CERPEN: Terima Kasih untuk Silvana Tambayong

WISUDA. Ya, saat itu selesai acara wisuda di Fakultas Ekonomi, Angkatan 08, Universitas Trisakti, Jakarta. Selesai wisuda, saya langsung melepaskan toga hitam dan menggantinya dengan toga putih. Di belakangnya ada tulisan “Tidak Butuh Gelar”. Tentu, demo tunggal yang saya lakukan menjadi perhatian banyak wisudawan dan para orang tuanya yang hadir. Ha ha ha……!

Akhirnya, saya digelandang menwa ke ruang menwa. saya ditanya macam-macam. Saya cuma menjawab, itu saya lakukan karena saya membayar nazar. Buunyi nazar, demi Allah swt, demi Nabi Muhammad SAW dan demi Al Qur’an, jika saya berhasil diwisuda, saya tidak akan memakai gelar sarjana yang saya miliki. Kecuali terpaksa atau dipaksa. Ha ha ha…..!

Sebab, gelar sarjana bukan lagi cermin kepandaian dan kecerdasan, melainkan tanda lulus saja. Akhirnya, sayapun dibebaskan menwa dengan syarat mencopot toga putih itu. Selanjutnya saya membayar nazar kedua, saya berlari-lari mengelilingi kampus. Cukup satu kali saja. Ha ha ha…..!

Dua hari kemudian saya membeli 20 surat kabar. Berjam-jam saya membaca lowongan kerja. Akhirnya ada sebuah iklan lowongan yang sangat menarik. Dibutuhkan banyak sarjana ekonomi yang baru lulus untuk ditempatkan di cabang-cabang perusahaan di berbagai negara. Ini dia yang saya cari.

Sesuai dengan bunyi iklan, saya langsung datang ke PT “X” di Jl.Mojopahit, jakarta Pusat sambil membawa ijasah sarjana. Di sini ternyata banyak yang melamar. Ada ratusan sarjana. Semua mengisi formulir lamaran kerja yang telah disediakan. Melampirkan foto, fotokopi ijasah dan syarat-syarat lain . Ketika mengambil undian, ternyata saya akan ditempatkan di Thailand. Ya, nggak apa-apa. Yang penting gajinya besar. Bahkan sangat besar untuk ukuran Indonesia.

Langsung mengikuti tes tertulis. Singkatnya, seminggu kemudian saya melihat di papan pengumuman perusahaan. Ternyata saya diterima. Wah, mungkin ada sekitar 1.000 sarjana yang diterima. Luar biasa. maklumlah, perusahaan multi nasional.

Saya langsung masuk ke ruang pengarahan. Ada sekitar 1.000 sarjana berkumpul. Informasinya, untuk ditempatkan di negara yang bersangkutan, Cuma dikenakan biaya untuk mengurus dokumen-dokumen untuk kepentingan ke luar negeri. Biaya itu juga termasuk uang jaminan dan asuransi. Besarnya sekitar Rp 50 juta kalau dinilai dengan kurs yang berlaku tahun 2012 ini. Tidak apa-apa. Saya bayar. Toh, nanti saya akan dapat gaji besar.

Beberapa hari kemudian, sayapun telah mendapatkan tiket pesawat dan dokumen-dokumen penting lainnya. Pesawatpun melesat ke udara menuju ke Thailand. Saat itu ada lima sarjana Indonesia yang ditugaskan ke Thailand. sayang, mereka berangkat tidak satu pesawat dengan saya.

Karena saat itu tidak ada pesawat dari Indonesia langsung ke Thailand, maka saya harus terbang dulu ke Singapura. Kemudian meneruskan perjalanan ke Bandara Chiang Mai, Thailand.

Sesampai di bandara, sesuai petunjuk perusahaan, sayapun mencari mobil penjemputan. Sayapun minta bantuan ke bagian inforamsi untuk memanggil mobil dengan nomor polisi sesuai yang ada di catatan saya. Namun, hingga satu jam, tidak ada yang datang di depan lobi.

Akhirnya, terpaksa saya naik taksi. Dengan bahasa tarsan, saya minta diantarkan ke alamat tertentu. saya tunjukkan tulisannya. Brengseknya, walaupun taksinya pakai argo, namun tarifnya tetap tawar-menawar. Akhirnya disepakati biayanya 150 bath.

Taksipun berhenti sesuai alamat yang saya berikan. Saya bayar.Saya turun. Saya lihat nama jalan benar, nomor bangunan benar. Kok, hotel? Meskipun demikian, sayapun masuk. Saya tanya ke bagian informasi, apakah di hotel itu ada perusahaan bernama “PQR Company”? Jawabannya, tidak ada dan tidak pernah mendengar nama itu.

Sayapun keluar dari hotel. Saya baru merasa galau. Bingung, tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Jalan ke sana ke mari cari telepon umum. Tidak ada. tanya orang, katanya telepon umumnya jauh. Saya lihat peta Thailand. Bingung. Mau tanya siapa? Tidak ada teman. Zaman dulu, ponsel juga belum ada. Saya baru menyadari, saya punya masalah besar. Perusahaan yang saya cari, tidak ada. Mau telepon ke perusahaan di Jakarta, tidak ada telepon umum.

Sayapun berjalan menyusuri trotoar. Tiap kali ada kendaraan tuk-tuk, saya tanya, tahu tidak nama “PQR Company”. Semua menjawab tidak tahu. Bahkan tidak pernah mendengar nama itu. Kebetulan ada kantor polisi. sayapun bertanya ke polisi yang sedang bertugas. Untunglah, polisinya baik hati.

Dengan mobil polisi, sayapun diajak mencari perusahaan itu. katanya, polisi itu pernah mendengar nama perusahaan itu. Wow….hati saya mulai berdetak gembira. Ada harapan. Semoga, menjadi kenyataan.

Satu persatu, petugas polisi menunjuk satu persatu perusahaan yang dilewati mobil yang kami tumpangi. Saya baca satu persatu nama perusahaannya. Itupun yang tertulis dalam huruf Latin. Yang tertulis dalam huruf Thai, saya tidak bisa membaca. Yang menyenangkan, polisi Thai ini bisa brbahasa Indonesia. Katanya, isterinya orang Indonesia. Menyenangkan sekali.

Tepat, di sebuah perusahaan, mobil berhenti.
“Mungkin itu,” kata polisi itu sambil menunjuk ke sebuah papan nama perusahaan.
Semula hati saya girang sekali. namun, setelah saya cermati, nama perusahaan itu bukan “PQR Company”, tetapi “POR Company”. Mirip. Meskiipun demikian, saya tetap menuju ke perusahaan itu. Dari bagian informasi saya dapat jawaban, perusahaan itu brnama “POR Company” dan bukan cabang dari perusahaan manapun. Bahkan tahun itu tidak membuka lowongan kerja.

“Oh,Tuhan!” saya mengeluh. Hari menjelang sore. Saya setengah putus asa. Akhirnya, oleh polisi saya diantar ke sebuah hotel yang paling murah. Terpaksa,malam itu saya bermalam di sebuah hotel kecil itu.

Pagi harinya, terpaksa saya harus check out dari hotel. Sesudah membayar hotel, saya baru tersadar. Uang saya sudah tidak cukup untuk pulang keIndonesia. Bahkan, untuk biaya ke bandarapun tidak cukup.

“Oh,Tuhan…,” saya duduk merenung di depan sebuah rumah makan di dekat hotel tersebut.
“Mungkinkah saya tertipu?” saya mulai berpikir. Kalau saya pikir, perusahaan yang di Jakarta cukup mewah dan megah. Tampilannya juga profesional. Sedih sekali. Bahkan hampir meneteskan air mata. Jauh dari orang tua. Jauh dari saudara. Jauh dari teman. Lebih menyedihkan lagi, uang tinggal sedikit. Hanya cukup untuk membeli sepotong roti. Saya tercenung berjam-jam. sampai siang hari, saya belum menemukan jalan keluarnya. Tanpa saya sadari, dua tetes air mata membasahi pipi saya.

“Oh, Tuhan…Tolonglah saya,” pinta saya ke Tuhan.

Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depan saya duduk. Pengemudinya keluar. Seorang wanita muda. Begitu engemudi itu membuka kacamatanya, saya terkesiap. Diapun terkejut.

“Sil…Silvana….?” saya menyebut sebuah nama. Antara yakin dan tidak yakin.
“Harry…..Dulu yang di SMAN 6 Surabaya?” tanyanya juga antara yakin dan tak yakin. sayapun langsung berdiri dan mendekati.
“Iya. Saya Harry, alumni SMAN 6 Surabaya…” tegas saya. Kami berduapun saling berpelukan.

Ya,…Silvana. Silvana Tambayong. Dia adalah pacar saya sewaktu saya masih sekolah di SMAN 6 Surabaya. Itu sekitar enam tahun yang lalu. Lulus SMA, kami berpisah dan tak pernah bertemu.

“Kok, Harry tampaknya sedih? Kenapa,Harry?” Silvana memandang saya dan menunggu jawaban.

Akhirnya, sayapun bercerita dengan jujur peristiwa yang saya alami. Tanpa saya tambahi,tanpa saya kurangi. Saya ceritakan apa adanya. bahkan saya berkata jujur, kehabisan uang.

“Yuk, makan siang dulu,deh. Sambil cerita…” ajaknya. Saya dan Silvanapun masuk ke restoran. Dan, sambil makan siang, saya bercerita lebih mendetail lagi. Silvana mendengarkan dengan cermat. Kemudian ganti dia yang cerita. Dia sudah menikah dan punya satu anak perempuan.

“Oh,ya Harry. Kebetulan saya kerja di kantor KBRI. Saya ke Chiang Mai kebetulan sedang ada tugas.

Sehabis makan siang, Silvanapun mengantarkan saya ke Embassy of  Republic of Indonesia to Thailand di kawasan Petchburi Road, Phyathai. Cukup jauh juga. Tentu, tidak hari itu Silvana mengantarkan saya ke KBRI, tetapi saya harus menginap dulu semalam di sebuah hotel atas biata Silvana.

Esok harinya, saya dan Silvana ke kantor KBRI untuk mengurus dokumen-dokumen penting. Semua lancar-lancar saja. Selesai urusan, sian harinya saya diantar ke Bandara Don Mueang. Saat itu bandara baru Suvarnabhumi dalam tahap pembangunan.

“Selamat jalan,Harry…” ucap Silvana.
“Terima kasih, Silvana. Seumur hidup, saya tidak akan melupakan kebaikan Silvana…,” ucap saya.

Sesudah berpelukan, sayapun menuju ke pesawat. Dan beberapa saat kemudian pesawatpun melesat menuju ke Indonesia. Dan dua hari setelah di Indonesia, sayapun menuju ke Jl. Mojopahit ke perusahaan yang pernah merekrut saya. Papan nama perusahaan tidak ada. Sudah kabur.Ternyata, di situ juga banyak sarjana berkumpul.Singkatnya, sekitar 1.000 sarjana telah menjadi korban penipuan. Total uang yang dibawa kabur sekitar Rp 40 milyar kalau dinilai tahun 2012.

“Oh, Silvana Tambayong. Apa jadinya kalau saya tidak bertemu denganmu. Terima kasih Silvana Tambayong,” ucap saya di hati berkali-kali.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: