CERPEN: Di Detroit Masih Ada Cinta

SATU bulan sesudah saya diwisuda di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, saya menerima banyak surat jawaban dari berbagai perusahaan. Soalnya, sebulan sebelumnya saya mengirim 100 surat lamaran kerja. Namun, ada satu surat yang bukan dari perusahaan. Tulisan tangannya di amplop cukup saya, kenal. Pasti dari Emelin, mantan pacar saya yang sudah tiga tahun putus karena salah faham. Ada apa, nih?
Sayapun membuka surat itu. Dan membacanya. Wow, ternyata Emelin meminta maaf atas ucapan-ucapan yang pernah ditujukan kepada saya tiga tahun yang lalu. Saat kami berdua bertengkar hebat dan berakhir dengan bubarnya hubungan. Yah, karena Emelin meminta maaf, maka sayapun pasti akan meminta maaf. Walaupun tidak tertulis, saya menafsirkan isi surat itu bahwa Emelin ingin kembali lagi. Ingin menjalin hubungan seperti dulu. Kebetulan saya masih jomblo. Kenapa tidak?
Seminggu kemudian, sayapun “terbang” ke Detroit, sebuah yang berada di Negara Bagian Michigan, Amerika Serikat. Sebetulnya saya agak ngeri pergi ke itu, karena menurut informasi yang saya terima, Walaupun ini tercatat sebagai negara industri terbesar di Amerika menurut majalah Forbes. Namun ini masuk dalam daftar yang harus dihindari karena menurut catatan FBI dalam setahun terjadi 43,7 persen kasus pembuhunan dari 100 ribu kasus.

Namun, demi cinta, apapun resikonya, saya harus menemuinya.
Akhirnya, tibalah saya di Detroit .Berlokasi di Sungai Detroit, berhadapan dengan Windsor, Ontario. Pesawat yang saya tumpangipun mendarat di bandara Detroit Metro Wayne. Dan, tak berapa lama kemudian Emelin datang menyambut kedatangan saya. Kamipun saling berpelukan cukup lama. Maklum, tiga tahun tak pernah bertemu.

“Emelin, kamu masih cantik seperti dulu,” kata saya jujur.
“Harry juga…,” jawabnya sambil menatap wajah saya cukup lama.
Sambil ngobrol-ngobrol penuh nada gembira, Emelinpun mengajak saya memasuki taksi bandara. Tak lama kemudian taksi meluncur ke Detroit yang jaraknya sekitar 18 km dari Bandara Detroit Metro Wayne.

“Nggak nyangka, Harry mau datang ke Detroit,” ucap Emelin dengan nada senang.
“Kebetulan ada uang,” jujur jawaban saya. Emelin tertawa kecil.
Emelin memang sejak lulus SMA langsung kuliah di Wayne State University. Entah fakultas apa, saya lupa menanyakannya. Sesudah lulus, bekerja di perusahaan milik pamannya. Sesampai di rumah dan saya meletakkan tas di kamar tidur yang disediakan Emelin, dia langsung mengajak saya jalan-jalan memakai mobil pribadinya.
“Kemana kita?” saya ingin tahu.
“Sudahlah, nanti kan tahu,” masih seperti dulu cara menjawabnya.

Mobilpun terus meluncur tanpa ada kemacetan. Cukup indah juga Detroit. Bahkan terkesan lebih indah daripada Jakarta. Tanpa terasa, mobilpun memasuki tempat parkir.
Ketika saya turun dari mobil, saya terkejut karena saya diajak Emelin Michael Symon’s Roast, Sebuah resto yang termahal di Detroit. Ya, boleh juga sih. Ditraktir kok, rugi kalau menolak. Kamipun memasuki resto yang menurut saya sangat mewah. Dan Emelinpun memesan makanan dan minuman yang dia tahu saya suka. Yang pasti di resto tidak ada nasi pecel ataupun minuman es cendol.

Kami berduapun makan siang bersama sambil bicara-bicara apa saja. Sungguh, menyenangkan sekali. Cinta yang tiga tahun lalu putus, saat itu kembali utuh seperti semula.
Selesai makan siang, Emelin mengajak saya ke Detroit Institute of Arts. Sebuah museum kesenian. Kata orang sih, musuem itu cocok untuk anak-anak. Namun nyatanya, banyak wisatawan dewasa yang datang ke museum itu.

“Fantastis…!” saya berdecak kagum melihat koleksi berbagai macam karya seni yang luar biasa indah. Layaknya pameran karya seni. Benar-benar maha karya. Saya betul-betul menikmati keindahan musem tersebut.
Sesudah dari museum, mobil Emelinpun terus meluncur tenang. Saya kagum, jalan-jalan di Detroit sangat halus bagaikan jalan tol. Tidak tambal-tambal seperti jalan-jalan di Jakarta. Gedung-gedung bertingkatnya juga sudah dibangun sesuai bentuk arsitektur moderen. Futuristik.
“Ke mana lagi kita?”
“Sudahlah, nanti kan tahu…” masih saja Emelin menjawab dengan gayanya seperti dulu. Selalu ingin memberi surprise.

Begitulah, hari itu saya diajak ke Belle Isle. Sebuah pulau dengan taman-tamannya yang indah. Aneka bunga aneka warna warni dan aneka tumbuhan yang di Indonesia tampaknya tidak ada.Pulau yang bersi. Tidak ada sampah seperti di Pulau Seribu.
“Ah, dulu Belle Isle juga merupakan pulau yang jorok dan kotor seperti Pulau Seribu. Namun, sebagian besar sekarang sudah bersih,” Emelin menceritakan taman itu. Dan nyatanya memang taman itu sangat bersih. Sambil jalan-jalan saya terasa berada di sorga.
Menjelang sore, kami kembali pulang ke rumah Emelin, tepatnya rumah pamannya. Sayapun dikenalkan dengan paman dan isterinya. Sangat ramah dan baik. Cuma, karena lama di Detroit, bicaranya lebih banyak menggunakan bahasa Inggeris. Kadang-kadang saya tidak mengerti juga. Untung ada Emelin yang bersedia menerjemahkan.
Begitulah. Satu minggu saya berada di Detroit. Sudah banyak objek wisata yang saya kunjungi. Namun yang terpenting, saya merasa gembira karena bisa kembali ke Emelin. Cewek yang cantik dan cerdas. Enak diajak bicara. Suka tersenyum. Ramah kepada siapa saja.

Cuma, rasa cemburunya besar sekali. Itulah yang menyebabkan dulu saya sering bertengkar. Tapi, Emelin hatinya memang baik. Setahun sekali pulang ke Indonesia. Namun selama tiga tahun sebelumnya, tak pernah mau bertemu dan bicara dengan saya.
Seminggu saya bercinta dengan Emelin. Di Detroit kami berjanji atas nama Tuhan, tidak akan putus lagi. Bahkan, Emelin menginginkan agar saya segera melamarnya. Kedua orang tuanya dinggal di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Semoga.

Sumber foto: iwan2real.blogspot.com
Hariyanto Imadha
Facebooker & Blogger

Iklan

CERPEN: Menyesal Tak Kukatakan Cinta

 

BARU saja pertandingan olah raga antar kampus selesai. Laura yang ikut pertandingan voli tampak mengusap keringatnya di dahi. Tampak dia kelelahan. Diapun menuju ke tempat minum di sebelah saya.

“Mau minum, Laura?” Sapa saya.
”Iya…!” Singkat jawabnya. Sambil terus mengusap keringatnya dengan handuk kecil.
“Selamat ya, atas kemenangannya,” sayapun berdiri sambil menyalaminya. Laurapun menyambut uluran tangan saya.
“Terima kasih. Tapi, semua karena kerja tim yang baik.” Laurapun duduk di sebelah saya. Sementara itu pemain-pemain lain yang sudah selesai bermain juga sibuk antri mengambil minuman. Kebetulan, saya merupakan ketua panitia pertandingan antar kampus. Saya mewakili kampus saya, Akademi Bahasa Asing “Metropolitan”.

Tampak suasana kampus ramai sekali. Maklum, di dalam satu halaman ada lima akademi berdiri. Hari itu memang saatnya pertandingan voli. Sedangkan kemarin pertandingan bulu tangkis. Besok pertandingan basket. Tim kampus saya sudah meraih lima kejuaraan.

Laura adalah adik kelas saya. Dia cewek Manado, berkulit putih dan cantik. Terus terang saja saya naksir dia sejak dia mengikuti ospek. Sudah tentu saya mengenalnya secara baik. Laura termasuk mahasiswi tercanik dari lima mahasiswi tercantik lainnya.

Sudah satu tahun saya ngapel ke rumahnya. Tentu malam Minggu. Sedangkan hari Minggu saya tidak penah ke rumahnya karena Laura dan ayah ibunya serta saudara-saudaranya ke gereja. Jadi kalau Minggu, saya suka jalan-jalan sendiri ke mana saja saya suka.

Boleh saja teman-teman mengira saya sudah berpacaran dengan Laura. Bagaimana tidak. Kalau di kampus, di mana ada Laura, di situ pasti ada saya. Meskipun demikian, tak jarang mahasiswa dari kampus lain mencoba mendekati Laura. Bahkan kadang-kadang mereka malam Minggupun mereka datang ke rumah Laura. Tetapi karena tiap malam Minggu saya selalu di rumah Laura, maka satu persatu cowok-cowok itupun akhirnya mengundurkan diri.

Walaupun sudah satu tahun saya bersahabat dengan Laura, namun saya belum pernah mengajaknya jalan bersama. Misalnya, nonton bioskop bersama, ke kafe bersama, jalan-jalan bersama atau ke mana saja bersama. Padahal, saya saat itu punya mobil pribadi. Persolannya adalah kedua orang tuanya agak galak. Saya dan Laura hanya boleh ngobrol-ngobrol di kamar tamu rumahnya saja. Atau paling-paling saat pulang kuliah saya bisa mengantarkan Laura pulang ke rumahnya.

“Bagaimana? Sudah kamu nyatakan cinta?” Tanya Ruddy, sahabat baik saya yang suka melucu. Tentu, dia tahu benar sejauh mana hubungan saya dengan Laura.
”Belum…” Singkat jawab saya.
”Kenapa, sih? Nggak berani, ya? Padahal sebelumnya kamu sudah ganti-ganti pacar…”
“Iya, Rud. Tapi, kali ini saya ragu-ragu. Soalnya saya beragama Islam. Sedangkan Laura beragama Kristen”.
“Kan bisa menikah di kantor catatan sipil.”
”Justru itu yang saya tidak mau. Saya maunya Laura pindah ke agama Islam. Tetapi, itu tidak mungkin terjadi.” Saya mengeluh.
”Kenapa tidak mungkin?”
“Ya tak mungkinlah. Laura dan keluarganya fanatik dengan agamanya.”
”Lha, kamu maunya maju atau mundur?” Sergah Ruddy.
“Serius, sih”
“Kalau serius, tanya dong ke Laura. Mau nggak pindah ke agama Islam”.

Sampai di situ pembicaraan saya dengan Ruddy, karena Lisda mendatangi saya.
”Mas Harry. Laporan nih, bola volinya rusak satu, nih. Kena paku….” Katanya sambil menunjukkan bola voli yang terkena paku. Lisda adalah salah satu pemain voli satu tim dengan Laura.
”Oh, ya. Taruh saja di ruang senat…”. Ujar saya. Kebetulan, saat itu saya menjadi sekretaris senat mahasiswa. Laurapun meninggalkan saya.
”Bagaimana kalau Lisda saja? Dia juga cewek Jawa. Juga beragama Islam. Dia orangnya juga baik dan enak diajak bicara. Cantik lagi”.

Salah saya. Waktu itu saya termakan ucapan Ruddy. Saya pikir, daripada repot-repot bersahabat dengan Laura yang berbeda agama dan suku, leih baik melakukan pendekatan ke Lisda. Dan itu benar-benar saya lakukan.

Malam Minggu berikutnya saya datang ke rumah Lisda di kawasan Bintaro. Kedua orang tuanya sangat baik menyambut saya. Ramah. Bahkan kadang-kadang ikut nimbrung ngobrol dan bercanda. Tertawa bersama-sama. Bahkan, Lisda yang pandai bermain gitar dan juga pandai bernyanyi, kadang-kadang mengajak saya juga bernyanyi. Bahkan timbul ide mengarang lagu sendiri.

“Rasa-rasanya saya lebih cocok dengan Lisda, Rud,” suatu hari saya bicara dengan Ruddy sebelum kuliah dimulai.
”Ya, iyalah. Saya kan tahu betul siapa Lisda itu. Dulu saya bertetangga dengan dia di Bntaro. Kemudian ayah dan bu saya pindah ke Jl. RS Fatmawati. Jadi, saya kenal betul perilaku, Lisda.” Begitulah Ruddy meyakinkan saya.

Sayapun, tiap malam Minggu tak lagi ke rumah Laura, tetapi ke rumah Lisda. Memang saya akui, Lisda juga cantik. Tidak kalah cantiknya dengan Laura. Tetapi, rasa-rasanya ada satu perasaan yang berbeda. Dengan Lisda, saya punya rasa suka. Tetapi terhadap Laura, saya punya rasa cinta. Tak heran, saya dilanda kebimbangan antara Laura dan Lisda. Siapa yang harus saya pilih? Padahal, sebagai mahasiswa, saya harus punya pacar tetap. Tidak perlu ganti-gant lagi seperti ketika saya masih SMA.

Waktu terus bejalan. Hubngan saya dengan Lisda semakin akrab. Bahkan, kedua orangtuanya tak pernah melarang jika saya mengajak Lisda jalan-jalan, nonton bioskop bersama, ke kafe bersama. Bahkan ketika ada acara berkemah di Jawa Baratpun kedua orangtuanya tidak melarang. Kelihatan kedua orangtuanya sangat demokratis.

Setahun kemudian, Ruddy memberi informasi kalau Laura sudah ada yang mendekati. Seorang mahasiswa yang sedang kuliah di Universitas Atmajaya. Mahasiswa fakultas kedokteran. Saat itu hati saya terasa tersentak. Entah kenapa, saya merasa cemburu mendengar informasi itu.

Malam Minggu berikutnya saya mencoba mencek kebenaran nformasi itu. Saya datangi rumah Laura. Ternyata benar. Sudah ada seorang cowok yang ternyata benar mahasiswa dari Unversitas Atmajaya. Saya tidak lama-lama, Terus pamit dan meluncur ke rumah Lisda. Sepanjang perjalanan hati saya panas. Saya benar-benar cemburu. Saya baru merasakan bahwa saya sesungguhnya sangat mencintai Laura. Sedangkan terhadap Lisda cuma rasa suka saja.

Dan selanjutnya. Dalam kegalauan, selama berbulan-bulan saya disibukkan menyusun skripsi. Tak sempat lagi ke rumah Laura maupun Lisda. Bahkan saya berubah menjadi pendiam. Saya menjadi serba salah. Ingin kembali ke Laura, ternyata sudah ada cowok lain. Ingin serius dengan Lisda, tetapi saya tidak mencintainya.

Tanpa terasa. Malam wisudapun tiba. Tak terasa, telah tiga tahun saya kuliah di Akademi Bahasa Asing Metropolitan. Malam itu, kedua orang tua saya yang di Jawa Timur tak bisa datang. Bahkan saudara-saudara saya yang ada di Jakarta juga tidak hadir karena ada acara sendiri-sendiri.

Usai wisuda, sayapun berfoto dengan teman-teman seangkatan yang juga diwisuda. Terutama dengan Ruddy. Tiba-tiba Laura dan Lisda datang mengucapkan selamat atas lulusnya saya dari akademi itu. Kemudian juga berfoto bersama saya Namun yang mengejutkan adalah, mereka berdua juga menyampaikan dua buah amplop yang rasa-rasanya bukan surat cinta. Sesudah mereka berdua meninggalkan saya, maka saya didampngi Ruddy membuka kedua amplop itu.

“Apa, Harry?” Tanya Ruddy.
“Undangan pernikahan Laura dan Lisda, masing-masing akan menikah…” jawab saya setelah membuka kedua amplop itu.
”Yah, mungkin bukan jodohmu, Harry. Sabar sajalah. Masih banyak cewek lain yang cantik…” Ruddy memberi semangat.

Beberapa minggu kemudian, saya mendapat kabar dari Ruddy, bahwa Laura telah pindah agama. Dari Kristen masuk Islam. Sebuah berita yang sangat mengejutkan. Bagaimana tidak? Keluarga Laura adalah keluarga yang sangat fanatik pergi ke gereja.

“Huh…Saya menyesal. Kenapa dulu saya tak mempunyai keberanian untuk menyatakan cinta kepada Laura? Kenapa saya tak mempunyai keberanian untuk mengajak Laura untuk pindah ke agama Islam dan menikah dengan saya secara Islam?” Saya menyesal. Tetapi, penyesalan yang tidak ada gunanya lagi.

Hariyanto Imadha
Facebooker & Blogger

CERPEN: Yogya 31 Tahun Kemudian


YOGYA, 28 Januari 1980. Senja itu adalah terakhir kalinya saya berada di Yogya. Sebab, saya sudah menyelesaikan studi di UGM. Senja itu saya sedang berada di dalam kereta api Senja Utama Jurusan Jakarta. Kereta belum berangkat. saya di antar Ratna Yanuartanti, yang semula merupakan pacar saya. Hubungan putus karena ratna dijodohkan oleh  ibunya yang saat itu sedang sakit.

“Mas,Harry. Saya benar-benar minta maaf. Semua demi kebahagiaan iibu saya. Bukan demi saya,” katanya di kereta. Pipinya basah karena air mata.
“Tak apalah.Mungkin Tuhan belum menjodohkan kita,” jawab saya sedih.
“Betapapun juga, Mas Harry adalah cinta pertama saya,” ujar ratna yang juga telah diwisuda dari Fakultas Psikologi UGM.
“Sama. bagi saya, Ratna adalah cinta pertama saya. Sampai kapanpun, saya tak akan melupakan Ratna,” sayapun meyakinkan Ratna.

Sayang, kereta sebentar lagi berangkat. Sebelum Ratna turun dari kereta, saya cium pipi Ratna dengan penuh kasih sayang.
“Selamat jalan Mas Harry,” salamnya. Diapun segera turun dari kereta. Keretapun mulai meninggalkan Stasiun Tugu. dari jendela saya dan Ratna saling melambaikan tangan. Tak lama kemudian,kereta ttelah meninggalkan Yogya. Meninggalkan Ratna. Meninggalkan segala kenangan indah antara saya dan Ratna.

JAKARTA,1 Januari 2011. Tanpa sengaja, saya menemukan nama “Ratna Yanuartanti” di Facebook. Semula saya ragu-ragu, apakah itu Ratna Yanuartanti yang dulu pernah menjadi pacar saya? Ketika saya membaca profilnya, ternyata benar, dia adalah Ratna yang selama ini tak pernah saya lupakan. Sayapun melakukan add pada akun FB-nya dan meminta dia melakukan konfirmasi.

Satu hari kemudian, saya dan ratna sudah saling berkomunikasi melalui FB. Akhirnya saya berjanji, 25 januari saya akan berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta. Dia menyambutnya dengan senang hati. Akhirnya, ratna berjanji akan menjemput saya di Stasiun Tugu pukul 04:30 WIB

Tepat pukul 05:00 WIB, keretapun berhenti di stasiun Yogyakarta. Begitu saya turun, saya kagum melihat perubahan yang ada di stasiun. Jauh lebih bagus dibandingkan tahun 1980.

Segera saya menuju pintu keluar. Dan benar saja, saya melihat ratna sudah menunggu saya. Tentu, kami saling berpelukan cukup lama. ratna menangis terharu dalam dekapan saya.
“Oh, Mas Harry. Sudah 31 tahun kita tidak bertemu. Kok, sekarang kurus?” tanya Ratna.
“Yah, banyak kerjaan. Jadi ya kurus begini. Tapi Ratna kok masih cantik seperti dulu,” jawab saya. saya akui, Ratna, walaupun sudah menjadi seorang iibu dari dua orang anak yang sudah dewasa, namun tetap cantik, langsing dan tak jauh bedanya dengan Ratna pada tahun 1980-an.

Dengan menggunakan motor Varionya, sayapuun dianttarkan ke Hotel Intan, Jl.Sosrokusuman, Malioboro. Kok, hotel kecil? Ya, hotel itu merupakan kenangan bagi saya dan Ratna. Pagi Subuh hotel masih tutup.Lampu luarpun padam. Saya ketuk pintu kacanya  beberapa kali. Akhirnya, pintu dibukakan petugas hotel. Saya langsung pesan kamar nomor 19. Alhamdulillah, kosong. kamar itu adalah kamar kenangan kami. Segera kami masuk ke dalam kamar.

“Oh, Mas Harry. Terasa kita kembali muda seperti dulu,” ucap Ratna penuh rasa haru. Tentu, saya juga merasakan seolah-olah saya berada pada tahun 1980-an. Di kamar itulah saya dan Ratna sering bertemu dan berkasih sayang. Padahal, saat itu saya kos di daerah Lobaningratan.

Sesudah mandi pagi, Ratnapun kemudian mengajak jalan-jalan di Maliboro untuk mencari sarapan pagi. Oh, Yogya ternyata sudah berubah. Jl. Malioboro sudah dilengkapi halte bus TransYogya, semacam busway Jakarta. Cuma, bus tersebut berjalan di kiri jalan campur dengan kendaraan lain.

Akhirnya, saya ,menemukan warteg yang cukup bersih dan nyaman. Saya dan ratnapun memesan ayam goreng plus sambal bajak plus lalapan. Itu makanan kesukaan kami berdua.

“Bagaimana kabar keluarga?” saya memulai pembicaraan sambil menikmati ayam goreng Malioboro.
“Baik-baik saja,Mas Harry. Anak saya yang pertama laki-laki, sudah bekerja di Garuda sebagai pilot. Sedangkan yang kedua,perempuan, bekerja di Hotel Mandarin, Jakarta. Suami mengelola biro tour dan travel.Wiraswasta. Kantornya di Condong Catur dan di sekitar Baciro. Cuma, suami saya meninggal satu tahun yang lalu karena sakit jantung.Kalau Mas Harry bagaimana?” cerita Ratna.

“Syukurlah. Kalau saya sih, punya dua anak.Pertama laki-laki, bekerja sebagai programmer komputer di PT PanSystem,Jakarta.Kedua,perempuan, sudah menikah,bekerja di PT Telkom Tbk. Sedangkan istri saya, tiga tahun yang lalu meninggal karrena kanker otak,” saya ganti bercerita.
“Oh, My God! Rupa-rupanya duda ketemu janda, ya Mas Harry? Ha ha ha…” Ratna tertawa. Sayapun tertawa.

Seperti rencana semula, saya dan Ratnapun melakukan acara “napak tilas”. Mengunjungi tempat-tempat di mana kami dulu sering bertemu. Antara lain ke kampus UGM. Ternyata, jalan masuknya sudah berubah. Kamii tidak masuk, hanya melihat kampus UGM dari kejauhan saja.

Kemudian ke objek wisata Kaliurang. Oh, tak banyak berubah. Kaliurang masih penuh dengan pesona alam yang indah. Dulu, hampir tiap Minggu saya dan Ratna pasti ke sini. Ratna yang saat itu mengenakan T-Shirt biru tua, cvelana jean biru bawah ketat dan mengenakan sepatu hak tinggi, nampak masih secantik seperti dulu.

Siang harinya saya diajak jalan-jalan ke Mal Malioboro. Mirip Mal Blok M tetapi dalam bentuk kkecil.Kira-kira empat lantai. Tidak beli apa-apa. Cuma jalan-jalan dan melihat-liihat. Kemudian ratna mengajak saya ke Mal Ramai, tterutama lantai 2. Khusus counter HP. Di situ saya dan Ratna membeli HP Blackbarry. Maklum, HP kami berdua sudah tergolong jadul. bagi saya, kedua mal tersebut pertama kalinya saya lihat.Maklum, sudah 31 tahun saya meninggalkan Yogya.

Selesai dari Malioboro, terus meluncur ke Pantai Parangtritis. Jalannya lebih bagus dibandingkan tahun 1980-an. Di pantai itu kami punya sejuta kenangan yang tak tterlupakan. Kamipun berfoto di pantai itu. Ttentu, kami meminta bantuan orang yang ada di sekitar pantai itu. Debur ombaknya yang keras membuat saya hidup pada masa lalu saya.

Esok harinya atas saran Ratna, saya pindah ke Hotel Ibis. Ditraktir Ratna. Ttentu hotel yang mahal. Kenapa harus pindah hotel? Karena Hotel Intan tak seperti dulu. Dulu, kamar mandi luarnya ada enam buah, sekarang hanya tiga buah. Tentu, kurang nyaman. Namun yang terkesan yaitu, satu-satunya legawai yang masih di situ yaitu Pak Jani. Umurnya sudah 58 tahun. Dia lupa-lupa ingat dengan saya. Namun ketika saya bercerita tentang masa lalu, Pak Janipun teringat. langsung memeluk saya dengan hangat.

“Dulu, di Utara hotel ini ada Restoran Helen,Pak.Masih ingat,kan? Dulu saya sering makan bersama di restoran iitu bersama Ratna,” saya mengingatkan Pak Jani. Sayapun menambahkan “Dulu, di depan hotel ini ada cewek kos cantik, namanya Suzzy Riesman.Ingat,kan?”.
“Oh,ya,ya,ya…Saya ingat semuanya,” Pak Jani sekarang benar-benar mengingat saya dan Ratna. Itulah, sekelumit dialog saya dengan Pak Jani sebelum meninggalkan Hotel Intan.

Sedangkan di Hotel Ibis ini betul-betul hotel yang sangat mewah. Namun, karena saya ditraktir Ratna, ya mau juga. Hotel yang sangat besar, tempat parkir luas, nyaman dan benar-benar saya merasa sebagai konglomerat. Tidak apa, ratna dulu memang berasal dari keluarga kaya raya di Yogya ini. Warisannya saja bernilai Rp 1,3 triliun. Ternyata Ratna tidak hanya meneruskan usaha suaminya di bidang tour dan travel, tetapi juga kegiatan mengekspor batik, furniture dan kerajinan Yogya ke beberapa negara. Jumlah karyawannya 90 orang.

“Oh,ya.Sekarang 26 Januuari,ya? Selamat hari ulang tahun buat Ratna. Semoga sermakin cantik dan semakin sukses.Wah, tidak sempat membawa kado,nih” saya langsung menyalami dan mencium Ratna.

“Terima kasih, Mas Harry. Nggak uusah kado-kadoan.Kok, seperti anak kecil saja,” sahut Ratna.Katanya lagi “Saya Cuma bisa traktir makan siang,nih Mas. Yuk, kita ke resto yang ada di hotel ini.”. Sayapun keluar dari kamar hotel dan bersama Ratna menuju ke rumah makan yang mewah. Harga makanannya tentu mahal.

YOGYA, 28 Januari 2011. Tanpa terasaa, saatnya pulang ke Jakartapun tiba. Ratnapun mengantarkan saya ke Stasiun Tugu.

“Mas,Harry. Saya benar-benar minta maaf. Dulu, semua demi kebahagiaan ibu saya. Bukan demi saya,” katanya di kereta. Pipinya basah karena air mata.
“Tak apalah.Mungkin Tuhan belum menjodohkan kita,” jawab saya sedih.
“Betapapun juga, Mas Harry adalah cinta pertama saya,” ujar ratna. “Sama. bagi saya, Ratna adalah cinta pertama saya. Sampai kapanpun, saya tak akan melupakan Ratna,” sayapun meyakinkan Ratna.

Dialog di atas sama persis yang saya alamii pada 28 Januari 1980 yang lalu. Bedanya, dulu saya dan Ratna masih muda. Sekarang sudah tua.

Sebelum kereta berangkat, kami saling berpelukan dan berciuman cukup lama. Ratna menangis. Sayapun terharu. Tak lama kemudian, Ratna turun dari kereta yang saat itu akan berangkat. Saya dan Ratna hanya saling melambaikan tangan. Tak lama kemudian keretapun berangkat.

Yah, Yogyakarta boleh berubah. Tetapi, cinta pertama kami berdua, sampai kapanpun tak akan berubah.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973.