CERPEN: Pemimpin-Pemimpinku Ternyata Penderita Paranoid


ADA sebuah negeri, namanya Negeri Antah Berantah. Pemimpin-pemimpinnya paranoid. Selalu serba ketakutan. Akan ke negeri Kincir Angin, takut didemo. Ingin menaikkan harga minyak, takut dikudeta. Ada SMS gelap, takut. Ada demo, takut. Pemimpin-pemimpin yang selalu dibayangi ketakutan adalah pemimpin-pemimpin paranoid.

“Seorang pemimpin haruslah berani mati, apabila dia yakin apa yang dilakukannya adalah benar,” begitu kata dosen saya bernama Bu Singgih. Dosen filsafat politik.
“Seorang pemimpin haruslah berbicara tentang rakyat. Aspirasi rakyat.Hidup dan penghidupan rakyat. Penderitaan rakyat. Dan mencari solusinya. Bukan seorang pemimpin narsis yang selalu bicara tentang dirinya sendiri. Selalu mengatakan saya…saya…saya. Seorang pemimpin haruslah selalu menggunakan kata kita…kita…kita…Dengan demikian seorang pemimpin harus lebih banyak bicara tentang rakyatnya. Bukan membanggakan angka-angka ekonomi makro yang sangat menyesatkan. Bukan bicara angka-angka statistik yang bisa direkayasa. Bukan bicara soal hasil survei bayaran…” masih kata Bu Singgih. Semua mahasiswa fakultas filsafat dengan cermat mendengarkan dan mencatat. Bahkan ada yang membawa alat perekam. Maklum, masalah kepemimpinan memang merupakan masalah yang sangat penting di Negeri Antah Berantah.

“Seorang pemimpin haruslah seorang manajer bangsa dan negara. Bukan hanya sebagai manajer politik yang lebih banyak waktunya mengurusi politik. Waktunya habis untuk memikirkan koalisi partai politik. Pikirannya hanya kemenangan politik. Tak pernah memikirkan nasib bangsanya yang berada di perbatasan dengan negara lain yang miskin infrastruktur di segala bidang.” Masih kuliah Bu Singgih.

“Seorang pemimpin haruslah seorang manajer bangsa dan negara. Lebih konsentrasi mengurusi rakyat yang menderita akibat bencana alam, menderita akibat tanah adat atau tanah ulayatnya diduduki dan dirampok perusahaan kapitalis. Harus ada usaha untuk memiliki kedaulatan ekonomi. Harus berusaha menasionalisasikan semua kekayaan sumber daya alam maupun sumber daya ekonomi,” cukup panjang kuliah Bu Singgih. Beliau memang seorang dosen yang tak pernah lelah berdiri di mimbar di samping papan tulis.

“Ada pertanyaan?” Bu Singgih mulai memberikan kesempatan bertanya kepada semua mahasiswa. Dan itu merupakan ciri khas beliau. Beliau senang sekali kalau para mahasiswanya aktif bertanya. Tampak, Utari angkat tangan.

“Tanya, Bu. Sebenarnya bagaimana kriteria pemimpin yang berkualitas?”
“Menurut Tanri Abeng, pakar manajemen. Kriteria pemimpin berkualitas yaitu clean atau bersih. Tidak pernah korupsi, tidak pernah tersangkut kasus pidana maupun perdata. Clever, harus cerdas. mampu menyelesaikan kasus-kasus besar. Mampu membuat berbagai sistem yang efektif dan efisien. Compentent, mempunyai kompetensi sebagai seorang negarawan. Mempunyai program-program kerja yang benar-benar pro rakyat. Benar-benar bekerja mengurusi bangsa dan negara. Communicative, mampu berkomunikasi secara horisontal maupun vertikal. mampu membaur dengan rakyat. Tidak bermewah-mewah. Mendahulukan kesejahteraan rakyat daripada kesejahteraan dirinya sendiri. Mempunyai leadership atau kepemimpinan yang berkualitas. Mempunyai pribadi yang kuat. Commitment, satunya kata dan ucapan. Menepati semua janji yang diucapkan. Mempunyai rencana yang matang untuk merealisasikan semua janjinya. dan care, lebih peduli kepada rakyat. Semua program kerjanya berdampak positif untuk rakyat.”

Kemudian saya lihat Prawoto yang hari itu memakai baju kotak-kotak, angkat tangan.
“Tanya, Bu. Apa ciri-ciri pemimpin besar dan pemimpin kecil?”
“Pemimpin besar adalah pemimpin yang punya rencana besar dan mampu mengatasi masalah-masalah besar. Misalnya, mampu menciptakan lapangan kerja bagi seluruh masyarakat miskin. mampu mengatasi masalah banjir, kemacetan lalu lintas, keragaman beragama, berani mengambil keputusan, cepat mengambil keputusan secara akurat. Bahkan berani menghadapi resiko apapun. Jika perlu, nyawapun dikorbankan. Dan jika merasa tidak mampu menjadi pemimpin, dia secara sportif menyatakan diri mengundurkan diri. Sedangkan pemimpin kecil adalah pemimpin yang hanya mampu mengerjakan hal-hal yang kecil. Membentuk tim ini tim itu. Membentuk satgas ini satgas itu. Tidak mampu membuat sebuah sistem yang efektif dan efisien. Tidak mampu membenahi produk hukum yang tidak adil, tidak ttegas terhadap menterinya yang terbukti tidak berkualiitas. Selalu ragu mengambil keputusan. Tidak mampu memilih orang yang memiliki keahlian sesuai bidangnya. Tidak mampu melakukan penghematan anggaran. Mudah menjadi kacungnya negara asing.Hanya bicara tentang dirinya. Ada lagi?”

“Ada,Bu,” Sundari angkat tangan. “ Kalau di dalam kontek filsafat politik, apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin?”
“Yang harus dilakukan seorang pemimpin yaitu, memilih orang-orang sesuai prinsip the right man on the right place. Membuat struktur organisasi pemerintahan yang efisien dan efektif, mampu membuat sistem eksekutif, legislatif dan yudikatif yang bersih. Bersikap tegas terhadap para penegak hukum yang tidak berkualitas. Menghemat APBN. Memprioritaskan pembangunan di wilayah perbatasam, daerah terpencil dan daerah yang tertinggal dalam hal infrastruktur. Mampu menciptakan prestasi melebihi negara-negara tetangga. Mampu menyusun pencegahan korupsi, kolusi, nepotisme, pungli, suap dan mampu mencegah perbuatan sewenang-wenang. Semua itu memerlukan filsafat yang berkualitas.”

“Say,tanya,Bu.Bagaimana hubungannya dengan kedaulatan?” Sekarang, Guritno yang berkacamata itu bertanya.
“Tentu, harus mempunyai kedaulatan ekonomi. Berani menasionalisasikan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi. Harus ditangani bangsa sendiri. Berdaulat di bidang politik. Tidak mau jadi kacungnya negara asing. Tidak mau didikte negara asing. Punya prinsip sendiri. Kedaulatan di bidang pertahanan dan keamanan. mampu membuat sendiri alat-alat pertahanan dan keamanan dengan kualitas internasional. Berdaultan di bidang wilayah. Dan kedaulatan di berbagai sektor lainnya. Pokoknya, harus mandiri. Kalau bangsa Jepang bisa, maka Negeri Antah Berantahpun harus bisa. Juga, jangan terlalu banyak utang yang sangat membebani rakyat.”

“Kalau pemimpin yang solutif itu bagaimana, Bu?” Shanty ingin tahu.
“Pemimpin solutif adalah pemimpin yang mampu mengatasi semua persoalan.” singkat jawaban Bu Singgih.

“Oh,ya. Apa ciri-ciri lain pemimpin yang paranoid, Bu?” Dengan penuh semangat Erlangga bertanya. Selama ini, Erlangga sangat jarang bertanya. maklum, dia tergolong mahasiswa pendiam. Dia juga kuliah merangkap di fakultas psikologi di universitas lain, tetapi masih satu kota.
“Paranoid itu gangguan kepribadian. Bukan penyakit jiwa, walaupun bisa mengarah ke sana. Ciri-cirinya, serba curiga; hipersensitif atau sangat perasa; rigid atau kaku; mudah iri, sangat egois, suka curhat di depan banyak orang, selalu takut, selalu menginterprestasikan perilaku orang lain sebagai ancaman, memiliki perasaan ketakutan akan dikhianati dan dimanfaatkan oleh orang lain, sangat takut kalau citranya menurun,merasa tidak nyaman dengan lingkungan yang dianggapnya tidak se-ide, suka menyalahkan orang lain, suka menuduh orang lain jahat dan tidak mempunyai rasa humor…”. Cukup lengkap uraian Bu Singgih.

“Pertanyaan terakhir,” pinta Bu Singgih yang berambut pendek dan berkacamata itu.
“Pertanyaan saya singkat saja, Bu. bagaimana dengan pemimpin Negeri Antah Berantah kita ini? Apakah beliau juga seorang pengidap paranoid?”
“Semua ciri-ciri paranoid dimilikinya.” diplomatis jawaban Bu Singgih. Kuliah ilmu filsafat memang bisa memasuki wilyah berbagai ilmu pengetahuan.  Bisa ke politik, psikologi, ekonomi, hukum dan lain-lain. Namun intinya harus dikaitkan dengan ilmu filsafat. Yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku pemikiran.

Kuliah selesai. Bu Singguhpun meninggalkan ruangan.
Mahasiswa tetap berada di dalam ruangan untuk mengikuti perkuliahan berikutnya.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: