CERPEN: Suatu Hari dalam Kehidupan Vanessa


TIAP kali saya mendengar lagu “One Day in Your Life” yang dibawakan Michael Jackson, hati saya pasti tersentak dan sekaligus saya menatap masa lalu saya yang seharusnya sudah saya lupakan. Sebuah masa lalu di mana saat itu saya sedang berstatus mahasiswa Fakultas Filsafat , Universitas Gajah Mada.

Satu-satunya mahasiswi yang pertama kali saya kenal bernama Vanessa Putri, yang juga baru saja diterima di fakultas yang sama. Dia satu angkatan dengan saya. Secara kebetulan saja, waktu kuliah duduknya dekat bangku saya. Dan kebetulan juga ketika ke kantin, saya bertemu dan makan siang bersama dia. Kebetulan lagi tempat kosnya berdekatan dengan tempat kos saya.

“O, tinggal di Sosrokusuman juga?”. Saya terkejut. Saat itu kebetulan saya duduk berdampingan di bus kampus sewaktu pulang kuliah.
“Iya. Tapi sebelumnya saya ikut tante di Jl. Magelang”. Lembut suaranya. Kalau saya perhatikan, cantik juga mahasiswi ini. Langsing, rambutnya halus sebahu. Akhirnya saya dan Vanessa bicara kesana kemari.

Di kampus itu saya juga punya kenalan mahasiswa yang baik hati. Namanya Maskanto. Sering secara tak sengaja bertemu di perpustakaan. Entah kenapa, tiap kali bertemu saya, dia selalu tanya kok tidak bersama Vanessa. Tentu, saya jawab kalau Vanessa lebih sering bersama mBak Areta daripada dengan saya.

Meskipun demikian, saya juga sering mengantarkan Vanessa belanja di Malioboro, makan siang bersama di restoran Hellen atau sekadar rekreasi bersama di Kaliurang, Pantai Samas, Borobudur dan lain-lain. Cukup banyak foto kenang-kenangan antara saya dan Vanessa. Saat itu saya dan Vanessa punya lagu favorit yang sama, yaitu “One Day in Your Life” yang dibawakan penyanyi nyentrik Michael Jackson.

Satu hal yang tak pernah diketahui teman-teman sekampus, saya sebenarnya sudah lama punya pacar. Yaitu, sejak saya dan Lia masih sama-sama duduk dibangku SMAN 6 Surabaya. Dia melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, sedangkan saya di Fakultas Filsafat UGM dengan tujuan memperdalam ilmu logika dan epistemologi.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, saya memang terlibat dalam kehidupan Vanessa. Walaunpun hubungan saya dengan Vanessa sudah berjalan tiga tahu, namun saya tetap menganggap bahwa Lia yang kuliah di Surabaya adalah satu-satunya pacar saya.

Banyak teman sekampus menilai, saya berpacaran dengan Vanessa. Itu tidak benar. Saya hanya menganggap dia sebagai teman kuliah. Tidak lebih dari itu. Hal ini membuat Maskanto penasaran sehingga suatu hari dia bertanya kepada saya.
“Lho, jadi kamu menganggap Vanessa sebagai teman biasa?”. Maskanto agak terkejut.
“Ya,iyalah. Tidak lebih dari itu”.Saya berkata jujur.
“Tapi kamu nggak boleh begitu. Kamu selama ini telah memberi hati.Telah memberikan harapan”. Maskanto menasehati saya.
“Sikap saya  terhadap  mahasiswi lain, sama. Dengan Retno, Ayu, Treska atau Rossa, atau siapa saja sama. Saya juga sering ke rumah mereka, pinjam buku atau sekadar ngobrol-ngobrol”.Saya menjelaskan.

Akhirnya memang saya sadar. Saya terlalu akrab dengan Vanessa. Bahkan mBak Areta sendiri pernah mengatakan kepada saya kalau Vanessa sebenarnya sudah lama naksir saya. Bahkan beberapa teman saya juga mengatakan demikian.

Hingga akhirnya, ketika saya dan Vanessa sedang duduk berdua di Kampus Bulaksumur. Beristirahat sambil memandangi pohon-pohon cemara yang bergoyang ditiup angin, maka terjadilah percakapan yang tak pernah terduga.

“Harry, sebenarnya sikap kamu terhadap saya bagaimana?”. Vanessa membuka pembicaraan. Serba salah posisi saya waktu itu. Namun, saya tetap harus berkata jujur. Apapun resikonya.

“Ya, selama ini kita berteman Vanessa”
“Berteman bagaimana?”. Vanessa mendesak.
“Berteman biasa. Tidak lebih dari itu”.Saya lihat Vanessa memandang saya dengan pandangan mata yang tak saya mengerti.
“Jadi, Harry sudah punya pacar?”
“Sudah. Dia kuliah di Fakultas Kedokteran, Unair?”
“Kenapa tidak bilang sejak dulu?”. Nada bicara Vanessa meninggi. Tampak dia mulai marah. Saya tak pernah menduga hal ini terjadi. Demi Tuhan, sikap saya terhadap mahasiswi lainnya sama.Bersahabat biasa.
“Apakah karena kaki saya pincang sehingga Harry malu punya pacar seperti saya?”. Kali ini Vanessa benar-benar marah. Dia mulai menangis. Saya benar-benar tak menyangka ada pertanyaan seperti itu. Memang benar, Vanessa kaki kirinya pincang akibat kecelakaan sepeda motor sewaktu dia masih duduk di kelas satu SMA. Dia pernah bercerita tentang kecelakaan itu.

Demi Tuhan, saya diam saja. Tak tahu harus bicara bagaimana. Namun saya memahami kemarahan Vanessa. Mungkin sudah tiga tahun dia menunggu kepastian. Padahal, saya cuma menganggapnya sebagai sahabat saja.

“Saya minta maaf kalau selama ini saya dianggap salah. Tapi, saya mohon Vanessa memahami. Dengan mahasiswi lain saya juga bersikap yang sama”.

Vanessa tak menjawab. Sambil mengusap air matanya di pipi dengan sapu tangan, dia lantas meninggalkan saya sendiri. Saya pandangi kepergiannya hingga hilang dari pandangan mata saya. Saya benar-benar tak tahu harus berbuat apa.

Yang pasti, esok harinya saya tak melihat Vanessa datang kuliah. Semula saya mengira dia sakit. Namun dari mBak Areta dan Maskanto saya mendapat informasi kalau Vanessa sudah keluar dari kampus UGM. Dia pulang ke Bandung untuk mengambil kursus bahasa Perancis. Kabarnya, akan bekerja di Paris.

Selanjutnya adalah hari-hari tanpa Vanessa. Saya kemudian ingat sebuah pepatah yang mengatakan “Dalamnya laut dapat diduga, hati wanita siapa tahu?”.Yang pasti, saya dalam posisi hari-hari tanpa Vanessa. Betapapun juga, saya menganggap persahabatan saya dengan dia adalah persahabatan yang indah. Selama tiga tahun, saya selalu bersama. Hingga suatu hari, dalam kehidupannya, saya baru tahu kalau sesungguhnya Vanessa mencintai saya.

”One Day in Your Life”. Itulah lagu kesayangan saya dan Vanessa.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Iklan

CERPEN: Preman-Preman Bayaran


SEPERTI biasa, tiap Sabtu saya dan alumni fakultas psikologi lulusan 1995 dan tergabung dalam Komunitas Psycho95. Semula, komunitas ini hanya untuk alumni Fakultas Psikologi, namaun dalam perkembangannya juga untuk alumni Fakultas Psikologi, UGM, UNDIP, dan lain-lain asal lulusan tahun 1995. Sabtu itu komunitas itu mengadakan pertemuan rutin di rumah alumni secara bergiliran. Sabtu ini berkumpul di rumah Wienda di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

“Hai! Harry….Selamat datang…!” sambut Wienda dan teman-teman. Mayoritas cewek. banyak yang sudah kumpul. Ada sekitar 50-an alumni. Cowoknya Cuma lima termasuk saya. Saya langsung masuk rumah dan cari tempat duduk dan bergabung. Acara sudah berlangsung. maklum, saya datang terlambat akibat ada kemacetan di Ciputat.

“Apa nih tema ngobrol-ngobrol hari ini? Soalnya undangan via SMS nggak lengkap,” saya tanya ke Rita yang duduk di sebelah saya.
“Tentang premanisme…’” singkat jawaban Rita yang sedang makan kue-kue itu.
“Oh…,ya”

“Sekarang topik berikutnya yaitu, apa sebab munculnya premanisme?” Wienda yang menmdapat giliran sebagai pemandu acara melemparkan pertanyaan. Tampak hampir semua teman-teman angkat tangan. Wienda menunjukk Rini.

“Kalau menurut saya, sih. Karena sulitnya mencari pekerjaan. Yang lulusan sarjana saja sulit. Apa lagi lulusan SMA, SMP atau SD. Ingin wirausahapun tidak ada modal. Andaikan ada modalpun belum tentu sukses…” begitu argumentasi dari Rini.

“Apakah berarti mereka mau cari uang dengan cara gampangan? Misalnya sebagai debt collector?”, Wienda melempar pertanyaan.
“Ya nggak begitu masalahnya. Menjadi debt collectorpun bukan pekerjaan yang mudah. Dengan menggunakan kekerasan, ancaman senjata tajampun belum tentu berhasil. bahkan dengan cara menyiksa atau membunuhpun belum tentu berhasil. Apalagi, mereka juga punya pesaing. Persaingan antarpreman terutama di Jakarta cukup keras…”

“Apakah mereka tidak bisa mencari lapangan kerja lainnya? Lapangan kerja informal jumlahnya ada ribuan. Mulai dari menjadi salesman, perantara penjualan properti atau makelar tanah dan rumah dan masih banyak lagi,” Wienda melempar pertanyaan lagi.
“Masalahnya. Pengetahuan mereka tentang berbagai alternatif pekerjaan informal sangat kurang. Di mana adanya lowongan kerja seperti itu? Mereka tidak tahu. Walaupun di koran banyak informasi lowongan kerja informal, namun mereka juga sadar, pesaingnya ada ribuan atau puluhan ribu orang,” itu adalah jawaban dari Sonya.

“Apakah preman-preman itu berarti sudah putus asa sehingga mencari kerja yang penuh kekerasan?” Wienda bertanya lagi.
“Bisa jadi begitu, tetapi tidak semuanya. Masalahnya adalah, preman-preman itu biasanya punya komunitas. Misalnya komunitas berdasar agama yang sama atau berdasar suku yang sama atau berdasar asal kota yang sama. Hidup di Jkarta dan kota besar lainnya tidak murah. Butuh uang banyak. Itulah sebabnya mereka mencari dan menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak. Antara lain sebagai debt collector,” kali ini Martanto yang menjawab. Tiap alumni memang hanya diberi jatah memberikan satu komentar atau jawaban sampai semua sudah menjawab dan bisa dimulai lagi dari awal.

“Tapi, kenapa harus dengan kekerasan?” Wienda lagi yang bertanya.
“Ya, sebenarnya tidak ada niat awal untuk melakukan kekerasan. Namun karena tidak bisa menahan emosi, maka kekerasanpun bisa terjadi. Semua demi uang. namun, tidak semua preman seperti itu. banyak juga preman yang tidak menyukai kekerasan fisik. Melainkan hanya kekerasan kata-kata saja,” Yunieta memberikan jawaban..
“Saya tambahkan. Mereka membawa senjata tajam sebenarnya hanya untuk menakut-nakuti atau untuk membela diri atau mempertahankan diri. Namun kadang-kadang situasilah yang menjebak mereka untuk melakukan kekerasan,” komentar Conny.

”Sebenarnya apa target mereka?” pertanyaan berikutnya dari Wienda.
“Ya, jelas demi uang. Siapa yang mau bayar, mereka pasti akan melakukannya sesuai order,” adalah ucapan dari Betty.
”Apakah mereka membela siapa saja yang membayar, terlepas apakah mereka berada di pihak yang salah atau di pihak yang benar?” Wienda lagi yang bertanya.

”Tidak semua preman membela yang salah. namun, sebagian besar mereka tak peduli salah atau tidak. Yang penting mereka dibayar. Sekali lagi, yang penting mereka dibayar. Hampir semua preman adalah preman bayaran. Misalnya dalam kasus sengketa tanah, sengketa rumah, utang-piutang dan masalah apa saja. Asal dibayar, mereka akan bergerak sesuai order,” masuk akal komentar Ruddy.

“Kalau begitu, kenapa semakin lama premanisme semakin menjamur?” ttentu Wienda lagi yang melempar pertanyaan.
”Di samping banyaknya urbanisasi, sulitnya mencari pekerjaan di Jakarta atau di kota-kota besar juga karena lemahnya penegakan hukum dari aparat penegak hukum. Terkesan adanya pembiaran-pembiaran. bahkan issuenya, mereka justru ada yang dimanfaatkan untuk membantu para penegak hukum itu sendiri. Paling tidak, dimanfaatkan oknum penegak hukum. Yang penting mereka dibayar,” tanggapan dari Meity.
“ Di samping itu, presiden SBY juga terkesan tidak tegas. Tidak punya konsep atau sistem yang jelas untuk memberantas premanisme. Ppresiden penakut. Beda dengan pemerintahan Soeharto, melalui gerakan ‘petrus’, pimpinan preman dihabisi satu persatu sehingga rakyat menjadi tenang, walaupun cara =-cara seperti itu tidak bisa dibenarkan secara hukum,” Upiek menambahkan.

“Lantas, bagaimana cara memberantas premanisme?” Wienda melempar pertanyaan lagi.
“Tentu, Presiden harus tegas. Perintahkan ke kapolri untuk membuat sistem pencegahan dan penanggulangan aksi-aksi anarki para premanisme tanpa melanggar hukum maupun HAM. Misalnya, intel-intel polri harus peka terhadap adanya rencana-rencana adanya aksi massa dari para preman, kemudian mengerahkan personil polri dalam jumlah yang banyak. Jika terjadi anarki, makapolri harus bertindak sesuai protap,” setengah usul Paramitha memberikan usul-usul solusi.
”Ada pendapat lain?” ienda lagi.
”Kalau menurut saya, pokok persoalannya adalah sulitnya mencari lapangan kerja. Ada baiknya pemerintah berpikir serius untuk menciptakan lapangan kerja bagi mereka. Dari sekian preman, tentu ada yang berkeinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang tetap. Mereka perlu diberi keterampilan dan disalurkan ke lowongan yang ada. Dan bagi yang ingin bekerja di luar negeri, bisa juga dibekali kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa Inggeris,” kali ini Yudhianti yang berpendapat.

“Baiklah. Sudah satu jam kita ngobrol-ngobrol. Saya ambil kesimpulan. Pertama, munculnya premanisme banyak sebabnya. Terutama sulitnya mencari pekerjaan. Oleh karena itu, pemerintahan SBY harus bertanggungjawab untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi para pengangguran yang ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Kedua, premanismu bisa saja merupakan komunitas deb collector, komunitas premanisme berkedok agama, atau premanisme politik. Ketiga, pada dasarnya hampir semua premanisme bergerak atas dasar order dan bayaran yang cukup besar. Keempat, selama presiden tidak bersikap tegas, tidak hanya bicara prihatin-prihatin-prihatin, melainkan memerintahkan ke kapolri dan TNI jika perlu untuk memberantas premanisme yang anarki. Presiden harus berani mencopot kapolri jika berkali-kali gagal mencegah terjadinya tindakan anarki. Kelima, selama presiden cuma NATO, cuma omdo, maka negeri kita akan dikuasai premanisme anarki. Akan terus bermunculan berbagai komunitas premanisme dengan beragam kedok. Keenam, preman-preman juga manusia. Mereka juga bisa menjadi SDM yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Mereka juga bisa baik kalau pemerintah bisa membina mereka. Sekian. Sekarang waktunya kita makan siang…..” Wienda mengakhiri obrolan Sabtu-an. Teman-temanpun berdiri dan antri untuk mengambil makanan yang telah disiapkan dengan sistem prasmanan.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

CERPEN : Tinggal Menunggu Azab dari Allah SWT.

Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (As Sajdah ayat 21).Mereka bertanya: “Bilakah hari pembalasan itu?,(hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka” (Adz Dzaariyaat  ayat 12-13)

.
PAGI itu saya sedang baca-baca buku filsafat di Perpustakaan Fakultas Filsafat UGM. Maklum, dosen saat itu tidak masuk. Di fakultas itulah saya kuliah. Meskipun demikian, saya kadang-kadang juga ke Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM. Maklum, di samping saya mencintai filsafat, saya juga suka psikologi.

“Wah, asyik baca, nih,” tiba-tiba ada yang duduk di sebelah saya dan menegur saya. Sayapun menengok ke kanan. Ternyata Frestya, pacar saya yang kuliah di fakultas psikologi.
“Oh, Frestya. Nggak ada kuliah?”
“Nggak….,” sambil menggelengkan kepala. Frestya memang cantik, rambut pendek, kulit putih, bibir mungil dan enak diajak bicara.
:Sama,dong.”
“Lagi baca apa?”
“Filsafat moral”

“Kok…?”
“Ya, iyalah. Negara kita kan sedang dilanda krisis multidimensi. Terutama krisis moral”.
“Bukankah sekitar 80% orang Indonesia beragama Islam?”
“Betul.Tetapi berapa persen yang Islam KTP? Berapa persen yang rajin beribadah dan bermoral baik? Jangan lupa, negara kita termasuk negara yang paling korup di Indonesia.”
“Iya, sih. Tapi saya sebagai mahasiswi psikologi, masalahnya bukan hanya masalah moral, tetapi juga masalah sistem perilaku. Faktor lingkungan”
“Maksudnya?”

“Yah, korupsi bisa terjadi karena sistem yang buruk. Sistem yang buruk mengakibatkan perilaku yang buruk. Perilaku yang buruk bentuknya moral yang buruk. Antara lain korupsi” Frestya menjelaskan masalah korupsi dari sudut psikologi.
“Sekarang memang zaman edan. Zaman Jahiliyah Moderen di mana uang dan harta telah menjadi Tuhan. Korupsi telah menjadi ibadahnya dan berbohong merupakan amalannya,” saya berkata dengan nada berfilsafat.
“Orang yang korupsi kalau dari sudut psikologi, tergolong pengidap psikopat. Sebab, dia atau mereka sudah melanggar semua norma. Mulai dari norma sosial, tetapi juga norma hukum dan norma agama.”

“Masuk akal. Tetapi rusaknya moral juga bisa akibat sistem poliitik. Untuk jadi politisi perlu modal besar. Untuk jadi anggota DPR saja paling tidak harus menyiapkan uang sebesar Rp 3 milyar. Untuk jadi Gubernur DKI Jakarta, paling tidak sekitar Rp 30 milyar. Untuk jadi presiden paling tidak minimal butuh dana sekitar Rp 300 milyar. Itu minimal. Tentu, kalau menang mereka tentu punya target.”
“Apa itu?”
“Tahun pertama, targetnya kembali modal. Tahun kedua, melunasi utang. Tahun ketiga, setor ke parpol pendukung. Tahun keempat, memperkaya diri sendiri dan keluarga. Dan tahun kelima, mengumpulkan uang untuk ikut pemilu atau pilkada mendatang. Semua dana diperoleh dengan cara korupsi,”panjang lebar saya menjelaska ke Frestya.

“Betul juga. Sistem pengawasan yang buruk juga menyebabkan perilaku yang buruk. Itulah sebabnya, di lembaga legislatif, ada korupsi. Di lembaga eksekutif, ada korupsi. Dan di yudikatif, juga ada korupsi. Oleh karena itu ketiga lembaga tersebut dinamakan lembaga legisla-thief, ekseku-thie dan yudika-thief. Thief itu artinya pencuri atau maling…”
“Ha ha ha…Ada-ada saja…! Kebetulan ya, diskusi kita menyatu. masalah moral bisa kita nilaii dari filsafat moral. Dan masalah moral juga bisa dilihat dari sudut pandang psikologi perilaku. kalau begitu, negara kita memerlukan sebuah sistem politik yang benar-benar efektif. Antara lain perlunya adanya sistem pengawasan yang efektif”

“Betul! Saya setuju! Namun masalahnya, negara kita kekurangan SDM yang memiliki kemampuan untuk membuat sistem yng benar-benar berkualitas. Survei seorang doktor fakultas psikologi menunjukkan bahwa, orang Indonesia yang mempunyai IQ tinggi hanya 0,01%. Solusinya, kita panggil saja konsultan manajemen yang profesional dari negara yang sudah maju.” usul Frestya.

“Setuju! Negera kita harus mempunya sistem politik yang profeesional, sistem birokrasi yang profesional, dan semua sistem yang profesional. Sistem yang baik adalah sistem yang membuat manusia mengikuti keinginan sistem dan bukan sistem mengikuti keinginan manusia,” saya menambah penjelasan Frestya.
“Betul Harry. Kalau para pemimpin dan wakil rakyat kita tetap menggunakan sistem yang sekarang, maka korupsi akan berjalan terus. Tawuran antarwarga akan berlanjut. Kegiatan premanisme akan semakin merajalela. Narkoba semakin menggila. Suap, sogok dan pungli akan subur. Gaya hedinisme akan berkembang pesat. Utang pemerintah akan semakin meroket dan mencekiik rakyat. Rakyat miskin akan semakin tergusur dari tanah adat atau tanah ulayat. Kapitalisme akan tertawa karena boleh menguasai 95% sumber daya alam. Kerukunan antarberagama hanya merupakan slogan kosong. Orang munafik akan terus bertambah. Para penegak hukum bisa dibeli…” panjang sekali uraian dari Frestya.

:Setuju. Negara kita membutuhkan seorang pemiimpin yang berkualitas, sebab maju mundurnya sebuah negara ditentukan oleh kualitas pemimpinnya. Sedangkan kualitas pemmpin ditentukan oleh kualitas pemilihnya. Selama 70% pemiilihnya masih bodoh dan buta politik, tidak mungkin negara kita pemimpin yang berkualitas. Oleh karena itu perlu adanya pendidikan dan pencerahan politik untuk rakyat, seperti yang dilakukan di Australia dan negara-negara yang demokrasinya sudah maju…”

“Ya, idealnya seorang caln pemimpin dan calon wakil rakyat harus mengikuti tes IQ atau Inteligence Quotient, EQ atau Emotional Quotient, SQ atau Spiritual Quotien. LQ atau Leadership Quotien. HQ atau Health Quotient. PQ atau Personality Quotient….”
“Ha ha ha….Ideal sekali ya, tesnya. Saya tambah satu lagi, yaitu MQ atau Morality Quotient. Minimal tes IQ, LQ,HQ,EQ,SQ dan PQ-lah. Masalahnya, kalau semua capres dan caleg mengikuti semua tes itu, mungkin yang lolos hanya 0,01% seperti hasil survei doktor psikologi tadi…”
“Ha ha ha….Iya. Kalau begitu, kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga Pemilu 2014 nanti, yang terpilih adalah seorng pemimpin yang jujur, adil, tegas dan cerdas. Jika tidak…..”

“Ya, jika tidak. Krisis multi dimensi akan semakin meningkat. Kekacauan sosial akan semakin menjadi-jadi. Korupsi semakin canggih. Pemasaran narkoba semakin lihai. Seks bebas akan menjadi-jadi….”
“Betul Harry. Tuhan melalui alam berkali-kali sudah memberikan sinyal-sinyal akan datangnya sebuah azab. Bangsa Indonesia akan mengalami derita berkepanjangan. Bisa berupa kesuliitan ekonomi yang luar biasa yang mengakibatkan kemiskinan akan meningkat dan kriminalitas juga memuncak.”
“Betul Frestya. Bisa juga azab berupa bencana alam yang sangat dahsyat. Saya pernah membuat prediksi yang dimuat di Harian Samarinda Post yang memprediksikan, awal dan akhir pemerintahan SBY akan diwarnai bencana alam yang luar biasa dahsyat. Awal pemerintahan sudah terbukti, berupa tsunami di Aceh…”

“Betul Harry. Saya pernah baca ramalan Jayabaya, bahwa Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua. Isyarat akan terjadinya bencana luar biasa dahsyat. Dan mungkin itu akan terjadi di akkhir masa jabatan SBY. Mungkin akhir 2012…”
“Oh, sama dengan prediksi dari suku Maya,ya? bahkan ilmuwan Albert Eistein juga memprediksikan akhir 2012 akan terjadi bencana alam luar biasa.”
“Kabarnya ada ayat Al Qur’an yang bicara tentang bencana?”
“Ada. Mungkin ditujukan ke para pemimpin dan wakil rakyat yang lebih mementingkan hidup bermewah-mewah tetapi tidak peduli dengan penderitaan rakyat. Antara lain korban lumpur Lapindo, tanah-tanah adat atau tanah ulayat yang dijarah perusahaan-perusahaan, sengsaranya rakyat di perbatasan Indonesia-Malaysia yang sangat miskin karena miskin sarana-prasarana ataupun infrastruktur ekonomi.”

“Bagaimana bunyi ayat itu, Harry?”
“Apa kata Al Qur’an? “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada pemimpin-pemimpin yang hidup bermewah-mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Israa’ ayat 16)”

“Mungkin berupa Kiamat Dunia, ya Harry?”
“Bisa jadi. Itulah azab bagi umat manusia. Terutama bagi bangsa Indonesia” saya mengakhiri perbincangan. maklum kuliah berikutnya akan dimulai. Frestyapun kembali menuju ke fakultas psikologi.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

CERPEN: Angelina Sundal

SAAT itu jumlah peserta ujian masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia sekitar 5.000 calon mahasiswa. Ujian diselenggarakan di Senayan. Beberapa minggu kemudian, hasil ujian seleksi masuk itupun diumukan di kampus FHUI yang saat itu berkampus di Rwamangun, Jakarta Timur.

Yang diterima ternyata hanya 180 mahasiswa. Berkali-kali saya mencari nama saya, namun selalu tidak menemukan. Mungkin karena saat itu saya terkena katarak.

“Oh, nasib,” gerutu saya.
“Nggak diterima, ya?” sapa seorang cewek di sebelah saya.
“Mata saya sedang kena katarak. Tak mampu melihat,”
“Oh, memang namanya siapa?” “
“Panggilan sih Harry. Tapi nama di ujian Hariyanto”
Cewek itu tak menjawb. Tapi langsung mencari nama di daftar kelulusan tes itu. Semula saya mengira, dia mencari namanya sendiri. maka, sayapun meangkah meninggalkan papan pengumuman dan kerumunan mantan peserta tes.

“Harry! Harry! Ada namamu….” tiba-tiba saya mendengar teriakan cewek itu. Sayapun berhenti. Cewek itu mendekati saya.
“Nomor peserta ujiannya berapa? Kalau nama Hariyanto sih ada,” tanyanya. sayapun merogoh saku dan menunjukkan nomor peserta ujian. Cewek itupun menggandeng saya ke arah papan pengumuman. jantungkupun berdebar. jangan-jangan bukan Hariyanto saya. maklum, nama Hariyanto nama pasaran.

Sabar saya menunggu cewek itu mencocokkan nomor pesera ujian saya.
“Harry! Cocok! Selamat,yaaa…?” teriak cewek itu sambil mendekati saya dan menyalami saya.
“Sungguh?”
“Demi Tuhan, Harry”
“Kok, kamu baik sih kamu membantu saya?”
“Hmmm, maaf Harry. Wajahmu mirip mantan pacar saya…”
“Oooh, begitu. Ngomong-ngomong, saya belum tahu namamu”
“Oh, ya. Nama saya Angelina Sundanewa. Panggilan Angel”
“Kok namamu aneh. Ada Sundanewanya. Memangnya ibumu orang Sunda?”
“Betul. Mama orang Sunda. Papa berasal darii Jenewa. Saya anak tunggal…”

Itulah perkenalan saya yang tak sengaja. Atas kebaikannya, sayapun traktir Angel di kantin. Semula Angel menolak, namun karena saya desak terus, akhirnya dia mau juga makan siang bersama. Tentu, sambil makan kami juga saling ngobrol ke sana ke mari.

Angel ternyata tidak hanya cantik, tetapi juga mudah bergaul. Baru kenal, rasa-rasanya sudah bertahun-tahun kenal. bahkan sebentar-sebentar tertawa karena kami saling membuat cerita yang lucu-lucu. Ternyata, Angel juga peserta ujian seleksi masuk FHUI ekstensi yang masuk sore. Sayapun saling bertukar alamat dan nomor telepon.

Singkat kata, saat ospek saya dan Angel selalu bersama. bahkan saat kuliah juga bersama. Angel juga akhirnya tahu kalau saya baru putus dari pacar saya. Meskinpun demikian, hubungan saya dan Angel masih terbatas teman. Tiap malam Minggupun saya belum datang ke rumahnya. Bertemu hanya di kampus saat kuliah.

Karena pulangnya malam, maka sayapun mengantarkan Angel pulang ke rumahnya di Komplek Perumahan Sunter Hijau. Memakai motor. Untung dia mau saya boncengkan pakai motor. Sebetulnya di rumahnya ada dua buah mobil. Namun, Angel hanya diperbolehkan membawa mobil siang hari. Trauma, karena dua kali Angel ditodong di saat berhenti di perempatan saat lampu lalu lintas merah.

Kedua orangtuanya cukup baik dan ramah. Meskipun demikian, selama dua bulan ini saya tetap belum pernah bermalam minggu. Masih menjaga jarak dulu. Masih bersahabat dulu. Masih dalam rangka penjajagan dulu.

“Oh, ya. Kabarnya Harry juga kuliah di Fakulta Ekonomi, Universitas Trisakt,ya?” tanyanya saat di kampus. kami duduk berdua di ruangan sambil menunggu dosen.
“Iya. Sedang menyusun skripsi”
“Saya punya ide,nih. Saya mau mendirikan penerbitan. Saya ingin mendirikan penerbitan buku. Rencananya sih, menerbitkan buku-buku hukum,” Angel menceritakan rencananya.
“Wow! Rencana yang bagus. Kalau bisa jangan buku-buku hukum saja. Kalau bisa novel dan lain-lain. Kebetulan saya suka menulis novel tetapi belum pernah diterbitkan.”
“Wah, kalau begitu kita bisa kerja sama, dong…” ceria wajah Angel.

Sejak saat itulah saya punya rencana bisnis dengan sistem kerjasama. Akhirnya disepakati, saya yang menanggung biaya kontrak ruko. Angel yang menanggung biaya mengurus perijinan, peraltan kantor, biaya promosi dengan jumlah yang sama. Masing-masing punya saham Rp 50 juta.

“Oke! Besok kita survei ruko!” saya memberi tanggapan. Dan esoknya, pagi hari, saya dan Angel survei ruko disekitar Rawamangun. Dan saya menemukan ruko yang lokasinya strategis, yaitu dekat terminal bus Rawamangun. Singkat cerita, saya sudah berhasil menemui pemilik ruko dan juga telah terjadi transaksi dan menandatangani perjanjian kontrak ruko untuk jangka waktu dua tahun.

Sebulan berlalu. Belum ada tanda-tanda Angel membeli furniture maupun mengurus perijinan.
“Bagaimana nih, tindak lanjut Angel? Sudah satu bulan lho. Bagaimana kok belum ada furniture di ruko? Bagaimana juga masalah perijinannya?” akhirnya sayapun menanyakan hal tersebut ke Angel saat beristirahat di kampus FHUI.
“Oh, ya Harry. Saya lupa kalau uang saya di bank berstatus deposito. Belum bisa diambil kalau belum jatuh tempo. Maaf Harry. Saya betul-betul lupa. Demi Tuhan, saya benar-benar lupa!” Angel meminta maaf.
“Kalau begitu, kapan jatuh temponya?”
“Tiga bulan lagi..Benar. Tiga bulan agi. Sekarang kan Mei, jadi nanti tanggal 15 Agustus baru bisa diambil..” Angel meyakinkan.

Sayapun bersabar dan tetap bersahabat baik. Sebenarnya hati dongkol dan curiga. Namun karena sikap Angel tetap baik dan tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan.

Namun setelah Agustus berlalu dan tidak ada tanda-tanda Angel merealisasikan janjinya, maka sayapun menanyakannya secara baik-baik tanpa rasa curiga. Saya tetap berprasangka baik.

“Oh, iya Harry. Maaf, lagi, deh. Bulan depan famili saya di Bandung akan menikah, jadi bulan ini dan bulan depan saya masih harus mondar-mandir dari Jakarta Ke Bandung. Mungkin mulai September kita bisa ‘ranunning well’”. begitu penjelasan Angel.

September berlalu. Oktober berlalu. November berlalu. Desember berlalu. Akhirnya, suatu saat saya curhat ke Haryo, sahabat baik sekampus. Kebetulan rumah Haryo dekat rumah Angel. Walaupun dia sahabat baik saya, namun masalah rencana bisnis saya dengan Angel dia belum tahu.

“Jadi, Harry punya rencana kerja sama bisnis dengan Angel?” Haryo bertanya dengan wajah agak kaget. sayapun menceritakan rencana bisnis saya dengan Angel mulai dari awal hingga akhir.

“Oh, Harry. Kita senasib. Saya juga diajak kerja sama mendirikan kafe. saya juga terlanjur mengontrak kafe yang Harry sudah bayar kontraknya itu. Sekitar Rp 50 juta juga. namun ternyata tidak ada realisasinya<” Haryapun akhirnya bercerita.

“Mungkin kita tertipu,ya?” saya mulai curiga terhadap Angel.
“Bukan mungkin, tetapi memang kita sudah tertipu. masalahnya, kita tidak mungkin bisa menuntutnya. Soalnya, saya dan Harry tidak menandatangani apapun dengan Angel. Dan bukan saya dan Harry yang jadi korban penipuan. Teman saya dari FSUI-pun kena penipuan dengan modus yang sama. sayang, kita tak punya bukti hitam di atas putih…”

“Kalau begitu, apa motivasinya menipu kita?” saya penasaran.
“Yah, saya pernah melakukan penyelidikan. Ternyata, ruko itu milik pacar Angel. Dikontrakkan berkali-kali kepada orang yang berbeda-beda. Dan semuanya tertipu”
“Sudah ada yang melaporkan ke polisi?”
“Persoalannya di situ, Harry. Ayah Angel kan termasuk petinggi polri…”
“Oh, my God…!” gerutu saya.

Nasi telah menjadi bubur. Sesal kemudian tak ada gunanya. Meskipun saya tertipu oleh Angel , namun saya tidak memusuhinya. saya tetap berteman baik. makan bersama di kantin dan kegiatan-kegiatan lainnya. Semuanya saya serahkan kepada Allah swt.

“Oh, ternyata Angelina Sundanewa telah berubah nama menjadi Angelina Sundal…!Pembohong…! Penipu…! Sundal…!” tak tertahankan lagi. saya mengumpat dalam hati.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

TELAH TERBIT: Novel “Di Telaga Sarangan Pernah Ada Cinta”


Karya : Hariyanto Imadha
Format : Buku novel
Tebal : Sekitar 225 halaman
Halaman : HVS
Cover : Berwarna
Status : Telah selesai dicetak
Harga : Rp 50.000 + Ongkos kirim Rp 16.000
Lain-lain : Masih ada 6 novel dan 2 kumpulan yang menunggu untuk diterbitkan.

Ringkasan Cerita:

Book Summary
CINTA semasa SMA adalah cinta yang sulit untuk dilupakan. Demikian pula halnya dengan Harry dan Faullin.Semula Harry menilai Faullin merupakan cewek yang
sombong. Bahkan berbulan-bulan Harry gagal melakukan pendekatan.

Namun, Faullin punya kelemahan, yaitu lemah di bidang matematika. Kebetulan, Harry menguasai matematika.Bahkan jago matematika. Akhirnya Faullinpun minta
mengundang Harry ke rumahnya untuk memberikan les privat matematika.

Saat itulah sedikit demi sedikit cinta mereka bersemi. Dan Telaga Sarangan merupakan saksi cinta indah mereka berdua.

Sayang, lulus SMA mereka berpisah. Berapa tahun kemudian, Harry menikah dengan wanita lain dan Faullin menikah dengan pria lain.

Tahun demi tahun mereka berpisah. Dan suatu saat, isteri Harrry meninggal. Demikian pula Faullin, ditinggal meninggal oleh suaminya.

Ketika usia sudah tua, mereka tanpa berjanjian ingin bernostalgia ke Telaga Sarangan.
Keduanya terkejut karena bisa bertemu lagi tanpa pernah berjanji terlebih dulu. Akhirnya, mereka bernostalgia di Telaga Sarangan, di mana cinta indah mereka semasa SMA pernah bersemi.

Selengkapnya: Baca di buku novel tersebut.

Pemesanan

Hariyanto Imadha

SMS Only: 081-330-070-330
Penulis cerpen/novel
Sejak 1973

CERPEN: I Will Always Love You

MY wife and I knelt in front of a tomb. Dried leaves scattered around the tomb. For three days the tomb cleaner miss work because of illness. My own clean dirty headstones. I looked at her name “Yunita”. She died at age 15. A young age. It happened more than 35 years ago.

Yes, more than 35 years ago I was sitting on the bench SMAN class 1 and class 3 for Yunita SMP in Palembang. In short, I’ve been loving so young. Adolescence is a very exciting time. Quite often come home from school do not go straight home, but first walk from store to store. Or just eat meatballs and drinking coconut ice. Evening had come home.

“Oh, yes. Do not forget Tuesday’s birthday Cherry. Exactly, February 14. Something like Valentine’s Day! “Yunita remind me. Cherries are classmates.
“Oh, yes. We are definitely coming. Yes what a suitable gift for him? “. I said over a cup of coconut ice.
“In my opinion anyway, Cherry likes dolls are so cute”
“Ah, it’s really like a big doll?”
“He’s got a hobby collection of dolls funny”

“O” I understand that Cherry had a hobby like that. After eating meatballs, I and Yunita soon to a store to find a cute doll. After we finally picky choosing pussycat dolls named. Cat doll wearing a pink ribbon. Cute and adorable. Almost like a real cat.

And indeed the Tuesday me and Yunita present at Cherry’s birthday party. Also, Valentine’s Day party. Almost all of Cherry’s friends on SMP is present. Even some teachers also attended, among others, Mr. Faiz, Mr. Mulyoso, Mrs. Niniek , Mrs. Rivanti and others.

“Hello Cherry. Happy birthday. Happy Valentine’s Day “says Cherry Yunita, kissing cheeks. Then submit the package containing the pussycat dolls. After congratulating me, grabbed me and Yunita food already prepared.

Incidentally, during the meal, more Yunita chat with the teachers. While Cherry accompanied me more. For some reason, Cherry was so friendly attitude towards me. Perhaps he knew that I was buying gifts pussycat, so Cherry appreciate my presence? I certainly do not want big flavor. Although I admit to myself prettier than Yunita Cherry.

Apparently Yunita jealous too. Coming home from the birthday Yunita angry.
“Why, Cherry together and hold together?” As soon as he was getting angry.
“Well, he’s a got home. Naturally, if I’m dong appreciated. Moreover, I am not the only one of the SMP. I was the only new friend Cherry. He just asked about the lessons in SMAN. Difficult or not. He also asked, delicious IPA enter or IPS. Cherry asked for consideration, really “My explanation for long enough. Indeed, Cherry asked all of it. Yunita seem to understand. Yet his face remained clouded.

Well, a week later, instead of when my birthday, so I invited my high school friends. Only two children of my SMP legislation, namely Yunita and Cherry. My house is quite crowded. Attended by about 50 close friends.

Cherry is dressed contemporary look that becomes belle of the ball. Many of my male friends who asked the name of SMAN se Cherry. Introduced even ask. Yes, all of my responsibilities are. Even two or three friends I introduced to Chelsea.

What makes the problem was, when I cut the cake. Outside of my consciousness, the first piece I gave to Cherry. Cash SMAN friends cheered and clapped noisily. They are my girlfriend Cherry.

Well that’s where the tragedy. Yunita not bear to restrain emotion, tart which I submit to Cherry has been captured. Cherry maintains that cake. A fight was inevitable. Tuft hair pulling occurs.

“You want to grab my guy, huh?” snapped Yunita.
“It’s not my fault if I was given dong cake first” Cherry denies. Quarrels and fights were short-lived. My friends and my two teachers who attended participated melerainya. Unfortunately, Yunita straight out of the room and go home on a motorcycle. We happened to go put on their motorcycles.

When I would catch Yunita, Cherry held my hand.
“Respect for the arrival of my dong.” Oddly, I went along. From that day on Cherry often come to my house. The story, Cherry fights with Yunita in school. On the other hand, every time I pick up Yunita, Yunita always avoided. In fact every time I come home Yunita, he did not want to see me. Finally, Cherry actually became my girlfriend.

Three months later, I was surprised at the unexpected news. Yunita committed suicide by drinking insecticide. He left a letter for me and Cherry. Brief contents. Just hope my words and Cherry happy.

That has happened more than thirty years ago. I just knelt before the tomb Yunita. Pilgrimage is complete, my wife and I, who was none other than Cherry, immediately leave the tomb Yunita. We just pray that the spirit Yunita acceptable in the presence of God Almighty.

Cherry headed to my car and followed the fall of a few dry leaves.

Photos: sabdaspace.org

Hariyanto Imadha
Short story writer
Since 1973

CERPEN: Oh, Angie…!!!

DULU, zaman saya kuliah di Fakultas MIPA, Universitas Terbuka, tepatnya kegiatan tutorial yang diselenggarakan di Kampus ASMI, saya sempat berkenalan dengan seorang mahasiswi. namanya Angie Sondawati. Cantik, putih, seksi, murah senyum, tetapi agak sombong. Justru, sikap sombongnya itu yang membuat saya penasaran.

“Angie, bagaimana kalau kita bentuk kelompok belajar?” ajak saya ke Angie yang saat itu berdiri di ruang tutorial. maklum, tutorial belum waktunya.
“Ah, kapan-kapan sajalah kita pikirkan. Bulan ini saya masih sibuk mempersiapkan reuni SMA saya…” ujarnya.

Begitulah, kalau saya ajak ini saya ajak itu selalu mengelak. Namun karena saya naksir berat, tentu saya tidak akan menyerah begitu saja. Satu bulan, dua bulan, saya tetap gagal. bahkan, ketika saya datang ke rumahnya, dengan diplomatis saya diusirnya.

“Wah, maaf,ya. Kebetulan sore ini saya mau ke rumah tante saya,” katanya saat itu. sayapun pura-pura pulang. namun dari kejauhan saya menunggu melihat benar tidaknya ucapannya. Ternyata, sampai dua jam dia tak keluar juga dari rumahnya. Berarti, dia bohong.

Saya juga heran, buat apa saya ngejar-ngejar cewek macam dia. Bukankah di Fakultas MIPA UT banyak mahasiswi cantik? Ya, iyalah. Tapi, masalahnya saya terlanjur cinta ke Angie.

“Buat apa sih ngejar-ngejar Angie? Lihat tuh, ada Maya, ada Sonya ada Laura. Mereka kan cantik dan masih jomblo. Kenapa nggak ngejar mereka saja?” kata Wibowo teman satu kampus. Saya cuma diam saja. Memang sih, nasehat mereka cukup rasional. Tapi, masalahnya, saya sudah terlanjur tergila-gila ke Angie.

Namun akhirnya, Angie mau juga bergabung untuk membentuk kelompok belajar. Anggotanya sepuluh orang. Yaitu, saya, Angie, Darsono, Ike, Laura, Slamet, Joddie, Agoes, Randha dan Blondie.

Tempat belajar bersama digilir. Kebetulan hari pertama di rumah Angie. Wah, rumah Angie di kawasan Perumahan Sunter Hijau Permai, Tanjung Priok, mewah juga, ya. Di garasinya ada sebuah Mercy dan sebuah BMW keluaran tahun baru. Juga, ada tiga buah motor. Semuanya masih baru.

Belajar berikutnya di rumah saya di kawasan Cempaka Putih. Rumah saya memang cukup sederhana saja. dan Angie juga datang memakai BMW-nya. Mungkin, melihat rumah saya sederhana, diapun tidak lama. Terus pamit pulang. Alasannya, sakit perut. Huh! Saya tahu, itu cuma alasan saja. Tetapi, tak apalah. Suatu saat saya harus bisa menundukkan hatinya. Percuma saya jadi cowok.

Hari demi hari bulan demi bulan. Dugaan saya benar. Akhirnya Angie “klepek-klepek” juga. Apalagi  dia sering bertanya ke beberapa matakuliah tertemtu yang dia tak begitu faham. Meskipun demikian, saya tak buru-buru merasa “ge-er”. Saya masih melihat situasi. Apalagi, Angie terlihat sekali masih memperlakukan sebagai seorang sahabat, walaupun ada sinyal-sinyal lebih dari itu.

Langkah maju, hari-hari berikutnya Angie sering datang ke rumah saya membawa BMW-nya dan meminta saya menemaninya ke mal untuk belanja ini belanja itu. Dan kadang-kadang saya yang harus membawakan barang-barang yang dibelinya. Wah, saya kok merasa jadi kacungnya. Tapi, tak apalah. Demi cinta, apapun akan saya lakukan demi Angie.

Liburan semesterpun tiba. Ikatan Mahasiswa FMIPA UT punya rencana untuk mengadakan rekreasi ke Cibodas. Kebetulan saat itu saya ditunjuk sebagai ketua dan Angie sebagai bendahari. Jadwal kegiatanpun sudah tersusun secara rapi. Tiap bulan pasti ada kesibukan. Untuk kas organisasi, tiap bulan tiap anggota iuran Rp 25.000. Total saat itu ada 100 mahasiswa. Jadi, tiap bulan terkumpul Rp 2.500.000. Cukup besar untuk ukuran tahun itu.

Saat rektreasi ke Cibodaspun tiba. saya akan memanfaatkan sebaik-baiknya acara tersebut untuk menyatakan cinta. Persiapan rekreasi cukup sempurna. Dua buah bus Big Bird full AC telah siap di Kampus ASMI. Konsumsi juga sudah siap. Seksi acara untuk tiap bus juga siap. Alat-alat musik berupa gitar, seruling, harmonika dan lain-lain juga siap. Semua peserta memakai T-Shirt berwarna merah dengan logo FMIPA-UT. Dananya diambil dari iuran bulanan.

Masalahnya adalah, selama dalam perjalanan, saya tidak satu bus dengan Angie, tetapi justru duduk di samping Laura, yang cantik juga. Celakanya, selama dalam perjalanan, cara bicara Laura bernada menggoda dan merayu saya.

“Kok, nggak satu bus sama Angie?” ujar Laura.
“Enggaklah. Saya bagian bus pertama ini. Angie mengawasi bus kedua,” begitu alasan saya.

Begitu bus keluar meninggalkan kota Jakarta, teman-teman yang membawa alat-alat musikpun mulai beraksi. Satu lagu demi satu lagu dinyanyikan bersama-sama dengan semua peserta rekreasi yang ada di dalam bus.

Akhirnya, tak terasa sudah sampai di Cibodas. Sekitar 100 mahasiswa berkumpul di lapangan terbuka. Membuat sebuah lingkaran besar. Acara demi acarapun dimulai. Saat itu Angie duduk di rumput dekat saya. Saat itulah, saya menyatakan cinta.

“Nggak menyesal punya pacar saya?” Angie menatap mata saya.
“Tal ada kata menyesal dalam kamus kehidupan saya”
“Sungguh?”
“Demi Tuhan…”

Percakapan itu singkat, tetapi cukup jelas. Apalagi ketika Angie saya cium pipinya, dia diam saja. pasrah. namun, selanjutnya kami berduapun harus ikut serta dalam acara-acara saat itu.

Hari-hari selanjutnya, di mana ada Angie, pasti ada saya. Semua teman-teman sefakultaspun tahu kalau Angie adalah pacar saya. hanya Laura saja yang sering menggoda saya.

Satu bulan kemudian, rapat pertanggungjawaban keuangan rekreasipun dilakukan. sayang, Angie ttidak datang. Tapi, untunglah ada laura yang kebetulan menjadi wakil bendahara. Semua laporan keuangan dan bukti-bukti juga dibawa Laura.

hasil rapat memang cukup mengejutkan. Ada selisih Rp 2 juta yang tidak jelas ke mana larinya uang itu. Apalagi ketika Randha, wakil bendahara Ikatan mahasiswa FMIPA-UT juga melaporkan keuangan organisasi. katanya ada uang sekitar Rp 3 juta yang tidak jelas untuk apa. Padahal, rapat tersebut sebenarnya rapat panitia rekreasi, bukan rapat ikatan mahasiswa. namun sulit dihindarkan karena Angie di samping bendahara ikatan alumni, juga bendahara panitia rekreasi.

“Semua yang memegang uangnya Angie. Saya cuma bagian pembukuan dan bukti-bukti,” begitu ucapan Randha dan Laura hampir bersamaan. Rapatpun menjadi semakin panas.

Sayapun terkejut ketika Laura yang duduk di dekat saya berkata lirih.
“Kenapa sih, Angie ditunjuk sebagai bendahara. Dia itu sejak SMA memang suka korupsi”
“Kok, tahu?”
“Saya kan teman Angie sewaktu masih di SMA,” laurapun bercerita singkat tentang pengalamannya sewaktu di SMA bahwa Angie memang suka korupsi. bahkan, sempat akan dukeluarkan oleh pihak sekolah. Untunglah, Angie mau mengembalikan semua uang OSIS SMA yang dikorupsinya.

Begitulah. Hari-hari selanjutnya panitia rekreasi dan pengurus ikatan mahasiswapun mendatangi rumah Angie untuk meminta semua uang mahasiswa yang dipegangnya. Namun, Angie menolaknya dengan alasan semua pembukuan ada di Laura dan Randha. Dia menuduh Laura dan Randha telah menghilangkan bukti-bukti pengeluaran keuangan. saat itu hampir terjadi kericuhan di rumah Angie. namun, saya cepat-cepat melerainya dan mengajak semuanya pulang.

Akhirnya, hari-hari berikutnya teman-teman sepakat melaporkan Angie ke polisi disertai bukti-bukti dan saksi-saksi. Akibatnya, bulan berikutnya Angie diajukan ke pengadilan. Setelah dua tiga kali sidang, akhirnya Angipun harus segera masuk lembaga pemasyarakatan selama  tiga bulan.

“Oh, Angie…” saya Cuma bisa mengeluh sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Betul-betul saya tak pernah menyangka, cewek secantik Angie ternyata berbakat menjadi seorang koruptor. Betapa malunya saya punya pacar seperti itu.

Sesudah saya tukar pikiran dengan teman-teman sekampus, akhirnya saya mengambil keputusan untuk memutus hubungan saya dengan Angie. Apa boleh buat.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973