CERPEN: Orang-Orang Sempel Dari Bojonegoro”


SETASIUN Senen, 25 Nopember 2010. Sore itu saya sedang berada di Stasiun Senen menunggu kedatangan kereta api Senja Utama Selatan jurusan Yogyakarta. Maklum, saya dapat undangan dari mantan teman-teman kuliah saya di UGM. Sudah 30 tahun tidak pernah bertemu. Tentu, saya rindu sekali dengan mereka. Sambil berdiri menunggu datangnya kereta api, saya membayangkan betapa meriahnya acara reuni nanti. Apalagi itu khusus teman-teman satu angkatan. Sore itu angin bertiup cukup kencang. Udara dingin. Saya baru ingat, lupa membawa jaket.

Tiba-tiba, saya merasakan ada yang yang menggerayangi kantong celana saya. Halus sekali gerakannya. Namun, saya diam saja. Pura-pura tidak melihat. Nah, betul kan. Begitu terasa dompet saya terambil, sayapun berteriak.

“Copet…!Copet…!Copet…!” secepat kilat saya membalikkan tubuh dan mengejar pencopet itu. Seorang satpampun ikut mengejar.Pencopet itu lari cukup cepat. Sesekali dia meliihat ke arah saya. Tepat di depan toilet yang lampunya cukup terang, saya mengenali pencopet itu. Sayapun berteriak lagi.

“Mas…!Saya dari Bojonegoro! Saya dari Bojonegoro…!Saya dari Bojonegoro…!”
Ajaib. Pencopet itu langsung berhenti dan memandangi saya keheranan. Ketika satpam datang danberusaha untuk menangkapnya, sayapun berkata kepada satpam itu.
“Maaf,Pak. Jangan ditangkap. Dia teman saya….”. Satpam itu tidak yakin dan bertanya siapa nama pencopet itu.
“Kalau teman, siapa nama dia?”
“Dia Andhika,Pak!” saya menyebut nama.
“Betul;! Kamu Andhika?”. Satpam itu ganti bertanya ke pencopet. Pencopet itu mengiyakan. Akhirnya, satpam itupun melepaskan Andhika dan memberi nasehat ke saya supaya berhati-hati di Stasiun Senen. Satpam itupun meninggalkan kami berdua.

“Kok, bapak kenal saya?” Pencopet itu heran.
“Ya. Kamu kan dulu tinggal di Kauman. Semua orang Bojonegoro tahu kamu. Saya Harry. Yang dulu tinggal di Jl.Trunodjoyo No.4…,” saya mencoba mengingatkan.
“Oh, ya,ya…Puteranya Mbah nDjani,ya?” Dia mulai mengenal saya. Dia meminta maaf dan mengembalikan dompet saya secara utuh.

“Kok kamu jadi pencopet?”.Saya bertanya. Saya ajak Andhika duduk dan minum kopi hangat di salah satu mini resto di stasiun itu. Akhirnya Andhika bercerita bahwa dari Bojonegoro cuma berbekalkan ijasah SMA. Tidak punya ketrampilan. Pernah bekerja di Bekasi selama tiga tahun. Karena perusahaannya bangkrut dan bubar, akhirnya mulailah hidup menjadi sulit. Berkali-kali mencari kerja, tetapi gagal.
“Dulu dari Bojonegoro punya rencana apa?” Saya ingin tahu.
“Ya, motivasi saya cuma ingin cari kerja” Andhika menjawab sambil makan kue bolu.
“Kerja apa?”
“Pokoknya kerja”
“Nah, itulah salah kamu. Seharusnya, kalau dari Bojonegoro harus punya rencana yang jelas. Juga, harus menyiapkan segala sesuatunya. Minimal kamu harus punya sertifikat ketrampilan. Kenapa? Banyak perusahaan swasta yang mudah bangkrut sehingga harus punya cadangan untuk berwiraswasta. Banyak orang Bojonegoro yang kleleran di Jakarta. Jadi tukang parkir seumur hidup .Jadi salesman seumur hidup. Tidak berkembang. Kenapa tidak berkembang? Karena tidak punya rencana. Tidak punya strategi….Sekali lagi,banyak yang kleleran. Pergi ke Jakarta tanpa rencana yang matang, ya seperti orang-orang sempel itu” Sayapun meneguk kopi hangat manis. Sambil sesekali melihat arloji.

“Ada yang lebih sempel lagi, Pak Harry?”
“Ada. Namanya Reffan. Dari Bojonegoro tidak punya rencana matang. Tidak punya ketrampilan apa-apa. Saya ketemunya di Facebook. Dia cerita, sudah jadi Prof.Dr. Juga cerita, namanya diganti menjadi Prof.Dr.Revanno Danusutirto. Dia juga bilang, lulusan dari salah satu perguruan tinggi di Jepang, Jerman dan Perancis. Katanya, dia juga menjadi seorang peneliti mikrobiologi. Dia juga bilang, pindah agama dari Kristen ke Islam. Bahkan dia mengaku menjadi seorang ustadz dan sudah dua kali naik haji. Ceritanya di Facebook, tiap Jum’at memberikan ceramah di masjid. Karena saya curiga, sayapun bertanya ke tetangga-tetangganya. Ternyata, dia itu bukan apa-apa.Bukan siapa-siapa. Pekerjaan sehari-hari sebagai tukang pijat….”
“Ha ha ha….Kalau itu sih, sempel beneran,Pak!” Andhika tertawa terbahak-bahak.
“Ya,iyalah…Sempel betulan…,” saya tersenyum mengingat ulah Si Reffan.

“Oh, menarik sekali cerita Pak Harry.Bisa nggak dicontohkan orang-orang Bojonegoro yang sukses?” Andhika memandang ke arah saya dengan wajah yang serius.
“Mau contoh? Baiklah. Saya punya teman. Namanya Hermawan. Dari Bojonegoro dia memang sudah punya rencana membuka perusahaan furniture. Sejak dari kota asal, dia sudah berkenalan dengan beberapa pemilik perusahaan furniture dan pengusaha kayu jati. Juga kenal dengan pejabat-pejabat Perhutani. Sampai di Jakarta, diapun langsung membuka usaha itu. Beberapa tahun lancar. Tapi, suatu saat peraturan membuat dia kesulitan mendapatkan kayu jati dari Bojonegoro. Akhirnya dia mengganti dengan kayu lain. Tetapi karena modelnya bagus, dia tetap sukses,” saya memberi contoh. Hermawan adalah teman saya sewaktu di SMAN 1 Bojonegoro.

“Ada lagi,Pak?”
“Ada. Lulusan SMA. Cewek.Dia hanya berbekalkan ijasah mengetik sepuluh jari.Tapi dia punya rencana.Pada awalnya hanya sebagai juru ketik.Tapi,pulang kerja dia kursus kesekretariatan. Sesudah dapat Diploma 1, dia pindah kerja di perusahaan swasta dengan gaji lebih tinggi. Pulang kerja, kursus bahasa Inggeris. Sesudah dapat diploma bahasa Inggeris, dia melamar kerja di perusahaan asing milik Norwegia. Gajinya juga lebih besar lagi. Diapun mampu mengambil kredit rumah. Oh ya, namanya Yurnita…”
“Oh, bagus sekali rencananya. Ada lagi,Pak? Siapa tahu bisa memotivasi saya”. Andhika bertanya sambil meneguk kopi.

“Ada dong. Banyak. Ada orang Bojonegoro, namanya Gamawan. Dia ke Jakarta bermodalkan sertifikat komputer. Karena kakak tempat dia menginap pindah ke Bekasi, diapun ikut pindah ke Bekasi. Dia melamar sebagai instruktur komputer. Tapi dia punya rencana. Rencana apa? Dia pelajari siswa-siswanya. Nah, ada siswa kelas dewasa yang juga seorang pengusaha sukses. Dia selalu menjual ide supaya pengusaha itu membuka lembaga pendidikan komputer ukuran besar. Karena Gamawan pandai menjual ide dan mempersuasi, akhirnya pengusaha itupun mendirikan lembaga pendidikan komputer. Gamawan ditunjuk sebagai pengelolanya dengan gaji yang cukup besar. Rencana Gamawan tidak berhenti di situ. Selama tiga tahun dia menabung. Akhirnya dia mendirikan sendiri lembaga pendidikan komputer. Bahkan tiga tahun kemudian lembaganya berkembang menjadi akademi komputer”. Sesekali, saya melihat arloji.

“Wah! Betul juga,Pak. Saya baru sadar kalau saya ini bodoh!,” keluh Andhika.
“Kamu bukannya bodoh, tetapi sempel. Banyak orang Bojonegoro yang sempel menjadi kleleran di Jakarta. Kenapa? Sekali lagi, karena tidak punya rencana yang matang. Tidak punya ketrampilan. Jadi,dua itu syarat untuk hidup enak di Jakarta”
“Kalau wiraswasta,bagaimana Pak? Andaikan saya punya modal, saya ingin wiraswasta”
“Wiraswasta itu juga harus punya rencana yang matang. Harus punya keterampilan juga. Banyak orang rencananya tidak matang. Asal buka usaha, setahun kemudian bangkrut. Wiraswasta itu hanya untuk barang atau jasa yang betul-betul dibutuhkan orang dan peminatnya banyak, tetapi pesaingnya masih sedikit. Tapi kamu juga harus punya keterampilan dulu. Kamu tahu mobil Ferrari? Ferrari itu nama orang. Nama lengkapnya Enzo Ferrari. Dia dulu bekerja di pabrik mobil CMN dan menjadi anggota tim pembalap Alfa Romeo. Dia bekerja punya rencana. Dia mempelajari manajemen pabrik mobil itu. Beberapa tahun kemudian dia mendirikan pabrik mobil sendiri dengan nama Ferrari”.

“Kalau saya wiraswasta, kira-kira wiraswasta apa Pak?”
“Lho, kamu sendiri tertarik di bidang apa? Punya keterampilan atau tidak? Punya modal atau tidak? Lantas, kira-kira banyak peminatnya tidak?”

Andhika diam berpikir. Kemudian dia mengatakan rencananya kepada saya.
“Saya sejak dulu punya hobi bongkar pasang sepeda,Pak. Sewaktu saya punya motor, saya juga suka bongkar pasang mesin. Saya ingin membuka bengkel motor…” Andhika mengemukakan keinginannya.
“Itu bagus. Jumlah motor di Jabodetabek bertambah terus. Prospeknya bagus. Cuma, kamu harus kursus perbengkelan dulu. Kerja dulu sebagai montir motor. Kalau benar-benar sudah profesional, silahkan buka bengkel motor. paling tidak dalam waktu tiga tahun kamu sudah mengubah nasibmu menjadi baik…” saya memberikan motivasi.
“Wah, iya..Pak. Masalahnya, saya tidak punya biaya untuk kursus perbengkelan…”

Tiba-tiba ada pemberitahuan lewat speraker dari pihak setasiun bahwa sebentar lagi kereta api Senja Utama Selatan jurusan Yogyakarta akan memasuki Stasiun Senen. Saya segera mengambil dompet, mengambil uang untuk membayar dua gelas kopi dan beberapa kue. Sekalian mengambil uang Rp 1.000.000 dan saya berikan ke Andhika. Sayapun berdiri dan menenteng tas kecil.
“Buat apa, Pak?” Andhika terkejut sambil ikut berdiri.
“Buat biaya kursus perbengkelan. Tekuni baik-baik.Rencanakan baik-baik. Niscaya hidupmu akan berubah menjadi baik….” saya memberikan semangat ke Andhika.

Andhika langsung memeluk saya dan menangis pelan.
“Aduh! Terima kasih,Pak Harry! Saya insyaf! Demi Allah….Saya akan memperhatikan nasehat Pak Harry. Saya ingin berubah,Pak. Maafkan saya……” begitu kalimat-kalimat penyesalan yang keluar dari mulut Andhika.

Berhubuung kereta sudah memasuki setasiun, sayapun bersalaman dengan Andhika.
“Semoga sukses…” ucap saya sambil menuju ke gerbong kereta api.
“Terima kasih,Pak. Selamat jalan….” Andhikapun melambaikan tangan saat kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun Senen.

Saya tidak menyesal memberi Andhika uang sebesar Rp 1.000.000. Sebab di dalam dompet itu saya membawa uang Rp 3.000.000 plus beberapa kartu ATM.Daripada semuanya hilang dicopet orang, lebih baik saya amalkan untuk Andhika.

Dua tahun kemudian, saya mendapat SMS dari Andhika, bahwa dia telah membuka bengkel motor di kawasan Jatinegara dengan penghasilan bersih rata-rata Rp 250.000 per hari. Sayapun diundang ke bengkelnya. Sayang, sampai hari ini saya belum punya waktu ke bengkelnya.

Hariyanto Imadha
Facebooker & Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: