CERPEN: Preman-Preman Bayaran


SEPERTI biasa, tiap Sabtu saya dan alumni fakultas psikologi lulusan 1995 dan tergabung dalam Komunitas Psycho95. Semula, komunitas ini hanya untuk alumni Fakultas Psikologi, namaun dalam perkembangannya juga untuk alumni Fakultas Psikologi, UGM, UNDIP, dan lain-lain asal lulusan tahun 1995. Sabtu itu komunitas itu mengadakan pertemuan rutin di rumah alumni secara bergiliran. Sabtu ini berkumpul di rumah Wienda di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

“Hai! Harry….Selamat datang…!” sambut Wienda dan teman-teman. Mayoritas cewek. banyak yang sudah kumpul. Ada sekitar 50-an alumni. Cowoknya Cuma lima termasuk saya. Saya langsung masuk rumah dan cari tempat duduk dan bergabung. Acara sudah berlangsung. maklum, saya datang terlambat akibat ada kemacetan di Ciputat.

“Apa nih tema ngobrol-ngobrol hari ini? Soalnya undangan via SMS nggak lengkap,” saya tanya ke Rita yang duduk di sebelah saya.
“Tentang premanisme…’” singkat jawaban Rita yang sedang makan kue-kue itu.
“Oh…,ya”

“Sekarang topik berikutnya yaitu, apa sebab munculnya premanisme?” Wienda yang menmdapat giliran sebagai pemandu acara melemparkan pertanyaan. Tampak hampir semua teman-teman angkat tangan. Wienda menunjukk Rini.

“Kalau menurut saya, sih. Karena sulitnya mencari pekerjaan. Yang lulusan sarjana saja sulit. Apa lagi lulusan SMA, SMP atau SD. Ingin wirausahapun tidak ada modal. Andaikan ada modalpun belum tentu sukses…” begitu argumentasi dari Rini.

“Apakah berarti mereka mau cari uang dengan cara gampangan? Misalnya sebagai debt collector?”, Wienda melempar pertanyaan.
“Ya nggak begitu masalahnya. Menjadi debt collectorpun bukan pekerjaan yang mudah. Dengan menggunakan kekerasan, ancaman senjata tajampun belum tentu berhasil. bahkan dengan cara menyiksa atau membunuhpun belum tentu berhasil. Apalagi, mereka juga punya pesaing. Persaingan antarpreman terutama di Jakarta cukup keras…”

“Apakah mereka tidak bisa mencari lapangan kerja lainnya? Lapangan kerja informal jumlahnya ada ribuan. Mulai dari menjadi salesman, perantara penjualan properti atau makelar tanah dan rumah dan masih banyak lagi,” Wienda melempar pertanyaan lagi.
“Masalahnya. Pengetahuan mereka tentang berbagai alternatif pekerjaan informal sangat kurang. Di mana adanya lowongan kerja seperti itu? Mereka tidak tahu. Walaupun di koran banyak informasi lowongan kerja informal, namun mereka juga sadar, pesaingnya ada ribuan atau puluhan ribu orang,” itu adalah jawaban dari Sonya.

“Apakah preman-preman itu berarti sudah putus asa sehingga mencari kerja yang penuh kekerasan?” Wienda bertanya lagi.
“Bisa jadi begitu, tetapi tidak semuanya. Masalahnya adalah, preman-preman itu biasanya punya komunitas. Misalnya komunitas berdasar agama yang sama atau berdasar suku yang sama atau berdasar asal kota yang sama. Hidup di Jkarta dan kota besar lainnya tidak murah. Butuh uang banyak. Itulah sebabnya mereka mencari dan menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak. Antara lain sebagai debt collector,” kali ini Martanto yang menjawab. Tiap alumni memang hanya diberi jatah memberikan satu komentar atau jawaban sampai semua sudah menjawab dan bisa dimulai lagi dari awal.

“Tapi, kenapa harus dengan kekerasan?” Wienda lagi yang bertanya.
“Ya, sebenarnya tidak ada niat awal untuk melakukan kekerasan. Namun karena tidak bisa menahan emosi, maka kekerasanpun bisa terjadi. Semua demi uang. namun, tidak semua preman seperti itu. banyak juga preman yang tidak menyukai kekerasan fisik. Melainkan hanya kekerasan kata-kata saja,” Yunieta memberikan jawaban..
“Saya tambahkan. Mereka membawa senjata tajam sebenarnya hanya untuk menakut-nakuti atau untuk membela diri atau mempertahankan diri. Namun kadang-kadang situasilah yang menjebak mereka untuk melakukan kekerasan,” komentar Conny.

”Sebenarnya apa target mereka?” pertanyaan berikutnya dari Wienda.
“Ya, jelas demi uang. Siapa yang mau bayar, mereka pasti akan melakukannya sesuai order,” adalah ucapan dari Betty.
”Apakah mereka membela siapa saja yang membayar, terlepas apakah mereka berada di pihak yang salah atau di pihak yang benar?” Wienda lagi yang bertanya.

”Tidak semua preman membela yang salah. namun, sebagian besar mereka tak peduli salah atau tidak. Yang penting mereka dibayar. Sekali lagi, yang penting mereka dibayar. Hampir semua preman adalah preman bayaran. Misalnya dalam kasus sengketa tanah, sengketa rumah, utang-piutang dan masalah apa saja. Asal dibayar, mereka akan bergerak sesuai order,” masuk akal komentar Ruddy.

“Kalau begitu, kenapa semakin lama premanisme semakin menjamur?” ttentu Wienda lagi yang melempar pertanyaan.
”Di samping banyaknya urbanisasi, sulitnya mencari pekerjaan di Jakarta atau di kota-kota besar juga karena lemahnya penegakan hukum dari aparat penegak hukum. Terkesan adanya pembiaran-pembiaran. bahkan issuenya, mereka justru ada yang dimanfaatkan untuk membantu para penegak hukum itu sendiri. Paling tidak, dimanfaatkan oknum penegak hukum. Yang penting mereka dibayar,” tanggapan dari Meity.
“ Di samping itu, presiden SBY juga terkesan tidak tegas. Tidak punya konsep atau sistem yang jelas untuk memberantas premanisme. Ppresiden penakut. Beda dengan pemerintahan Soeharto, melalui gerakan ‘petrus’, pimpinan preman dihabisi satu persatu sehingga rakyat menjadi tenang, walaupun cara =-cara seperti itu tidak bisa dibenarkan secara hukum,” Upiek menambahkan.

“Lantas, bagaimana cara memberantas premanisme?” Wienda melempar pertanyaan lagi.
“Tentu, Presiden harus tegas. Perintahkan ke kapolri untuk membuat sistem pencegahan dan penanggulangan aksi-aksi anarki para premanisme tanpa melanggar hukum maupun HAM. Misalnya, intel-intel polri harus peka terhadap adanya rencana-rencana adanya aksi massa dari para preman, kemudian mengerahkan personil polri dalam jumlah yang banyak. Jika terjadi anarki, makapolri harus bertindak sesuai protap,” setengah usul Paramitha memberikan usul-usul solusi.
”Ada pendapat lain?” ienda lagi.
”Kalau menurut saya, pokok persoalannya adalah sulitnya mencari lapangan kerja. Ada baiknya pemerintah berpikir serius untuk menciptakan lapangan kerja bagi mereka. Dari sekian preman, tentu ada yang berkeinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang tetap. Mereka perlu diberi keterampilan dan disalurkan ke lowongan yang ada. Dan bagi yang ingin bekerja di luar negeri, bisa juga dibekali kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa Inggeris,” kali ini Yudhianti yang berpendapat.

“Baiklah. Sudah satu jam kita ngobrol-ngobrol. Saya ambil kesimpulan. Pertama, munculnya premanisme banyak sebabnya. Terutama sulitnya mencari pekerjaan. Oleh karena itu, pemerintahan SBY harus bertanggungjawab untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi para pengangguran yang ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Kedua, premanismu bisa saja merupakan komunitas deb collector, komunitas premanisme berkedok agama, atau premanisme politik. Ketiga, pada dasarnya hampir semua premanisme bergerak atas dasar order dan bayaran yang cukup besar. Keempat, selama presiden tidak bersikap tegas, tidak hanya bicara prihatin-prihatin-prihatin, melainkan memerintahkan ke kapolri dan TNI jika perlu untuk memberantas premanisme yang anarki. Presiden harus berani mencopot kapolri jika berkali-kali gagal mencegah terjadinya tindakan anarki. Kelima, selama presiden cuma NATO, cuma omdo, maka negeri kita akan dikuasai premanisme anarki. Akan terus bermunculan berbagai komunitas premanisme dengan beragam kedok. Keenam, preman-preman juga manusia. Mereka juga bisa menjadi SDM yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Mereka juga bisa baik kalau pemerintah bisa membina mereka. Sekian. Sekarang waktunya kita makan siang…..” Wienda mengakhiri obrolan Sabtu-an. Teman-temanpun berdiri dan antri untuk mengambil makanan yang telah disiapkan dengan sistem prasmanan.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: