CERPEN: Ketika Cinta Masih Berdenyut


KARYAWAN saya bilang, ada siswi peserta kursus komputer yang cantik. Katanya, namanya Asokawati Prameswari.

“Mana fotonya?” tanya saya. Julie,karyawati saya Bagian Pendaftaran, langsung membuka laci. lantas dia menunjukkan foto siswi baru peserta kursus komputer. Saat itu memang saya membuka Lembaga Pendidikan Komputer Indodata di dekat Pintu Tol Bekasi Timur.

“Oh, boleh juga,nih. Kapan-kapan kenalkan saya,dong,” pesan saya ke Julie yang saat itu bertugas bersama Dani.
Siang harinya, Juliepun memperkenalkan saya dengan Asokawati.

“Oh, my God! Betapa sempurnanya Tuhan menciptakan dia. Sayapun bersalaman dengan Asokawati yang wajahnya mirip Yuni Shara. Rambutnya pendek, bulu matanya lentik, kulitya putih, senyumnya menggetarkan hati. Siang itu dia datang diantarkan sopir pribadinya. Naik mobil Mercy. Rupa-rupanya dia anak salah seorang terkaya di Bekasi.

Seperti di sinetron. Hubungan saya dengan Asoka lancar-lancar saja. Bahkan kadang-kadang mamanya yang mengantarkan ke tempat kursus. mamanya juga bersikap ramah terhadap saya. Bahkan saya berkali-kali diundang supaya datang ke rumah Asokawati.

Kebetulan, saat Asokawati ulang tahun, sayapun datang. Ternyata temannya banyak sekali. Pestanya cukup meriah dan mewah. Asokawati mengenakan gaun yang harganya tentu sangat mahal. Saat itu Asokawati berstatus alumni salah satu sekolah tinggi ilmu komputer di Jakarta. Dia mengambil kursus di tempat saya hanya sekadar ingin memperdalam aplikasi Photoshops dan Corel Draw. Tampaknya Asokawati berbakat menggambar.

Saya menilai perlakuan Asokawati terhadap saya terlalu berlebihan. Saya diperkenalkan ke tema-temannya dan selalu mengatakan saya ini pacar Asokawati. Padahal, saya belum pernah menyatakan cinta ke Asokawati. Tapi, tak apalah. Kenyataannya saya juga naksir dia. Cuma, saya selalu bersikap hati-hati sebab saya belum mengenalnya secara mendalam. Secara lahirah, dia memang cantik. Secara batiniah, saya belum tahu.

Akhirnya, tiap malam Minggupun saya datang ke rumahnya yang cukup mewah. Sambutannya baik sekali. bahkan mamanya kaang-kadang ikut mengobrol walaupun hanya sebentar.

“Mas Harry, kalau pacaran jangan lama-lama,ya? Tante sudah ingin punya cucu,nih. Maklum Asoka satu-satunya anak Tante,” katanya setengah mendesak. Asoka memang anak tunggal. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit. Entah sakit apa, saya tidak pernah bertanya.

“Wah, belum siap, Tante. Penghasilan saya masih sedikit. Belum cukup,” saya menjawab.
“Ah, jangan begitu. nanti kalau Mas Harry sudah menikah, rezekinya akan semakin lancar. Tuhan tidak pernah keliru dalam membagi rezeki,” kata mamanya Asoka bernada berkotbah.
“Betul Tante. Tapi, jodoh juga di tangan Tuhan…,” saya membalas ucapannya. tante, lengkapnya Tante Darmodjopun tertawa kecil. Sesudah itu meninggalkan saya berdua dengan Asoka. Mengobrol di ruang tamu yang cukup luas.

Sabtu atau malam Minggu berikutnya, Asoka mengajak jalan-jalan ke jakarta sambil membawa mobil pribadinya, Honda Freed berwarna putih. kadang saya menggantikannya untuk mengendarai mobil itu. Jalan-jalan ke Ancol, ke kafe, nonton atau ke mana saja sampai larut malam. terkadang pukul 03:00 WIB dini hari baru sampai ke rumah Asoka. Mamanya tidak marah.

Satu hal yang sulit saya pahami yaitu, Asoka agresif sekali. Baru pacaran beberapa kali saja sudah seperti itu. Mengajak menginap di hotel berbintanglah, mengajak ke Puncaklah dan lain-lain. Saya faham maksudnya. namun intuisi saya selalu mengatakan, jangan ikuti dulu kemauannya yang berlebihan iitu.

Memang, banyak karyawan saya yang merasa aneh. Kenapa tidak segera melamar saja. Cewek secantik itu, jangan-jangan disabet cowok lain.

“Buruan, Pak. nanti Asoka digaet cowok lain!” Irawan, salah seorang karyawan saya memanasi.
“Iya,Pak. Zaman sekarang cowok-cowok kan banyak yang nekat dan agresif,” Sofyan, juga karyawan saya, menambahi ucapan Irawan.
“Betul,Pak. Kalau saya jadi Pak Harry, tentu Asoka sudah saya hamili,” kata Edi Raharjo yang membuat semua karyawan tertawa.

Iya,ya. Saat itu saya baru lulus dari S-2 Komputer dan langsung mengelola lembaga pendidikan komputer. Usia 23 tahun. Relatif masih muda. Sedangkan Asoka sekitar 22 tahun. Seimbanglah. namun saya punya rencana akan menikah pada usia 25 tahun saja.

Begitulah. dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun, akhirnya sayapun berusia 25 tahun. Sesuai dengan rencana, maka sayapun merasa sudah siap melamar Asokawati. Apalagi saat itu lembaga pendidikan yang saya kelola sudah bubar karena saya bekerja di PLN Pusat sebagai Staf Ahli dan sudah berstatus sebagai pegawai tetap. Artinya, sudah ada gaji dan tunjangan tetap.

Namun, lagi-lagi intuisi saya selalu menyatakan, sebaiknya jangan menikah dengan Asoka. sayang, saya tak menemukan jawaban kenapa saya tidak boleh menikahi Asoka. Ada apa? Sebuah pertanyaan yang membuat saya melangkah ragu-ragu. Maklum, sejak dulu saya paling percaya dengan intuisi. Cuma, kali ini intuisi tu tak memberikan jawaban yang jelas. tak memberikan petunjuk apa-apa. Ada apa ini?
Selama ini, saya sudah terlanjur jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Bukan karena Asokawati cantik. Bukan karena dia anak orang kaya. Bukan karena dia sarjana komputer sama dengan saya. Tapi, saya suka karena dia bicaranya enak. Selalu nyambung. Enak diajak gaul. Cakrawala pemikirannya luas. Rajin shalat. Pandai membaca Al Qur,an. bahkan Asokawwati mengajak saya untuk naik haji bersama sesudah menikah nanti.

“Naik haji bersama? Oh, alangkah indahnya jika itu bisa menjadi kenyataan,” gumam saya dalam hati.

Karena saya merasa tidak ada kekurangan apa-apa pada diri saya dan Asokawati, akhirnya, sayapun menikah dengan Asokawati. Sebagian mantan teman kuliah saya dan Asokawati, sebagian teman kerja saya dari PLN Pusat, sebagian mantan karyawan yang pernah bekerja di lembaga kursus komputer saya, kerabat saya dan Asokawati dan undangan lainnya, memenuhi salah satu ruangan di Hotel Pan Sari Pasific, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Sayang, ayah dan ibu saya yang berada di Kota Bojonegoro tak bisa hadir karena sudah tua.

Setahun kemudian, kami berdua dikarunia seorang bayi perempuan yang imut-imut. Saya beri nama Monitorika. Sebuah nama yang ada hubungannya dengan komputer. Beberapa bulan kemudian Monny,panggilan anak kami, telah punya gigi. Bisa tersenyum lucu. bahakn sudah bisa berjalan, walaupun masih terjatuh-jatuh. Imut-imut sekali.

“Papaaa….!” tiba-tiba Minggu pagi itu saya mendengar teriakan Asokawati dari kamar mandi. Sayapun bergegas berlari.
“Ada apa?” tanya saya. Saya lihat Asokawati memegang dadanya.
“Segera ke rumah sakit,Pa….Jantung saya kambuh,” pintanya. sayapun segera meminta bantuan Bibi Mintuk untuk mengasuh Monny. saya langsung mengajak Asokawati memasuki garasi. Langsung saya tancap gas Honda Freed miliknya.

Namun, di tengah perjalanan Asokawati terkulai tak berdaya. Mobil saya hentikan di pinggir jalan. Saya gerak-gerakkan tubuhnyya. Diam. Matanya terpejam. saya pegang denyut nadi tangannya. Tidak ada.

“Oh, my God. Benarkah ini?” saya tak percaya. Langsung saya menghubungi mamanya lewat HP. Dari pembicaraan lewat HP iitulah saya baru tahu. Asokawati sudah dua kali operasi jantung di Singapura. Ayahnya, dulu meninggal juga karena penyakit yang sama.

Bulan-bulan berikutnya, saya terpaksa membesarkan Monny sendirian. Wlaupun ada baby sitter, namun itu tidak cukup.
Hari-hari terasa sepi.Saya hanya punya Monny. Cintaku kini hanya untuk Monny. Selama jantungku masih berdenyut, saya berjanji akan membesarkan Monny.

Sumber foto: elitha-eri.net

Hariyanto Imadha
Facebook/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: