CERPEN : Dia Memang Layak Digantung di Monas


NAMANYA Na’as Bubarningratan. Sewaktu pemilihan Ketua RT 001/RW 007 dia melakukan kecurangan. Banyak warga RT 001/RW 07 yang disuap melalui tim suksesnya. Celakanya, uang yang digunakan adalah uang hasil markup pembangunan jalan di kompleks Perumahan Nusa Penida itu. Kebetulan, sebelum ada pemilihan ketua RT, dialah pemborong atau konttraktornya.

“Mesti saja. Dia main uang. Tentu saja terpilih,” kata Nuriman, tukang ojek yang biasa mangkal di dekat warung Mpok Norimah. Dia berkata demikian sambil mengisap rokok Ji sam Soe-nya.
“Ya. Saya dulu mengira dia orang baik-baik. Kalau untuk urusan pemilihan ketua RT saja dia curang, maka logikanya, untuk memenangkan proyek perbaikan jalan, tentu dia curang.Padahal, dulu ada tiga kontraktor. Yaitu, CV Indodata Karya, PT Narulita Canggih Jaya dan PT Na’as Cahaya Sempurna punya Si Na’as itu. Padahal, CV Indodata Karya dan PT Narulita Canggih Jaya jauh lebih bonafide daripada PT milik Pak Na’as,” sahut Tariman, yang cuka tukang ojek. Saat itu dia duduk santai di jok ojeknya. Celana jean yang dipakainya masih sama seperti kemarin. Juga, masih memakai jaket kumal seperti yang dulu juga.

“Saya percaya. Bahkan saya mendengar kabar dari sumber yang bisa dipercaya. Dalam proyek pembangunan Taman Balangan yang merupakan proyek pemdapun, Si Na’as melakukan mark up harga tanah dan marl up lain-lain. Padahal, dananya berasal dari APBD pemerintah Kabupaten Cikadang, Jawa Barat. Saya percaya informasi itu,” Nardji, suami Mpok Norimah ikut urun rembug. Dia sudah lama mengenal Si Na’as dan sangat tahu sepak terjang Si Na’as. Saat itu Nardji duduk santai sambil menggendong cucunya yang masih kecil.
“Hmm, pantaslah dia cepat kaya. Cuma saya heran, kenapa dia selalu memenangkan proyek,ya?” gerutu Nuriman sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Tapi saya dapat info, nih. Kabarnya dia pernah diperiksa polisi dalam kasus proyek pemda. Saya lupa nama proyeknya. Pokoknya milyaran rupiah, deh. Tapi anehnya, pihak kepolisian tidak meneruskan perkaranya.Padahal, dia dituduh merugikan pemda Cikadang hingga Rp 6,7 milyar. Bahkan bupatinya juga diduga kerjasama dengan dia dan merugikan pemda hingga Rp 33 milyar. Oh ya, nama proyeknya Pembangunan Gedung Sekolah Sepak Bola “Rajawali Semesta, lokasinya dekat jembatan layang Cisaloka” begitu ujar Nardji meyakinkan. Raut wajahnya menggambarkan kegeramannya terhadap kasus-kasus korupsi.

“Jika, ya. Kenapa ya, kok pihak kepolisian tidak berani mengusutnya?” Nuriman bertanya sambil memandang ke Nardji dengan wajah keheranan.
“Ah, jaman sekarang yang berlaku adalah sila Keuangan Yang Maha Kuasa. Siapa punya uang banyak, dijamin hidupnya aman.” Mpok Norimah tiba-tiba nimbrung dalam obrolan itu. Rupa-rupanya sambil melayani pembeli, dia juga ikut nguping mendengarkan obrolan itu.

“Lantas, bagaimana negara ini bisa bersih kalau semuanya kotor? Bupatinya kotor, oknum polisinya bisa disuap, kontraktornya kotor. Apalagi, Si Na’as kan juga ketua partai. Partai Kebo Sekarat.” Nardji berkata lagi sambil mengepalkan tangannya karena merasa gemas terhadap Si Na’as itu.

“Negara kita memang sudah rusak. Trias Politikanya sudah berbau busuk. Korupsi ada di mana-mana. Jilbab dan peci tak jadi jaminan moral yang baik. Uang dan harta telah menjadi Tuhan. Korupsi telah menjadi ibadah wajib. Dan kebohongan serta kemunafikan ttelah menjadi amalannya sehari-hari. Suap-menyuap telah menjadi kegiatan zakatnya….Huh…Andaikan dihukum di penjarapun, dia bisa punya sel yang mewah. Bebas keluar ke mana-mana asal menyuap oknum penjara. Sesudah dikurangi berbagai macam remisi, akhirnya dia Cuma menjalani hukuman separuhnya saja. Negara macam apa ini?” gerutu Malik yang sedari tadi Cuma diam sebagai pendengar saja. Saat itu di pangkalan ojek memang ada sekitar sembilan orang.

“Kalau begini kondisi negara kita, buat apa kita datang ke TPS? Buat apa memilih gubernur? Buat apa memilih bupati. Buat apa memilih lurah? Buat apa memilih ketua RT? Mulai hari ini saya bersumpah akan golput,” begitu kalaimat yang diucapkan Nardji. Dia merasa putus asa dan apatis melihat kondisi negara yang tidak punya pemimpin yang bisa dijadikan teladan. Semua pemimpin bermental korup. Hal tersebut membuat Nardji benar-benar gemas.
“Setuju…Saya juga akan golput…,” serentak semua tukang ojek memberi dukungan ke Nardji.

“Anehnya, ya. Kenapa Si Na’as yang Ketua Partai Kebo Sekarat itu tidak diberhentikan saja oleh para pimpinan tertinggi partainya. Terutama oleh ketua dewan pembinanya, yang kebetulan Gubernur dari Provinsi Ujung Kulon?” tanda tanya besar bagi Nuriman dan Malik.
“Ha ha ha…Belum tahu,ya? Si Na’as itu kan pegang kartu ‘truf’ atas kemenangan gubernur Yudhanto Keboireng. Saat itu kan Si Na’as jadi staf di Komisi Penghitungan Suara. Dia telah disuap gubernur Yudhanto untuk memanipulasi suara dengan imbalan uang Rp 10 milyar dan dijanjikan akan menjadi pimpinan di Partai Kebo Sekarat. Itulah sebabnya, tidak ada satu petinggi partai yang berani melengserkan jabatannya…” lagi-lagi Nardji menyampaikan informasi-informasi yang cukup mengejutkan para tukang ojek.

“Pantaslah, kasus-kasus korupsinya tak pernah tuntas. Bahkan para penegak hukumpun tidak punya nyali untuk menindaklanjuti kasus-kasus korupsinya. Semua penegak hukum diancam, para saksi diancam, barang-barang bukti dimusnahkan, membayar saksi yang pro Si Na’as. Dengan cara-cara seperti itu, tidak mungkin dia akan masuk penjara. Uang dan kekuasaan bicara…” Nardji menjelaskan lagi. Semua penjelasan Nardji membuat para tukang okek mempunyai wawasan berpikir yang lebih luas.

Siang itu udara semakin panas. Para tukang ojekpun berteduh di saung. Sementara itu Malik berangkat karena mengantarkan penumpang. Sementara itu datang satu tukang ojek, namanya Bambang. Obrolanpun terus berlanjut.

“Kalau begitu, enaknya rakyatlah yang bergerak. Perlu ada ‘people power’.Selama ini rakyat telahh dikadalin. Mari kita gantung para koruptor…,” Nardji bersemangat berbicara tentang people power.
“Digantung? Setuju. Tapi, enaknya digantung di mana,ya?’ tanya Bambang yang baru beberapa menit mengikuti perbincangan.
“Gantung saja para koruptor, para gubernur, para bupati, para politisi yang korupsi…Gantung di Monas…” usul Mpok Norimah sambil minum segelas air putih.
“Di Monas? Ha ha ha…Setujuuu…..” serentak semua tukang ojek menjawab.

“Mari! Kita gantung Si Na’as! Gantung…Gantung…Gantung Si Na’as…! Gantung di Monas…!” serempak semua tukang ojek berseru.

Sayang, satu persatu jumlah tukang ojek berkurang. Sebab, mereka harus mengantarkan penumpang ke tempat tujuan seperti yang diminta.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Satu Tanggapan

  1. KORUPTOR SAMA AJA PENGHIANAT

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: