CERPEN: Isyarat Alam

SEPERTI biasa, beberapa mahasiswa fakultas filsafat berkumpul. Acaranya diskusi bebas. Tentang apa saja. yang penting ada hubungannya dengan ilmu filsafat. Ada hubungannpemikiran. Ada hubungannya dengan implikasi-implikasi pemikiran. Tujuannya mempertajam pemahaman tentang hal-hal yang didiskusikan.

“Memangnya sekarang kita diskusi tentang apa? “ tanya Marni yang sudah tidak sabar.

“Ini sajalah. Tentang fenomena alam,” usul Gunaan.

“Bisa diperjelas. Fenomena alam yang bagaimana? Fenomna alam kan banyak. Fokusnya harus jelas,dong” sahut Nurcholish.

“bagaimana kalau hal-hal yang akhir-akhir ini terjadi di negara kita. banyaknya jmbatan yang runtuh. banjir di mana-mana. Tanah longsor di mana-mana. Angin puting beliung di mana-mana. Beberapa gunung meletus hampir bersamaan. beberapa gempa bumi terjadi hampir bersamaan,” usul saya.

“Setujuuu…!” serempak  teman-teman mahasiswa menjawab.

“Kalau menurut saya sih, itu fenomena alam biasa. Sejak zaman Mojopahit juga ada banjir. Juga ada angin puting beliung. Ada banjir. Ada gempa bumi. Ada gunung meletus. kalau menurut saya itu hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh,” komentar Gunawan.

“Kalau saya kok melihatnya agak berbeda. Peristiwa alam itu kan akibat logika alam atau hukum alam. yaoyu, hukum sebab dan sebab. jadi, semua kejadian itu bisa dijelaskan dari sudut ilmu alam…” Marni mengomentari.

“Iya. Tapi kita kan bukan mahasiswa fakultas MIPA. Bukan pegawai BMKG. Kita ini kan mahasiswa fakultas filsafat. Kita fokus deh ke aliran-aliran pemikiran. jadi, sesuai dengan predikat kita sebagai mahasiswa fakultas filsafat,” saya mencoba mengembalikan diskusi ke fokus yang relevan.

“Setuju,” sahut Nurcholis

“Kalau saya yakin bahwa kejadian-kejadian alam itu tidak secara kebetulan saja. Memang betul ada logika alam atau hukum alam di situ. Tetapi tidak serta merta semua terjadi karena faktor kebetulan…” marni mulai berpendapat.

“Betul. bahkan saya melihat, semua kejadian alam tentu ada yang mengaturnya. Ada sutradaranya. dan tentu ada maksudnya. nah, kita sudah mengarah ke bidang metafisika nih…Hehehe…” begitu argumentasi Gunawan.

“He’eh. Ada benarnya juga. Walaupun kita tak berbicara tentang agama, tetapi kita tentu yakin bahwa semua kejadian alam pasti direncanakan Tuhan dan diketahui Tuhan. Tentu, ada maksud dan tujuannya. Bukan karena kebetulan sekarang musim penghujan saja,” ujar Munawir yang sedari tadi diam.

“Iya. Setuju. Mungkin bencana alam yang beruntun tak seperti biasanya merupakan peringatan, teguran atau mungkin juga sebagai hukuman bagi semua umat di Indonesia ini…” begitu pendapat Jayus Bharly yang juga ikut mulai berbicara.

“Memangnya apa salah bangsa Indonesia sehingga Tuhan memberikan peringatan, teguran dan hukuman sebanyak itu? “ saya memancing.

“Ah, semua kita kan tahu. Bangsa kita terkenal bangsa yang korup. Pemimpinnya korup. Menterinya korup. Anggota DPR-nya korup. Trias politika kita sudah berbau busuk. Penegak hukum menjual hukum. Hukum bisa dibeli. Koruptor dihukum ringan dan bahkan divonis bebas. Artina, Tuhan menghukum kita karena bangsa kita banyak yang kafir…” pedas komentar Marni.

“Betul juga,sih. Tapi kenapa rakyat yang tidak korup yang justru terkena bencana? banjir, gempa bumi, tanah longsor, angin putting beliun dan bencana lainnya. Mana mungkin rakyat yang jujur dan tidak korup justru yang dihukum Tuhan. bagaimana dong logikanya? Kenapa Tuhan tidak menghukum para koruptor itu?” setengah memprotes komentar Gunawan.

“Begini. Keliru kalau kamu mengatakan rakyat tidak punya asalah apa-apa. Ingat. Hasil survei menunjukkan bahwa 70% rakyat telah salah memilih pemimpin. Telah salah memilih presiden, gubernur, bupati dan walikota. Telah alah memilih wakil rakyat. Hasil survei juga mengatakan bahwa 70% orang-orang politik berbakat korupsi. Jadi, Tuhan menghukum rakay karena rakyat telah salah memilih pemimpin dan wakil rakyat….” panjang argumentasi Jayus Bharly.

“Setuju…Setuju…Masuk akal. Masuk penalaran. Tetapi kenapa Tuhan tidak menghukum para koruptor? Justru divonis hukuman ringan atau bahkan bebas?” tanya Nurcholis.

“Kalau menrut saya. Hukuman tidak selalu harus saat kita hidup. Tidak saat para koruptor masih hidup. Bisa saja Tuhan menunda hukuman dan akan dihukum di akherat nanti. Bukankah hukuman di akherat lbih luar biasa menyakitkan? Siapa tahu Tuhan akan memasukkan mereka ke neraka. Sebab mereka sesungguhnya orang-orang kafir….” sayapun ikut menyumbangkan pemikiran.

“Ya,ya,ya…Boleh.Boleh. Lantas bagaimana caranya supaya bangsa ini tidak terkena bencana melulu? “ Gunawan ingin tahu.

“kalau menurut saya sih. Perlu adanya lembaga pendidikan dan pencerahan politik ke masyarakat. Bisa melalui jalur pendidikan. Bisa melalui media massa koran, majalah, radio, televisi dan semacamnya. Di negara-negara maju sudah ada lembaga pendidikan dan pencerahan semacam itu. Tujuannya agar masyarakat mampu berpikir dan berfilsafat yang benar. Agar tidak salah pilih…” itu komentarnya Marni.

“Bagus kalau itu ada di Indonesia. Sebab, maju mundurnya bangsa Indonesia tergantung kualitas pemimpinnya. kalau pemimpinnya penakut, pesolek, peragu, pemboros, pengutang, curhat melulu, mengeluh melulu, tidak tegas….mana mungkin negara kita bisa mandiri? mana mungkin mempunyai kedaulatan ekonomi? Semua didikte negara lain. Didikte negara lain. PLTN-pun sebenarnya hasil dari iming-iming negara lain. Tujuannya supaya negara kita selalu tergantung kepada staf ahli asing. Supaya tergantung kepada negara lain. Supaya kita terjebak seumur hidup. Imbalannya, kita harus menjual sumber daya alam kita dengan harga murah sampai terkuras habis. Contohnya ya, Freeport Papua itu…” kata saya.

“Iyaya. Kita sudah puluhan merdeka tetapi 55% rakyat kita cuma berpendidikan SD. Tiap warganegara tahun 2011 ini dibebani utang Rp 8 juta. Sembako impor, BBM impor dan hampir semuanya impor. Semua karena rakyat salah memilih pemimpin” panjang lebar argumentasi Jayus Bharly.

“Lantas, apakah bencana-bencana alam itu sifatnya hanya menghukum rakyat saja? Apakah tidak ada politisi yang akan terkena hukuman? “ tanya Nurcholis.

“Kalau menurut saya, sih. Apa yang terjadi di alam kita ini merupakan isyarat-isyarat alam,” Gunawan mencoba menafsirkan .

“Isyarat alam yang bagaimana?” marni ingin tahu.

“Saya yakin alam memberi isyarat kepada kita bahwa banyaknya jembatan yang runtuh, itu merupakan pertanda banyaknya pemimpin yang runtuh. Semua bisa terjadi kalau ada seorang pemimpin yang lengser, maka otomatis menteri-menternya juga lengser…”

“Ah, itu tidak ilmiah…..” Marni protes.

“Ilmiah atau tidak ilmiah tak perlu diperdebatkan. Dunia ilmu filsafat adalah dunia pemikiran. Dunia penalaran. Dunia ilmu logika……” Jayus Bharly membela Gunawan.

“Begini. Ilmu filsafat atau ilmu saja boleh saja membuat prediksi sejauh prediksi itu berdasaekan fakta. Betul atau tidaknya prediksi itu, tidak mungkin disalahkan atau dibenarkan sekarang ini. Benar atau tidaknya sebuah prediksi, itu nanti pada saatnya yang akan datang. Mungkin tahun 2012…..” saya membuat kesimpulan.

“Setujuuu…!” serentak para mahasiswa fakultas filsafat yang tergabung dalam Kelompok Belajar “Plato”.

Karena sudah saatnya shalat Ashar, maka diskusipun otomatis selesai.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger.

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: