CERPEN: Terima Kasih untuk Silvana Tambayong

WISUDA. Ya, saat itu selesai acara wisuda di Fakultas Ekonomi, Angkatan 08, Universitas Trisakti, Jakarta. Selesai wisuda, saya langsung melepaskan toga hitam dan menggantinya dengan toga putih. Di belakangnya ada tulisan “Tidak Butuh Gelar”. Tentu, demo tunggal yang saya lakukan menjadi perhatian banyak wisudawan dan para orang tuanya yang hadir. Ha ha ha……!

Akhirnya, saya digelandang menwa ke ruang menwa. saya ditanya macam-macam. Saya cuma menjawab, itu saya lakukan karena saya membayar nazar. Buunyi nazar, demi Allah swt, demi Nabi Muhammad SAW dan demi Al Qur’an, jika saya berhasil diwisuda, saya tidak akan memakai gelar sarjana yang saya miliki. Kecuali terpaksa atau dipaksa. Ha ha ha…..!

Sebab, gelar sarjana bukan lagi cermin kepandaian dan kecerdasan, melainkan tanda lulus saja. Akhirnya, sayapun dibebaskan menwa dengan syarat mencopot toga putih itu. Selanjutnya saya membayar nazar kedua, saya berlari-lari mengelilingi kampus. Cukup satu kali saja. Ha ha ha…..!

Dua hari kemudian saya membeli 20 surat kabar. Berjam-jam saya membaca lowongan kerja. Akhirnya ada sebuah iklan lowongan yang sangat menarik. Dibutuhkan banyak sarjana ekonomi yang baru lulus untuk ditempatkan di cabang-cabang perusahaan di berbagai negara. Ini dia yang saya cari.

Sesuai dengan bunyi iklan, saya langsung datang ke PT “X” di Jl.Mojopahit, jakarta Pusat sambil membawa ijasah sarjana. Di sini ternyata banyak yang melamar. Ada ratusan sarjana. Semua mengisi formulir lamaran kerja yang telah disediakan. Melampirkan foto, fotokopi ijasah dan syarat-syarat lain . Ketika mengambil undian, ternyata saya akan ditempatkan di Thailand. Ya, nggak apa-apa. Yang penting gajinya besar. Bahkan sangat besar untuk ukuran Indonesia.

Langsung mengikuti tes tertulis. Singkatnya, seminggu kemudian saya melihat di papan pengumuman perusahaan. Ternyata saya diterima. Wah, mungkin ada sekitar 1.000 sarjana yang diterima. Luar biasa. maklumlah, perusahaan multi nasional.

Saya langsung masuk ke ruang pengarahan. Ada sekitar 1.000 sarjana berkumpul. Informasinya, untuk ditempatkan di negara yang bersangkutan, Cuma dikenakan biaya untuk mengurus dokumen-dokumen untuk kepentingan ke luar negeri. Biaya itu juga termasuk uang jaminan dan asuransi. Besarnya sekitar Rp 50 juta kalau dinilai dengan kurs yang berlaku tahun 2012 ini. Tidak apa-apa. Saya bayar. Toh, nanti saya akan dapat gaji besar.

Beberapa hari kemudian, sayapun telah mendapatkan tiket pesawat dan dokumen-dokumen penting lainnya. Pesawatpun melesat ke udara menuju ke Thailand. Saat itu ada lima sarjana Indonesia yang ditugaskan ke Thailand. sayang, mereka berangkat tidak satu pesawat dengan saya.

Karena saat itu tidak ada pesawat dari Indonesia langsung ke Thailand, maka saya harus terbang dulu ke Singapura. Kemudian meneruskan perjalanan ke Bandara Chiang Mai, Thailand.

Sesampai di bandara, sesuai petunjuk perusahaan, sayapun mencari mobil penjemputan. Sayapun minta bantuan ke bagian inforamsi untuk memanggil mobil dengan nomor polisi sesuai yang ada di catatan saya. Namun, hingga satu jam, tidak ada yang datang di depan lobi.

Akhirnya, terpaksa saya naik taksi. Dengan bahasa tarsan, saya minta diantarkan ke alamat tertentu. saya tunjukkan tulisannya. Brengseknya, walaupun taksinya pakai argo, namun tarifnya tetap tawar-menawar. Akhirnya disepakati biayanya 150 bath.

Taksipun berhenti sesuai alamat yang saya berikan. Saya bayar.Saya turun. Saya lihat nama jalan benar, nomor bangunan benar. Kok, hotel? Meskipun demikian, sayapun masuk. Saya tanya ke bagian informasi, apakah di hotel itu ada perusahaan bernama “PQR Company”? Jawabannya, tidak ada dan tidak pernah mendengar nama itu.

Sayapun keluar dari hotel. Saya baru merasa galau. Bingung, tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Jalan ke sana ke mari cari telepon umum. Tidak ada. tanya orang, katanya telepon umumnya jauh. Saya lihat peta Thailand. Bingung. Mau tanya siapa? Tidak ada teman. Zaman dulu, ponsel juga belum ada. Saya baru menyadari, saya punya masalah besar. Perusahaan yang saya cari, tidak ada. Mau telepon ke perusahaan di Jakarta, tidak ada telepon umum.

Sayapun berjalan menyusuri trotoar. Tiap kali ada kendaraan tuk-tuk, saya tanya, tahu tidak nama “PQR Company”. Semua menjawab tidak tahu. Bahkan tidak pernah mendengar nama itu. Kebetulan ada kantor polisi. sayapun bertanya ke polisi yang sedang bertugas. Untunglah, polisinya baik hati.

Dengan mobil polisi, sayapun diajak mencari perusahaan itu. katanya, polisi itu pernah mendengar nama perusahaan itu. Wow….hati saya mulai berdetak gembira. Ada harapan. Semoga, menjadi kenyataan.

Satu persatu, petugas polisi menunjuk satu persatu perusahaan yang dilewati mobil yang kami tumpangi. Saya baca satu persatu nama perusahaannya. Itupun yang tertulis dalam huruf Latin. Yang tertulis dalam huruf Thai, saya tidak bisa membaca. Yang menyenangkan, polisi Thai ini bisa brbahasa Indonesia. Katanya, isterinya orang Indonesia. Menyenangkan sekali.

Tepat, di sebuah perusahaan, mobil berhenti.
“Mungkin itu,” kata polisi itu sambil menunjuk ke sebuah papan nama perusahaan.
Semula hati saya girang sekali. namun, setelah saya cermati, nama perusahaan itu bukan “PQR Company”, tetapi “POR Company”. Mirip. Meskiipun demikian, saya tetap menuju ke perusahaan itu. Dari bagian informasi saya dapat jawaban, perusahaan itu brnama “POR Company” dan bukan cabang dari perusahaan manapun. Bahkan tahun itu tidak membuka lowongan kerja.

“Oh,Tuhan!” saya mengeluh. Hari menjelang sore. Saya setengah putus asa. Akhirnya, oleh polisi saya diantar ke sebuah hotel yang paling murah. Terpaksa,malam itu saya bermalam di sebuah hotel kecil itu.

Pagi harinya, terpaksa saya harus check out dari hotel. Sesudah membayar hotel, saya baru tersadar. Uang saya sudah tidak cukup untuk pulang keIndonesia. Bahkan, untuk biaya ke bandarapun tidak cukup.

“Oh,Tuhan…,” saya duduk merenung di depan sebuah rumah makan di dekat hotel tersebut.
“Mungkinkah saya tertipu?” saya mulai berpikir. Kalau saya pikir, perusahaan yang di Jakarta cukup mewah dan megah. Tampilannya juga profesional. Sedih sekali. Bahkan hampir meneteskan air mata. Jauh dari orang tua. Jauh dari saudara. Jauh dari teman. Lebih menyedihkan lagi, uang tinggal sedikit. Hanya cukup untuk membeli sepotong roti. Saya tercenung berjam-jam. sampai siang hari, saya belum menemukan jalan keluarnya. Tanpa saya sadari, dua tetes air mata membasahi pipi saya.

“Oh, Tuhan…Tolonglah saya,” pinta saya ke Tuhan.

Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depan saya duduk. Pengemudinya keluar. Seorang wanita muda. Begitu engemudi itu membuka kacamatanya, saya terkesiap. Diapun terkejut.

“Sil…Silvana….?” saya menyebut sebuah nama. Antara yakin dan tidak yakin.
“Harry…..Dulu yang di SMAN 6 Surabaya?” tanyanya juga antara yakin dan tak yakin. sayapun langsung berdiri dan mendekati.
“Iya. Saya Harry, alumni SMAN 6 Surabaya…” tegas saya. Kami berduapun saling berpelukan.

Ya,…Silvana. Silvana Tambayong. Dia adalah pacar saya sewaktu saya masih sekolah di SMAN 6 Surabaya. Itu sekitar enam tahun yang lalu. Lulus SMA, kami berpisah dan tak pernah bertemu.

“Kok, Harry tampaknya sedih? Kenapa,Harry?” Silvana memandang saya dan menunggu jawaban.

Akhirnya, sayapun bercerita dengan jujur peristiwa yang saya alami. Tanpa saya tambahi,tanpa saya kurangi. Saya ceritakan apa adanya. bahkan saya berkata jujur, kehabisan uang.

“Yuk, makan siang dulu,deh. Sambil cerita…” ajaknya. Saya dan Silvanapun masuk ke restoran. Dan, sambil makan siang, saya bercerita lebih mendetail lagi. Silvana mendengarkan dengan cermat. Kemudian ganti dia yang cerita. Dia sudah menikah dan punya satu anak perempuan.

“Oh,ya Harry. Kebetulan saya kerja di kantor KBRI. Saya ke Chiang Mai kebetulan sedang ada tugas.

Sehabis makan siang, Silvanapun mengantarkan saya ke Embassy of  Republic of Indonesia to Thailand di kawasan Petchburi Road, Phyathai. Cukup jauh juga. Tentu, tidak hari itu Silvana mengantarkan saya ke KBRI, tetapi saya harus menginap dulu semalam di sebuah hotel atas biata Silvana.

Esok harinya, saya dan Silvana ke kantor KBRI untuk mengurus dokumen-dokumen penting. Semua lancar-lancar saja. Selesai urusan, sian harinya saya diantar ke Bandara Don Mueang. Saat itu bandara baru Suvarnabhumi dalam tahap pembangunan.

“Selamat jalan,Harry…” ucap Silvana.
“Terima kasih, Silvana. Seumur hidup, saya tidak akan melupakan kebaikan Silvana…,” ucap saya.

Sesudah berpelukan, sayapun menuju ke pesawat. Dan beberapa saat kemudian pesawatpun melesat menuju ke Indonesia. Dan dua hari setelah di Indonesia, sayapun menuju ke Jl. Mojopahit ke perusahaan yang pernah merekrut saya. Papan nama perusahaan tidak ada. Sudah kabur.Ternyata, di situ juga banyak sarjana berkumpul.Singkatnya, sekitar 1.000 sarjana telah menjadi korban penipuan. Total uang yang dibawa kabur sekitar Rp 40 milyar kalau dinilai tahun 2012.

“Oh, Silvana Tambayong. Apa jadinya kalau saya tidak bertemu denganmu. Terima kasih Silvana Tambayong,” ucap saya di hati berkali-kali.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Iklan

CERPEN: Republik Sandal Jepit


SEPERTI biasa, tiap Selasa pagi, para mahasiswa fakultas filsafat di negeri yang menamakan dirnya Republik Sandal Jepit, berkumpul di taman. Seperti biasa pula, mereka berdiskusi soal-soal hal yang menjadi perhatian masyarakat luas. Kebetulan, saat itu saya juga berstatus mahasiswa fakultas filsafat.

“Kadang-kadang saya menyesal jadi warganegara Republik Sandal Jepit ini. Sebab, selalu sering muncul berbagai kasus, tetapi tidak ada tindak lanjutnya,” keluh Slamet yang punya nama asli Didik Wahyudi.
“Contohnya apa?” Sukowiyono bertanya.
“Contohnya, ada begitu banyak korupsi, tertapi presidennya Cuma menghunus pedang. Tidak pernah menghujamkan. Seharusnya, banyaknya kasus korupsi diikuti dengan revisi undang-undang yang berhubungan dengan korupsi. Misalnya, berapapun yang dikorupsi, minimal hukumannya lima tahun, tanpa remisi. Buatlah pasal pembuktian terbalik secara hitam di atas putih. lakukan penyitaan semua harta milik koruptor senilai uang negara yang dikorupsi. Jika kurang, hukumannya ditambah,” sahut Slamet.

“Setuju. Bahkan seorang presiden perlu memerintahkan para menteri dan anak buahnyauntuk membuat sistem sesuai dengan bidang masing-masing. Misalnya, sistem pencegahan korupsi yang efektif dan efisien. Selama ini sistem pencegahan korupsi kurang profesional. Kurang kuat,” Miepsye menambahi.
“Tidak hanya itu. Kalau ada mafia pajak, maka seharusnya presidn memanggil menteri keuangan yang membawahi dirjen perpajakan supaya membentuk sistem dan prosedur perpajakan yang profesional. kalau perlu undang konsultan manajemen asing yang sudah berpengalaman. Atau studi banding ke negara-negara yang sistem perpajakannya sudah profesional. Apa susahnya. Itupun tak dilakukan,” Sudarmaji menambahi.

“Iya. Presiden kita kurang tanggap dan kurang cerdas. Undang-undang yang dibuatpun banyak yang lebih menguntungkan kapitalis, baik kapitalis asing maupun kapitalis domestik. bahkan rakyat yang sudah lama menempati tanah adat atau tanah ulayatpun diusir paksa. bahkan dipukul dan ditembak oleh oknum polisi hingga tewas. Apa solusinya? Tidak ada. Presiden kita memang tidak kreatif,” ujar Ike Kumalasekti. Ike nama cowok.
“Ho’oh. Ekonomi kita 70% dikuasai kapitalis asing. Kapitalis telah dijadikan berhala yang disembah-sembah. Memang benar, kapitalis bisa menciptakan lapangan kerja. Tetapi filsafat kapitalis mengatakan ‘memberi sedikit, mengambil banyak’” begitu komentar Andarini.

“Ada lagi. Soal pelanggaran HAM yang ringan maupun berat. Pemerintah dan para wakil rakyat kita matanya sudah buta semua. Telinganya sudah tulis semua. Seharusnya presiden dan DPR segera membuat undang-undang tentang peradilan HAM. Jadi, semua pelanggaran HAM harus diadili di peradilan HAM. Kalau kita punya peradilan tipikor, apa susahnya membentuk peradilan HAM? Cukup di ibukota negara saja.” Erna mengusulkan.
“Setuju. Kenyataannya, presiden kita tidak punya hati nurani. Bebal. Tidak kreatif. Hanya memilirkan politik saja. Dia itu bukan manajer bangsa dan negara tetapi manajer politik. Kasus tsunamipun belum selesai tuntas. Masih banyak warganya yang belum dapat ganti rumah, padahal itu sudah dijanjikan. Ribuan warga korban lumpur Bakrindo juga belum dilunasi. Pembayarannya diincrit-incrit. Seharusnya kan bisa dipinjami uang negara dulu, dan PT Bakrindo yang mengangsur ke pemerintah. Artinya, semua korban lumpur Bakrindo akan menerima ganti rugi atau tanah dan rumahnya dibeli secara tunai. Kenapa cara berpikir yag mudah ini tidak bisa direalisasikan?” keluh Miepsye.

“Payah,deh! Banyak kasus tetapi tidak pernah diikuti dengan pembuatan sistem. Coba, negara kita yang agraris, garam kok impor. Sayur mayur kok impor. Buah-buahan kok impor. Padahal Thailand yang dilanda banjir, mampu mengekspor beras ke negara kita. Vietnam yang merdeka beberapa puluh tahun, mampu mandiri beras. Menteri pertaniannya benar-benar koplak. Seharusnya presiden mengganti menteri-menterinya yang koplak, tetapi itu tidak dilakukan,” komentar Sukowiyono.

Selasa pagi itu memang tidak ada kuliah karena dosennya sedang ke luar negeri selama tiga bulan. Karena tidak ada matakuliah pengganti atau dosen pengganti, maka tiap Selasa pagi dimanfaatkan untuk berdiskusi.

“Oh, ya. Belum lagi soal BBM. Apa susahnya menaikkan BBM bersubsidi,sih? Kenapa harus berputar-putar kalau motor dan angkutan umum yang boleh beli BBM premium. Sedangkan mobil pribadi harus memakai pertamax dan sejenisnya. Jangan-jangan ini ada campur tangan asing. Maklum, selama ini SPBU Petronas dan SPBU Shell sepi. Kalau mobil pribadi harus beli pertamax dan semacamnya, tentu SPBU mereka akan menjadi ramai.” begitu argumentasi Slamet.
“Masuk akal. Masalah kemacetan lalu liintas juga begitu. Kalau diberlakukan sistem genap-ganjil, pasti kemacetan di ibukota Republik sandal Jepit bisa berkurang 40%. Konsekuensinya, masyarakay akan menggunakan kendaraan umum atau motor. yang mampu beli motor akan beli motor. tapi yang dilakukan memabngun jalan layang sebanyak-banyaknya. Mungkin, proyeknya bernilai ratusan milyar sehingga korupsinya juga besar,” keluh Erna.

“Jumlah partai politikpun seharusnya dibatasi. maksimal lima parpol saja. Jangan dengan alasan demokrasi, maka parpol boleh berdiri sebanyak-banyaknya. Lihatlah, negara-negara maju jumlah parpolnya sedikit. Kebanyakan parpol akan semakin banyak persoalan dan kericuhan politik. Lantas, kapan pemerintah bisa membangun?” Gaguk Wibowo yang sedari tadi diam, ikut berbicara.

Diskusi seperti itu memang menarik. Apalagi sambil makan bakso. Tentu lebih nikmat. Di taman fakultas filsafat itu memang ada tenda-tenda payung yang digunakan untuk berjualan bakso, sekoteng, jagung bakar, es campur dan lain-lain. Suasananya cukup segar dan menyenangkan. Cukup banyak bangku di taman itu.

“Negara kita itu punya banyak masalah, tetapi tidak pernah diikuti dengan langkah-langkah untuk membuat sistem pencegahannya, sehingga kasusnya selalu terulang. Kereta api anjloklah, kemacetan lalu lintas yang abadilah, lorupsi yang permanenlah, kekayaan alam kita yang terus-terusan dikuras para kapitalislah. Masyarakat kecil yang diperlakukan tidak adillah. Mungkin ada sejuta masalah yang tidak pernah dibuat sistem pencegahannya,” kata Erna bersemangat.

“Ada kesan. Kalau terjadi demo anarki atau kerusuhan, kalau tidak terjadi kesepakatan, maka seolah-olah polisi diberi wewenang untuk menembak rakyat. Terkesan, kalau negosiasi macet atau buntu, rakyat boleh dipukul, ditendang, ditembak dan jika perlu sampai tewas. Terkesan protapnya mengatakan demikian. Artinya, itu merupakan kekerasan dan pekanggaran HAM yang dilindungi undang-undang. Padahal, polisi boleh menembalk hanya dalam posisi membela diri.Iya,kan” itu kata Suidarmaji.

“Iya. Saya setuju dengan pendapat Anda semua. Negara kita banyak kasus, tetapi tiap kali kasus terjadi, tidak pernah dibuat sistem pencegahannya. Sehingga kasusnya terus terulang, terulang dan terulang,” sayapun mulai memberikan komentar.
“Lantas, bagaimana solusi yang seharusnya bagi negara ini?” tanya Erna dan Miepsye hampir bersamaan.

“Solusinya di pemilu. Pilihlah capres-cawapres yang jujur, adil, tegas dan cerdas. Masalahnya adalah, 50% pemilih masih berpendidikan SD. Atau 70% pemilih merupakan pemilih yang awam politik. Mereka memilih asal memilih. hanya berdasarkan kira-kira,” jawab saya.
“Jadi, kualitas pemimpin bangsa ditentukan oleh kualitas para pemilihnya? lantas,bagaimana caranya supaya masyarakat pemilih menjadi pemilih yang cerdas?” tanya Gaguk Wibowo. Pertanyaan yang bagus.

“Solusinya, perlunya pencerahan bagi masyarakat atau rakyat. Pencerahan poltik bisa dilakukan siapa saja dan melalui media apa saja. Intinya, mereka harus memlih capres-cawapres berdasarkan kualitas, apapun partai politiknya. Bukan karena janji, bukan karena hasil survei, bukan karena terpengaruh iklan, bukan terpengaruh teman dan sebagainya. Cuma, hal yang demikian tampaknya kurang realistis. Mungkin nasib bangsa Republik Sandal Jepit harus seperti sekarang ini. Kita cuma bisa berharap agar pemilu mendatang Tuhan memberikan capres-cawapres dan calon wakil rakyat yang berkualitas…” saya menerangkan.

“Mungkinkah itu?” Sukwowoyono ingin tahu.
“Kemungkinan sih ada, tetapi kecil sekali. Siapapun yang nanti jadi presiden, tak akan mampu membuat berbagai sistem yang efektif dan efisien. Mungkin ada perubahan, tetapi perubahannya tidak signifikan. Sekarang saja kita punya presiden tak mampu membuat sistem pencegahan korupsi yang efektif. Bukan dia sih yang membuat, tetapi dia kan bisa memerintahkan ke para pembantunya yang kompeten untuk itu.Apa susahnya? “ ujar saya.

“Ah! Kalau presidennya seperti sekarang ini, tidak mungkin akan ada perubahan. Kita punya presiden bisanya Cuma curhat dan mengeluh. Pandai beretorika,pandai berwacana, tetapi implementasinya nol besar. Hanya omdo saja…” keluh Sukowiyono kesal.
“Ya, beginilah. Selama kita punya presiden koplak, negara kita tetap menjadi Republik Sandal Jepit. Sandal jepit merupakan simbol rakyat kecil. Artinya, rakyat kecil dan rakyat miskin semakin lama semakin tertindas dan terjepit. Pokoknya, kita tak bisa berharap banyak selama kita punya presiden yang koplak begitu…” gaguk Wibowo menambahi.
“Setuju…!!!” serentak teman-teman lainnya menjawab.

Selanjutnya, kami semua asyik makan bakso yang masih hangat dan lezat.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

CERPEN: Auld Lang Syne

TEPAT  pukul 00:00 maka ribuan petasan dibunyikan serempak oleh ribuan warga Jakarta. Artinya, seluruh bangsa di dunia memasuki tahun baru 2010. Namun acara tahun baru ini saya lebih suka tinggal di rumah sambil memutar lagu Auld Lang Syne.

Auld Lang Syne” adalah sebuah puisi karya Robert Burns, meskipun ada pula puisi serupa oleh Robert Ayton (1570-1638). Bahkan ada pula lagu-lagu rakyat yang lebih tua, yang menggunakan frasa serupa dan yang mungkin telah mengilhami Burns.

“Betapapun juga, “Auld Lang Syne” adalah lagu terkenal di negara-negara berbahasa Inggris — meskipun melodinya lebih mudah diingat daripada kata-katanya, yang sering keliru dinyanyikan dan jarang sekali dinyanyikan semua baitnya.

 

Lagu ini biasanya disertai dengan sebuah dansa tradisional. Kelompok yang menyanyikannya membentuk sebuah lingkaran sambil berpegangan tangan pada bait pertamanya. Pada bait kedua, tangan-tangan disilangkan dan kemudian dirangkaian kembali. Pada bait ketiga, setiap orang berpindah ke tengah lingkaran dan kemudian keluar lagi.

Judul lagu ini adalah dalam bahasa Skotlandia, dan dapat diterjemahkan secara harafiah sebagai ‘sejak sudah lama sekali’, ‘dulu sekali’, atau ‘hari-hari yang telah berlalu’.” Begitu menurut Wikipedia, sebuah ensiklopedia bebas.

Lantas. Apa hubungannya lagu itu dengan acara tahun baru 2010? Ada. Bukan hanya tahun 2010. Tiap tahun sejak tahun 1981 saya selalu memutar ulang lagu itu tiap acara tahun baru.

Kenapa, dulu saya pernah kuliah di Akademi Bahasa Asing “Jakarta” dan selama dua tahun saya pacaran dengan adik kelas bernama Yenara. Gadis Padang berkulit putih, berambut pendek, modis, enak diajak bicara, gaul, moderen, suka musik, suka jalan-jalan dan bias dibanggakan. Maklum, Yenara termasuk “The Beautiful Five”. Termasuk lima mahasiswi tercantik di kampus.

Saya masih ingat. Menjelang tahun baru 1980, saya dan Yenara memilih Pitstop Discotheque yang berlokasi di Hotel Sari Pasific, Jl.M.H Thamrin sebagai tempat merayakan menyambut tahun baru 1980.

Tampak cukup meriah suasana di diskotik itu. Musik hot dan slow silih berganti. Lampu gemerlap warna-warni, kadang terang kadang redup silih berganti. Semula saya dan Yenara duduk di meja sambil minum penghangat badan. Sesekali kami dansa bersama. Sebuah kenangan yang indah tentunya.

 

Namun, yang paling mengesankan adalah tepat pukul 00:00. Semua pengunjung diwajibkan membuat sebuah lingkaran besar dan sambil bergandengan tangan. Ketika lagu Auld Lang Syne diputar, maka lingkaran manusia itupun berputar dan semua menyanyikan lagu tersebut dengan senang hati. Lagu yang sangat mengesankan. Kemudian disusul letupan petasan-petasan kecil dan ratusan kembang api yang menyala indah sekali.

Kemudian dilanjutkan acara dansa biasa. Saat itulah, seorang cowok meminta izin saya untuk berdansa dengan Yenara. Hal itu biasa. Saya mengizinkan dan duduk di kursi yang tadi saya tempati sambil menum-minum hangat.

Saya sempat juga melihat Yenara berdansa dengan cowok itu. Semula biasa saja. Namun ketika saya melihat cowok itu mencium bibir Yenara, saya agak emosi juga. Sebab, itu sudah kelewat batas. Namun, karena saya tidak ingin membuat keributan, saya diamkan saja.

Selesai acara, sekitar pukul 04:00 dini hari, sayapun mengantarkan Yenara untuk pulang. Namun ketika mobil yang saya kemudikan lewat Jembatan Semanggi, belok kiri ke Jl. Gatot Soebroto, mobil saya hentikan sebentar ke tepi.

“Siapa tadi?” Saya Tanya Yenara. Sementara mesin mobil Honda tetap hidup.

“Teman” Singkat jawabnya. Membuat saya tidak puas.

“Teman apa pacar?” Saya mendesak Yenara. Betapapun juga, sebagai seorang cowok saya juga bias cemburu.

“Dulu pacar”

“Sekarang?”

Yenara diam tak menjawab pertanyaan saya. Biasanya, cewek kalau diam sama artinya dengan kata “ya”.

“Sudah berapa tahun pacaran dengan dia?” Saya mulai marah.

“Dua tahun”.

“Kenapa tidak pernah bilang ke saya sejak dulu?”

Lagi-lagi Yenara diam. Teguran itu ternyata menjadi panas. Akhirnya perdebatan tak bias terhindarkan lagi. Kami sama-sama emosi.

“Sekarang pilih. Yenara pilih dia atau pilih saya!” Saya mulai membentak.

“Saya minta waktu untuk memikirkannya”

“Saya butuh jawaban sekarang”

“Saya butuh waktu seminggu” Ganti Yenara berkata keras.

Cukup lama juga kami bertengkar. Begitu, saya mendengar jawaban dari Yenara bahwa dia memilih cowok itu, maka emosi saya sudah sampai di kepala. Tamparan keras saya layangkan ke pipinya berkali-kali.. Yenara pun menangis. Sayapun berhenti menampar.

Mobilpun saya jalankan lagi. Sampai di patung Pancoran belok kiri, Jl. Dr. Saharjo. Depan mess Akabri, putar balik. Kemudian belok ke Timur. Yenara memang tinggal di daerah Tebet.

Sampai di depan rumahnya, saya bukakan pintu mobil untuk Yenara.

“Hubungan kita sampai di sini saja. Saya tidak mau dijadikan cowok cadangan. Saya tidak sudi diduakan.”

“Maafkan saya, Harry” Pinta Yenara.

Sesudah saya antarkan sampai di rumah dan diterima mamanya, sayapun kembali menuju mobil.

Sejak saat itu, saya tak pernah lagi datang ke rumah Yenara. Di kampuspun saya tak saling bertegur sapa.

Sesudah lulus dari Akademi Bahasa Asing “Jakarta”, saya tak pernah bertemu lagi. Meskipun itu merupakan kenangan pahit, namun bekas-bekas kenangan indahnya masih saya rasakan.

Itulah sebabnya, tiap acara menyambut tahun baru, saya selalu memutar lagu Auld Lang Syne berkali-kali.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

Catatan:

1.Dengarkan langsung lagunya (Video:Baca teks/liriknya) di:

http://military.rightpundits.com/2009/12/31/auld-lang-syne-lyrics-happy-new-year/

 

2.Anda bisa download gratis  lagu Auld Lang Syne di (berupa lagu):

http://www.thanksmuch.com/christmas/auld-lang-syne-mp3.html

 

3.atau di (berupa instrumentalia):

http://dc119.4shared.com/download/79721690/c4910df9/Kenny_G_-  _Auld_Lang_Syne.Mp3?tsid=20091231-152019-51335adc

 

4.atau di (untuk ringtone):

 

http://www.4shared.com/get/7482858/9218ed3a/Auld_Lang_Syne.html;jsessionid=960EE42C391B7E70DACF44B9283086CF.dc61

 

Lirik Lagu Auld Lang Syne:

Should auld acquaintance be forgot,

And never brought to mind?

Should auld acquaintance be forgot,

And days o’ lang syne?

 

ch.

And for auld lang syne, my jo,

for auld lang syne,

We’ll tak a cup o’ kindness yet,

For auld lang syne.

And surely ye’ll be your pint stoup!

And surely I’ll be mine!

 

And we’ll tak a cup o’ kindness yet,

For auld lang syne.