CERPEN : Baru Punya Mobil Kredit Saja Sombong

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”. (QS. Al Mu’min : 60).Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.( QS. Al Israa’ ayat 37).Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman ayat 18)
SAYA merasa beruntung bergabung dalam Komunitas Psycho95 yang semua anggotanya adalah sarjana psikologi. Banyak hal-hal menarik yang bisa kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama, yang menyangkut perilaku masyarakat. Lebih terutama lagi, perilaku para pengendara mobil, terutamanya di Jabodetabek.

Berdasarkan hasil survei lembaga penelitian UGM, 93% mobil-mobil yang berkeliaran di Jabodetabek, ataupun di Indonesia, statusnya adalah mobil kreditan yang belum lunas. Kemuahan kredit ini menyebabkan kemacetan lalu lintas di kota-kota besar. Sekaligus, berpengaruh terhadap perilaku pengemudinya.

Sayapun teringat kenangan masa lalu saya ketika saya masih menjadi mahasiswa di Fakultas Filsafat, Unpad, Bandung:

“Kok, kamu tampaknya ada masalah, Harry?” tanya Widya yang siang itu saya traktir makan bersama di kantin Fakultas Psikologi, UNPAD, Bandung.
“He’eh. Kalau saya perhatikan, semakin lama tidak nyaman mengendarai motor di Bandung ataupun di Jakarta atau di kota-kota besar lainnya,” sahut saya sambil menyantap nasi goreng kesukaan saya.
“Memang. Saya yang tiap hari naik motor juga punya kesan seperti itu. Tampaknya para pengendara mobil pribadi merasa jalan raya itu milik nenek moyangnya,” ucap Widya sambil meminum juice alpukat kesukaannya.

“Bagaimana tidak macet. Jumlah penambahan jalan ibarat deret hitung. Sementara penambahan jumlah kendaraan ibarat deret ukur. Orang yang faham ilmu matematika tentu tahu, itu tidak akan ada titik temunya” komentar saya.
“Betul! Seharusnya para pemimpin kita memiliki kemampuan berpikir solutif. Berpikir secara sistem. Singapura itu negara kecil. Tetapi pandai mengatur jumlah kendaraan. Antara lain, semakin tua umur mobil, semakin mahal pajaknya. Akibatnya, banyak yang menjual mobilnya. Dan beralih ke transportasi massal yang murah dan nyaman. Sedangkan untuk beli mobil baru yang pajaknya murah, mereka tidak cukup punya uang.”
“Logikanya, pertambahan jalan yang seperti deret hitung dan pertambahan kendaraan yang seperti deret ukur, maka yang harus dikurangi adalah laju deret ukur itu. Yaitu, mengurangi penggunaan mobil pribadi dan memperbanyak transportasi massal”
“Setuju!” Widya berkomentar.

“Masalahnya adalah, kalau jalan raya macet atau padat merayap, maka secara psikologis, bisa menimbulkan stres massal. Bisa mengubah perilaku para pengemudi. Orang bisa menjadi tidaksabaran dan mudah emosi. Dan bisa juga menjadi sombong”

“Kok sombong?” saya tertarik dengan kata ‘sombong’ itu. Saya belum tahu apa maksudnya.
“Iya, dong. Hasil penelitian kembaga penelitian UGM menyebutkan, 93% mobil-mobil yang berkeliaran di jalan raya berstatus mobil kredit yang belum lunas. Tetapi, pemilik ataupun pengemudinya menjadi sombong. Seolah-olah jalan raya itu milik nenek moyangnya…”
“He he he…Betul. saya sering, naik motor. Sudah di sebelah kiri, sih. Eh, di belakang ada mobil membunyikan klakson berkali-kali.Padahal, sebelah kanan masih lega. Sombong sekali, ya?”
“Itulah. Pengalaman seperti itu juga sering saya alami. Untunglah saya sabar dan medmahami siapa mereka itu. Maklum, mungkin dulunya mereka itu orang melarat. Begitu punya mobil, sombongnya setengah mati. Padahal sih, masuk kategori orang terkaya se-Indonesia juga tidak,” Widya tampak bicara dengan nada gemas.

“Ha ha ha…Betul sekali. Saya juga punya perasaan yang sama. Tetangga saya, dulunya melarat. Ketika punya mobil, sombongnya bukan main. Padahal mobilnya juga bukan mobil Ferrari, bukan Rolls Royce, bukan Lamborghini. Paling-paling Avanza…” gerutu Widya.
“Ha ha ha…Memang. Mana mungkin mampu membeli Ferrari…Kecuali kalau korupsi…”
“Ya,iyalah. Yang pasti, orang yang dulunya melarat, lantas kaya, memang mengalami perubahan perilaku. Ada yang biasa-biasa saja. Ada yang pura-pura miskin. Ada yang boros. Ada yang bersikap hedonistis. Ada yang suka pamer. Ada yang merasa bangga yang salah tempat. Ada yang sombong. Tetapi kalau sudah di jalan raya yang ramai, maka mereka semuanya cenderung menjadi pribadi yang sombong. Sebab, mereka merasa sudah membayar pajak, jadi merasa berhak memakai jalan raya seenaknya sendiri. Kebanyakan begitu”

“Memang. Menteri-menteripun kalau naik mobil dikawal polisi bersirine. Padahal, pengawalan itu seharusnya hanya untuk rombongan presiden, rombongan tamu negara. bahkan anggota DPR-pun kalau memakai mobil dikawal polisi bersirine, padahal tidak ada undang-undang yang mengatakan begitu. Itu juga termasuk kesombongan. Kesombongan politik. Merasa neagara ini miliknya. Merasa dialah yang paling berkuasa. Mereka merasa harus dihormati. Mereka menganggap rakyat adalah orang yang rendah derajatnya. Itu bisa terjadi secara sadar ataupun tanpa disadari” saya menambahkan contoh kesombongan lain.

“Anggota DPR seharusnya memberi contoh. Kalau pergi ke DPR cukup memakai mobil yang murah saja. Di luar DPR sih boleh saja memakai mobil Ferrari dan mobil-mobil mewah lainnya. kalau mereka memakai mobil mewah di DPR, itu kan sifat kekanak-kanakan. Pamer dan sombong.” sahut Widya.
“Hmm…Negara ini bisa tertib kalau dipinpin seorang pemimpin yang jujur, adil, tegas dan cerdas. mamppu membangun sebuah sistem yang baik. Sekarang ini kan amburadul. Soal undang-undang saja tumpang tindih. Kacau balau. Begitu juga pengaturan lalu lintas. Para pemimpin tahu ada kemacetan. Tahu penyebab kemacetan. Tetapi tidak tahu saolusinya.” saya menambahkan komentar.

“Iya. Sekarang ini untuk mendapatkan SIM secara cepat, cukup bayar uang sekian ratus ribu. Tes teori Cuma basa-basi. Jawabannya diberitahu. Tes prakttek tidak ada. Tes praktek hanya untuk yang menempuh prosedur resmi.”
“Dan biasanya tidak lulus. dan harus bayar lagi,” Widya memotong pembicaraan saya.
“Ha ha ha…Kenyataannya memang begitu. Akhirnya, orang-orang yang punya mobil kreditan dan SIM-nya beli, semakin sombong dan ngawur. Menabrak banyak orang. Sopir-sopirpun banyak yang melanggar peraturan lalu lintas. Bahkan mobil polisipun menabrak warga. Betapa kacaunya negeri ini…”

“Ya, iyalah. Semakin lama Indonesia semakin rusak. Semakin kacau. Uang dan harta telah dijadikan Tuhan. Uang dan harta dianggap lambang kesuksesan, walaupun itu diperoleh dengan cara korupsi. walaupun moobil kreditan yang penting sombong. Kalau pulang ke kampung saat lebaran, bisa pamer mobil ke orang-orang di kampung halamannya. Secara psikologis hal demikian menunjukkan btapa buruk perilaku sebagian masyarakat kita.” kata Widya lagi.

“Betul. Sekarang ini zaman edan. Banyak orang mengabaikan norma apa saja. Ya norma sosial, ya norma hukum, ya norma agama…Apalagi orang-orang politik. Saat belum menang, mereka mengobral janji. Saat menang, korupsi…” saya berkata sedikit bernuansa kritik.

“Iya, korupsi. Banyak orang punya mobil bagus bukan karena kredit, tetapi karena korupsi. Di rumahnya ada enam sampai sepuluh mobil. Untuk suami, isteri dan semua anak-anaknya. Korupsi sudah menjadi ibadahnya sehari-hari. Berbohong sudah menjadi amalannya…” ujar Widya.

“Seharusnya, masyaraat menghargai semua norma. Termasuk norma berlalu-lintas. Semua pengguna jalan raya harus dihargai. Tidak hanya sesama pengemudi mobil, tetapi juga pengemudi motor, pejalan kaki dan pengguna jalan raya lainnya. Harus belajar bersabar. Harus belajar tidak emosional. Harus belajar tidak sombong…”
“Apalagi kalau mobilnya mobil kreditan…” komentar saya.
“Ha ha ha….” saya dan Widya tertawa terbahak-bahak.

Berhubung sudah selesai makan dan tidak ada kuliah, maka saya dan Widya pulang bersama-sama. saya dan Widya masing-masing naik motor. Rumah Widya berdekatan dengan rumah saya. Saya tinggal di Jl. Dago, sedangkan Widya tinggal di Jl. Biliton. Untuk ukuran Kota Bandung, tentu itu tidak jauh.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

2 Tanggapan

  1. apalagi beli mobil dengan uang yang ngutang sombongnya setengan mati

  2. org klo beli motor jg begitu, bahkan banyak banget.

    btw memang sy heran sama org² mbl begituan aja songongnya ampun deh datsun go sama agya doang udh merasa punya mazda2 ckck

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: