CERPEN: Angelina Sundal

SAAT itu jumlah peserta ujian masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia sekitar 5.000 calon mahasiswa. Ujian diselenggarakan di Senayan. Beberapa minggu kemudian, hasil ujian seleksi masuk itupun diumukan di kampus FHUI yang saat itu berkampus di Rwamangun, Jakarta Timur.

Yang diterima ternyata hanya 180 mahasiswa. Berkali-kali saya mencari nama saya, namun selalu tidak menemukan. Mungkin karena saat itu saya terkena katarak.

“Oh, nasib,” gerutu saya.
“Nggak diterima, ya?” sapa seorang cewek di sebelah saya.
“Mata saya sedang kena katarak. Tak mampu melihat,”
“Oh, memang namanya siapa?” “
“Panggilan sih Harry. Tapi nama di ujian Hariyanto”
Cewek itu tak menjawb. Tapi langsung mencari nama di daftar kelulusan tes itu. Semula saya mengira, dia mencari namanya sendiri. maka, sayapun meangkah meninggalkan papan pengumuman dan kerumunan mantan peserta tes.

“Harry! Harry! Ada namamu….” tiba-tiba saya mendengar teriakan cewek itu. Sayapun berhenti. Cewek itu mendekati saya.
“Nomor peserta ujiannya berapa? Kalau nama Hariyanto sih ada,” tanyanya. sayapun merogoh saku dan menunjukkan nomor peserta ujian. Cewek itupun menggandeng saya ke arah papan pengumuman. jantungkupun berdebar. jangan-jangan bukan Hariyanto saya. maklum, nama Hariyanto nama pasaran.

Sabar saya menunggu cewek itu mencocokkan nomor pesera ujian saya.
“Harry! Cocok! Selamat,yaaa…?” teriak cewek itu sambil mendekati saya dan menyalami saya.
“Sungguh?”
“Demi Tuhan, Harry”
“Kok, kamu baik sih kamu membantu saya?”
“Hmmm, maaf Harry. Wajahmu mirip mantan pacar saya…”
“Oooh, begitu. Ngomong-ngomong, saya belum tahu namamu”
“Oh, ya. Nama saya Angelina Sundanewa. Panggilan Angel”
“Kok namamu aneh. Ada Sundanewanya. Memangnya ibumu orang Sunda?”
“Betul. Mama orang Sunda. Papa berasal darii Jenewa. Saya anak tunggal…”

Itulah perkenalan saya yang tak sengaja. Atas kebaikannya, sayapun traktir Angel di kantin. Semula Angel menolak, namun karena saya desak terus, akhirnya dia mau juga makan siang bersama. Tentu, sambil makan kami juga saling ngobrol ke sana ke mari.

Angel ternyata tidak hanya cantik, tetapi juga mudah bergaul. Baru kenal, rasa-rasanya sudah bertahun-tahun kenal. bahkan sebentar-sebentar tertawa karena kami saling membuat cerita yang lucu-lucu. Ternyata, Angel juga peserta ujian seleksi masuk FHUI ekstensi yang masuk sore. Sayapun saling bertukar alamat dan nomor telepon.

Singkat kata, saat ospek saya dan Angel selalu bersama. bahkan saat kuliah juga bersama. Angel juga akhirnya tahu kalau saya baru putus dari pacar saya. Meskinpun demikian, hubungan saya dan Angel masih terbatas teman. Tiap malam Minggupun saya belum datang ke rumahnya. Bertemu hanya di kampus saat kuliah.

Karena pulangnya malam, maka sayapun mengantarkan Angel pulang ke rumahnya di Komplek Perumahan Sunter Hijau. Memakai motor. Untung dia mau saya boncengkan pakai motor. Sebetulnya di rumahnya ada dua buah mobil. Namun, Angel hanya diperbolehkan membawa mobil siang hari. Trauma, karena dua kali Angel ditodong di saat berhenti di perempatan saat lampu lalu lintas merah.

Kedua orangtuanya cukup baik dan ramah. Meskipun demikian, selama dua bulan ini saya tetap belum pernah bermalam minggu. Masih menjaga jarak dulu. Masih bersahabat dulu. Masih dalam rangka penjajagan dulu.

“Oh, ya. Kabarnya Harry juga kuliah di Fakulta Ekonomi, Universitas Trisakt,ya?” tanyanya saat di kampus. kami duduk berdua di ruangan sambil menunggu dosen.
“Iya. Sedang menyusun skripsi”
“Saya punya ide,nih. Saya mau mendirikan penerbitan. Saya ingin mendirikan penerbitan buku. Rencananya sih, menerbitkan buku-buku hukum,” Angel menceritakan rencananya.
“Wow! Rencana yang bagus. Kalau bisa jangan buku-buku hukum saja. Kalau bisa novel dan lain-lain. Kebetulan saya suka menulis novel tetapi belum pernah diterbitkan.”
“Wah, kalau begitu kita bisa kerja sama, dong…” ceria wajah Angel.

Sejak saat itulah saya punya rencana bisnis dengan sistem kerjasama. Akhirnya disepakati, saya yang menanggung biaya kontrak ruko. Angel yang menanggung biaya mengurus perijinan, peraltan kantor, biaya promosi dengan jumlah yang sama. Masing-masing punya saham Rp 50 juta.

“Oke! Besok kita survei ruko!” saya memberi tanggapan. Dan esoknya, pagi hari, saya dan Angel survei ruko disekitar Rawamangun. Dan saya menemukan ruko yang lokasinya strategis, yaitu dekat terminal bus Rawamangun. Singkat cerita, saya sudah berhasil menemui pemilik ruko dan juga telah terjadi transaksi dan menandatangani perjanjian kontrak ruko untuk jangka waktu dua tahun.

Sebulan berlalu. Belum ada tanda-tanda Angel membeli furniture maupun mengurus perijinan.
“Bagaimana nih, tindak lanjut Angel? Sudah satu bulan lho. Bagaimana kok belum ada furniture di ruko? Bagaimana juga masalah perijinannya?” akhirnya sayapun menanyakan hal tersebut ke Angel saat beristirahat di kampus FHUI.
“Oh, ya Harry. Saya lupa kalau uang saya di bank berstatus deposito. Belum bisa diambil kalau belum jatuh tempo. Maaf Harry. Saya betul-betul lupa. Demi Tuhan, saya benar-benar lupa!” Angel meminta maaf.
“Kalau begitu, kapan jatuh temponya?”
“Tiga bulan lagi..Benar. Tiga bulan agi. Sekarang kan Mei, jadi nanti tanggal 15 Agustus baru bisa diambil..” Angel meyakinkan.

Sayapun bersabar dan tetap bersahabat baik. Sebenarnya hati dongkol dan curiga. Namun karena sikap Angel tetap baik dan tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan.

Namun setelah Agustus berlalu dan tidak ada tanda-tanda Angel merealisasikan janjinya, maka sayapun menanyakannya secara baik-baik tanpa rasa curiga. Saya tetap berprasangka baik.

“Oh, iya Harry. Maaf, lagi, deh. Bulan depan famili saya di Bandung akan menikah, jadi bulan ini dan bulan depan saya masih harus mondar-mandir dari Jakarta Ke Bandung. Mungkin mulai September kita bisa ‘ranunning well’”. begitu penjelasan Angel.

September berlalu. Oktober berlalu. November berlalu. Desember berlalu. Akhirnya, suatu saat saya curhat ke Haryo, sahabat baik sekampus. Kebetulan rumah Haryo dekat rumah Angel. Walaupun dia sahabat baik saya, namun masalah rencana bisnis saya dengan Angel dia belum tahu.

“Jadi, Harry punya rencana kerja sama bisnis dengan Angel?” Haryo bertanya dengan wajah agak kaget. sayapun menceritakan rencana bisnis saya dengan Angel mulai dari awal hingga akhir.

“Oh, Harry. Kita senasib. Saya juga diajak kerja sama mendirikan kafe. saya juga terlanjur mengontrak kafe yang Harry sudah bayar kontraknya itu. Sekitar Rp 50 juta juga. namun ternyata tidak ada realisasinya<” Haryapun akhirnya bercerita.

“Mungkin kita tertipu,ya?” saya mulai curiga terhadap Angel.
“Bukan mungkin, tetapi memang kita sudah tertipu. masalahnya, kita tidak mungkin bisa menuntutnya. Soalnya, saya dan Harry tidak menandatangani apapun dengan Angel. Dan bukan saya dan Harry yang jadi korban penipuan. Teman saya dari FSUI-pun kena penipuan dengan modus yang sama. sayang, kita tak punya bukti hitam di atas putih…”

“Kalau begitu, apa motivasinya menipu kita?” saya penasaran.
“Yah, saya pernah melakukan penyelidikan. Ternyata, ruko itu milik pacar Angel. Dikontrakkan berkali-kali kepada orang yang berbeda-beda. Dan semuanya tertipu”
“Sudah ada yang melaporkan ke polisi?”
“Persoalannya di situ, Harry. Ayah Angel kan termasuk petinggi polri…”
“Oh, my God…!” gerutu saya.

Nasi telah menjadi bubur. Sesal kemudian tak ada gunanya. Meskipun saya tertipu oleh Angel , namun saya tidak memusuhinya. saya tetap berteman baik. makan bersama di kantin dan kegiatan-kegiatan lainnya. Semuanya saya serahkan kepada Allah swt.

“Oh, ternyata Angelina Sundanewa telah berubah nama menjadi Angelina Sundal…!Pembohong…! Penipu…! Sundal…!” tak tertahankan lagi. saya mengumpat dalam hati.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: