CERPEN: Barbara dan Natal di Kopenhagen 1979

KOPENHAGEN 1979. Sesudah lulus SMAN 6 Surabaya pada 1972, saya tak pernah bertemu lagi dengan Barbara Daisy Laura.Dia pacar saya semasa di SMA. Begitu lulus, dia langsung pindah ke Skandinavia mengikuti orang tuanya yang bertugas sebagai duta besar dan melanjutkan kuliah di negara itu.

Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 1979 saya nekat menyusul ke Kopenhagen. Dari bandara, saya menuju stasiun kereta api. Sampai di stasiun Kopenhagen Hovedbanegard alias stasiun pusat Kopenhagen, pukul dua lebih lima menit. Turun dari kereta api, saya disambut Barbara.

Saya dan Barbara  langsung berfoto di bawah papan bertulis Kobenhavns H. Rata-rata stasiun di Skandinavia berkerangka kayu. Tujuannya,agar lebih hangat. Terutama di musim dingin.

Suasana di stasiun hiruk pikuk suara penumpang yang naik-turun kereta api. Di bagian tengah banyak berdiri toko atau mini kafe. Ada toko bunga, souvenir, money changer, serta loket informasi. Juga banyak mesin-mesin penjual tiket dan telefon umum. Saya punya kesan,stasiun  ini terasa suram. Hanya sedikit cahaya masuk lewat atap dan jendela kaca di sana.

“Yuk, kita langsung ke hotel!” ajak Barbara yang cantik itu sambil menggandeng tangan kiri saya. Sayapun menuju ke mobil yang dikendarai oleh Barbara sendiri. Ternyata, hotel itu letaknya  tak jauh dari belakang stasiun. Namanya Hotel Saga, di pinggir jalan bernama Colbjornsensgade. Berdinding batu bata merah.

Kami masuk, mendaftarkan diri ke resepsionis dan mengambil brosur dan peta Denmark dan Kopenhagen. Kemudian saya dan Barbara menuju ke kota terdekat Swedia, Malmo.

Malam, sepulang dari Malmo, saya dan Barbara sempat berbelanja untuk persiapan merayakan Natal. Tentu, Barbara yang akan merayakannya, sedangkan saya yang beragama Islam tentu tak akan merayakannya di gereja.

Tujuan saya dan Barbara yaitu menuju gerbang Tivoli. Lampu-lampu gemerlapan  menyemarakkan suasana malam di depan gerbang. Ada sebuah kolam air muncrat tak berair berada di tengah Axeltorv.Lagi-lagi, saya dan Barbara berfoto bersama menggunakan kamera otomatis yang dilengkapi tripod.

“Alangkah indahnya hari ini,” komentar Barbara. Saya cuma mengiyakan.

Gedung-gedung tinggi di sekitar lapangan meriah oleh lampu warna-warni. Iklan berbagai macam produk terang benderang menambah semarak suasanaKai menuju kawasan Stroget. Di situ banyak kafe dan tempat belanja Suhu saat itu 2 derajat C, Kami semua merasa sangat kedinginan di musim semi yang hangat itu. Oleh karena itu saya dan Barbara senantiasa berpelukan.Bahkan berciuman.

“Iya. Alangkah indahnya hari ini,” kali ini saya yang berkomentar.

Esok harinya saya dan Barbara berfoto bersama dengan latar belakang keren pertama adalah Galeri Nasional Denmark alias Statens Museum for Kunst di Hans Andersens Boulevard.Merupakan rumah bagi karya seni pahat dan lukis Denmark dan internasional.Koleksi mereka antara lain maha karya pelukis renaissance Tizian dan Mantegna, adi karya abad 17 oleh Rubens dan Rembrandt, serta lukisan di jaman keemasan Denmark abad 19 oleh Eckersberg dan Kobke. Tak ada rencana masuk museum, kami puas berfoto di seberang gedung megahnya.

Kemudian menuju Christiansborg, sebuah istana megah di pusat Kopenhagen .Christiansborg merupakan rumah bagi tiga kekuatan tertinggi negara : eksekutif, legislatif dan judisial. Di sini, kami berfoto bersama sambil berpose duduk di atas rantai besi besar.

Sambil bergandengan tangan, saya dan Barbara menuju ke Admiralgade, yakni Kongens Nytorv, berarti Lapangan Baru Raja. Inilah lapangan terbesar dan terelegan di seluruh Kopenhagen. Bagian tengahnya berupa taman berpagar. Patung berkuda mendiang Raja Christian V dan empat patung penjaga melengkapi suasana taman.

Saya dan Barbara istirahat sebentar.Duduk di bangku taman.Tempat istirahat asyik setelah berbelanja di daerah sekitarnya. Di sini pula berdiri sebuah resto masakan Indonesia bernama. Beberapa saat kemudian saya dan Barbarapun makan siang bersama di resto itu.

“Oh, tidak terasa, kita tujuh tahun berpisah,” saya mulai bicara, sementara Barbara memasan makanan dan minuman.

“Oh, iya. Saya juga sudah lulus dari universitas dan bekerja di salah satu perusahaan ternama,” sahut Barbara yang saat iitu menggenakan baju hangat. Sama dengan saya. Maklum, udara cukup dingin.

“Oh ya, Harry. Jangan lupa ya, besok turut merayakan Natal bersama di rumah saya,” ajak Barbara.

“Oke,” saya menyanggupinya. Hal demikian juga sering saya lakukan di Surabaya tiap kali Barbara merayakan Natal. Yang pasti saya tidak ikut masuk ke gereja. Maklum, saya seorang muslim.

Siang itu Barbara mengajak saya mengujungi objek-objek wisata. Maklum, saya belum pernah ke negara tersebut. Antara lain melanjutkan perjalanan ke Amalienborg Palads, kediaman keluarga kerajaan. Berfoto bersama di depan istana sebelum meneruskan perjalanan untuk menemui Den Lille Havrue, sang puteri duyung.Wanita paling sering difoto di Denmark, patung sang Putri Duyung berukuran seperti layaknya manusia biasa.

Juga, mengunjungi Borsen, Rosenborg, dan juga distrik perumahan Christianhavn dan Nyboder. Kemudian mencoba berkeliling kota dengan mengikuti wisata kanal. Cukup banyak pemandangan dan atraksi di Kopenhagen yang dapat dinikmati melalui transportasi air ini. Perahu melalui kanal-kanal di bagian kota lama dan melewati banyak tempat wisata yang paling terkenal seperti Little Mermaid,  Gedung Parlemen, Opera House, The Royal Palace, Amalienborg dan lain-lain. Perjalanan dimulai dan berakhir di Nyhavn (New Harbour).

Esok harinya, sayapun menepati janji untuk merayakan Natal bersama di rumah Barbara. Sebuah rumah yang sangat besar. Rumah pribadi. Kata Barbara yang asli dilahirkan di Kopenhagen, rumah itu adalah rumah ibunya sebelum pindah ke Indonesia dan menjadi warganegara Indonesia.Ibunya asli Kopenhagen, sedang ayah Barbara asli orang Indonesia, tepatnya orang Jakarta.

Di tengah ruangan berdiri pohon Natal yang cukup tinggi dan gemerlap dengan lampu-lampu kecil aneka warna. Sayapun disambut dengan senang hati oleh ayah dan ibu Barbara. Juga dikenalkan dengan kakak dan adik Barbara.

Ketika mereka berdoa bersama, saya diam saja. Maklum, agama saya Islam. Begitu pula ketika mereka menyanyikan lagu-lagu Natal, sayapun diam saja. Namun untuk acara jamuan makan, tentu saya ikut. Saat itu yang hadir cukup banyak. Sekitar 100 pengunjung. Semua kerabat dan teman-teman baik Barbara dan teman-teman dari saudara-saudara Barbara.

Namun semuanya itu menjadi seperti mimpi. Beberapa hari kemudian saya harus kembali ke Indonesia. Berat rasanya. Apalagi, Barbara adalah cinta pertama saya. Ingin rasanya tinggal bersama dengan Barbara selamanya, tapi itu tidak mungkin.

Akhirnya, di bandara pesawat sudah menunggu. Saya mengulangi pertanyaan yang pernah saya tanyakan sewaktu kami masih duduk di SMAN 6 Surabaya.

“Bagaimana, Barbara? Bersediakah Barbara mengikuti agama saya?”  Saya pegang kedua pundah Barbara. Saya pandangi kedua matanya. Dia diam tak menjawab. Lama-kelamaan, saya lihat dua butir air matanya menetes di pipinya.

“Maafkan saya, Harry. Saya harus berterus terang kepada Harry,” ujar Barbara sambil memandang saya. Akhirnya Barbarapun bercerita, bulan depan akan menikah dengan pria pilihannya. Seorang pengusaha muda dan sukses yang tinggal di Kopenhagen juga.

“Maaf, Harry. Kita punya banyak perbedaan, baik agama maupun budaya. Apalagi, kedua orang tua saya juga tidak menyetujui hubungan kita. Juga, kita terlalu lama berpisah. Maafkan saya, Harry…”

Terkejut sekali saya mendengar pengakuan Barbara. Sedih rasanya. Saya merasa kehilangan segala-galanya. Saya tak bisa marah. Saya pasrah. Saya terima kenyataan itu apa adanya, walaupunn kenyataan itu pahit.

Sesudah kami berciuman, sayapun ucapkan semoga Barbara berbahagia. saya lambaikan tangan. sayapun menuju ke pesawat yang beberaapa menit lagi akan take off.

“Selamat tinggal, Barbara,” kata saya yang terakhir kali.

“Selamat jalan, Harry,” jawab Barbara. Kalimat terakhir yang pernah saya dengarkan.

Sejak saat itu, tiap Natal, saya pasti teringat semua kenangan yang pernah saya nikmati keindahannya.

Sumber foto: tuluusey.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: