CERPEN: Yogya 31 Tahun Kemudian


YOGYA, 28 Januari 1980. Senja itu adalah terakhir kalinya saya berada di Yogya. Sebab, saya sudah menyelesaikan studi di UGM. Senja itu saya sedang berada di dalam kereta api Senja Utama Jurusan Jakarta. Kereta belum berangkat. saya di antar Ratna Yanuartanti, yang semula merupakan pacar saya. Hubungan putus karena ratna dijodohkan oleh  ibunya yang saat itu sedang sakit.

“Mas,Harry. Saya benar-benar minta maaf. Semua demi kebahagiaan iibu saya. Bukan demi saya,” katanya di kereta. Pipinya basah karena air mata.
“Tak apalah.Mungkin Tuhan belum menjodohkan kita,” jawab saya sedih.
“Betapapun juga, Mas Harry adalah cinta pertama saya,” ujar ratna yang juga telah diwisuda dari Fakultas Psikologi UGM.
“Sama. bagi saya, Ratna adalah cinta pertama saya. Sampai kapanpun, saya tak akan melupakan Ratna,” sayapun meyakinkan Ratna.

Sayang, kereta sebentar lagi berangkat. Sebelum Ratna turun dari kereta, saya cium pipi Ratna dengan penuh kasih sayang.
“Selamat jalan Mas Harry,” salamnya. Diapun segera turun dari kereta. Keretapun mulai meninggalkan Stasiun Tugu. dari jendela saya dan Ratna saling melambaikan tangan. Tak lama kemudian,kereta ttelah meninggalkan Yogya. Meninggalkan Ratna. Meninggalkan segala kenangan indah antara saya dan Ratna.

JAKARTA,1 Januari 2011. Tanpa sengaja, saya menemukan nama “Ratna Yanuartanti” di Facebook. Semula saya ragu-ragu, apakah itu Ratna Yanuartanti yang dulu pernah menjadi pacar saya? Ketika saya membaca profilnya, ternyata benar, dia adalah Ratna yang selama ini tak pernah saya lupakan. Sayapun melakukan add pada akun FB-nya dan meminta dia melakukan konfirmasi.

Satu hari kemudian, saya dan ratna sudah saling berkomunikasi melalui FB. Akhirnya saya berjanji, 25 januari saya akan berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta. Dia menyambutnya dengan senang hati. Akhirnya, ratna berjanji akan menjemput saya di Stasiun Tugu pukul 04:30 WIB

Tepat pukul 05:00 WIB, keretapun berhenti di stasiun Yogyakarta. Begitu saya turun, saya kagum melihat perubahan yang ada di stasiun. Jauh lebih bagus dibandingkan tahun 1980.

Segera saya menuju pintu keluar. Dan benar saja, saya melihat ratna sudah menunggu saya. Tentu, kami saling berpelukan cukup lama. ratna menangis terharu dalam dekapan saya.
“Oh, Mas Harry. Sudah 31 tahun kita tidak bertemu. Kok, sekarang kurus?” tanya Ratna.
“Yah, banyak kerjaan. Jadi ya kurus begini. Tapi Ratna kok masih cantik seperti dulu,” jawab saya. saya akui, Ratna, walaupun sudah menjadi seorang iibu dari dua orang anak yang sudah dewasa, namun tetap cantik, langsing dan tak jauh bedanya dengan Ratna pada tahun 1980-an.

Dengan menggunakan motor Varionya, sayapuun dianttarkan ke Hotel Intan, Jl.Sosrokusuman, Malioboro. Kok, hotel kecil? Ya, hotel itu merupakan kenangan bagi saya dan Ratna. Pagi Subuh hotel masih tutup.Lampu luarpun padam. Saya ketuk pintu kacanya  beberapa kali. Akhirnya, pintu dibukakan petugas hotel. Saya langsung pesan kamar nomor 19. Alhamdulillah, kosong. kamar itu adalah kamar kenangan kami. Segera kami masuk ke dalam kamar.

“Oh, Mas Harry. Terasa kita kembali muda seperti dulu,” ucap Ratna penuh rasa haru. Tentu, saya juga merasakan seolah-olah saya berada pada tahun 1980-an. Di kamar itulah saya dan Ratna sering bertemu dan berkasih sayang. Padahal, saat itu saya kos di daerah Lobaningratan.

Sesudah mandi pagi, Ratnapun kemudian mengajak jalan-jalan di Maliboro untuk mencari sarapan pagi. Oh, Yogya ternyata sudah berubah. Jl. Malioboro sudah dilengkapi halte bus TransYogya, semacam busway Jakarta. Cuma, bus tersebut berjalan di kiri jalan campur dengan kendaraan lain.

Akhirnya, saya ,menemukan warteg yang cukup bersih dan nyaman. Saya dan ratnapun memesan ayam goreng plus sambal bajak plus lalapan. Itu makanan kesukaan kami berdua.

“Bagaimana kabar keluarga?” saya memulai pembicaraan sambil menikmati ayam goreng Malioboro.
“Baik-baik saja,Mas Harry. Anak saya yang pertama laki-laki, sudah bekerja di Garuda sebagai pilot. Sedangkan yang kedua,perempuan, bekerja di Hotel Mandarin, Jakarta. Suami mengelola biro tour dan travel.Wiraswasta. Kantornya di Condong Catur dan di sekitar Baciro. Cuma, suami saya meninggal satu tahun yang lalu karena sakit jantung.Kalau Mas Harry bagaimana?” cerita Ratna.

“Syukurlah. Kalau saya sih, punya dua anak.Pertama laki-laki, bekerja sebagai programmer komputer di PT PanSystem,Jakarta.Kedua,perempuan, sudah menikah,bekerja di PT Telkom Tbk. Sedangkan istri saya, tiga tahun yang lalu meninggal karrena kanker otak,” saya ganti bercerita.
“Oh, My God! Rupa-rupanya duda ketemu janda, ya Mas Harry? Ha ha ha…” Ratna tertawa. Sayapun tertawa.

Seperti rencana semula, saya dan Ratnapun melakukan acara “napak tilas”. Mengunjungi tempat-tempat di mana kami dulu sering bertemu. Antara lain ke kampus UGM. Ternyata, jalan masuknya sudah berubah. Kamii tidak masuk, hanya melihat kampus UGM dari kejauhan saja.

Kemudian ke objek wisata Kaliurang. Oh, tak banyak berubah. Kaliurang masih penuh dengan pesona alam yang indah. Dulu, hampir tiap Minggu saya dan Ratna pasti ke sini. Ratna yang saat itu mengenakan T-Shirt biru tua, cvelana jean biru bawah ketat dan mengenakan sepatu hak tinggi, nampak masih secantik seperti dulu.

Siang harinya saya diajak jalan-jalan ke Mal Malioboro. Mirip Mal Blok M tetapi dalam bentuk kkecil.Kira-kira empat lantai. Tidak beli apa-apa. Cuma jalan-jalan dan melihat-liihat. Kemudian ratna mengajak saya ke Mal Ramai, tterutama lantai 2. Khusus counter HP. Di situ saya dan Ratna membeli HP Blackbarry. Maklum, HP kami berdua sudah tergolong jadul. bagi saya, kedua mal tersebut pertama kalinya saya lihat.Maklum, sudah 31 tahun saya meninggalkan Yogya.

Selesai dari Malioboro, terus meluncur ke Pantai Parangtritis. Jalannya lebih bagus dibandingkan tahun 1980-an. Di pantai itu kami punya sejuta kenangan yang tak tterlupakan. Kamipun berfoto di pantai itu. Ttentu, kami meminta bantuan orang yang ada di sekitar pantai itu. Debur ombaknya yang keras membuat saya hidup pada masa lalu saya.

Esok harinya atas saran Ratna, saya pindah ke Hotel Ibis. Ditraktir Ratna. Ttentu hotel yang mahal. Kenapa harus pindah hotel? Karena Hotel Intan tak seperti dulu. Dulu, kamar mandi luarnya ada enam buah, sekarang hanya tiga buah. Tentu, kurang nyaman. Namun yang terkesan yaitu, satu-satunya legawai yang masih di situ yaitu Pak Jani. Umurnya sudah 58 tahun. Dia lupa-lupa ingat dengan saya. Namun ketika saya bercerita tentang masa lalu, Pak Janipun teringat. langsung memeluk saya dengan hangat.

“Dulu, di Utara hotel ini ada Restoran Helen,Pak.Masih ingat,kan? Dulu saya sering makan bersama di restoran iitu bersama Ratna,” saya mengingatkan Pak Jani. Sayapun menambahkan “Dulu, di depan hotel ini ada cewek kos cantik, namanya Suzzy Riesman.Ingat,kan?”.
“Oh,ya,ya,ya…Saya ingat semuanya,” Pak Jani sekarang benar-benar mengingat saya dan Ratna. Itulah, sekelumit dialog saya dengan Pak Jani sebelum meninggalkan Hotel Intan.

Sedangkan di Hotel Ibis ini betul-betul hotel yang sangat mewah. Namun, karena saya ditraktir Ratna, ya mau juga. Hotel yang sangat besar, tempat parkir luas, nyaman dan benar-benar saya merasa sebagai konglomerat. Tidak apa, ratna dulu memang berasal dari keluarga kaya raya di Yogya ini. Warisannya saja bernilai Rp 1,3 triliun. Ternyata Ratna tidak hanya meneruskan usaha suaminya di bidang tour dan travel, tetapi juga kegiatan mengekspor batik, furniture dan kerajinan Yogya ke beberapa negara. Jumlah karyawannya 90 orang.

“Oh,ya.Sekarang 26 Januuari,ya? Selamat hari ulang tahun buat Ratna. Semoga sermakin cantik dan semakin sukses.Wah, tidak sempat membawa kado,nih” saya langsung menyalami dan mencium Ratna.

“Terima kasih, Mas Harry. Nggak uusah kado-kadoan.Kok, seperti anak kecil saja,” sahut Ratna.Katanya lagi “Saya Cuma bisa traktir makan siang,nih Mas. Yuk, kita ke resto yang ada di hotel ini.”. Sayapun keluar dari kamar hotel dan bersama Ratna menuju ke rumah makan yang mewah. Harga makanannya tentu mahal.

YOGYA, 28 Januari 2011. Tanpa terasaa, saatnya pulang ke Jakartapun tiba. Ratnapun mengantarkan saya ke Stasiun Tugu.

“Mas,Harry. Saya benar-benar minta maaf. Dulu, semua demi kebahagiaan ibu saya. Bukan demi saya,” katanya di kereta. Pipinya basah karena air mata.
“Tak apalah.Mungkin Tuhan belum menjodohkan kita,” jawab saya sedih.
“Betapapun juga, Mas Harry adalah cinta pertama saya,” ujar ratna. “Sama. bagi saya, Ratna adalah cinta pertama saya. Sampai kapanpun, saya tak akan melupakan Ratna,” sayapun meyakinkan Ratna.

Dialog di atas sama persis yang saya alamii pada 28 Januari 1980 yang lalu. Bedanya, dulu saya dan Ratna masih muda. Sekarang sudah tua.

Sebelum kereta berangkat, kami saling berpelukan dan berciuman cukup lama. Ratna menangis. Sayapun terharu. Tak lama kemudian, Ratna turun dari kereta yang saat itu akan berangkat. Saya dan Ratna hanya saling melambaikan tangan. Tak lama kemudian keretapun berangkat.

Yah, Yogyakarta boleh berubah. Tetapi, cinta pertama kami berdua, sampai kapanpun tak akan berubah.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973.

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: