CERPEN: Auld Lang Syne

TEPAT  pukul 00:00 maka ribuan petasan dibunyikan serempak oleh ribuan warga Jakarta. Artinya, seluruh bangsa di dunia memasuki tahun baru 2010. Namun acara tahun baru ini saya lebih suka tinggal di rumah sambil memutar lagu Auld Lang Syne.

Auld Lang Syne” adalah sebuah puisi karya Robert Burns, meskipun ada pula puisi serupa oleh Robert Ayton (1570-1638). Bahkan ada pula lagu-lagu rakyat yang lebih tua, yang menggunakan frasa serupa dan yang mungkin telah mengilhami Burns.

“Betapapun juga, “Auld Lang Syne” adalah lagu terkenal di negara-negara berbahasa Inggris — meskipun melodinya lebih mudah diingat daripada kata-katanya, yang sering keliru dinyanyikan dan jarang sekali dinyanyikan semua baitnya.

 

Lagu ini biasanya disertai dengan sebuah dansa tradisional. Kelompok yang menyanyikannya membentuk sebuah lingkaran sambil berpegangan tangan pada bait pertamanya. Pada bait kedua, tangan-tangan disilangkan dan kemudian dirangkaian kembali. Pada bait ketiga, setiap orang berpindah ke tengah lingkaran dan kemudian keluar lagi.

Judul lagu ini adalah dalam bahasa Skotlandia, dan dapat diterjemahkan secara harafiah sebagai ‘sejak sudah lama sekali’, ‘dulu sekali’, atau ‘hari-hari yang telah berlalu’.” Begitu menurut Wikipedia, sebuah ensiklopedia bebas.

Lantas. Apa hubungannya lagu itu dengan acara tahun baru 2010? Ada. Bukan hanya tahun 2010. Tiap tahun sejak tahun 1981 saya selalu memutar ulang lagu itu tiap acara tahun baru.

Kenapa, dulu saya pernah kuliah di Akademi Bahasa Asing “Jakarta” dan selama dua tahun saya pacaran dengan adik kelas bernama Yenara. Gadis Padang berkulit putih, berambut pendek, modis, enak diajak bicara, gaul, moderen, suka musik, suka jalan-jalan dan bias dibanggakan. Maklum, Yenara termasuk “The Beautiful Five”. Termasuk lima mahasiswi tercantik di kampus.

Saya masih ingat. Menjelang tahun baru 1980, saya dan Yenara memilih Pitstop Discotheque yang berlokasi di Hotel Sari Pasific, Jl.M.H Thamrin sebagai tempat merayakan menyambut tahun baru 1980.

Tampak cukup meriah suasana di diskotik itu. Musik hot dan slow silih berganti. Lampu gemerlap warna-warni, kadang terang kadang redup silih berganti. Semula saya dan Yenara duduk di meja sambil minum penghangat badan. Sesekali kami dansa bersama. Sebuah kenangan yang indah tentunya.

 

Namun, yang paling mengesankan adalah tepat pukul 00:00. Semua pengunjung diwajibkan membuat sebuah lingkaran besar dan sambil bergandengan tangan. Ketika lagu Auld Lang Syne diputar, maka lingkaran manusia itupun berputar dan semua menyanyikan lagu tersebut dengan senang hati. Lagu yang sangat mengesankan. Kemudian disusul letupan petasan-petasan kecil dan ratusan kembang api yang menyala indah sekali.

Kemudian dilanjutkan acara dansa biasa. Saat itulah, seorang cowok meminta izin saya untuk berdansa dengan Yenara. Hal itu biasa. Saya mengizinkan dan duduk di kursi yang tadi saya tempati sambil menum-minum hangat.

Saya sempat juga melihat Yenara berdansa dengan cowok itu. Semula biasa saja. Namun ketika saya melihat cowok itu mencium bibir Yenara, saya agak emosi juga. Sebab, itu sudah kelewat batas. Namun, karena saya tidak ingin membuat keributan, saya diamkan saja.

Selesai acara, sekitar pukul 04:00 dini hari, sayapun mengantarkan Yenara untuk pulang. Namun ketika mobil yang saya kemudikan lewat Jembatan Semanggi, belok kiri ke Jl. Gatot Soebroto, mobil saya hentikan sebentar ke tepi.

“Siapa tadi?” Saya Tanya Yenara. Sementara mesin mobil Honda tetap hidup.

“Teman” Singkat jawabnya. Membuat saya tidak puas.

“Teman apa pacar?” Saya mendesak Yenara. Betapapun juga, sebagai seorang cowok saya juga bias cemburu.

“Dulu pacar”

“Sekarang?”

Yenara diam tak menjawab pertanyaan saya. Biasanya, cewek kalau diam sama artinya dengan kata “ya”.

“Sudah berapa tahun pacaran dengan dia?” Saya mulai marah.

“Dua tahun”.

“Kenapa tidak pernah bilang ke saya sejak dulu?”

Lagi-lagi Yenara diam. Teguran itu ternyata menjadi panas. Akhirnya perdebatan tak bias terhindarkan lagi. Kami sama-sama emosi.

“Sekarang pilih. Yenara pilih dia atau pilih saya!” Saya mulai membentak.

“Saya minta waktu untuk memikirkannya”

“Saya butuh jawaban sekarang”

“Saya butuh waktu seminggu” Ganti Yenara berkata keras.

Cukup lama juga kami bertengkar. Begitu, saya mendengar jawaban dari Yenara bahwa dia memilih cowok itu, maka emosi saya sudah sampai di kepala. Tamparan keras saya layangkan ke pipinya berkali-kali.. Yenara pun menangis. Sayapun berhenti menampar.

Mobilpun saya jalankan lagi. Sampai di patung Pancoran belok kiri, Jl. Dr. Saharjo. Depan mess Akabri, putar balik. Kemudian belok ke Timur. Yenara memang tinggal di daerah Tebet.

Sampai di depan rumahnya, saya bukakan pintu mobil untuk Yenara.

“Hubungan kita sampai di sini saja. Saya tidak mau dijadikan cowok cadangan. Saya tidak sudi diduakan.”

“Maafkan saya, Harry” Pinta Yenara.

Sesudah saya antarkan sampai di rumah dan diterima mamanya, sayapun kembali menuju mobil.

Sejak saat itu, saya tak pernah lagi datang ke rumah Yenara. Di kampuspun saya tak saling bertegur sapa.

Sesudah lulus dari Akademi Bahasa Asing “Jakarta”, saya tak pernah bertemu lagi. Meskipun itu merupakan kenangan pahit, namun bekas-bekas kenangan indahnya masih saya rasakan.

Itulah sebabnya, tiap acara menyambut tahun baru, saya selalu memutar lagu Auld Lang Syne berkali-kali.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

Catatan:

1.Dengarkan langsung lagunya (Video:Baca teks/liriknya) di:

http://military.rightpundits.com/2009/12/31/auld-lang-syne-lyrics-happy-new-year/

 

2.Anda bisa download gratis  lagu Auld Lang Syne di (berupa lagu):

http://www.thanksmuch.com/christmas/auld-lang-syne-mp3.html

 

3.atau di (berupa instrumentalia):

http://dc119.4shared.com/download/79721690/c4910df9/Kenny_G_-  _Auld_Lang_Syne.Mp3?tsid=20091231-152019-51335adc

 

4.atau di (untuk ringtone):

 

http://www.4shared.com/get/7482858/9218ed3a/Auld_Lang_Syne.html;jsessionid=960EE42C391B7E70DACF44B9283086CF.dc61

 

Lirik Lagu Auld Lang Syne:

Should auld acquaintance be forgot,

And never brought to mind?

Should auld acquaintance be forgot,

And days o’ lang syne?

 

ch.

And for auld lang syne, my jo,

for auld lang syne,

We’ll tak a cup o’ kindness yet,

For auld lang syne.

And surely ye’ll be your pint stoup!

And surely I’ll be mine!

 

And we’ll tak a cup o’ kindness yet,

For auld lang syne.

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: