CERPEN: Tunggulah Aku di Kandang Sapi


CEWEK itu namanya Cicih Marcicih. Anak tunggal dari Pak Cecep Marcecep, seorang petani kaya yang tinggal di Bojong Tipar, Sukabumi. Walaupun Cicih tinggal di desa, namun rumahnya tergolong mewah. Ayahnya punya peternakan kambing dengan jumlah sekitar 100 ekor kambing. Juga punya peternakan sapi dengan jumlah sekitar 100 ekor sapi. Juga punya mobil Avanza.

Cicih merupakan mahasiswi yang cantik. Teman kuliah saya, satu angkatan di Akademi Manajemen Informatika dan Komputer, Bina Sarana Informatika atau AMIK BSI. Baru duduk di semester satu. Sayapun baru mengenalnya pada hari pertama kuliah.

“Boleh, dong kenalan,” saya memberanikan diri untuk mengenalnya.
“Boleh,” jawab Cicih yang wajahnya mirp Dessy Ratnasari. Akhirnya sayapun mengenalnya dengan nama Cicih Marcicih, tinggal di Desa Bojong Tipar. Di Sukabumi ikut tantenya di pinggiran kota. Semula saya ingin main-main ke rumah tantenya, tetapi dilarang. Katanya, tantenya galak. Bahkan ketika saya ingin main-main ke rumahnya di Bojong Tipar,juga dilarangnya. Katanya, ayahnya galak.

“Jangan. Ayah saya orangnya masih primitif. Masih galak. Mungkin karena saya satu-satunya anak, perempuan lagi, jadi saya dilarang bergaul terlalu akrab dengan cowok. Mohon pengertiannya. Jangan marah, ya Harry,” begitu pinta Cicih.
“Oooh, nggak apa-apa,” walaupun agak kecewa, namun saya harus mau menerima kenyataan seperti itu. Tak perlu putus asa, sebab di kampuspun saya bisa bertemu, berbicara, bercanda, belajar bersama dan bahkan dia duduknya tidak pernah jauh dari saya. Cicih memang enak diajak bicara dan mudah bergaul.

Tetapi, saya harus faham. Saya tidak mau terjebak pada sikap ge-er, sebab Cicih juga bersikap akrab dengan semua cowok. Hal ini yang membuat saya kadang-kadang penasaran. Yang pasti, Cicih belum punya pacar. Begitu, informasi yang saya terima dari Dedeh Mardedeh, sahabat baiknya.

Hari demi hari saya berjuang. Memang sih, Cicih tak pernah menolak kalau saya ajak makan siang bersama di kantin AMIK BSI. Tapi, lagi-lagi dia juga tidak menolak kalau ditraktir cowok lain. Terkadang saya berpikir, masih banyak mahasiswi lain yang cantik, kenapa justru saya tergila-gila sama Cicih? Ternyata saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Padahal ada cewek lain yang juga cantik. Ada Tita Martita,  Dianna Mardianna, Nita Marnita atau Sofie Marsofie.

Sampai semester ketiga saya tetap gagal menundukkan hatinya. Cicih tetap menganggap saya sebagai teman biasanya saja. Itu artinya, satu setengah tahun saya gagal. Saya merasa, betapa bodohnya saya. Padahal, berbagai bujuk rayu sudah saya praktekkan. Segala macam teori merayu cewek sudah saya lakukan. Hmmm, betapa sulitnya menundukkan hati Cicih Marcicih. Namun, justru saya merasa tertantang.

Akhirnya saya nekat. Saya tahu, tiap Sabtu sore Cicih pasti pulang ke desanya di Desa Bojong Tipar. Saya benar-benar nekat. Sewaktu dia naik angkot menuju terminal, saya ikuti. Diapun tahu.

“Mau ke mana, Harry?” tanyanya ketika saya dan Cicih berada dalam satu angkot menuju Bojong Tipar.
“Mau ke Bojong Tipar,” sahut saya yakin.
“Memang Harry ada saudara di sana?”
“Enggak,”
“Kok….?”
“Saya mau ke rumah Cicih…”
“Astaga…” Cicih terkejut.
“Kenapa?”
“Kan saya sudah bilang. Ayah saya galak. Aduh, bagaimana nih?” keluhnya. Wajahnya cemberut. Tampaknya dia tidak suka melihat rencana saya ke rumahnya. Namun akhirnya pembicaraan saya belokkan ke masalah-masalah perkuliahan.

Tanpa terasa, sayapun tiba di Desa Bojong Tipar. Angkot berhenti di warung. Angkot tak bisa langsung ke desanya. Harus meneruskan perjalanan dengan naik ojek. Apa boleh buat. Saya dan Cicih masing-masing naik ojek. Melewati jalan-jalan yang sangat kecil. Bahkan melewati sawah-sawah. Wow, kalau tidak hati-hati, bisa tercebur ke kali.

Sampailah saya ke depan rumahnya. Sesudah membayar ojek, Cicihpun memberi petunjuk ke saya.

“Harry. Sebaiknya sore ini jangan ke rumah saya, deh. Coba besok pagi, temui saya di kandang sapi,” katanya sambil menunjukkan kandang sapi.
“Kok, di kandang sapi?” heran saya mendengar usulnya.
“Iya. Ayah saya tidak mengurus kandang sapi, karena dikelola orang lain. Orang bayaran, namanya Pak Dadang Mardadang. Ayah saya lebih suka mengurusi peternakan kambingnya di tempat lain yang agak jauh dari sini”
“Terus, ibu, kakak, adik di mana?”
“Ibu sudah lama meninggal. Kakak adik? Kan Harry sudah tahu Cicih anak tunggal,”
“Oh,ya.Lupa”

Begitulah. Malam harinya saya menginap di masjid di desa itu. Untunglah di dekat masjid ada warung makanan. Tentu,menunya makanan Sunda. Saya yang berasal daru suku Jawa sebenarnya kurang cocok dengan makanan Sunda. Apa boleh buat.

Begitulah, esoknya sekitar pukul 09:00 WIB, sayapun menemui Cicih di kandang sapi. Sayapun sempat diperkenalkan Pak Dadang Mardadang yang ternyata orangnya baik sekali. Sopan dan ramah. Nah, di kandang sapi itulah saya bisa berdua dengan Cicih. Bahkan tepatnya di belakang kandang sapi, dekat kolam ikan emas.

Sore harinya, tepatnya Minggu sore sekitar pukul 15:00 WIB sayapun naik ojek ke pangkalan angkot di Bojong Tipar. naik ojek terpisah supaya tidak ketahuan ayah Cicih. Dan malam harinya baru sampai ke Sukabumi. Perjalanannya cukup melelahkan. Apalagi jalannya jelek. Begitu sampai di Sukabumi, saya langsung merebahkan tubuh saya di tempat tidur. Di Sukabumi saya kost tak jauh dari rumah Dessy Ratnasari. Dan langsung tertidur tanpa sempat mandi.

Begitulah, tiap Sabtu saya pasti ke Desa Bojong Tipar.Dan selalu berpacaran di kandang sapi. namun itu tidak bisa lama. Saya penasaran dan tak sabar. Bulan kedua, saya langsung ke rumah Cicih. Ternyata ditemui sendiri ayahnya, Cecep Marcecep.

“Cari siapa?” galak tanyanya.
“Mau bertemu Cicih, Pak?”
“Kamu siapa?”
“Saya teman kuliahnya di AMIK BSI,Pak…”
“Ada perlu apa?”
“Ya, ingin melihat kehidupan di desa,Pak. Maklum, saya dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta. Belum pernah melihat kehidupan di desa…” saya menjawab sambil merendahkan diri. Sambil merunduk. Tidak berani menatap matanya.
“Oh, begitu? Coba ikut saya dulu,” ajaknya. sayapun disuruh duduk diboncengan motornya. Motorpun segera berjalan. Saya tidak tahu mau diajak ke mana. Bertanyapun saya tidak berani. Sepanjang perjalanan Pak Cecep tidak berbicara apapun. Diam saja.

Akhrnya, sampailah.
“Nih, peternakan kambing saya. Sekarang jumlahnya ada 100 ekor,” dia berkata dengan nada bangga. Dalam hati, saya masih belum tahu apa maksudnya. Namun, pada menit-menit berikutnya, saya baru mengerti. Saya diajari bagaimana caranya memberi makan kambing dan apa saja makanan yang cocok buat kambing. Juga diajari bagaimana caranya menangani kambing yang sakit. Yang paling tidak enak yaitu, saya diajak membersihkan kandang kambing. Huh! Baunya tidak karuan. Rasa-rasanya saya ingin muntah.Apa boleh buat.

Karena sudah sore, maka kami pulanglah. Sesudah mandi dan shalat Maghrib, maka tibalah saatnya makan malam. Makanan tentu beli di warung sebelah.Maklum,Pak Cecep tidak punya pembantu. Cicih hanya menyediakan minuman kopi. Malam harinya saya tidak boleh menginap di masjid, melainkan harus tidur di rumahnya. Namun sebelumnya, berjam-jam saya harus menemani Pak Cecep bermain catur. sampai malam. Sialan! Esok harinya saya diantar ke pangkalan angkot. Artinya, saya disuruh pulang ke Sukabumi dan tidak boleh menemui Cicih.

Akhirnya saya kembali ke teori semula, yaitu berjanji bertemu di kandang sapi.
“Tunggulah aku di kandang sapi, Harry” begitu pesan Cicih di kampus. Dan memang, selama berbulan-bulan saya selalu berpacaran di belakang kandang sapi.

Tanpa terasa, kami telah diwisuda. Ayah dan ibu ataupun saudara-saudara saya tidak bisa hadir karena ada acara di Jawa Timur.Dengan masih memakai toga, Cicih dan ayahnya mendekati saya.

“Harry, maaf ya. Untuk Harry,…” katanya sambil menyodorkan amplop berwarna merah muda. Saya langsung buka amplop itu. Ternyata,undangan pernikahan. Cicih akan menikah dengan Dudung Mardudung.

“Cicih saya jodohkan dengan Dudung Mardudung, kepala desa Bojong Tipar yang baru saja terpilih,” kata ayahnya tanpa nada bersalah sedikitpun.

“Maafkan saya, Harry….” lirih suara Cicih.
Saya lihat, air mata Cicih menetes satu persatu di pipinya.
Saya tak mampu berkata apa-apa. Saya tak pernah menduga hubungan cinta kasih kami akan berakhir seperti itu.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: