NOVEL: Di Telaga Sarangan: Pernah Ada Cinta (Bab 1)


TELAGA SARANGAN, Juli 2010. Menjelang Ramadhan, saya sempatkan ziarah di makam kedua orang tua saya di Jl. Teuku Umar, Bojonegoro. Lantas, sesudah itu saya manfaatkan ke Telaga Sarangan, Magetan, Jawa Timur.Pada usia 58 tahun, tiba-tiba saya ingin bernostalgia di telaga yang indah itu. Sore hari saya sudah tiba di telaga yang indah itu. Karena sudah sore, saya menginap di salah satu vila yang ada di situ.

Esoknya, sambil menghirup udara sejuk segar, saya mulai berjalan mengelilingi telaga itu. Dan di sebuah tempat, di rerumputan, saya duduk di situ.Saya lihat bunyi kicau bermacam-macam burung, saya lihat beberapa kupu-kupu warna warni berterbangan dari bunga ke bunga. Masih seperti dulu. Masih seindah dulu, ketika saya menikmati keindahan itu bersama Faullin.Itu, 39 tahun yang lalu

SURABAYA, 1971.Saat itu saya masih duduk di kelas 2 SMAN Surabaya. Pindahan dari SMAN 1 Bojonegoro. Bu Nani masih menerangkan matapelajaran.Semua siswa memperhatikan dan mendengarkan dengan cermat. Tiba-tiba, di pintu ada Bu Marni dan seorang cewek. Beliau bincang-bincang sebentar dengan Bu Nani. Ternyata cewek yang ternyata cewek indo itu merupakan siswa baru. Pindahan dari SMAN 6 Jakarta. Sesuai dengan permintaan Bu Nani dan Bu Marni, siswi baru itu memperkenalkan diri.

“Nama saya, Faullin.Nama lengkap saya Raychel Coudriet. Saya pindahan dari SMAN 6 Jakarta. Saya pindah ke Surabaya karena mengikuti kedua orang tua saya” suaranya enak memperkenalkan diri. Wajahnya yang cantik membuat cowok-cowok sekelas tak berkedip. Betapa tidak, Faullin bertubuh langsing,berkulit putih, mata kebiru-biruan, bulu mata lentik, rambut pendek, bibir mungil, cara bicaranya yang enak di dengar dan pakaiannya modis dan modern. Sepintas Faullin mirip artis Demi More.

“Boleh tanya?” tiba-tiba Ismet Harahap Si Anak Medan itu angkat tangan. Dia merupakan cowok di kelas saya yang terkenal usil, berani bicara, tukang debat tetapi tidak berani berkelahi.
“Tanya apa?” Bu Nani melihat ke arah Ismet.
“Sudah punya pacar,belum?” pertanyaan Ismet mengundang tawa teman sekelas. Faullin tersipu. Tentu, pertanyaan semacam itu tidak perlu di jawab.Ganti saya angkat tangan “Asli dari negara mana?”. Faullin melihat ke arah saya.
“Papa saya dari Swedia, mama saya dari Bandung” Faullin menjawab jujur. Setelah berganti-ganti teman-teman diberi kesempatan bertanya, maka Bu Nani mempersilahkan Faullin menuju ke tempat duduk yang ditunjuknya.

Kebetulan, satu-satunya bangku kosong adalah bangku di sebelah kiri saya. Saya duduk paling belakang. Tepatnya, bangku Faullin ada di pojok kiri belakang. Di belakang bangku Miepsye. Pikir saya, rezeki nomplok. Betapa tidak, tempat duduk saya berdekatan dengan tempat duduk Faullin. Kesempatan yang baik ini harus saya manfaatkan sebaik-baiknya. Maklum, saya baru putus dengan Siska, siswi SMAN 5, Surabaya. Saya pikir, Faullin sangat layak menggantikan posisi Siska. Sayang, Bu Nani meneruskan pelajaran matapelajaran Biologi, sehingga saya tak punya waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan dia. Tidak apa, nanti jam istirahat saya akan melakukan PDKT atau pendekatan.

Jam istirahat. Segera saya menggeser duduk,  saya akan mendekati Faullin. Ternyata, tidak cuma saya, Arifin, Sudarmaji, Agus dan bahkan semua cowok nimbrung mendekati bangku Faullin.Langsung ingin bersalaman, namun Faullin tidak menanggapinya. Tentu, sikap dia agak mengecewakan saya dan teman-teman. Apalagi, Miepsye yang duduk di depannya langsung mengajak ke luar kelas, ditemani Erna dan Andarini. Namun, bukan cowok namanya kalau saya mudah menyerah.Memang, sebagian teman-teman cowok banyak yang punya acara sendiri di luar kelas, namun saya dan sekitar lima cowok lainnya mengikuti Faullin yang diajak Miepsye ke kantin.

Begitu Faullin dan kawan-kawannya duduk di kantin, teman-teman cowok langsung berusaha merebut hati. Ada yang menawari softdrink, lainya menawari kue. Namun, Faullin menolak. Bahkan, lama kelamaan dia terkenal angkuh. Banyak pertanyaan teman-teman cowok yang tidak dijawab.
“Aduh, jadi siswi baru jangan sombong, dong!” Arifin mengeluh. Namun Faullin tidak peduli. Hari itu juga Faullin telah punya geng, yaitu Miepsye, Erna, Andarini dan Poppy. Mereka biasa disebut ‘cewek-cewek elit’. Mungkin sudah menjadi hukum alam bahwa siswa yang kaya akan mengelompok dengan yang kaya, yang miskin membentuk komunitas sendiri, sedangkan yang cantik juga punya geng siswi cantik.Hampir di semua SMA hukum alam atau hukum sosial seperti itu berlaku.Sehabis makan pisang goreng dan kue-kue dan minum, Faullin dan gengnyapun meninggalkan kantin. Sedangkan saya dan teman-teman cowok masih di kantin. Maklum, jam masuk masih 15 menit lagi.Sebagian teman asyik merokok, sebagian lagi makan kue.

“Gila,rek! Cantik sekali Faullin…” Arifin memuji kecantikan Faullin, sambil menunjukkan dua jempol tangannya.”Kalau bukan anaknya orang kaya, nggak bakalan bisa bawa dia…,” Arifin menambahi ucapannya.
“Saya naksir, nih “ Sudarmaji menimpali ucapan Arifin. Ucapan Sudarmaji tidak ada yang mengomentari, sebab semua teman-teman tahu Sudarmaji sudah punya pacar.
“Saya juga naksir,nih” saya ikut mengeluarkan unek-unek saya. Entah kenapa, tiba-tiba semua teman saya tertawa.

“Kamu wong ndeso dari Bojonegoro, mau naksir Faullin yang Indo-Swedia? Ha ha ha…” Arifin tertawa terbahak-bahak.
“Ngaca Harry. Ngacaaa…” Ismet yang badannya pendek itu meledek.
“Kalau jadi sopirnya sih,boleh” Sudarmaji menambahi. Tapi saya tak marah. Sebab, ledek-ledekan seperti itu sudah biasa. Apalagi, arek Surabaya terkenal bicara ceplas ceplos apa adanya. Kelihatannya omongannya kasar, namun sebenarnya mengandung makna persahabatan yang sangat mendalam.
.———-
Tak terasa, pulang sekolah telah tiba. Ratusan siswa SMAN 6 Surabaya serentak keluar ruangan. Suara riuh, ramai, ada yang berteriak, ada yang bersiul, ada yang tertawa, ada yang berjalan sambil menyeret sepatunya dan macam-macam tingkah laku lainnya.Sebagian menuju ke tempat parkir sepeda dan sebagian menuju ke parkir sepeda motor atau motor. Termasuk saya yang waktu itu membawa motor Honda CB 125.

Sesudah membayar uang parkir ke Tar, si penjaga parkir, sayapun melajukan motor ke arah Jl.Pemuda ke arah Timur. Namun, baru sepuluh meter, tepat di depan pintu pagar sekolah, saya lihat Faullin sedang berdiri sendiri. Pikir saya, ini kesempatan baik untuk mengantarkan pulang.
“Pulang, ya? Saya antarkan…” saya menawarkan jasa baik. Saya pandangi wajah Faullin yang cantik mirip Demi More itu.

“Enggak, ah,” sahutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Malu ya,naik motor?” masih saja saya ngotot. Siapa tahu Faullin berubah pikiran. Namun, belum sempat dia menjawab, sebuah Mercy putih mendekati Faullin,diapun langsung masuk.
“Jancuk!” saya mengumpat dalam hati. Teman-teman yang sempat melihat kejadian itupun tertawa “Aduh, kacian deh lu…” ledek mereka.

Akhirnya saya mengambil keputusan, saya ikuti Mercy itu. Tepat di perempatan Mitra Theater, belok kanan. Saya ikuti. Arahnya ke Selatan. Terus saya ikuti, saya ingin tahu di mana rumah dia. Ketika sampai di Jl. Raya Dharmo, daerah kelas satu di Surabaya, mobil itupun memasuki sebuah rumah mewah dua lantai.”Oh, di situ rumahnya,” saya berkata sendiri. Bergumam sendiri. Dalam hati saya berjanji suatu saat saya akan singgah ke rumahnya. Tak perduli dia anak orang kaya kek, anak jenderal kek, anak presiden kek, sejauh maksud saya baik, maka saya merasa tak perlu untuk menyerah. Hanya satu tekad saya, Faullin harus menjadi pacar saya.
.———-
Esoknya di sekolah saya dan teman-teman bertemu lagi dengan Faullin.Namun di bangkunya Faullin berkerumun dengan gengnya. Ngobrol-ngobrol. Maklum pelajaran belum dimulai. Berkali-kali saya mencoba mengajak mengobrol. Namun terkesan saya dicuekin. Faullin selalu menghindari pertanyaan saya dengan cara terus mengobrol dengan Miepsye dan teman-teman cewek lainnya. Sebagian teman cowok saya terpaksa menyerah. Hanya Arifin saja yang tetap bertahan berdiri dekat Faullin. Sayang, pertanyaannya juga tidak ada yang dijawab Faullin. Arifin hanya sebagai pendengar saja. Jadi, Arifin adalah pesaing utama saya. Sayang, bel tanda pelajaran dimulai telah berbunyi. Semua siswa berjalan menuju ke tempat duduk masing-masing. Waktu itu Pak Djamilun yang mengajar. Matapelajarannya Fisika.

Ketika jam istirahat pertama tiba, saya kehilangan kesempatan untuk melakukan pendekatan ke Faullin. Soalnya, saat itu seluruh pengurus buletin Elka, atau Lingkaran Kreasi, harus berkumpul di ruang OSIS untuk menyusun persiapan penerbitan buletin itu untuk bulan yang bersangkutan. Kebetulan saya bagian menyeleksi karya tulis, baik berupa naskah cerpen, puisi, vignet ataupun humor. Hilang sudah kesempatan untuk mendekati Faullin. Terus terang, saya benar-benar jatuh cinta kepada dia.

Kesempatan kedua saya peroleh pada jam istirahat kedua. Saya ikuti Faullin yang waktu itu berjalan bersama gengnya. Saya mencoba menyapa, tapi sia-sia. Mereka ternyata menuju ke kantor pos di mana Poppy biasa memarkir mobil VW putihnya di situ. Biasa, bisa saya tebak. Mereka akan cari ice cream yang ada di Jl. Tunjungan. Saya hanya bisa memandangi mereka dari pintu pagar sekolah. Pandangan kosong. Sudah dua hari ini saya dan teman-teman cowok lainnya dicuekin.

“Aduuuh, kacian deh,lu…,” saya menengok ke belakang. Ternyata Arifin.
“Iya. Sombong amat si Faullin,” gerutu saya ke Arifin. Dia cuma tertawa saja. Seperti biasa dia meledek saya. Katanya, sudahlah, saya ini wong ndeso, jangan mengejar anak konglomerat.
“Sudahlah, kamu cari anaknya orang ndeso saja. Tuh, Sumiati, dari Mojokerto. Walaupun dia dari ndeso juga,tapi dia cantik,kan,” Arifin menjodohkan saya dengan Sumiati.Kalau saya pikir, cewek Mojokerto itu memang cantik dan belum punya pacar. Masalahnya adalah, saya tidak cinta dia. Lagipula, Sumiati terlalu pendiam. Bukan cewek tipe-tipe saya.
.———-
Pada jam istirahat esok harinya, saya coba lagi mengikuti Faullin dan gengnya. Ternyata mereka menuju ke Mitra Theatre yang letaknya tepat di samping gedung SMAN 6. Walaupun tak diajak bicara, saya tetap mengikuti mereka sampai ke gedung Mitra. Mereka melihat papan ‘Hari Ini’ untuk melihat foto-foto pemain film yang akan main nanti malam. Rupa-rupanya mereka punya rencana untuk nonton bersama. Sayapun mengatur strategi. Jika mereka nanti malam akan nonton, maka nanti malam saya harus ‘standby’ di Mitra Theatre. Karena dicuekin terus, akhirnya saya melangkah kembali ke sekolah. Di bawah pohon beringin saya lihat Arifin, Sudarmaji, Ismet dan Jerminas sedang duduk santai. Sayapun mendekati.

“Alaaa…punya harga diri,dong! Sudah dicuekin gitu masih aja nyosor…,” seperti biasa, Ismet mulai meledek saya.
“Iya tuh, wong ndeso Bojonegoro kok ingin punya pacar Indo-Swedia. Bagaikan bumi dan langit,” ejek Arifin.
“Ha ha ha…..,” semua tertawa terbahak-bahak. Silih berganti mereka mengejek dan meledek. Tapi saya tak sakit hati. Justru dalam hati saya berjanji, suatu saat akan saya tunjukkan kepada mereka bahwa saya bisa menundukkan hati Faullin. Akan saya tunjukkan bahwa saya bisa menaklukkan hati cewek Indo-Swedia itu. Harus! Tidak boleh gagal.

“Kamu itu mau mendekati Faullin modalnya apa,to? Mau kamu pelet ya, Faullin? Kan orang Bojonegoro jago pelet. Ha ha ha…,” Sudarmaji menertawakan saya.
“Nanti akan saya buktikan bahwa saya mampu menaklukkan hati Faullin.Tanpa pelet. Tanpa mantera. Tanpa klenik.Tanpa mistik,” akhirnya saya harus menjawab juga atas ledekan-ledekan teman-teman. Justru jawaban saya membuat mereka tertawanya semakin menjadi-jadi.
“Cinta ditolak, dukun bertindak!” Ismet yang kakinya agak pincang juga ikut meledek. Bahkan mulutnya komat-kamit menirukan dukun yang sedang membaca mantera.
.———-
Dari hari ke hari, saya dan teman-teman cowok mengalami nasib yang sama. Dicuekin Faullin.Hal ini menjadi bahan pembicaraan saya dan teman-teman. Sudah hampir sebulan, Faullin tak berubah. Tetap terkesan sombong. Kalau ditanya, jawabnya cuma satu dua kata saja. Tidak mau mengobrol kecuali dengan gengnya. Hampir satu bulan. Membuat saya menjadi ragu-ragu. Sikap saya maju mundur. Maju, sikap Faullin tak berubah. Mundur, sayang kalau kesempatan yang bagus itu dilewatkan.

Pernah juga suatu sore saya menuju ke rumahnya. Namun, pagar rumah yang tinggi dan pintunya selalu tertutup membuat saya harus merasakan kecewa. Pernah saya menanyakan nomor telepon rumah, namun Faullin dan gengnya tidak mau memberitahu.

Saya jadi ingat sewaktu saya sekolah di SMAN 1 Bojonegoro, kelas satu. Teman-teman saya yang teergolong cantik memang membuat gengnya tersendiri. Namun, mereka tetap bersikap baik terhadap teman-teman lainnya. Tidak terkesan sombong walaupun mereka juga tergolong anak orang kaya. Masih mau memberi nomor telepon. Bahkan kalau saya main-main ke rumahnya juga diterima dengan senang hati dan ramah. Walaupun di Bojonegoro saya cuma duduk di kelas satu, namun saya terkesan dengan SMAN 1 itu. Bahkan, saya yang dilahirkan di Bojonegoro merasa bangga dengan kabupaten itu yang kaya minyak, hutan jati dan tembakau.

Kenapa saya harus pindah ke Surabaya? Masalahnya, sewaktu di SMAN 1 Bojonegoro tergolong siswa pendiam tetapi bandel. Saya pernah disetrap Pak Dirman kepala sekolah, gara-gara berkelahi dengan Andik Mukayan. Saya pernah ngerjain Setyo Haryono hingga dia dikeluarkan dari kelas oleh Pak Boediono. Saya pernah menusuk kaki Kusaeri memakai ujung jangka yang runcing dan tajam. Terakhir, saya pernah menendang cewek yang sedang bersandar di pintu kelas. Diapun terjatuh. Ternyata, dia bukan teman sekelas, tetapi guru Bahasa Indonesia. Sayapun meminta maaf. Meskipun demikian, matapelajaran Bahasa Indonesia di rapor, saya diberi nilai 3. Angka mati. Artinya, jika saya tetap ngotot di SMAN 1, maka tidak mungkin saya naik kelas. Satu-satunya cara bisa naik kelas, saya harus pindah sekolah. Akhirnya, saya pilih SMAN 6 Surabaya. Langsung kelas 2.

Selanjutnya beli buku novelnya (225 halaman) seharga Rp 50.000+ongkos kirim Rp 16.000
Pembelian lewat bank: Harga Rp 50.000+Ongkos kirim Rp 16.000 (Pulau Jawa). Kirim ke HARIYANTO,Bank BRI Unit Bojonegoro, No.Rek.3846-01-000524-50-6. Kirim copy bukti transfer ke HARIYANTO, BSD Nusaloka Sektor XIV-5,Jl.Bintan 2 Blok S-1/11,Tangerang 15318. Konfirmasi lewat SMS ke: 081-330-070-330. Buku novel dikirim lewat TIKI/JNE.

Hariyanto Imadha

SMS Only : 081-330-070-330
Cerpenis & Novelis

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: