CERPEN : Tinggal Menunggu Azab dari Allah SWT.

Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (As Sajdah ayat 21).Mereka bertanya: “Bilakah hari pembalasan itu?,(hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka” (Adz Dzaariyaat  ayat 12-13)

.
PAGI itu saya sedang baca-baca buku filsafat di Perpustakaan Fakultas Filsafat UGM. Maklum, dosen saat itu tidak masuk. Di fakultas itulah saya kuliah. Meskipun demikian, saya kadang-kadang juga ke Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM. Maklum, di samping saya mencintai filsafat, saya juga suka psikologi.

“Wah, asyik baca, nih,” tiba-tiba ada yang duduk di sebelah saya dan menegur saya. Sayapun menengok ke kanan. Ternyata Frestya, pacar saya yang kuliah di fakultas psikologi.
“Oh, Frestya. Nggak ada kuliah?”
“Nggak….,” sambil menggelengkan kepala. Frestya memang cantik, rambut pendek, kulit putih, bibir mungil dan enak diajak bicara.
:Sama,dong.”
“Lagi baca apa?”
“Filsafat moral”

“Kok…?”
“Ya, iyalah. Negara kita kan sedang dilanda krisis multidimensi. Terutama krisis moral”.
“Bukankah sekitar 80% orang Indonesia beragama Islam?”
“Betul.Tetapi berapa persen yang Islam KTP? Berapa persen yang rajin beribadah dan bermoral baik? Jangan lupa, negara kita termasuk negara yang paling korup di Indonesia.”
“Iya, sih. Tapi saya sebagai mahasiswi psikologi, masalahnya bukan hanya masalah moral, tetapi juga masalah sistem perilaku. Faktor lingkungan”
“Maksudnya?”

“Yah, korupsi bisa terjadi karena sistem yang buruk. Sistem yang buruk mengakibatkan perilaku yang buruk. Perilaku yang buruk bentuknya moral yang buruk. Antara lain korupsi” Frestya menjelaskan masalah korupsi dari sudut psikologi.
“Sekarang memang zaman edan. Zaman Jahiliyah Moderen di mana uang dan harta telah menjadi Tuhan. Korupsi telah menjadi ibadahnya dan berbohong merupakan amalannya,” saya berkata dengan nada berfilsafat.
“Orang yang korupsi kalau dari sudut psikologi, tergolong pengidap psikopat. Sebab, dia atau mereka sudah melanggar semua norma. Mulai dari norma sosial, tetapi juga norma hukum dan norma agama.”

“Masuk akal. Tetapi rusaknya moral juga bisa akibat sistem poliitik. Untuk jadi politisi perlu modal besar. Untuk jadi anggota DPR saja paling tidak harus menyiapkan uang sebesar Rp 3 milyar. Untuk jadi Gubernur DKI Jakarta, paling tidak sekitar Rp 30 milyar. Untuk jadi presiden paling tidak minimal butuh dana sekitar Rp 300 milyar. Itu minimal. Tentu, kalau menang mereka tentu punya target.”
“Apa itu?”
“Tahun pertama, targetnya kembali modal. Tahun kedua, melunasi utang. Tahun ketiga, setor ke parpol pendukung. Tahun keempat, memperkaya diri sendiri dan keluarga. Dan tahun kelima, mengumpulkan uang untuk ikut pemilu atau pilkada mendatang. Semua dana diperoleh dengan cara korupsi,”panjang lebar saya menjelaska ke Frestya.

“Betul juga. Sistem pengawasan yang buruk juga menyebabkan perilaku yang buruk. Itulah sebabnya, di lembaga legislatif, ada korupsi. Di lembaga eksekutif, ada korupsi. Dan di yudikatif, juga ada korupsi. Oleh karena itu ketiga lembaga tersebut dinamakan lembaga legisla-thief, ekseku-thie dan yudika-thief. Thief itu artinya pencuri atau maling…”
“Ha ha ha…Ada-ada saja…! Kebetulan ya, diskusi kita menyatu. masalah moral bisa kita nilaii dari filsafat moral. Dan masalah moral juga bisa dilihat dari sudut pandang psikologi perilaku. kalau begitu, negara kita memerlukan sebuah sistem politik yang benar-benar efektif. Antara lain perlunya adanya sistem pengawasan yang efektif”

“Betul! Saya setuju! Namun masalahnya, negara kita kekurangan SDM yang memiliki kemampuan untuk membuat sistem yng benar-benar berkualitas. Survei seorang doktor fakultas psikologi menunjukkan bahwa, orang Indonesia yang mempunyai IQ tinggi hanya 0,01%. Solusinya, kita panggil saja konsultan manajemen yang profesional dari negara yang sudah maju.” usul Frestya.

“Setuju! Negera kita harus mempunya sistem politik yang profeesional, sistem birokrasi yang profesional, dan semua sistem yang profesional. Sistem yang baik adalah sistem yang membuat manusia mengikuti keinginan sistem dan bukan sistem mengikuti keinginan manusia,” saya menambah penjelasan Frestya.
“Betul Harry. Kalau para pemimpin dan wakil rakyat kita tetap menggunakan sistem yang sekarang, maka korupsi akan berjalan terus. Tawuran antarwarga akan berlanjut. Kegiatan premanisme akan semakin merajalela. Narkoba semakin menggila. Suap, sogok dan pungli akan subur. Gaya hedinisme akan berkembang pesat. Utang pemerintah akan semakin meroket dan mencekiik rakyat. Rakyat miskin akan semakin tergusur dari tanah adat atau tanah ulayat. Kapitalisme akan tertawa karena boleh menguasai 95% sumber daya alam. Kerukunan antarberagama hanya merupakan slogan kosong. Orang munafik akan terus bertambah. Para penegak hukum bisa dibeli…” panjang sekali uraian dari Frestya.

:Setuju. Negara kita membutuhkan seorang pemiimpin yang berkualitas, sebab maju mundurnya sebuah negara ditentukan oleh kualitas pemimpinnya. Sedangkan kualitas pemmpin ditentukan oleh kualitas pemilihnya. Selama 70% pemiilihnya masih bodoh dan buta politik, tidak mungkin negara kita pemimpin yang berkualitas. Oleh karena itu perlu adanya pendidikan dan pencerahan politik untuk rakyat, seperti yang dilakukan di Australia dan negara-negara yang demokrasinya sudah maju…”

“Ya, idealnya seorang caln pemimpin dan calon wakil rakyat harus mengikuti tes IQ atau Inteligence Quotient, EQ atau Emotional Quotient, SQ atau Spiritual Quotien. LQ atau Leadership Quotien. HQ atau Health Quotient. PQ atau Personality Quotient….”
“Ha ha ha….Ideal sekali ya, tesnya. Saya tambah satu lagi, yaitu MQ atau Morality Quotient. Minimal tes IQ, LQ,HQ,EQ,SQ dan PQ-lah. Masalahnya, kalau semua capres dan caleg mengikuti semua tes itu, mungkin yang lolos hanya 0,01% seperti hasil survei doktor psikologi tadi…”
“Ha ha ha….Iya. Kalau begitu, kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga Pemilu 2014 nanti, yang terpilih adalah seorng pemimpin yang jujur, adil, tegas dan cerdas. Jika tidak…..”

“Ya, jika tidak. Krisis multi dimensi akan semakin meningkat. Kekacauan sosial akan semakin menjadi-jadi. Korupsi semakin canggih. Pemasaran narkoba semakin lihai. Seks bebas akan menjadi-jadi….”
“Betul Harry. Tuhan melalui alam berkali-kali sudah memberikan sinyal-sinyal akan datangnya sebuah azab. Bangsa Indonesia akan mengalami derita berkepanjangan. Bisa berupa kesuliitan ekonomi yang luar biasa yang mengakibatkan kemiskinan akan meningkat dan kriminalitas juga memuncak.”
“Betul Frestya. Bisa juga azab berupa bencana alam yang sangat dahsyat. Saya pernah membuat prediksi yang dimuat di Harian Samarinda Post yang memprediksikan, awal dan akhir pemerintahan SBY akan diwarnai bencana alam yang luar biasa dahsyat. Awal pemerintahan sudah terbukti, berupa tsunami di Aceh…”

“Betul Harry. Saya pernah baca ramalan Jayabaya, bahwa Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua. Isyarat akan terjadinya bencana luar biasa dahsyat. Dan mungkin itu akan terjadi di akkhir masa jabatan SBY. Mungkin akhir 2012…”
“Oh, sama dengan prediksi dari suku Maya,ya? bahkan ilmuwan Albert Eistein juga memprediksikan akhir 2012 akan terjadi bencana alam luar biasa.”
“Kabarnya ada ayat Al Qur’an yang bicara tentang bencana?”
“Ada. Mungkin ditujukan ke para pemimpin dan wakil rakyat yang lebih mementingkan hidup bermewah-mewah tetapi tidak peduli dengan penderitaan rakyat. Antara lain korban lumpur Lapindo, tanah-tanah adat atau tanah ulayat yang dijarah perusahaan-perusahaan, sengsaranya rakyat di perbatasan Indonesia-Malaysia yang sangat miskin karena miskin sarana-prasarana ataupun infrastruktur ekonomi.”

“Bagaimana bunyi ayat itu, Harry?”
“Apa kata Al Qur’an? “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada pemimpin-pemimpin yang hidup bermewah-mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Israa’ ayat 16)”

“Mungkin berupa Kiamat Dunia, ya Harry?”
“Bisa jadi. Itulah azab bagi umat manusia. Terutama bagi bangsa Indonesia” saya mengakhiri perbincangan. maklum kuliah berikutnya akan dimulai. Frestyapun kembali menuju ke fakultas psikologi.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: