baik dengan kedua orang tua pria itu. Ya, itulah yang membuat saya shock dan pingsan. Saya tidak mengira hubungan yang sudah berjalan belasan tahun akhirnya kandas begitu saja…”

Saya mengambil nafas panjang. Namun sahabat-sahabat sayapun cukup memaklumi penderitaan saya itu. Tentu, mereka hanya bisa memberikan semangat.

-“Ya, sudahlah. Betapapun pahitnya kenyataan itu, terima saja. Anggap saja itu sudah kehendak Tuhan. Siapa tahu Harry akan mendapatkan pengganti Priska yang lebih cantik, lebih cerdas dan lebih setia. Jangan putus asa…” Begitu saran Shanty dan teman-teman lainnya.

Sesudah melepaskan toga dan berpakaian biasa, maka saya dan sahabat-sahabat itu segera menuju ke restoran American Hamburger di Blok M untuk merayakan kelulusan kami bersepuluh. Mereka adalah sahabat-sahabat satu kelompok belajar.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: