CERPEN: Rezim TOMCAT


SIANG itu saya sedang jalan-jalan ke Plasa Senayan, Kebayoran Baru untuk makan siang di salah satu food court yang sering saya kunjungi. maklum, makanan dan minumannya enak sekali. Sesudah memesan makanan dan minuman, sayapun segera menuju ke tempat duduk.

“Hai! Harry, apa khabar?” tiba-tiba saya dikejutkan tepukan di pundak kanan saya. Ketika saya tengok, ternyata sahabat lama saya dari Bandung.
“Hai, Andre! Wow…berapa tahun kita tidak bertemu?” kata saya sambil beerdiri. Sayapun bersalaman dengan Andre. Andrepun saya persilahkan pesan makanan dan minuman.
“saya tidak sendiri, lho. Ada Vina, ada Ruddy ada Magda. Merteka masih cari tempat parkir mobil,” ucap Andre. Yah, Andre dan nama-nama yang tadi disebut adalah teman kuliah saya di Fakultas Psikologi, Unpad, Bandung. Kami lulusan tahun 1995 dan tergabung dalam Komunitas Psycho95 karena kami lulusan tahun 1995.

Benar juga, tak lama kemudian datanglah Vina, Ruddy dan Magda. Wah, suasana menjadi tambah meriah. Maklum, pada reuni tahun 2000, mereka tidak datang. Kami berlimapun akhirnya makan bersama sambil mengobrol apa saja. Sesekali Vina atau Magda memfoto kami menggunakan kamera ponselnya.

“Bagaimana kabar, Jakarta? Musim apa?”  Vina mulai bertanya soal Jakarta.
“Yah, musim korupsi…” saya bercanda. Mereka tertawa.
“Ha ha ha…Kalau korupsi memang Indonesia juaranya. Juara dunia…” komentar Ruddy sambil meminum es jeruk kesukaannya.
“Iya, sih. Negara kita ini kan dikuasai Rezim TOMCAT,” sahut Andre. Tentu, kami heran mendengar istilah baru itu.
“Apa tuh, Rezim TOMCAT?” Magda dan Vina bertanya hampir bersamaan.

“Rezim TOMCAT itu artinya Rezim yang merupakan (T)he (O)rganisation of (M)afia,(C)orruptor (A)nd (T)hief. Sebuah rezim yang dikuasai para mafia, koruptor dan maling-maling berdasi. Padahal, negara kita negara yang kaya sumber daya alam, tetapi rakyatnya miskin. Kecuali Rezim TOMCAT itu…” Andre menjelaskan.
“Oooh, itu. Yah, masuk akallah. Mafia ada di mana-mana. Ada mafia hukum, mafia pajak, mafia politik, mafia narkoba, mafia perdagangan anak, mafia sumber daya alam, mafia BBM, mafia perbankan, mafia proyek, mafia anggaran dan hampir semua sektor ada mafianya. Bagaimana mau mengatas semua itu? Sulit. Seperti benang kusut. Lha, yang akan memberantas mafia juga bagian daripada mafia…” saya urun rembug mengenai mafia.

“Betul juga. Di lembaga legislatif, ada mafia. Di lembaga eksekutif, ada mafia. Di lembaga yudikatif, ada mafia. Yang memberantas siapa? Ada satgas mafia pajak, ternyata anggota satgasnya juga bagian dari mafia. Negeri kita, Republi Antah berantah memang sudah dikuasai rezim mafia. Huh…!” komentar Vina sambil minum Coca Cola dingin kesukaannya sejak dia masih kuliah di Unpad.
“Bukan hanya mafia, juga korupsi ada di mana-mana. Di mana ada proyek, di situ ada korupsi. Begitu juga tiap ada pembelian barang dan jasa, ada korupsi. Beli tank, dikorupsi. Beli pesawat tempur, dikorupsi. Beli kapal selam, dikorupsi. Beli pesawat kepresidenan, dikorupsi. Beli mobil untuk para menteri, dikorupsi. Tampaknya negeri kita negerinya orang-orang kafir…” sahut Magda yang sejak dulu memakai jilbab.

“Betul juga,sih. Di samping itu juga banyak maling-maling berdasi. Beli BBM, melalui broker. Sebagian uangnya dicuri. Bantuan untuk orang miskin, dicuri. Perbaikan gedung, dicuri. Pembangunan infra struktur, dicuri. Ada proyek untuk gelanggang olah raga, dicuri. Segala macam kegiatan, dicuri. Praktek suap sogok merajalela. Calo anggaran bergentayangan. Betul-betul sudah rusak perilaku bangsa kita,” Ruddy memberi komentar sambil makan sate ayam.

“Yah. Mungkin uang dan harta telah menjadi tuhan mereka. mafia, korupsi dan maling sudah merupakan ibadah mereka. Suap sogok sudah merupakan amalan mereka. Melakukan mark up anggaran merupakan kitab suci mereka. saya setuju kalau mereka kita namakan orang-orang kafir. bagaimana solusinya?” Andre ingin tahu.
“Sekarang kan zaman edan. Ada institusi penegak hukum, ternyata isinya mafia, koruptor dan maling. Sulit mencari orang yang jujur. Mereka yang ditangkap dan dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan kan pelaku mafia, korupsi dan maling yang tidak mau menyogok para penegak hukum. kalau mereka mau bagi-bagi uang ke para oenegak hukum, mereka paling-palng divonis ringan. Sesudah dikurangi berbagai rtremisi, hukumannya kan tinggal beberapa bulan saja….” saya gilirannya berkomentar. Sambil sesekali makan ayam goreng.

“Lantas, solusinya bagaimana?” Andre mencoba bertanya mencari solusi.
“Menurut saya sih, kita harus punya presiden yang berkualitas. Bukan presiden yang bisanya cuma curhat. Bukan presiden yang penakut, peragu, ngomong doang, pesolek, boros,mudah tersinggung, suka curiga,bisanya cuma membuat satgas ini satgas itu, tak peduli rakyat, suka mengobral janji tanpa ada yang ditepati, bikin lagu melulu…lalu kerjanya apa?” komentar Magda.
“Setuju! Kita di pemilu mendatang harus punya presiden yang clean, clever, communicative, competence, commitment dan care. Tak usah saya jelaskan, kalian kan sudah tahu semua. Presiden kita sekarang kan tidak clean, tidak clever,tidak communicative,tidak competence,tidak commitment dan tidak care. Akibatnya, rezim negara Republik Antah Berantah periode sekarang dikuasai oleh Rezim TOMCAT seperti yang dikatakan Andre tadi,” begitulah pendapat saya sambil minum juice tomat.

Pertemuan siang itu memang di luar dugaan saya. Tidak ada perjanjian sebelumnya. Terjadi secara kebetulan. Sungguh menyenangkan bisa bertemu dengan sahabat-sahabat lama yang sudah 17un tidak bertemu. Vina dan Magda masih cantik seperti dulu. Semua sudah menikah. Untunglah, mereka masih kompak. Mereka dulu satu kelompok belajar dengan saya saat masih kuliah di Unpad.

Siang itu suasana food court di Plasa Senayan cukup ramai. Semakin siang kursi-kursi semakin penuh. Maklum, di samping makanan dan minuman di situ enak, harganyapun cukup terjangkau. Dengan uang Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per orang, cukup kenyang dan puas. harga cukup terjangkau, tentu untuk ukuran masyarakat Jakarta. Udara AC yang dingin cukup menyejukkan tubuh.

“ Saya teruskan, ya. Jika kita memiliki presiden yang berkualitas, maka kita harapkan dia melalui menteri-mentterinya bisa membuat sistem yang benar-benar bisa dihandalkan. Pimpinan institusi yang tidak mampu membersihkan institusinya dari praktek-praktek mafia, korupsi dan maling berdasi, harus dipecat. Presiden harus berani melakukan itu. gampang, kan? Jadi, kalau pimpinan institusi tidak mau dicopot, maka harus punya sistem pengawasan yang ketat kepada bawahannya. Mnteri-menterinya juga harus dipilih sesuai dengan keahliannya. jangan sampai orang yang awam ilmu ekonomi dijadikan menteri koordinator perekonomian. Jangan sampai menteri yang tidak ahli di bidang energi, dijadikan menteri urusan energi. Kacau negara kita kalau presidennya salah memilih orang…..” begitulah saya melanjutkan komentar sebelumnya.

“Betul, kata Harry. Kita harus punya presiden yang clever. Yang cerdas. Bukan presiden yang salah pilih melulu. Punya gelar doktor ekonomi tapi dibohongi terus oleh menteri-menteri eknominya yang menganut faham kapitalisme. Akibatnya, pemerintahannya menjadi kacungnya kapitalis asing. Semua sember daya alam dijual murah ke kapitalis asing. Sedangkan masih ada ratusan juta rakyat yang hidupnya miskin. yang kaya hanya para mafia, para koruptor dan para maling berdasi,” Vina berbicara lagi sambil sesekali memfoto kami menggunakan kamera ponselnya.

“Mudah-mudahan orang semacam Pak Dahlan, Pak Joko bisa menjadi presiden mendatang. Juga orang-orang seberani Anta Azar bisa menjadi ketua lembaga pencegahan dan pemberantasan mafia, korupsi dan maling-maling berdasi. Juga mampu memberantas praktek suap, sogok, pungli,kolusi dan nepotisme…” Magda berkomentar.

“Iyalah. Kita hanya bisa berdoa. Semoga Tuhan memberikan negeri seorang pemimpin yang berkualitas. Dan semoga pemerintahan mendatang bukanlah pemerintahan rezim TOMCAT seperti sekarang ini…” Vina berharap.
“Insya Allah…Amien…” . Semua teman mengamini.

Sesudah membayar makanan, kamipun saling berfoto bersama secara bergantian. maklum, sudah 17 tahun saya tidak pernah bertemu dengan mereka. Sesuda saya meminta kartu nama mereka, maka kamipun berpisah. Kami meneruskan acara kami masing-masing.

Sayapun pulang mengendarai Honda Freed putih menuju kawasan BSD City, Tangerang Selatan melalui rute Pondok Indah dan Bintaro.

Hariyanto Imadha
Facebooker & Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: