CERPEN: Di Detroit Masih Ada Cinta

SATU bulan sesudah saya diwisuda di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, saya menerima banyak surat jawaban dari berbagai perusahaan. Soalnya, sebulan sebelumnya saya mengirim 100 surat lamaran kerja. Namun, ada satu surat yang bukan dari perusahaan. Tulisan tangannya di amplop cukup saya, kenal. Pasti dari Emelin, mantan pacar saya yang sudah tiga tahun putus karena salah faham. Ada apa, nih?
Sayapun membuka surat itu. Dan membacanya. Wow, ternyata Emelin meminta maaf atas ucapan-ucapan yang pernah ditujukan kepada saya tiga tahun yang lalu. Saat kami berdua bertengkar hebat dan berakhir dengan bubarnya hubungan. Yah, karena Emelin meminta maaf, maka sayapun pasti akan meminta maaf. Walaupun tidak tertulis, saya menafsirkan isi surat itu bahwa Emelin ingin kembali lagi. Ingin menjalin hubungan seperti dulu. Kebetulan saya masih jomblo. Kenapa tidak?
Seminggu kemudian, sayapun “terbang” ke Detroit, sebuah yang berada di Negara Bagian Michigan, Amerika Serikat. Sebetulnya saya agak ngeri pergi ke itu, karena menurut informasi yang saya terima, Walaupun ini tercatat sebagai negara industri terbesar di Amerika menurut majalah Forbes. Namun ini masuk dalam daftar yang harus dihindari karena menurut catatan FBI dalam setahun terjadi 43,7 persen kasus pembuhunan dari 100 ribu kasus.

Namun, demi cinta, apapun resikonya, saya harus menemuinya.
Akhirnya, tibalah saya di Detroit .Berlokasi di Sungai Detroit, berhadapan dengan Windsor, Ontario. Pesawat yang saya tumpangipun mendarat di bandara Detroit Metro Wayne. Dan, tak berapa lama kemudian Emelin datang menyambut kedatangan saya. Kamipun saling berpelukan cukup lama. Maklum, tiga tahun tak pernah bertemu.

“Emelin, kamu masih cantik seperti dulu,” kata saya jujur.
“Harry juga…,” jawabnya sambil menatap wajah saya cukup lama.
Sambil ngobrol-ngobrol penuh nada gembira, Emelinpun mengajak saya memasuki taksi bandara. Tak lama kemudian taksi meluncur ke Detroit yang jaraknya sekitar 18 km dari Bandara Detroit Metro Wayne.

“Nggak nyangka, Harry mau datang ke Detroit,” ucap Emelin dengan nada senang.
“Kebetulan ada uang,” jujur jawaban saya. Emelin tertawa kecil.
Emelin memang sejak lulus SMA langsung kuliah di Wayne State University. Entah fakultas apa, saya lupa menanyakannya. Sesudah lulus, bekerja di perusahaan milik pamannya. Sesampai di rumah dan saya meletakkan tas di kamar tidur yang disediakan Emelin, dia langsung mengajak saya jalan-jalan memakai mobil pribadinya.
“Kemana kita?” saya ingin tahu.
“Sudahlah, nanti kan tahu,” masih seperti dulu cara menjawabnya.

Mobilpun terus meluncur tanpa ada kemacetan. Cukup indah juga Detroit. Bahkan terkesan lebih indah daripada Jakarta. Tanpa terasa, mobilpun memasuki tempat parkir.
Ketika saya turun dari mobil, saya terkejut karena saya diajak Emelin Michael Symon’s Roast, Sebuah resto yang termahal di Detroit. Ya, boleh juga sih. Ditraktir kok, rugi kalau menolak. Kamipun memasuki resto yang menurut saya sangat mewah. Dan Emelinpun memesan makanan dan minuman yang dia tahu saya suka. Yang pasti di resto tidak ada nasi pecel ataupun minuman es cendol.

Kami berduapun makan siang bersama sambil bicara-bicara apa saja. Sungguh, menyenangkan sekali. Cinta yang tiga tahun lalu putus, saat itu kembali utuh seperti semula.
Selesai makan siang, Emelin mengajak saya ke Detroit Institute of Arts. Sebuah museum kesenian. Kata orang sih, musuem itu cocok untuk anak-anak. Namun nyatanya, banyak wisatawan dewasa yang datang ke museum itu.

“Fantastis…!” saya berdecak kagum melihat koleksi berbagai macam karya seni yang luar biasa indah. Layaknya pameran karya seni. Benar-benar maha karya. Saya betul-betul menikmati keindahan musem tersebut.
Sesudah dari museum, mobil Emelinpun terus meluncur tenang. Saya kagum, jalan-jalan di Detroit sangat halus bagaikan jalan tol. Tidak tambal-tambal seperti jalan-jalan di Jakarta. Gedung-gedung bertingkatnya juga sudah dibangun sesuai bentuk arsitektur moderen. Futuristik.
“Ke mana lagi kita?”
“Sudahlah, nanti kan tahu…” masih saja Emelin menjawab dengan gayanya seperti dulu. Selalu ingin memberi surprise.

Begitulah, hari itu saya diajak ke Belle Isle. Sebuah pulau dengan taman-tamannya yang indah. Aneka bunga aneka warna warni dan aneka tumbuhan yang di Indonesia tampaknya tidak ada.Pulau yang bersi. Tidak ada sampah seperti di Pulau Seribu.
“Ah, dulu Belle Isle juga merupakan pulau yang jorok dan kotor seperti Pulau Seribu. Namun, sebagian besar sekarang sudah bersih,” Emelin menceritakan taman itu. Dan nyatanya memang taman itu sangat bersih. Sambil jalan-jalan saya terasa berada di sorga.
Menjelang sore, kami kembali pulang ke rumah Emelin, tepatnya rumah pamannya. Sayapun dikenalkan dengan paman dan isterinya. Sangat ramah dan baik. Cuma, karena lama di Detroit, bicaranya lebih banyak menggunakan bahasa Inggeris. Kadang-kadang saya tidak mengerti juga. Untung ada Emelin yang bersedia menerjemahkan.
Begitulah. Satu minggu saya berada di Detroit. Sudah banyak objek wisata yang saya kunjungi. Namun yang terpenting, saya merasa gembira karena bisa kembali ke Emelin. Cewek yang cantik dan cerdas. Enak diajak bicara. Suka tersenyum. Ramah kepada siapa saja.

Cuma, rasa cemburunya besar sekali. Itulah yang menyebabkan dulu saya sering bertengkar. Tapi, Emelin hatinya memang baik. Setahun sekali pulang ke Indonesia. Namun selama tiga tahun sebelumnya, tak pernah mau bertemu dan bicara dengan saya.
Seminggu saya bercinta dengan Emelin. Di Detroit kami berjanji atas nama Tuhan, tidak akan putus lagi. Bahkan, Emelin menginginkan agar saya segera melamarnya. Kedua orang tuanya dinggal di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Semoga.

Sumber foto: iwan2real.blogspot.com
Hariyanto Imadha
Facebooker & Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s