CERPEN: Ketika Cinta Masih Berdenyut


KARYAWAN saya bilang, ada siswi peserta kursus komputer yang cantik. Katanya, namanya Asokawati Prameswari.

“Mana fotonya?” tanya saya. Julie,karyawati saya Bagian Pendaftaran, langsung membuka laci. lantas dia menunjukkan foto siswi baru peserta kursus komputer. Saat itu memang saya membuka Lembaga Pendidikan Komputer Indodata di dekat Pintu Tol Bekasi Timur.

“Oh, boleh juga,nih. Kapan-kapan kenalkan saya,dong,” pesan saya ke Julie yang saat itu bertugas bersama Dani.
Siang harinya, Juliepun memperkenalkan saya dengan Asokawati.

“Oh, my God! Betapa sempurnanya Tuhan menciptakan dia. Sayapun bersalaman dengan Asokawati yang wajahnya mirip Yuni Shara. Rambutnya pendek, bulu matanya lentik, kulitya putih, senyumnya menggetarkan hati. Siang itu dia datang diantarkan sopir pribadinya. Naik mobil Mercy. Rupa-rupanya dia anak salah seorang terkaya di Bekasi.

Seperti di sinetron. Hubungan saya dengan Asoka lancar-lancar saja. Bahkan kadang-kadang mamanya yang mengantarkan ke tempat kursus. mamanya juga bersikap ramah terhadap saya. Bahkan saya berkali-kali diundang supaya datang ke rumah Asokawati.

Kebetulan, saat Asokawati ulang tahun, sayapun datang. Ternyata temannya banyak sekali. Pestanya cukup meriah dan mewah. Asokawati mengenakan gaun yang harganya tentu sangat mahal. Saat itu Asokawati berstatus alumni salah satu sekolah tinggi ilmu komputer di Jakarta. Dia mengambil kursus di tempat saya hanya sekadar ingin memperdalam aplikasi Photoshops dan Corel Draw. Tampaknya Asokawati berbakat menggambar.

Saya menilai perlakuan Asokawati terhadap saya terlalu berlebihan. Saya diperkenalkan ke tema-temannya dan selalu mengatakan saya ini pacar Asokawati. Padahal, saya belum pernah menyatakan cinta ke Asokawati. Tapi, tak apalah. Kenyataannya saya juga naksir dia. Cuma, saya selalu bersikap hati-hati sebab saya belum mengenalnya secara mendalam. Secara lahirah, dia memang cantik. Secara batiniah, saya belum tahu.

Akhirnya, tiap malam Minggupun saya datang ke rumahnya yang cukup mewah. Sambutannya baik sekali. bahkan mamanya kaang-kadang ikut mengobrol walaupun hanya sebentar.

“Mas Harry, kalau pacaran jangan lama-lama,ya? Tante sudah ingin punya cucu,nih. Maklum Asoka satu-satunya anak Tante,” katanya setengah mendesak. Asoka memang anak tunggal. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit. Entah sakit apa, saya tidak pernah bertanya.

“Wah, belum siap, Tante. Penghasilan saya masih sedikit. Belum cukup,” saya menjawab.
“Ah, jangan begitu. nanti kalau Mas Harry sudah menikah, rezekinya akan semakin lancar. Tuhan tidak pernah keliru dalam membagi rezeki,” kata mamanya Asoka bernada berkotbah.
“Betul Tante. Tapi, jodoh juga di tangan Tuhan…,” saya membalas ucapannya. tante, lengkapnya Tante Darmodjopun tertawa kecil. Sesudah itu meninggalkan saya berdua dengan Asoka. Mengobrol di ruang tamu yang cukup luas.

Sabtu atau malam Minggu berikutnya, Asoka mengajak jalan-jalan ke jakarta sambil membawa mobil pribadinya, Honda Freed berwarna putih. kadang saya menggantikannya untuk mengendarai mobil itu. Jalan-jalan ke Ancol, ke kafe, nonton atau ke mana saja sampai larut malam. terkadang pukul 03:00 WIB dini hari baru sampai ke rumah Asoka. Mamanya tidak marah.

Satu hal yang sulit saya pahami yaitu, Asoka agresif sekali. Baru pacaran beberapa kali saja sudah seperti itu. Mengajak menginap di hotel berbintanglah, mengajak ke Puncaklah dan lain-lain. Saya faham maksudnya. namun intuisi saya selalu mengatakan, jangan ikuti dulu kemauannya yang berlebihan iitu.

Memang, banyak karyawan saya yang merasa aneh. Kenapa tidak segera melamar saja. Cewek secantik itu, jangan-jangan disabet cowok lain.

“Buruan, Pak. nanti Asoka digaet cowok lain!” Irawan, salah seorang karyawan saya memanasi.
“Iya,Pak. Zaman sekarang cowok-cowok kan banyak yang nekat dan agresif,” Sofyan, juga karyawan saya, menambahi ucapan Irawan.
“Betul,Pak. Kalau saya jadi Pak Harry, tentu Asoka sudah saya hamili,” kata Edi Raharjo yang membuat semua karyawan tertawa.

Iya,ya. Saat itu saya baru lulus dari S-2 Komputer dan langsung mengelola lembaga pendidikan komputer. Usia 23 tahun. Relatif masih muda. Sedangkan Asoka sekitar 22 tahun. Seimbanglah. namun saya punya rencana akan menikah pada usia 25 tahun saja.

Begitulah. dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun, akhirnya sayapun berusia 25 tahun. Sesuai dengan rencana, maka sayapun merasa sudah siap melamar Asokawati. Apalagi saat itu lembaga pendidikan yang saya kelola sudah bubar karena saya bekerja di PLN Pusat sebagai Staf Ahli dan sudah berstatus sebagai pegawai tetap. Artinya, sudah ada gaji dan tunjangan tetap.

Namun, lagi-lagi intuisi saya selalu menyatakan, sebaiknya jangan menikah dengan Asoka. sayang, saya tak menemukan jawaban kenapa saya tidak boleh menikahi Asoka. Ada apa? Sebuah pertanyaan yang membuat saya melangkah ragu-ragu. Maklum, sejak dulu saya paling percaya dengan intuisi. Cuma, kali ini intuisi tu tak memberikan jawaban yang jelas. tak memberikan petunjuk apa-apa. Ada apa ini?
Selama ini, saya sudah terlanjur jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Bukan karena Asokawati cantik. Bukan karena dia anak orang kaya. Bukan karena dia sarjana komputer sama dengan saya. Tapi, saya suka karena dia bicaranya enak. Selalu nyambung. Enak diajak gaul. Cakrawala pemikirannya luas. Rajin shalat. Pandai membaca Al Qur,an. bahkan Asokawwati mengajak saya untuk naik haji bersama sesudah menikah nanti.

“Naik haji bersama? Oh, alangkah indahnya jika itu bisa menjadi kenyataan,” gumam saya dalam hati.

Karena saya merasa tidak ada kekurangan apa-apa pada diri saya dan Asokawati, akhirnya, sayapun menikah dengan Asokawati. Sebagian mantan teman kuliah saya dan Asokawati, sebagian teman kerja saya dari PLN Pusat, sebagian mantan karyawan yang pernah bekerja di lembaga kursus komputer saya, kerabat saya dan Asokawati dan undangan lainnya, memenuhi salah satu ruangan di Hotel Pan Sari Pasific, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Sayang, ayah dan ibu saya yang berada di Kota Bojonegoro tak bisa hadir karena sudah tua.

Setahun kemudian, kami berdua dikarunia seorang bayi perempuan yang imut-imut. Saya beri nama Monitorika. Sebuah nama yang ada hubungannya dengan komputer. Beberapa bulan kemudian Monny,panggilan anak kami, telah punya gigi. Bisa tersenyum lucu. bahakn sudah bisa berjalan, walaupun masih terjatuh-jatuh. Imut-imut sekali.

“Papaaa….!” tiba-tiba Minggu pagi itu saya mendengar teriakan Asokawati dari kamar mandi. Sayapun bergegas berlari.
“Ada apa?” tanya saya. Saya lihat Asokawati memegang dadanya.
“Segera ke rumah sakit,Pa….Jantung saya kambuh,” pintanya. sayapun segera meminta bantuan Bibi Mintuk untuk mengasuh Monny. saya langsung mengajak Asokawati memasuki garasi. Langsung saya tancap gas Honda Freed miliknya.

Namun, di tengah perjalanan Asokawati terkulai tak berdaya. Mobil saya hentikan di pinggir jalan. Saya gerak-gerakkan tubuhnyya. Diam. Matanya terpejam. saya pegang denyut nadi tangannya. Tidak ada.

“Oh, my God. Benarkah ini?” saya tak percaya. Langsung saya menghubungi mamanya lewat HP. Dari pembicaraan lewat HP iitulah saya baru tahu. Asokawati sudah dua kali operasi jantung di Singapura. Ayahnya, dulu meninggal juga karena penyakit yang sama.

Bulan-bulan berikutnya, saya terpaksa membesarkan Monny sendirian. Wlaupun ada baby sitter, namun itu tidak cukup.
Hari-hari terasa sepi.Saya hanya punya Monny. Cintaku kini hanya untuk Monny. Selama jantungku masih berdenyut, saya berjanji akan membesarkan Monny.

Sumber foto: elitha-eri.net

Hariyanto Imadha
Facebook/Blogger

CERPEN: Rezim TOMCAT


SIANG itu saya sedang jalan-jalan ke Plasa Senayan, Kebayoran Baru untuk makan siang di salah satu food court yang sering saya kunjungi. maklum, makanan dan minumannya enak sekali. Sesudah memesan makanan dan minuman, sayapun segera menuju ke tempat duduk.

“Hai! Harry, apa khabar?” tiba-tiba saya dikejutkan tepukan di pundak kanan saya. Ketika saya tengok, ternyata sahabat lama saya dari Bandung.
“Hai, Andre! Wow…berapa tahun kita tidak bertemu?” kata saya sambil beerdiri. Sayapun bersalaman dengan Andre. Andrepun saya persilahkan pesan makanan dan minuman.
“saya tidak sendiri, lho. Ada Vina, ada Ruddy ada Magda. Merteka masih cari tempat parkir mobil,” ucap Andre. Yah, Andre dan nama-nama yang tadi disebut adalah teman kuliah saya di Fakultas Psikologi, Unpad, Bandung. Kami lulusan tahun 1995 dan tergabung dalam Komunitas Psycho95 karena kami lulusan tahun 1995.

Benar juga, tak lama kemudian datanglah Vina, Ruddy dan Magda. Wah, suasana menjadi tambah meriah. Maklum, pada reuni tahun 2000, mereka tidak datang. Kami berlimapun akhirnya makan bersama sambil mengobrol apa saja. Sesekali Vina atau Magda memfoto kami menggunakan kamera ponselnya.

“Bagaimana kabar, Jakarta? Musim apa?”  Vina mulai bertanya soal Jakarta.
“Yah, musim korupsi…” saya bercanda. Mereka tertawa.
“Ha ha ha…Kalau korupsi memang Indonesia juaranya. Juara dunia…” komentar Ruddy sambil meminum es jeruk kesukaannya.
“Iya, sih. Negara kita ini kan dikuasai Rezim TOMCAT,” sahut Andre. Tentu, kami heran mendengar istilah baru itu.
“Apa tuh, Rezim TOMCAT?” Magda dan Vina bertanya hampir bersamaan.

“Rezim TOMCAT itu artinya Rezim yang merupakan (T)he (O)rganisation of (M)afia,(C)orruptor (A)nd (T)hief. Sebuah rezim yang dikuasai para mafia, koruptor dan maling-maling berdasi. Padahal, negara kita negara yang kaya sumber daya alam, tetapi rakyatnya miskin. Kecuali Rezim TOMCAT itu…” Andre menjelaskan.
“Oooh, itu. Yah, masuk akallah. Mafia ada di mana-mana. Ada mafia hukum, mafia pajak, mafia politik, mafia narkoba, mafia perdagangan anak, mafia sumber daya alam, mafia BBM, mafia perbankan, mafia proyek, mafia anggaran dan hampir semua sektor ada mafianya. Bagaimana mau mengatas semua itu? Sulit. Seperti benang kusut. Lha, yang akan memberantas mafia juga bagian daripada mafia…” saya urun rembug mengenai mafia.

“Betul juga. Di lembaga legislatif, ada mafia. Di lembaga eksekutif, ada mafia. Di lembaga yudikatif, ada mafia. Yang memberantas siapa? Ada satgas mafia pajak, ternyata anggota satgasnya juga bagian dari mafia. Negeri kita, Republi Antah berantah memang sudah dikuasai rezim mafia. Huh…!” komentar Vina sambil minum Coca Cola dingin kesukaannya sejak dia masih kuliah di Unpad.
“Bukan hanya mafia, juga korupsi ada di mana-mana. Di mana ada proyek, di situ ada korupsi. Begitu juga tiap ada pembelian barang dan jasa, ada korupsi. Beli tank, dikorupsi. Beli pesawat tempur, dikorupsi. Beli kapal selam, dikorupsi. Beli pesawat kepresidenan, dikorupsi. Beli mobil untuk para menteri, dikorupsi. Tampaknya negeri kita negerinya orang-orang kafir…” sahut Magda yang sejak dulu memakai jilbab.

“Betul juga,sih. Di samping itu juga banyak maling-maling berdasi. Beli BBM, melalui broker. Sebagian uangnya dicuri. Bantuan untuk orang miskin, dicuri. Perbaikan gedung, dicuri. Pembangunan infra struktur, dicuri. Ada proyek untuk gelanggang olah raga, dicuri. Segala macam kegiatan, dicuri. Praktek suap sogok merajalela. Calo anggaran bergentayangan. Betul-betul sudah rusak perilaku bangsa kita,” Ruddy memberi komentar sambil makan sate ayam.

“Yah. Mungkin uang dan harta telah menjadi tuhan mereka. mafia, korupsi dan maling sudah merupakan ibadah mereka. Suap sogok sudah merupakan amalan mereka. Melakukan mark up anggaran merupakan kitab suci mereka. saya setuju kalau mereka kita namakan orang-orang kafir. bagaimana solusinya?” Andre ingin tahu.
“Sekarang kan zaman edan. Ada institusi penegak hukum, ternyata isinya mafia, koruptor dan maling. Sulit mencari orang yang jujur. Mereka yang ditangkap dan dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan kan pelaku mafia, korupsi dan maling yang tidak mau menyogok para penegak hukum. kalau mereka mau bagi-bagi uang ke para oenegak hukum, mereka paling-palng divonis ringan. Sesudah dikurangi berbagai rtremisi, hukumannya kan tinggal beberapa bulan saja….” saya gilirannya berkomentar. Sambil sesekali makan ayam goreng.

“Lantas, solusinya bagaimana?” Andre mencoba bertanya mencari solusi.
“Menurut saya sih, kita harus punya presiden yang berkualitas. Bukan presiden yang bisanya cuma curhat. Bukan presiden yang penakut, peragu, ngomong doang, pesolek, boros,mudah tersinggung, suka curiga,bisanya cuma membuat satgas ini satgas itu, tak peduli rakyat, suka mengobral janji tanpa ada yang ditepati, bikin lagu melulu…lalu kerjanya apa?” komentar Magda.
“Setuju! Kita di pemilu mendatang harus punya presiden yang clean, clever, communicative, competence, commitment dan care. Tak usah saya jelaskan, kalian kan sudah tahu semua. Presiden kita sekarang kan tidak clean, tidak clever,tidak communicative,tidak competence,tidak commitment dan tidak care. Akibatnya, rezim negara Republik Antah Berantah periode sekarang dikuasai oleh Rezim TOMCAT seperti yang dikatakan Andre tadi,” begitulah pendapat saya sambil minum juice tomat.

Pertemuan siang itu memang di luar dugaan saya. Tidak ada perjanjian sebelumnya. Terjadi secara kebetulan. Sungguh menyenangkan bisa bertemu dengan sahabat-sahabat lama yang sudah 17un tidak bertemu. Vina dan Magda masih cantik seperti dulu. Semua sudah menikah. Untunglah, mereka masih kompak. Mereka dulu satu kelompok belajar dengan saya saat masih kuliah di Unpad.

Siang itu suasana food court di Plasa Senayan cukup ramai. Semakin siang kursi-kursi semakin penuh. Maklum, di samping makanan dan minuman di situ enak, harganyapun cukup terjangkau. Dengan uang Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per orang, cukup kenyang dan puas. harga cukup terjangkau, tentu untuk ukuran masyarakat Jakarta. Udara AC yang dingin cukup menyejukkan tubuh.

“ Saya teruskan, ya. Jika kita memiliki presiden yang berkualitas, maka kita harapkan dia melalui menteri-mentterinya bisa membuat sistem yang benar-benar bisa dihandalkan. Pimpinan institusi yang tidak mampu membersihkan institusinya dari praktek-praktek mafia, korupsi dan maling berdasi, harus dipecat. Presiden harus berani melakukan itu. gampang, kan? Jadi, kalau pimpinan institusi tidak mau dicopot, maka harus punya sistem pengawasan yang ketat kepada bawahannya. Mnteri-menterinya juga harus dipilih sesuai dengan keahliannya. jangan sampai orang yang awam ilmu ekonomi dijadikan menteri koordinator perekonomian. Jangan sampai menteri yang tidak ahli di bidang energi, dijadikan menteri urusan energi. Kacau negara kita kalau presidennya salah memilih orang…..” begitulah saya melanjutkan komentar sebelumnya.

“Betul, kata Harry. Kita harus punya presiden yang clever. Yang cerdas. Bukan presiden yang salah pilih melulu. Punya gelar doktor ekonomi tapi dibohongi terus oleh menteri-menteri eknominya yang menganut faham kapitalisme. Akibatnya, pemerintahannya menjadi kacungnya kapitalis asing. Semua sember daya alam dijual murah ke kapitalis asing. Sedangkan masih ada ratusan juta rakyat yang hidupnya miskin. yang kaya hanya para mafia, para koruptor dan para maling berdasi,” Vina berbicara lagi sambil sesekali memfoto kami menggunakan kamera ponselnya.

“Mudah-mudahan orang semacam Pak Dahlan, Pak Joko bisa menjadi presiden mendatang. Juga orang-orang seberani Anta Azar bisa menjadi ketua lembaga pencegahan dan pemberantasan mafia, korupsi dan maling-maling berdasi. Juga mampu memberantas praktek suap, sogok, pungli,kolusi dan nepotisme…” Magda berkomentar.

“Iyalah. Kita hanya bisa berdoa. Semoga Tuhan memberikan negeri seorang pemimpin yang berkualitas. Dan semoga pemerintahan mendatang bukanlah pemerintahan rezim TOMCAT seperti sekarang ini…” Vina berharap.
“Insya Allah…Amien…” . Semua teman mengamini.

Sesudah membayar makanan, kamipun saling berfoto bersama secara bergantian. maklum, sudah 17 tahun saya tidak pernah bertemu dengan mereka. Sesuda saya meminta kartu nama mereka, maka kamipun berpisah. Kami meneruskan acara kami masing-masing.

Sayapun pulang mengendarai Honda Freed putih menuju kawasan BSD City, Tangerang Selatan melalui rute Pondok Indah dan Bintaro.

Hariyanto Imadha
Facebooker & Blogger

NOVEL: Di Telaga Sarangan: Pernah Ada Cinta (Bab 1)


TELAGA SARANGAN, Juli 2010. Menjelang Ramadhan, saya sempatkan ziarah di makam kedua orang tua saya di Jl. Teuku Umar, Bojonegoro. Lantas, sesudah itu saya manfaatkan ke Telaga Sarangan, Magetan, Jawa Timur.Pada usia 58 tahun, tiba-tiba saya ingin bernostalgia di telaga yang indah itu. Sore hari saya sudah tiba di telaga yang indah itu. Karena sudah sore, saya menginap di salah satu vila yang ada di situ.

Esoknya, sambil menghirup udara sejuk segar, saya mulai berjalan mengelilingi telaga itu. Dan di sebuah tempat, di rerumputan, saya duduk di situ.Saya lihat bunyi kicau bermacam-macam burung, saya lihat beberapa kupu-kupu warna warni berterbangan dari bunga ke bunga. Masih seperti dulu. Masih seindah dulu, ketika saya menikmati keindahan itu bersama Faullin.Itu, 39 tahun yang lalu

SURABAYA, 1971.Saat itu saya masih duduk di kelas 2 SMAN Surabaya. Pindahan dari SMAN 1 Bojonegoro. Bu Nani masih menerangkan matapelajaran.Semua siswa memperhatikan dan mendengarkan dengan cermat. Tiba-tiba, di pintu ada Bu Marni dan seorang cewek. Beliau bincang-bincang sebentar dengan Bu Nani. Ternyata cewek yang ternyata cewek indo itu merupakan siswa baru. Pindahan dari SMAN 6 Jakarta. Sesuai dengan permintaan Bu Nani dan Bu Marni, siswi baru itu memperkenalkan diri.

“Nama saya, Faullin.Nama lengkap saya Raychel Coudriet. Saya pindahan dari SMAN 6 Jakarta. Saya pindah ke Surabaya karena mengikuti kedua orang tua saya” suaranya enak memperkenalkan diri. Wajahnya yang cantik membuat cowok-cowok sekelas tak berkedip. Betapa tidak, Faullin bertubuh langsing,berkulit putih, mata kebiru-biruan, bulu mata lentik, rambut pendek, bibir mungil, cara bicaranya yang enak di dengar dan pakaiannya modis dan modern. Sepintas Faullin mirip artis Demi More.

“Boleh tanya?” tiba-tiba Ismet Harahap Si Anak Medan itu angkat tangan. Dia merupakan cowok di kelas saya yang terkenal usil, berani bicara, tukang debat tetapi tidak berani berkelahi.
“Tanya apa?” Bu Nani melihat ke arah Ismet.
“Sudah punya pacar,belum?” pertanyaan Ismet mengundang tawa teman sekelas. Faullin tersipu. Tentu, pertanyaan semacam itu tidak perlu di jawab.Ganti saya angkat tangan “Asli dari negara mana?”. Faullin melihat ke arah saya.
“Papa saya dari Swedia, mama saya dari Bandung” Faullin menjawab jujur. Setelah berganti-ganti teman-teman diberi kesempatan bertanya, maka Bu Nani mempersilahkan Faullin menuju ke tempat duduk yang ditunjuknya.

Kebetulan, satu-satunya bangku kosong adalah bangku di sebelah kiri saya. Saya duduk paling belakang. Tepatnya, bangku Faullin ada di pojok kiri belakang. Di belakang bangku Miepsye. Pikir saya, rezeki nomplok. Betapa tidak, tempat duduk saya berdekatan dengan tempat duduk Faullin. Kesempatan yang baik ini harus saya manfaatkan sebaik-baiknya. Maklum, saya baru putus dengan Siska, siswi SMAN 5, Surabaya. Saya pikir, Faullin sangat layak menggantikan posisi Siska. Sayang, Bu Nani meneruskan pelajaran matapelajaran Biologi, sehingga saya tak punya waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan dia. Tidak apa, nanti jam istirahat saya akan melakukan PDKT atau pendekatan.

Jam istirahat. Segera saya menggeser duduk,  saya akan mendekati Faullin. Ternyata, tidak cuma saya, Arifin, Sudarmaji, Agus dan bahkan semua cowok nimbrung mendekati bangku Faullin.Langsung ingin bersalaman, namun Faullin tidak menanggapinya. Tentu, sikap dia agak mengecewakan saya dan teman-teman. Apalagi, Miepsye yang duduk di depannya langsung mengajak ke luar kelas, ditemani Erna dan Andarini. Namun, bukan cowok namanya kalau saya mudah menyerah.Memang, sebagian teman-teman cowok banyak yang punya acara sendiri di luar kelas, namun saya dan sekitar lima cowok lainnya mengikuti Faullin yang diajak Miepsye ke kantin.

Begitu Faullin dan kawan-kawannya duduk di kantin, teman-teman cowok langsung berusaha merebut hati. Ada yang menawari softdrink, lainya menawari kue. Namun, Faullin menolak. Bahkan, lama kelamaan dia terkenal angkuh. Banyak pertanyaan teman-teman cowok yang tidak dijawab.
“Aduh, jadi siswi baru jangan sombong, dong!” Arifin mengeluh. Namun Faullin tidak peduli. Hari itu juga Faullin telah punya geng, yaitu Miepsye, Erna, Andarini dan Poppy. Mereka biasa disebut ‘cewek-cewek elit’. Mungkin sudah menjadi hukum alam bahwa siswa yang kaya akan mengelompok dengan yang kaya, yang miskin membentuk komunitas sendiri, sedangkan yang cantik juga punya geng siswi cantik.Hampir di semua SMA hukum alam atau hukum sosial seperti itu berlaku.Sehabis makan pisang goreng dan kue-kue dan minum, Faullin dan gengnyapun meninggalkan kantin. Sedangkan saya dan teman-teman cowok masih di kantin. Maklum, jam masuk masih 15 menit lagi.Sebagian teman asyik merokok, sebagian lagi makan kue.

“Gila,rek! Cantik sekali Faullin…” Arifin memuji kecantikan Faullin, sambil menunjukkan dua jempol tangannya.”Kalau bukan anaknya orang kaya, nggak bakalan bisa bawa dia…,” Arifin menambahi ucapannya.
“Saya naksir, nih “ Sudarmaji menimpali ucapan Arifin. Ucapan Sudarmaji tidak ada yang mengomentari, sebab semua teman-teman tahu Sudarmaji sudah punya pacar.
“Saya juga naksir,nih” saya ikut mengeluarkan unek-unek saya. Entah kenapa, tiba-tiba semua teman saya tertawa.

“Kamu wong ndeso dari Bojonegoro, mau naksir Faullin yang Indo-Swedia? Ha ha ha…” Arifin tertawa terbahak-bahak.
“Ngaca Harry. Ngacaaa…” Ismet yang badannya pendek itu meledek.
“Kalau jadi sopirnya sih,boleh” Sudarmaji menambahi. Tapi saya tak marah. Sebab, ledek-ledekan seperti itu sudah biasa. Apalagi, arek Surabaya terkenal bicara ceplas ceplos apa adanya. Kelihatannya omongannya kasar, namun sebenarnya mengandung makna persahabatan yang sangat mendalam.
.———-
Tak terasa, pulang sekolah telah tiba. Ratusan siswa SMAN 6 Surabaya serentak keluar ruangan. Suara riuh, ramai, ada yang berteriak, ada yang bersiul, ada yang tertawa, ada yang berjalan sambil menyeret sepatunya dan macam-macam tingkah laku lainnya.Sebagian menuju ke tempat parkir sepeda dan sebagian menuju ke parkir sepeda motor atau motor. Termasuk saya yang waktu itu membawa motor Honda CB 125.

Sesudah membayar uang parkir ke Tar, si penjaga parkir, sayapun melajukan motor ke arah Jl.Pemuda ke arah Timur. Namun, baru sepuluh meter, tepat di depan pintu pagar sekolah, saya lihat Faullin sedang berdiri sendiri. Pikir saya, ini kesempatan baik untuk mengantarkan pulang.
“Pulang, ya? Saya antarkan…” saya menawarkan jasa baik. Saya pandangi wajah Faullin yang cantik mirip Demi More itu.

“Enggak, ah,” sahutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Malu ya,naik motor?” masih saja saya ngotot. Siapa tahu Faullin berubah pikiran. Namun, belum sempat dia menjawab, sebuah Mercy putih mendekati Faullin,diapun langsung masuk.
“Jancuk!” saya mengumpat dalam hati. Teman-teman yang sempat melihat kejadian itupun tertawa “Aduh, kacian deh lu…” ledek mereka.

Akhirnya saya mengambil keputusan, saya ikuti Mercy itu. Tepat di perempatan Mitra Theater, belok kanan. Saya ikuti. Arahnya ke Selatan. Terus saya ikuti, saya ingin tahu di mana rumah dia. Ketika sampai di Jl. Raya Dharmo, daerah kelas satu di Surabaya, mobil itupun memasuki sebuah rumah mewah dua lantai.”Oh, di situ rumahnya,” saya berkata sendiri. Bergumam sendiri. Dalam hati saya berjanji suatu saat saya akan singgah ke rumahnya. Tak perduli dia anak orang kaya kek, anak jenderal kek, anak presiden kek, sejauh maksud saya baik, maka saya merasa tak perlu untuk menyerah. Hanya satu tekad saya, Faullin harus menjadi pacar saya.
.———-
Esoknya di sekolah saya dan teman-teman bertemu lagi dengan Faullin.Namun di bangkunya Faullin berkerumun dengan gengnya. Ngobrol-ngobrol. Maklum pelajaran belum dimulai. Berkali-kali saya mencoba mengajak mengobrol. Namun terkesan saya dicuekin. Faullin selalu menghindari pertanyaan saya dengan cara terus mengobrol dengan Miepsye dan teman-teman cewek lainnya. Sebagian teman cowok saya terpaksa menyerah. Hanya Arifin saja yang tetap bertahan berdiri dekat Faullin. Sayang, pertanyaannya juga tidak ada yang dijawab Faullin. Arifin hanya sebagai pendengar saja. Jadi, Arifin adalah pesaing utama saya. Sayang, bel tanda pelajaran dimulai telah berbunyi. Semua siswa berjalan menuju ke tempat duduk masing-masing. Waktu itu Pak Djamilun yang mengajar. Matapelajarannya Fisika.

Ketika jam istirahat pertama tiba, saya kehilangan kesempatan untuk melakukan pendekatan ke Faullin. Soalnya, saat itu seluruh pengurus buletin Elka, atau Lingkaran Kreasi, harus berkumpul di ruang OSIS untuk menyusun persiapan penerbitan buletin itu untuk bulan yang bersangkutan. Kebetulan saya bagian menyeleksi karya tulis, baik berupa naskah cerpen, puisi, vignet ataupun humor. Hilang sudah kesempatan untuk mendekati Faullin. Terus terang, saya benar-benar jatuh cinta kepada dia.

Kesempatan kedua saya peroleh pada jam istirahat kedua. Saya ikuti Faullin yang waktu itu berjalan bersama gengnya. Saya mencoba menyapa, tapi sia-sia. Mereka ternyata menuju ke kantor pos di mana Poppy biasa memarkir mobil VW putihnya di situ. Biasa, bisa saya tebak. Mereka akan cari ice cream yang ada di Jl. Tunjungan. Saya hanya bisa memandangi mereka dari pintu pagar sekolah. Pandangan kosong. Sudah dua hari ini saya dan teman-teman cowok lainnya dicuekin.

“Aduuuh, kacian deh,lu…,” saya menengok ke belakang. Ternyata Arifin.
“Iya. Sombong amat si Faullin,” gerutu saya ke Arifin. Dia cuma tertawa saja. Seperti biasa dia meledek saya. Katanya, sudahlah, saya ini wong ndeso, jangan mengejar anak konglomerat.
“Sudahlah, kamu cari anaknya orang ndeso saja. Tuh, Sumiati, dari Mojokerto. Walaupun dia dari ndeso juga,tapi dia cantik,kan,” Arifin menjodohkan saya dengan Sumiati.Kalau saya pikir, cewek Mojokerto itu memang cantik dan belum punya pacar. Masalahnya adalah, saya tidak cinta dia. Lagipula, Sumiati terlalu pendiam. Bukan cewek tipe-tipe saya.
.———-
Pada jam istirahat esok harinya, saya coba lagi mengikuti Faullin dan gengnya. Ternyata mereka menuju ke Mitra Theatre yang letaknya tepat di samping gedung SMAN 6. Walaupun tak diajak bicara, saya tetap mengikuti mereka sampai ke gedung Mitra. Mereka melihat papan ‘Hari Ini’ untuk melihat foto-foto pemain film yang akan main nanti malam. Rupa-rupanya mereka punya rencana untuk nonton bersama. Sayapun mengatur strategi. Jika mereka nanti malam akan nonton, maka nanti malam saya harus ‘standby’ di Mitra Theatre. Karena dicuekin terus, akhirnya saya melangkah kembali ke sekolah. Di bawah pohon beringin saya lihat Arifin, Sudarmaji, Ismet dan Jerminas sedang duduk santai. Sayapun mendekati.

“Alaaa…punya harga diri,dong! Sudah dicuekin gitu masih aja nyosor…,” seperti biasa, Ismet mulai meledek saya.
“Iya tuh, wong ndeso Bojonegoro kok ingin punya pacar Indo-Swedia. Bagaikan bumi dan langit,” ejek Arifin.
“Ha ha ha…..,” semua tertawa terbahak-bahak. Silih berganti mereka mengejek dan meledek. Tapi saya tak sakit hati. Justru dalam hati saya berjanji, suatu saat akan saya tunjukkan kepada mereka bahwa saya bisa menundukkan hati Faullin. Akan saya tunjukkan bahwa saya bisa menaklukkan hati cewek Indo-Swedia itu. Harus! Tidak boleh gagal.

“Kamu itu mau mendekati Faullin modalnya apa,to? Mau kamu pelet ya, Faullin? Kan orang Bojonegoro jago pelet. Ha ha ha…,” Sudarmaji menertawakan saya.
“Nanti akan saya buktikan bahwa saya mampu menaklukkan hati Faullin.Tanpa pelet. Tanpa mantera. Tanpa klenik.Tanpa mistik,” akhirnya saya harus menjawab juga atas ledekan-ledekan teman-teman. Justru jawaban saya membuat mereka tertawanya semakin menjadi-jadi.
“Cinta ditolak, dukun bertindak!” Ismet yang kakinya agak pincang juga ikut meledek. Bahkan mulutnya komat-kamit menirukan dukun yang sedang membaca mantera.
.———-
Dari hari ke hari, saya dan teman-teman cowok mengalami nasib yang sama. Dicuekin Faullin.Hal ini menjadi bahan pembicaraan saya dan teman-teman. Sudah hampir sebulan, Faullin tak berubah. Tetap terkesan sombong. Kalau ditanya, jawabnya cuma satu dua kata saja. Tidak mau mengobrol kecuali dengan gengnya. Hampir satu bulan. Membuat saya menjadi ragu-ragu. Sikap saya maju mundur. Maju, sikap Faullin tak berubah. Mundur, sayang kalau kesempatan yang bagus itu dilewatkan.

Pernah juga suatu sore saya menuju ke rumahnya. Namun, pagar rumah yang tinggi dan pintunya selalu tertutup membuat saya harus merasakan kecewa. Pernah saya menanyakan nomor telepon rumah, namun Faullin dan gengnya tidak mau memberitahu.

Saya jadi ingat sewaktu saya sekolah di SMAN 1 Bojonegoro, kelas satu. Teman-teman saya yang teergolong cantik memang membuat gengnya tersendiri. Namun, mereka tetap bersikap baik terhadap teman-teman lainnya. Tidak terkesan sombong walaupun mereka juga tergolong anak orang kaya. Masih mau memberi nomor telepon. Bahkan kalau saya main-main ke rumahnya juga diterima dengan senang hati dan ramah. Walaupun di Bojonegoro saya cuma duduk di kelas satu, namun saya terkesan dengan SMAN 1 itu. Bahkan, saya yang dilahirkan di Bojonegoro merasa bangga dengan kabupaten itu yang kaya minyak, hutan jati dan tembakau.

Kenapa saya harus pindah ke Surabaya? Masalahnya, sewaktu di SMAN 1 Bojonegoro tergolong siswa pendiam tetapi bandel. Saya pernah disetrap Pak Dirman kepala sekolah, gara-gara berkelahi dengan Andik Mukayan. Saya pernah ngerjain Setyo Haryono hingga dia dikeluarkan dari kelas oleh Pak Boediono. Saya pernah menusuk kaki Kusaeri memakai ujung jangka yang runcing dan tajam. Terakhir, saya pernah menendang cewek yang sedang bersandar di pintu kelas. Diapun terjatuh. Ternyata, dia bukan teman sekelas, tetapi guru Bahasa Indonesia. Sayapun meminta maaf. Meskipun demikian, matapelajaran Bahasa Indonesia di rapor, saya diberi nilai 3. Angka mati. Artinya, jika saya tetap ngotot di SMAN 1, maka tidak mungkin saya naik kelas. Satu-satunya cara bisa naik kelas, saya harus pindah sekolah. Akhirnya, saya pilih SMAN 6 Surabaya. Langsung kelas 2.

Selanjutnya beli buku novelnya (225 halaman) seharga Rp 50.000+ongkos kirim Rp 16.000
Pembelian lewat bank: Harga Rp 50.000+Ongkos kirim Rp 16.000 (Pulau Jawa). Kirim ke HARIYANTO,Bank BRI Unit Bojonegoro, No.Rek.3846-01-000524-50-6. Kirim copy bukti transfer ke HARIYANTO, BSD Nusaloka Sektor XIV-5,Jl.Bintan 2 Blok S-1/11,Tangerang 15318. Konfirmasi lewat SMS ke: 081-330-070-330. Buku novel dikirim lewat TIKI/JNE.

Hariyanto Imadha

SMS Only : 081-330-070-330
Cerpenis & Novelis

PUISI: Beda Puisi dan Sok Puisi


SAYA punya teman. Kalau soal lukisan, memang dia jagonya. Apa alirannya, tidak jelas. Tapi soal puisi, jelas bukan puisi dalam arti sesungguhnya. Hanya kumpulan katayang tak jelas maknanya. Hanya menonjolkan indahnya kata tanpa arti. Jelas, teman saya tak besa membedakan mana yang pusi dan mana yang sok puisi.

Beda puisi dan sok puisi.

Puisi
-Menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat biasa yang mudah dipahami.
-Tata bahasanya benar.
-Istilah yang digunakan benar.

-Menggunakan kata atau kalimat yang mudah dipahami
-Tiap kata dan kalimat ada arti atau maknanya
-Tiap kata dan kalimat tak pernah menyimpang dari judul

Contoh

“Negeri Para Begundal”

Kita ini hidup di negeri begundal
Pejabatnya sibuk mengurusi politik sundal
Rebutan jabatan dan berlomba hidup royal
Dengan cara main suap atau saling jegal

Kita ini hidup di negeri sundal
Pemilu berantakan dikatakan normal
Rakyat dibohongi lembaga survei yang tak bermoral
Karena dibayar oleh politikus bermoral kadal

Kita ini hidup di negeri abnormal
Orang salah dapat jabatan orang benar terpental
Mau jadi polisi,mau jadi PNS,mau jadi TNI, rumah dan tanah terjual
Karena oknum pejabatnya sudah rusak mental

Kita ini hidup di negeri terpental
Rakyat dibohongi angka-angka statistik yang tak masuk akal
Padahal utang bangsa kita sudah sangat fatal
Pemilu banyak menghasilkan pemimpin dan wakil rakyat yang begundal

Oleh: Hariyanto Imadha

Sok puisi

-Menggunakan kata atau kalimat berbunga-bunga
-Menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang sulit dipahami.
-Tata bahasanya sering keliru.
-Istilah yang digunakan kadang keliru.
-Tiap kata dan kalimat kurang atau tidak ada arti atau maknanya
-Tiap kata dan kalimat terkadang menyimpang dari judul.
-ATidak ada pesan yang disampaikan

Contoh

“Pelangi Sendu Beratap Gulana”

ketika sepi menyendiri menepi tanpa kisi-kisi
sembilu merah mengalir darah
terlunta kata dan cinta
terpana masa lama yang sirna
entah kapan buaian itu berhenti
tanpa kinanti mengguncang harap
tertata rindu kecup di birunya langit

kelam,kelam dan kelam
terantuk tergaruk dan luka lecet di jari kelingking
menggapai rindu tepian laut
ketika debur ombak berhenti bernafas
bertebar galau merebak jiwa

o,sendunya,sendunya
tak terkatakan kemana cinta berlari
dari ujung makam hingga rel kereta api
hanya noda cinta memagut harap
nan jauh dari kilau fatamorgana

Oleh: Gatoloco Dot Com

Nah, semoga Anda bisa membedakan mana yang “puisi” dan mana yang “sok puisi”

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

CERPEN: Pemimpin-Pemimpinku Ternyata Penderita Paranoid


ADA sebuah negeri, namanya Negeri Antah Berantah. Pemimpin-pemimpinnya paranoid. Selalu serba ketakutan. Akan ke negeri Kincir Angin, takut didemo. Ingin menaikkan harga minyak, takut dikudeta. Ada SMS gelap, takut. Ada demo, takut. Pemimpin-pemimpin yang selalu dibayangi ketakutan adalah pemimpin-pemimpin paranoid.

“Seorang pemimpin haruslah berani mati, apabila dia yakin apa yang dilakukannya adalah benar,” begitu kata dosen saya bernama Bu Singgih. Dosen filsafat politik.
“Seorang pemimpin haruslah berbicara tentang rakyat. Aspirasi rakyat.Hidup dan penghidupan rakyat. Penderitaan rakyat. Dan mencari solusinya. Bukan seorang pemimpin narsis yang selalu bicara tentang dirinya sendiri. Selalu mengatakan saya…saya…saya. Seorang pemimpin haruslah selalu menggunakan kata kita…kita…kita…Dengan demikian seorang pemimpin harus lebih banyak bicara tentang rakyatnya. Bukan membanggakan angka-angka ekonomi makro yang sangat menyesatkan. Bukan bicara angka-angka statistik yang bisa direkayasa. Bukan bicara soal hasil survei bayaran…” masih kata Bu Singgih. Semua mahasiswa fakultas filsafat dengan cermat mendengarkan dan mencatat. Bahkan ada yang membawa alat perekam. Maklum, masalah kepemimpinan memang merupakan masalah yang sangat penting di Negeri Antah Berantah.

“Seorang pemimpin haruslah seorang manajer bangsa dan negara. Bukan hanya sebagai manajer politik yang lebih banyak waktunya mengurusi politik. Waktunya habis untuk memikirkan koalisi partai politik. Pikirannya hanya kemenangan politik. Tak pernah memikirkan nasib bangsanya yang berada di perbatasan dengan negara lain yang miskin infrastruktur di segala bidang.” Masih kuliah Bu Singgih.

“Seorang pemimpin haruslah seorang manajer bangsa dan negara. Lebih konsentrasi mengurusi rakyat yang menderita akibat bencana alam, menderita akibat tanah adat atau tanah ulayatnya diduduki dan dirampok perusahaan kapitalis. Harus ada usaha untuk memiliki kedaulatan ekonomi. Harus berusaha menasionalisasikan semua kekayaan sumber daya alam maupun sumber daya ekonomi,” cukup panjang kuliah Bu Singgih. Beliau memang seorang dosen yang tak pernah lelah berdiri di mimbar di samping papan tulis.

“Ada pertanyaan?” Bu Singgih mulai memberikan kesempatan bertanya kepada semua mahasiswa. Dan itu merupakan ciri khas beliau. Beliau senang sekali kalau para mahasiswanya aktif bertanya. Tampak, Utari angkat tangan.

“Tanya, Bu. Sebenarnya bagaimana kriteria pemimpin yang berkualitas?”
“Menurut Tanri Abeng, pakar manajemen. Kriteria pemimpin berkualitas yaitu clean atau bersih. Tidak pernah korupsi, tidak pernah tersangkut kasus pidana maupun perdata. Clever, harus cerdas. mampu menyelesaikan kasus-kasus besar. Mampu membuat berbagai sistem yang efektif dan efisien. Compentent, mempunyai kompetensi sebagai seorang negarawan. Mempunyai program-program kerja yang benar-benar pro rakyat. Benar-benar bekerja mengurusi bangsa dan negara. Communicative, mampu berkomunikasi secara horisontal maupun vertikal. mampu membaur dengan rakyat. Tidak bermewah-mewah. Mendahulukan kesejahteraan rakyat daripada kesejahteraan dirinya sendiri. Mempunyai leadership atau kepemimpinan yang berkualitas. Mempunyai pribadi yang kuat. Commitment, satunya kata dan ucapan. Menepati semua janji yang diucapkan. Mempunyai rencana yang matang untuk merealisasikan semua janjinya. dan care, lebih peduli kepada rakyat. Semua program kerjanya berdampak positif untuk rakyat.”

Kemudian saya lihat Prawoto yang hari itu memakai baju kotak-kotak, angkat tangan.
“Tanya, Bu. Apa ciri-ciri pemimpin besar dan pemimpin kecil?”
“Pemimpin besar adalah pemimpin yang punya rencana besar dan mampu mengatasi masalah-masalah besar. Misalnya, mampu menciptakan lapangan kerja bagi seluruh masyarakat miskin. mampu mengatasi masalah banjir, kemacetan lalu lintas, keragaman beragama, berani mengambil keputusan, cepat mengambil keputusan secara akurat. Bahkan berani menghadapi resiko apapun. Jika perlu, nyawapun dikorbankan. Dan jika merasa tidak mampu menjadi pemimpin, dia secara sportif menyatakan diri mengundurkan diri. Sedangkan pemimpin kecil adalah pemimpin yang hanya mampu mengerjakan hal-hal yang kecil. Membentuk tim ini tim itu. Membentuk satgas ini satgas itu. Tidak mampu membuat sebuah sistem yang efektif dan efisien. Tidak mampu membenahi produk hukum yang tidak adil, tidak ttegas terhadap menterinya yang terbukti tidak berkualiitas. Selalu ragu mengambil keputusan. Tidak mampu memilih orang yang memiliki keahlian sesuai bidangnya. Tidak mampu melakukan penghematan anggaran. Mudah menjadi kacungnya negara asing.Hanya bicara tentang dirinya. Ada lagi?”

“Ada,Bu,” Sundari angkat tangan. “ Kalau di dalam kontek filsafat politik, apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin?”
“Yang harus dilakukan seorang pemimpin yaitu, memilih orang-orang sesuai prinsip the right man on the right place. Membuat struktur organisasi pemerintahan yang efisien dan efektif, mampu membuat sistem eksekutif, legislatif dan yudikatif yang bersih. Bersikap tegas terhadap para penegak hukum yang tidak berkualitas. Menghemat APBN. Memprioritaskan pembangunan di wilayah perbatasam, daerah terpencil dan daerah yang tertinggal dalam hal infrastruktur. Mampu menciptakan prestasi melebihi negara-negara tetangga. Mampu menyusun pencegahan korupsi, kolusi, nepotisme, pungli, suap dan mampu mencegah perbuatan sewenang-wenang. Semua itu memerlukan filsafat yang berkualitas.”

“Say,tanya,Bu.Bagaimana hubungannya dengan kedaulatan?” Sekarang, Guritno yang berkacamata itu bertanya.
“Tentu, harus mempunyai kedaulatan ekonomi. Berani menasionalisasikan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi. Harus ditangani bangsa sendiri. Berdaulat di bidang politik. Tidak mau jadi kacungnya negara asing. Tidak mau didikte negara asing. Punya prinsip sendiri. Kedaulatan di bidang pertahanan dan keamanan. mampu membuat sendiri alat-alat pertahanan dan keamanan dengan kualitas internasional. Berdaultan di bidang wilayah. Dan kedaulatan di berbagai sektor lainnya. Pokoknya, harus mandiri. Kalau bangsa Jepang bisa, maka Negeri Antah Berantahpun harus bisa. Juga, jangan terlalu banyak utang yang sangat membebani rakyat.”

“Kalau pemimpin yang solutif itu bagaimana, Bu?” Shanty ingin tahu.
“Pemimpin solutif adalah pemimpin yang mampu mengatasi semua persoalan.” singkat jawaban Bu Singgih.

“Oh,ya. Apa ciri-ciri lain pemimpin yang paranoid, Bu?” Dengan penuh semangat Erlangga bertanya. Selama ini, Erlangga sangat jarang bertanya. maklum, dia tergolong mahasiswa pendiam. Dia juga kuliah merangkap di fakultas psikologi di universitas lain, tetapi masih satu kota.
“Paranoid itu gangguan kepribadian. Bukan penyakit jiwa, walaupun bisa mengarah ke sana. Ciri-cirinya, serba curiga; hipersensitif atau sangat perasa; rigid atau kaku; mudah iri, sangat egois, suka curhat di depan banyak orang, selalu takut, selalu menginterprestasikan perilaku orang lain sebagai ancaman, memiliki perasaan ketakutan akan dikhianati dan dimanfaatkan oleh orang lain, sangat takut kalau citranya menurun,merasa tidak nyaman dengan lingkungan yang dianggapnya tidak se-ide, suka menyalahkan orang lain, suka menuduh orang lain jahat dan tidak mempunyai rasa humor…”. Cukup lengkap uraian Bu Singgih.

“Pertanyaan terakhir,” pinta Bu Singgih yang berambut pendek dan berkacamata itu.
“Pertanyaan saya singkat saja, Bu. bagaimana dengan pemimpin Negeri Antah Berantah kita ini? Apakah beliau juga seorang pengidap paranoid?”
“Semua ciri-ciri paranoid dimilikinya.” diplomatis jawaban Bu Singgih. Kuliah ilmu filsafat memang bisa memasuki wilyah berbagai ilmu pengetahuan.  Bisa ke politik, psikologi, ekonomi, hukum dan lain-lain. Namun intinya harus dikaitkan dengan ilmu filsafat. Yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku pemikiran.

Kuliah selesai. Bu Singguhpun meninggalkan ruangan.
Mahasiswa tetap berada di dalam ruangan untuk mengikuti perkuliahan berikutnya.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

CERPEN: Orang-Orang Sempel Dari Bojonegoro”


SETASIUN Senen, 25 Nopember 2010. Sore itu saya sedang berada di Stasiun Senen menunggu kedatangan kereta api Senja Utama Selatan jurusan Yogyakarta. Maklum, saya dapat undangan dari mantan teman-teman kuliah saya di UGM. Sudah 30 tahun tidak pernah bertemu. Tentu, saya rindu sekali dengan mereka. Sambil berdiri menunggu datangnya kereta api, saya membayangkan betapa meriahnya acara reuni nanti. Apalagi itu khusus teman-teman satu angkatan. Sore itu angin bertiup cukup kencang. Udara dingin. Saya baru ingat, lupa membawa jaket.

Tiba-tiba, saya merasakan ada yang yang menggerayangi kantong celana saya. Halus sekali gerakannya. Namun, saya diam saja. Pura-pura tidak melihat. Nah, betul kan. Begitu terasa dompet saya terambil, sayapun berteriak.

“Copet…!Copet…!Copet…!” secepat kilat saya membalikkan tubuh dan mengejar pencopet itu. Seorang satpampun ikut mengejar.Pencopet itu lari cukup cepat. Sesekali dia meliihat ke arah saya. Tepat di depan toilet yang lampunya cukup terang, saya mengenali pencopet itu. Sayapun berteriak lagi.

“Mas…!Saya dari Bojonegoro! Saya dari Bojonegoro…!Saya dari Bojonegoro…!”
Ajaib. Pencopet itu langsung berhenti dan memandangi saya keheranan. Ketika satpam datang danberusaha untuk menangkapnya, sayapun berkata kepada satpam itu.
“Maaf,Pak. Jangan ditangkap. Dia teman saya….”. Satpam itu tidak yakin dan bertanya siapa nama pencopet itu.
“Kalau teman, siapa nama dia?”
“Dia Andhika,Pak!” saya menyebut nama.
“Betul;! Kamu Andhika?”. Satpam itu ganti bertanya ke pencopet. Pencopet itu mengiyakan. Akhirnya, satpam itupun melepaskan Andhika dan memberi nasehat ke saya supaya berhati-hati di Stasiun Senen. Satpam itupun meninggalkan kami berdua.

“Kok, bapak kenal saya?” Pencopet itu heran.
“Ya. Kamu kan dulu tinggal di Kauman. Semua orang Bojonegoro tahu kamu. Saya Harry. Yang dulu tinggal di Jl.Trunodjoyo No.4…,” saya mencoba mengingatkan.
“Oh, ya,ya…Puteranya Mbah nDjani,ya?” Dia mulai mengenal saya. Dia meminta maaf dan mengembalikan dompet saya secara utuh.

“Kok kamu jadi pencopet?”.Saya bertanya. Saya ajak Andhika duduk dan minum kopi hangat di salah satu mini resto di stasiun itu. Akhirnya Andhika bercerita bahwa dari Bojonegoro cuma berbekalkan ijasah SMA. Tidak punya ketrampilan. Pernah bekerja di Bekasi selama tiga tahun. Karena perusahaannya bangkrut dan bubar, akhirnya mulailah hidup menjadi sulit. Berkali-kali mencari kerja, tetapi gagal.
“Dulu dari Bojonegoro punya rencana apa?” Saya ingin tahu.
“Ya, motivasi saya cuma ingin cari kerja” Andhika menjawab sambil makan kue bolu.
“Kerja apa?”
“Pokoknya kerja”
“Nah, itulah salah kamu. Seharusnya, kalau dari Bojonegoro harus punya rencana yang jelas. Juga, harus menyiapkan segala sesuatunya. Minimal kamu harus punya sertifikat ketrampilan. Kenapa? Banyak perusahaan swasta yang mudah bangkrut sehingga harus punya cadangan untuk berwiraswasta. Banyak orang Bojonegoro yang kleleran di Jakarta. Jadi tukang parkir seumur hidup .Jadi salesman seumur hidup. Tidak berkembang. Kenapa tidak berkembang? Karena tidak punya rencana. Tidak punya strategi….Sekali lagi,banyak yang kleleran. Pergi ke Jakarta tanpa rencana yang matang, ya seperti orang-orang sempel itu” Sayapun meneguk kopi hangat manis. Sambil sesekali melihat arloji.

“Ada yang lebih sempel lagi, Pak Harry?”
“Ada. Namanya Reffan. Dari Bojonegoro tidak punya rencana matang. Tidak punya ketrampilan apa-apa. Saya ketemunya di Facebook. Dia cerita, sudah jadi Prof.Dr. Juga cerita, namanya diganti menjadi Prof.Dr.Revanno Danusutirto. Dia juga bilang, lulusan dari salah satu perguruan tinggi di Jepang, Jerman dan Perancis. Katanya, dia juga menjadi seorang peneliti mikrobiologi. Dia juga bilang, pindah agama dari Kristen ke Islam. Bahkan dia mengaku menjadi seorang ustadz dan sudah dua kali naik haji. Ceritanya di Facebook, tiap Jum’at memberikan ceramah di masjid. Karena saya curiga, sayapun bertanya ke tetangga-tetangganya. Ternyata, dia itu bukan apa-apa.Bukan siapa-siapa. Pekerjaan sehari-hari sebagai tukang pijat….”
“Ha ha ha….Kalau itu sih, sempel beneran,Pak!” Andhika tertawa terbahak-bahak.
“Ya,iyalah…Sempel betulan…,” saya tersenyum mengingat ulah Si Reffan.

“Oh, menarik sekali cerita Pak Harry.Bisa nggak dicontohkan orang-orang Bojonegoro yang sukses?” Andhika memandang ke arah saya dengan wajah yang serius.
“Mau contoh? Baiklah. Saya punya teman. Namanya Hermawan. Dari Bojonegoro dia memang sudah punya rencana membuka perusahaan furniture. Sejak dari kota asal, dia sudah berkenalan dengan beberapa pemilik perusahaan furniture dan pengusaha kayu jati. Juga kenal dengan pejabat-pejabat Perhutani. Sampai di Jakarta, diapun langsung membuka usaha itu. Beberapa tahun lancar. Tapi, suatu saat peraturan membuat dia kesulitan mendapatkan kayu jati dari Bojonegoro. Akhirnya dia mengganti dengan kayu lain. Tetapi karena modelnya bagus, dia tetap sukses,” saya memberi contoh. Hermawan adalah teman saya sewaktu di SMAN 1 Bojonegoro.

“Ada lagi,Pak?”
“Ada. Lulusan SMA. Cewek.Dia hanya berbekalkan ijasah mengetik sepuluh jari.Tapi dia punya rencana.Pada awalnya hanya sebagai juru ketik.Tapi,pulang kerja dia kursus kesekretariatan. Sesudah dapat Diploma 1, dia pindah kerja di perusahaan swasta dengan gaji lebih tinggi. Pulang kerja, kursus bahasa Inggeris. Sesudah dapat diploma bahasa Inggeris, dia melamar kerja di perusahaan asing milik Norwegia. Gajinya juga lebih besar lagi. Diapun mampu mengambil kredit rumah. Oh ya, namanya Yurnita…”
“Oh, bagus sekali rencananya. Ada lagi,Pak? Siapa tahu bisa memotivasi saya”. Andhika bertanya sambil meneguk kopi.

“Ada dong. Banyak. Ada orang Bojonegoro, namanya Gamawan. Dia ke Jakarta bermodalkan sertifikat komputer. Karena kakak tempat dia menginap pindah ke Bekasi, diapun ikut pindah ke Bekasi. Dia melamar sebagai instruktur komputer. Tapi dia punya rencana. Rencana apa? Dia pelajari siswa-siswanya. Nah, ada siswa kelas dewasa yang juga seorang pengusaha sukses. Dia selalu menjual ide supaya pengusaha itu membuka lembaga pendidikan komputer ukuran besar. Karena Gamawan pandai menjual ide dan mempersuasi, akhirnya pengusaha itupun mendirikan lembaga pendidikan komputer. Gamawan ditunjuk sebagai pengelolanya dengan gaji yang cukup besar. Rencana Gamawan tidak berhenti di situ. Selama tiga tahun dia menabung. Akhirnya dia mendirikan sendiri lembaga pendidikan komputer. Bahkan tiga tahun kemudian lembaganya berkembang menjadi akademi komputer”. Sesekali, saya melihat arloji.

“Wah! Betul juga,Pak. Saya baru sadar kalau saya ini bodoh!,” keluh Andhika.
“Kamu bukannya bodoh, tetapi sempel. Banyak orang Bojonegoro yang sempel menjadi kleleran di Jakarta. Kenapa? Sekali lagi, karena tidak punya rencana yang matang. Tidak punya ketrampilan. Jadi,dua itu syarat untuk hidup enak di Jakarta”
“Kalau wiraswasta,bagaimana Pak? Andaikan saya punya modal, saya ingin wiraswasta”
“Wiraswasta itu juga harus punya rencana yang matang. Harus punya keterampilan juga. Banyak orang rencananya tidak matang. Asal buka usaha, setahun kemudian bangkrut. Wiraswasta itu hanya untuk barang atau jasa yang betul-betul dibutuhkan orang dan peminatnya banyak, tetapi pesaingnya masih sedikit. Tapi kamu juga harus punya keterampilan dulu. Kamu tahu mobil Ferrari? Ferrari itu nama orang. Nama lengkapnya Enzo Ferrari. Dia dulu bekerja di pabrik mobil CMN dan menjadi anggota tim pembalap Alfa Romeo. Dia bekerja punya rencana. Dia mempelajari manajemen pabrik mobil itu. Beberapa tahun kemudian dia mendirikan pabrik mobil sendiri dengan nama Ferrari”.

“Kalau saya wiraswasta, kira-kira wiraswasta apa Pak?”
“Lho, kamu sendiri tertarik di bidang apa? Punya keterampilan atau tidak? Punya modal atau tidak? Lantas, kira-kira banyak peminatnya tidak?”

Andhika diam berpikir. Kemudian dia mengatakan rencananya kepada saya.
“Saya sejak dulu punya hobi bongkar pasang sepeda,Pak. Sewaktu saya punya motor, saya juga suka bongkar pasang mesin. Saya ingin membuka bengkel motor…” Andhika mengemukakan keinginannya.
“Itu bagus. Jumlah motor di Jabodetabek bertambah terus. Prospeknya bagus. Cuma, kamu harus kursus perbengkelan dulu. Kerja dulu sebagai montir motor. Kalau benar-benar sudah profesional, silahkan buka bengkel motor. paling tidak dalam waktu tiga tahun kamu sudah mengubah nasibmu menjadi baik…” saya memberikan motivasi.
“Wah, iya..Pak. Masalahnya, saya tidak punya biaya untuk kursus perbengkelan…”

Tiba-tiba ada pemberitahuan lewat speraker dari pihak setasiun bahwa sebentar lagi kereta api Senja Utama Selatan jurusan Yogyakarta akan memasuki Stasiun Senen. Saya segera mengambil dompet, mengambil uang untuk membayar dua gelas kopi dan beberapa kue. Sekalian mengambil uang Rp 1.000.000 dan saya berikan ke Andhika. Sayapun berdiri dan menenteng tas kecil.
“Buat apa, Pak?” Andhika terkejut sambil ikut berdiri.
“Buat biaya kursus perbengkelan. Tekuni baik-baik.Rencanakan baik-baik. Niscaya hidupmu akan berubah menjadi baik….” saya memberikan semangat ke Andhika.

Andhika langsung memeluk saya dan menangis pelan.
“Aduh! Terima kasih,Pak Harry! Saya insyaf! Demi Allah….Saya akan memperhatikan nasehat Pak Harry. Saya ingin berubah,Pak. Maafkan saya……” begitu kalimat-kalimat penyesalan yang keluar dari mulut Andhika.

Berhubuung kereta sudah memasuki setasiun, sayapun bersalaman dengan Andhika.
“Semoga sukses…” ucap saya sambil menuju ke gerbong kereta api.
“Terima kasih,Pak. Selamat jalan….” Andhikapun melambaikan tangan saat kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun Senen.

Saya tidak menyesal memberi Andhika uang sebesar Rp 1.000.000. Sebab di dalam dompet itu saya membawa uang Rp 3.000.000 plus beberapa kartu ATM.Daripada semuanya hilang dicopet orang, lebih baik saya amalkan untuk Andhika.

Dua tahun kemudian, saya mendapat SMS dari Andhika, bahwa dia telah membuka bengkel motor di kawasan Jatinegara dengan penghasilan bersih rata-rata Rp 250.000 per hari. Sayapun diundang ke bengkelnya. Sayang, sampai hari ini saya belum punya waktu ke bengkelnya.

Hariyanto Imadha
Facebooker & Blogger

PUISI: Republik Telek Lentung

konon ada sebuah republik

katanya kaya sumber daya alam dan tambang

nyatanya utangnya luar biasa

minyak habis tinggal lentungnya

.

konon ada sebuah republik

katanya tanahnya subur makmur

tongkat kayu jadi tanaman

nyatanya petaninya banyak yang miskin

.

konon ada sebuah republik

katanya pemerintahannya bersih dan berwibawa

nyatanya korupsi merajalela

pemimpinnya juga tidak tegas

.

konon ada sebuah republik

katanya bersih tanpa pungli dan tanpa suap

nyatanya seperti kandang ayam

banyak teleknya

.

itulah republik telek lentung

pemimpinnya gendeng

wakil rakyatnya sinting

rakyatnya diperas membayar pajak

untuk mereka berleha-leha

Sumber foto: segalacerita.com

Hariyanto Imadha

Penulis Puisi

Sejak 1973