CERPEN : Misteri Jembatan Kali Ketek

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa’ : 29) “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).” (QS. Al-Kahfi ; 6)

BOJONEGORO, 1969. Saat itu saya duduk di bangku kelas 1, SMAN 1. Dulu namanya SMA Negara. Tepatnya saya di ruang 1-4.

“Harry! Kelas ini ada mahluk halusnya,” tiba-tiba Anggraeni yang duduk di sebelah saya berkata pelan. Maklum, saat itu Pak Boediono sedang mengajar di depan papan tulis.
“Banyak?”. Saya ingin tahu. Anggraeni adalah pacar saya sejak saya di bangku SMP Negeri 2. Di SMP-pun saya satu kelas. Bahkan juga satu bangku. Sejak SMP, saya tahu Anggraeni memang mempunya indera keenam, antara lain mampu melihat mahluk halus.
“Ada dua mahluk. Satu mahluk pocong satu lagi berbentuk ular berkepala manusia,” katanya lagi. Pelan.Namun perbincangan berhenti karena kemudian Pak Boediono mengadakan tanya jawab tentang materi pelajaran yang baru saja diajarkan.

Sesudah shalat Jum’at di sekolah, pelajaranpun diteruskan. Pulang sekolah, saya dan Anggraeni dengan masing-masing bersepeda, langsung ke Restoran Orion di Bombok. Makan siang bersama. Seperti biasa, saya dan Anggraeni bersepeda menuju ke jembatan Kali Ketek. Sambil mengayuh sepeda, kami berbicara apa saja. Terasa indah cinta kami berdua saat itu.

Tanpa terasa, kami telah sampai ke jembatan Kaliketek yang terletak di Sungai Bengawan Solo. Tepatnya di sebelah Utara Kota Bojonegoro. Kenapa harus ke jembatan itu? Maklum, tempat pacaran di kota tersebut sangat minim. Paling ke pemandian atau kolam renang Dander. Tapi terlalu jauh, skitar 14 kilometer dari kota. Sedangkan jembatan Kali Ketek hanya sekitar lima kilo dari sekolah..

Akhirnya sampailah ke jembatan itu. Sepeda kami parkir di jalur pejalan kaki. Dulu, jalur pejalan kaki masih bagus. Masih ada kayu-kayu yang bagus dan kuat. Selanjutnya kami memandangi arus sungai yang saat itu cukup deras.

“Harry…! Saya melihat mahluk halus…,” Anggraeni tiba-tiba berbicara lagi.
“Siang-siang kok ada mahluk halus?”. Komentar saya.
“Mahluk halus tidak pernah tidur, Harry”
“Di mana Anggra melihatnya?”
” Di bawah. Paling tidak saya melihat ada empat mahluk halus. Semuanya pocong. Yuk kesana…!”
“Ngapain?”
“Saya ingin ngobrol-ngobrol dengan mereka.” Kalau Anggra bicara seperti itu, bagi saya tidak aneh. Sewaktu masih di SMP-pun pernah ngobrol-ngobrol dengan hantu WC.

Saya dan Anggraenipun mengambil sepeda dan kemudian meluncur menuju ke bawah. Sesudah menyandarkan sepeda, Anggraenipun mengajak saya ke bawah sebuah pohon yang cukup angker. Di situ, Anggraeni mulai bertanya ke mahluk-mahluk halus itu. Seolah-olah berbicara sendiri. Maklum, saya tidak bisa melihat mahluk itu.

Sekitar 15 menit kemudian, Anggraeni mulai bercerita.
“Mereka semuanya cewek. Yang pertama bernama Anisa. Dia meninggal karena bunuh diri. Terjun dari jembatan Kali Ketek. Dia lakukan itu akibat patah hati. Dia hamil, tetapi cowoknya tidak mau bertanggung jawab…”
“Yang kedua?”. Saya ingin tahu.
“Kedua, namanya Wanti. Sri Wanti Agustini. Dia juga bunuh diri. Sebelum terjun dari jembatan, dia minum racun tikus. Dia bunuh diri karena akan dijodohkan dengan ayahnya. Dia tidak mau karena akan dijodohkan dengan lelaki yang sudah punya isteri.”

“Terus?”
“Ketiga. Namanya Sumarni. Penjual jamu. Umurnya 23 tahun. Dia diperkosa oleh pedagang sapi. Dia merasa malu dengan saudara-saudaranya. Tidak tahu apa yang harus diperbuat. Akhirnya dia nekat bunuh diri dengan cara yang sama. Terjun dari jembatan Kali Ketek.”

“Terakhir?”
“Terakhir namanya Sumini. Dia dari desa seberang. Ketika akan ke Bojonegoro berjalan kaki, di tengah jembatan, dia dirampok. Perhiasannya dirampas. Kemudian dia dilemparkan ke Sungai Bengawan Solo”
“Oh,…Mengerikan sekali nasib mereka. Kenapa musti harus bunuh diri? Apakah tidak ada jalan lain?”.Komentar saya.
“Orang yang bunuh diri adalah orang yang mengalami putus asa luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, dia merasa tidak ada jalan keluar yang tepat, kecuali bunuh diri. Biasanya, orang yang bunuh diri adalah orang-orang yang tertutup. Tidak pernah membicarakan secara terbuka masalahnya kepada orang lain. Dipendam sendiri. Akhirnya,merekapun bunuh diri.” Anggraeni bercerita.

Kata Anggraeni, sebenarnya di sekitar Jembatan Kali Ketek cukup banyak mahluk halus bergentayangan. Terutama pada hari Jumat Kliwon. Saat itu mereka berkumpul dan saling berkomunikasi. Mereka memang punya komunitas sendiri.
“Mereka itu mahluk halus yang berasal dari manusia atau setan yang menyamar sebagai manusia?”. saya penasaran. Sebab, guru agama saya pernah bilang bahwa manusia yang sudah meninggal, dunianya adalah alam kubur. Tidak mungkin bisa berada di alam manusia yang masih hidup. Sebab, dimensinya lain.

“Betul Harry. Saya setuju dengan pendapat itu. Mereka sebenarnya bukan jelmaan manusia yang telah meninggal. Tetapi, mereka adalah setan-setan yang bisa mewakili manusia-manusia yang bunuh diri itu. Mereka memalsukan dirinya. Bisa merubah bentuk seperti arwah-arwah yang telah meninggal. Jadi, mereka tahu apa yang dilakukan merekayang bunuh diri.” Cerita Anggraeni yang punya indera keenam.

“Lantas, apa maksud mereka bergentayangan di dunia kita?”
“Setan suka mengganggu orang yang masih hidup.Jangan heran kalau di jembatan itu sering terjadi kecelakaan. Ketika kereta api masih bisa melintasi jembatan itu, banyak orang yang tewas terserempet kereta api. bahkan, ada yang tertabrak langsung. Sejak itulah, maka kereta api tidak boleh lagi melintas di situ. Penduduk terpaksa kalau bepergian naik sepeda, becak atau dokar…”
“Oh, pantaslah. Tak ada lagi kereta api lewat di situ”. Saya manggut-manggut tanda mengerti. Saya yang saat itu punya perpustakaan komik dan buku-buku ilmu pengetahuan, Anggraeni tidak hanya mampu melihat mahluk halus, tetapi juga bisa melihat masa lalu dan masa yang akan datang.

“Oh, ya. Kenapa ya, jembatan ini dinamakan Kali Ketek?”
“Oh, itu sesuai namanya. Dulu, di seberang ana, di Desa Banjarsari dan Desa Kalisari dan desa-desa sekitarnya, masih berupa hutan kecil. Banyak kera atau ketek yang berkeliaran. Dulu jembatan itu berupa jembatan dari bambu. Banyak kera berkeliaran di jembatan itu. Tetapi mereka kera yang baik. Tidak suka mengganggu manusia..”
“Oh, begitu?”

“Lantas, misteri apa lagi yang ada di jembatan ini?”
“Kata ayah saya, kalau malam Jumat akan terdengar suara gending. Tapi kalau kita cari, nggak bakalan ketemu. Ayah saya juga pernah melihat ada dua orang Belanda di jembatan itu, tetapi tiba-tiba menghilang. Atau kadang-kadang ada bau wangi semerbak, tetapi cepat berubah menjadi bau busuk…”
“Kenapa bisa begitu?”
“Kabarnya, dulu banyak pejuang kemerdekaan Indonesia yang dibunuh oleh Belanda di jembatan itu. Ditutup matanya, langsung ditembak…”

“Apa lagi?”
“Ingat peristiwa G-30-S/PKI?”
“Oh, tentu…”
“Nah, di sungai ini, hampir tiap hari kita bisa melihat mayat-mayat mengapung. Tidak hanya satu dua. Tetapi puluhan. Mereka adalah mayat-mayat orang-orang yang diduga atau dipastikan pendukung PKI”
“Oh,ya. Ingat-ingat…”
“Sebagian mayat mereka tersangkut dan tenggelam di bawah jembatan. Jadi, sebetulnya banyak roh-roh di sini. Semakin banyak roh, semakin banyak mahluk halus di sini. Bukan berasal dari roh mereka, tetapi dari mahluk-mahluk halus lainnya.Mereka boleh dikatakan sebagai mediator dari roh-roh manusia dengan kita. Itulah sebabnya, pocong-pocong yang tadi saya ajak bicara, bukan berasal dari manusia yang telah meninggal. Tetapi, mahluk-mahluk halus yang menyamar dan mewakii roh-roh manusia yang meninggal secara tidak wajar…”

Apa yang dikatakan Anggraeni memang sulit dipahami orang biasa. Tetapi, saya yang sejak SMP membaca buku-buku psikologi, terutama yang berhubungan dengan indera keenam, tepatnya ESP (extra Sensory Perception), tentu saya bisa mengerti. Psikologi mengatakan memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan clair voyance, telepati dan lain-lain.

Karena hari sudah sore, saya dan Anggraenipun segera mengayuh sepeda. Menyusuri jalan-jalan Bojonegoro. Menuju pulang ke rumah masing-masing.Anggraeni menuju ke Jl.Dr.Wahidin. Sedangkan saya menuju ke Jl.Trunojoyo No.4 yang sekarang menjadi kantor pajak.

Sumber foto:
1.gambar-gambar-lucu.blogspot.com
2.indowebster.web.id
3. 1.bp.blogspot.com

Catatan:
Cerpen ini merupakan cerita fiktif.

Hariyanto Imadha
Novelis & Cerpenis
Iklan

SASTRA : Apakah Sastra Itu dan Bagaimana Perkembangannya?

TENTU, perkembangan sastra harus dilihat dari keberadaan sejarah sastra itu sendiri. Sesungguhnya tiap karya sastra ditandai adanya sastrawan-sastrawan yang muncul pada era atau tahun-tahun tersebut. Jadi, perkembangan sastra lebih dilihat dari manusia sastranya dan bukan pada karya sastranya sendiri.

Apakah sastra itu?

1.Definisi lama

Sastra merupakan sarana penumpahan ide atau pemikiran tentang kehidupan dan sosialnya dengan menggunakan kata – kata yang indah.Yang terdiri dari tiga macam genre, yaitu genre sastra terdiri dari tiga bentuk (yaitu puisi, prosa, dan drama). Puisi Indonesia dibedakan menjadi puisi lama dan puisi modern. Puisi lama Indonesia umumnya berbentuk pantun atau syair.

2.Definisi baru

Sastra merupakan sarana penumpahan ide atau pemikiran tentang “apa saja” dengan menggunakan bahasa bebas, mengandung “something new” dan bermakna “pencerahan”. Keindahan sastra tidak ditentukan keindahan kata atau kalimat melainkan keindahan substansi ceritanya.

Perkembangan sastra berdasarkan angkatan dan nama sastrawan saat itu

1.Angkatan Balai Pustaka

Sastrawan paling terkenal saat itu: Muhammad Yamin

2.Angkatan Pujangga Baru

Sastrawan paling terkenal saat itu: Amir Hamzah

3.Angkatan ‘45

Sastrawan paling terkenal saat itu: Chairil Anwar

4.Angkatan‘66

Sastrawan paling terkenal saat itu: Rendra

5.Angkatan ’70-an

Sastrawan paling terkenal saat itu: Sutardji Calzoum Bachri

6.Angkatan ’90-an

Sastrawan paling terkenal saat itu: Sides Sudyarto D.S.

7.Angkatan‘2000-an

Sastrawan paling terkenal saat itu: Nenden Lilis Aisyah

 

Perkembangan sastra menurut bentuknya

1.Sastra lama

-Puisi : Masih terikat ketentuan 1 bait harus 4 kalimat dan huruf akhirnya harus sama

-Prosa : Menggunakan kalimat-kalimat yang indah

2.Sastra baru

-Puisi : Puisi bebas. Tidak terikat lagi oleh keharusan 1 bait harus 4 kalimat dan huruf akhir tidak selalu sama. Tetapi masih mengobral keindahan kata

-Prosa: sama dengan puisi. Kalimatnya sudah bebas. Tidak mementingkan keindahan kata.

3.Sastra moderen

-Puisi : Mulai bernuansa kritik, terutama kritik sosial

-Prosa: Lebih banyak bercerita tentang masalah sosial dan cinta.

4.Sastra kontemporer

-Puisi : Bahasa bebas. Tidak perlu menggunakan kata-kata yang indah. Lebih mementingkan substansi daripada bentuk. Kritik bebas. Bernuansa menghendaki adanya perubahan. Ada sesuatu yang baru. Lebih bersifat pencerahan.

-Prosa : bahasa bebas. bahkan sebagian menggunakan bahasa gaul. Lebih menitikkan substansi. Tidak harus cerita cinta, tetapi apa saja.Ada sesuatu yang baru. Lebih bersifat pencerahan.

Apakah novel itu?
MENURUT pengamatan saya, apa yang dijual di toko buku dan dikelompokkan dalam buku novel, ternyata sebenarnya bukanlah novel. Ada anggapan keliru yang mengatakan bahwa novel adalah cerita yang panjang. Bahkan itu merupakan pengalaman pribadi. Ceritanyapun klise. Tidak ada karakterisasi. Lebih parah lagi tak ada pesan maupun sesuatu yang baru.

Apakah novel itu?

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita”.

Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.

Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Novel)

Jadi, apakah unsur-unsur daripada sebuah novel?

Antara lain:

-karya fiksi

-berbentuk prosa

-naratif

-lebih komplek daripada cerpen

-tidak ada batasan struktural dan metrikal

-menonjolkan karakter tiap pelaku

-ada pesan yang disampaikan

-ada sesuatu baru

-inspiratif

-ada unsur pencerahan

Kelemahan novel masa sekarang

Cukup banyak novel yang sebenarnya kurang begitu berbobot karena di samping tidak memenuhi berbagai ciri novel, juga karena:

-ceritanya klise

-jalan ceritanya mudah ditebak

-tidak ada sesuatu yang baru

-apa yang diceritakan sudah biasa terjadi

-kebanyakan hanya bercerita tentang cinta tanpa variasi lain

-tidak memberikan pencerahan kepada pembaca

-tidak didukung sebuah penalaran yang logis dan benar

-tidak menambah pengetahuan baru bagi para pembacanya

-tidak meluruskan pandangan-pandangan yang keliru

-dialognya bertele-tele dan tanpa makna

Penilaian novel yang keliru

Banyak pembaca mengatakan novel yang dibacanya bagus, hanya karena jalan ceritanya menarik. Padahal dari segi kualitas novel tersebut tak ada bobotnya.

Bukan sarjana sastra

Kalau boleh jujur, saya katakan bahwa novel-novel yang dijual di toko buku, dibuat oleh bukan sarjana sastra. Mereka tak faham linguistik dan bagian-bagiannya. Tak mengerti logika bahasa.Tak faham psikologi kata. Tak menguasai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak menguasai sistimatika alur cerita. Menggunakan dialog-dialog yang bertele-tele tapi tanpa makna.

Penerbit komersial

Celakanya, kebanyakan penerbit juga bukan sarjana sastra.Mereka lebih mementingkan segi komersil. Lebih mementingkan nama penulis novel yang sudah terkenal. Atau memilih judul yang “bombastis”. Atau karena faktor nepotisme. Bahkan ada penerbit yang menerbitkan buku-buku di mana biaya penerbitannya dibayar sepenuhnya oleh penulis novel hanya karena penulisnya orang kaya dan ingin terkenal (terutama buku-buku para politisi).

Hanya pembaca yang cerdas

Kualitas sebuah novel, hanya bisa diketahui oleh pembaca novel yang cerdas, terutama punya latar pendidikan fakultas sastra, atau punya penguasaan sastra yang baik atau seorang otodidak yang punya wawasan pikir yang sangat luas. Mereka tahu, mana novel yang berkualitas dan mana novel picisan.

Beda puisi dan sok puisi

SAYA punya teman. Kalau soal lukisan, memang dia jagonya. Apa alirannya, tidak jelas. Tapi soal puisi, jelas bukan puisi dalam arti sesungguhnya. Hanya kumpulan katayang tak jelas maknanya. Hanya menonjolkan indahnya kata tanpa arti. Jelas, teman saya tak besa membedakan mana yang pusi dan mana yang sok puisi.

Beda puisi dan sok puisi.

Puisi

-Menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat biasa yang mudah dipahami.

-Tata bahasanya benar.

-Istilah yang digunakan benar.

-Menggunakan kata atau kalimat yang mudah dipahami

-Tiap kata dan kalimat ada arti atau maknanya

-Tiap kata dan kalimat tak pernah menyimpang dari judul

Contoh

“Negeri Para Begundal”

Kita ini hidup di negeri begundal

Pejabatnya sibuk mengurusi politik sundal

Rebutan jabatan dan berlomba hidup royal

Dengan cara main suap atau saling jegal

Kita ini hidup di negeri sundal

Pemilu berantakan dikatakan normal

Rakyat dibohongi lembaga survei yang tak bermoral

Karena dibayar oleh politikus bermoral kadal

Kita ini hidup di negeri abnormal

Orang salah dapat jabatan orang benar terpental

Mau jadi polisi,mau jadi PNS,mau jadi TNI, rumah dan tanah terjual

Karena oknum pejabatnya sudah rusak mental

Kita ini hidup di negeri terpental

Rakyat dibohongi angka-angka statistik yang tak masuk akal

Padahal utang bangsa kita sudah sangat fatal

Pemilu banyak menghasilkan pemimpin dan wakil rakyat yang begundal

Oleh: Hariyanto Imadha

Sok puisi

-Menggunakan kata atau kalimat berbunga-bunga

-Menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang sulit dipahami.

-Tata bahasanya sering keliru.

-Istilah yang digunakan kadang keliru.

-Tiap kata dan kalimat kurang atau tidak ada arti atau maknanya

-Tiap kata dan kalimat terkadang menyimpang dari judul.

-ATidak ada pesan yang disampaikan

Contoh

“Pelangi Sendu Beratap Gulana”

ketika sepi menyendiri menepi tanpa kisi-kisi

sembilu merah mengalir darah

terlunta kata dan cinta

terpana masa lama yang sirna

entah kapan buaian itu berhenti

tanpa kinanti mengguncang harap

tertata rindu kecup di birunya langit

kelam,kelam dan kelam

terantuk tergaruk dan luka lecet di jari kelingking

menggapai rindu tepian laut

ketika debur ombak berhenti bernafas

bertebar galau merebak jiwa

o,sendunya,sendunya

tak terkatakan kemana cinta berlari

dari ujung makam hingga rel kereta api

hanya noda cinta memagut harap

nan jauh dari kilau fatamorgana

Oleh: Gatoloco Dot Com

Nah, semoga Anda bisa membedakan mana yang “puisi” dan mana yang “sok puisi”

Semoga bermanfaat.

Kesimpulan

1.Selama ini perkembangan sastra hanya dilihat dari nama sastrawan dan angkatannya. Tidak berdasarkan perkembangan adanya perubahan bentuk ataupun substansi.

2.Yang terpenting, perkembangan sastra harus dilihat dari substansinya, bentuknya, muatannya, misinya,tujuannya dan manfaatnya .

3.Jadi, di era sekarang, sastra seharusnya tidak hanya bicara tentang cinta, tetapi tentang “apa saja” dengan menggunakan bahasa yang bebas dan seharusnya memiliki “something new”.

4.Sampai hari ini, masih banyak pengarang yang belum memahami perkembangan sastra dari waktu ke waktu, sehingga karya-karyanya masih berkiblat pada sastra “tempo doeloe”.

Artikel ini merupakan hasil analisa penulis sesudah membaca berbagai artikel tentang sastra,sastrawan,bentuk sastranya,periodesasi sastranya dan perubahan bentuk dan substansi sastranya.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha
Novelis dan cerpenis
Sejak 1973

CERPEN : Perjalanan Menuju ke Neraka

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dar siksa kubur dan siksa neraka, dari fitnah hidup dan fitnah mati serta dari fitnah al-Masih Dajjal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

JEMBER 1988. Saat itu saya bekerja sebagai Konsultan Mapatda, salah satu proyek Dirjen PUOD, Departemen Dalam Negeri. Saya ditugaskan di Kantor Dispenda. Saat itu bupatinya Bapak Soerjadi. Dan Kepala Dinas Dispenda, Bapak Zaenuri.

Seperti biasa, tiap Sabtu saya berlibur ke Surabaya. Dari terminal Jember, naik bus Sumber Kencono. Lima belas menit sesudah bus berjalan, saya punya perasaan yang tidak enak. Entah apa, saya tidak bisa menjabarkan perasaan itu.

Tiba-tiba, semua penumpang berteriak histeris. Dan sayapun tiba-tiba tidak ingat apa-apa. Beberapa saat kemudian, dari lihat saya melihat bus bertabrakan dengan truk bermuatan semen dari arah yang berlawanan. Bus dan truk sama-sama hancur.

Betapa terkejut saya ketika melihat semua penumpang tewas. Lebih terkejut lagi ketika saya melihat tubuh saya di dalam bus dalam keadaan terlentang di bangku.

“Oh,Tuhan? Saya sudah meninggal? Innalillahi wa inilahi rojiun…”. Tersadar. Saya telah meninggal. Terasa rohku ringan sekali. Bisa melayang-layang seperti burung. Untuk berjalan, cukup mengendalikannya dengan “kemauan”.

Selanjutnya saya melihat, semua korban dibawa ke rumah sakit, termasuk tubuh saya. Berdasarkan KTP, maka pihak rumah sakit menghubungi kepolisian kota Bojonegoro, kemudian pihak kepolisian memberitahukan ke kedua orang tua saya.

Esoknya, kedua orang tua saya dating ke Jember, membawanya pulang dan kemudian tubuh saya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Rider, Jl. Teuku Umar, Bojonegoro. Saya melihat kedua orang tua saya, saudara-saudara saya, family-famili saya dan teman-teman saya berdoa dan menaburkan bunga di makam saya.

Hari-hari selanjutnya saya berada di alam yang sangat gelap. Alam kubur. Hingga dating cahaya sedikit demi sedikit.Saat itu hubungan dunia sudah terputus.Tidak ada istilah lapar ataupun haus. Tak ada istilah kemarin, sekarang atau besok. Tak ada lagi istilah Senin, Selasa hingga Minggu. Dunia alam kubur samasekali lain.

Hingga datanglah saatnya. Semua roh dikumpulkan di alam Barzakh. Yaitu di mana semua roh menunggu adzab ataupun nikmat.

Tahap berikutnya, saya mendengar tiupan sangkakala yang ditiup Malaikat Israfil. Matilah semua yang di langit Dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT. Seluruh alam semesta hancur lebur. Saya tersadar, itulah kiamat qubro. Kemudian, alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.

“Oh, Tuhan…Ampunilah segala dosa saya…”. Saya hanya bisa berdoa.

Maka tiba-tiba saya keluar dengan segera dari kubur dan  menuju kepada Rabb . Itu terjadi saat sangkakala ditiup untuk yang kedua kalinya. Saya sadar, itulah hari berbangkit. Ternyata, saya berkumpul dengan banyak orang dalam posisi berdiri pada sebuah bumi yang lain. Sebuah bumi yang saya belum pernah melihat. semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Di bumi yang baru ini cukup lama. Karena amat lamanya Hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja. Terasa siang terus menerus.

Saat itu saya risau karena tidak mendapatkan syafaat. Berarti, selama saya hidup, saya tergolong  musrik, kafir dan munafik. Oh, Tuhan. Selanjutnya saya memasuki tahap dihisab di mana saya harus berkata jujur. Tidak bisa berbohong. Semua saya akui, termasuk perbuatan korupsi. Saya juga bicara jujur jarang shalat, jarang puasa, jarang ke masjid, jarang berzakat. Tidak mungkin berbohong. Saya hanya bisa menyesal sambil berlutut. Saya menyesal. Saya menangis. Semua catatan kehidupan saya, lebih banyak buruknya daripada baiknya. Semua catatan perilaku semasa hidup telah saya terima dan tidak mungkin saya ingkari. Saya baru sadar, semasa hidup, malaikat terus menerus mencatat perilaku saya.

“Oh, Tuhan. Ampunilah dosa saya,” sebuah penyesalan yang sangat terlambat.

Tahap berikutnya saya menghadapi tahap Mizan, di mana Tuhan letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya.

Tahap berikutnya, semua roh harus melewatan jembatan Shirat. Sebuah jembatan selebar rambut dibelah tujuh dan berada di atas api neraka. Siapa yang berhasil melewati jembatan Shirat, akan langsung memasuki jannah atau sorga dan yang gagal akan terjatuh ke neraka jahanam.

Saya sempat melihat, ayah, ibu dan saudara-saudara saya telah berhasil melewati jembatan shirat dengan selamat. Mereka telah diterima di sorga. Sementara saya masih tertatih-tatih melewati jembatan itu.

Ketika tepat di tengah jembatan Shirat, sayapun terpeleset dan jatuh ke bawah.

“Oh, bapak…ibu….Maafkan segala kesalahan saya….! Oh,Tuhan…ampuni segala dosa saya…!”. Saya berteriak histeris.

Terlambat. Saya telah terjatuh di neraka. Sebuah dunia yang luar biasa panas. Berbagai siksaan saya alami. Semua akibat dosa-dosa yang pernah saya lakukan, termasuk korupsi, malas shalat, malas berpuasa, malas berzakat dan perilaku buruk lainnya. Sakit sekali.

Tiba-tiba…Saya meliihat sesuatu yang lain. Saya melihat ada televisi. Ada laptop di atas meja. Ada segelas kopi. Ada kue-kue. Ada di jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul 01:30 WIB.

“Astaga! Saya bermimpi…”.

Saya menganggap mimpi itu sebagai teguran keras. Dan kalau saya terbangun dini hari setelah tidur, maka saya harus melakukan sesuatu. Saya ambil air wudlu. Sayapun shalat tahajjud.

Catatan:

Cerpen ini merupakan cerita fiktif yang diilhami sebuah artikel di http://www.taushiyah-online.com

Sumber gambar: newyorkermen.multiply.com

Hariyanto Imadha

Novelis dan Cerpenis

CERPEN : Tragedi Wisma Nusantara Jl.MH Thamrin Jakarta Pusat

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS. As Syura, 42 : 30)

SEPULUH tahun sebelum terjadinya kasus ditabrakkannya pesawat ke Gedung WTC, Amerika, oleh para teroris, saya sudah mimpi tentang hal itu. Dan apa yang saya lihat di televise, persis apa yang saya lihat dalam mimpi. Namun mimpi yang saya alami bukanlah mimpi dalam keadaan tidur, tetapi justru dalam keadaan tidak tidur. Di dalam psikologi ada istilah “clair voyance”. Mungkin itu salah satu kelebihan yang saya miliki. Itulah sebabnya saya terhindar dari kecelakaan ketika akan naik bus Sumber Kencono dari terminal Jember, Jawa Timur. Juga beberapa kejadian lainnya.

Satu bulan sesudah terjadinya kasus Gedung WTC, saya “bermimpi” lagi. Saya melihat sebuah pesawat terbang menabrak Wisma Nusantara, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Bukan perbuatan teroris.Melainkan karena pesawat tersebut mengalami kerusakan mesin dan peralatan lainnya.

Saat itu, sekitar pukul 11:00 WIB. Semua karyawan Wisma Nusantara sedang sibuk bekerja. Ada juga yang bekerja sambil tertawa. Mereka tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Sayapun segera menelepon Dhea, pacar saya yang bekerja menjadi sekretaris salah satu perusahaan di situ. Tepatnya di lantai 16.

“Dhea…!”

“Ya, Dhea di sini. Ada apa, Harry?”

“Tolong, segera tinggalkan Wisma Nusantara segera. Akan terjadi musibah besar…”
“Musibah apa?”

“Jangan Tanya…! Dhea hanya punya waktu 10 menit untuk meninggalkan Wisma Nusantara…”

Tidak hanya Dhea yang saya beritahu. Resepsionis Wisma Nusantara juga sudah saya hubungi dan agar segera mengumumkannya ke semua karyawan yang bekerja di Wisma Nusantara. Saya beritahu, hanya ada waktu 10 menit untuk segera meninggalkan gedung itu.

Dhea yang tahu bahwa saya memiliki indera keenampun menyanggupi segera meninggalkan kantor. Tak lama kemudian Dhea berlari kea rah saya di mana saat itu saya sedang menunggu di halaman Hotel Indonesia. Saya dan Dhea segera menyiapkan kamera masing-masing untuk mengabadikan tragedi itu.

Sayapun melihat sekitar dua ratus karyawan berlari terburu-buru meninggalkan gedung itu. Terlalu sedikit, sebab di gedung itu ada ribuan karyawan. Mungkin mereka tidak percaya apa yang saya katakana dan diteruskan oleh resepsionis gedung itu.

Benar! Sekitar satu menit kemudian, sebuah pesawat terbang terbang sangat rendah dari arah Timur. Dan…Seperti yang saya lihat di dalam “mimpi”, pesawat itu menghantam gedung. Sebuah ledakan besar terdengar. Memekakkan telinga. Diikuti semburan api merah menyala dan asap hitam membubung ke langit. Dan sebagian tubuh pesawat rontok ke bawah. Sebagian gedung itupun hancur lebur.

“Oh, Tuhan…!” Teriak Ghea dan beberapa orang yang ada di halaman Hotel Indonesia. Saat itupun suasana menjadi gempar. Beberapa mobil yang diparkir di gedung itu hancur lebur tertimba rontokan pesawat dan rontokan gedung. Lalu lintas menjadi macet karena banyak yang ingin melihat apa yang sedang terjadi.

Saya dan Ghea melihat, gedung yang semula menjulang tinggi, sedikit demi sedikit akhirnya ambruk rata dengan tanah. Sebagian bangunan di sebelahnya terbakar hebat. Suasana menjadi sangat mengerikan.

Baru 30 menit kemudian polisi bermotor berdatangan untuk mengatur arus lalu lintas. Puluhan ambulan segera mendekati gedung itu. Dua buah helicopter berputar-putar di atas puing-puing gedung. Memantau tragedi itu. Ribuan orang, tanpa diperintah segera memberikan bantuan. Tubuh-tubuh, baik yang sudah meninggal, pingsan, terluka, lemah, apapun kondisinya segera di selamatkan ke tempat agak jauh. Bagi yang masih hidup tapi terluka segera dimasukkan ke ambulan dan segera dibawa ke rumah sakit.

“Oh, Tuhan…Kenapa ini harus terjadi? Kenapa Harry tidak member itahu pihak Wisma Nusantara satu minggu sebelum kejadian?”. Tanya Ghea setengah protes.

“Sebenarnya, satu bulan sebelum kejadian, saya sudah memberitahukan ke pihak manajemen Wisma Nusantara, tetapi tidak ditanggapi. Saya sudah mengirim beberapa surat pembaca ke berbagai surat kabar, tapi tidak dimuat. Mungkin mereka tidak percaya…”. Saya menjelaskan ke Ghea bahwa saya sebetulnya telah berusaha memberitahukan ke pihak manajemen Wisma Nusantara.

Peristiwa itu benar-benar seperti yang pernah saya mimpikan beberapa waktu sebelumnya.

“Mas Harry sering mengalami isyarat kejadian yang akan terjadi…?”. Ghea ingin tahu.

“Kan, saya sudah pernah ceritakan semuanya. Mulai dari SD hingga lulus universitas, sudah puluhan kali saya mendapat mimpi tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi. Misalnya, 15 tahun sebelum Megawati terpilih sebagai presiden, saya sudah bercerita ke banyak orang. Tetapi, mereka tertawa…Tidak percaya…Saya dianggap pembual dan pengkhayal…”

“Oh, ya,ya. Ingat…” Komentar Ghea. Kami berdua masih tetap di halaman Hotel Indonesia. Kami melihat sudah ada ratusan wartawan, reporter televise, mengambil gambar itu. Mungkin ada puluhan ribu orang memadati Jl.MH Thamrin. Jalan-jalan di sekitarnya macet total.

“Clair voyance itu apa sih,Harry?”

“Clair voyance adalah kemampuan untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu secara langsung tanpa melalui indera.Baik yang sudah terjadi, sedang terjadi maupun akan terjadi”

“Apakah clair voyance bias dipelajari?”. Ghea penasaran.

“Clairvoyance merupakan kemampuan indera ke-6 manusia untuk melihat dengan menggunakan feeling. Semua orang punya indera ke-6 tersebut. Yang penting perlu latihan. Namun, kalau punya kemampuan clair voyance sejak lahirt, tentu tidak perlu belajar. Tinggal mengembangkan…”

“Wow,…boleh dong Ghea diajari,” pinta Ghea yang cantik itu.

“Boleh…”. Singkat jawab saya. Saya lihat Ghea tersenyum senang.

Sementara itu. Kerumunan masyarakat semakin lama semakin padat. Sebagian korban terpaksa dievakuasi memakai helicopter. Suasananya masih mencekam. Kejadiannya benar-benar mirip terjadinya pesawat terbang yang ditabrakkan ke Gedung WTC, Amerika. Ribuan orang di Gedung WTC tewas. Mungkin tidak ada satupun yang selamat. Namun kabarnya, ribuan orang Israel saat kejadian, sedang berlibur. Entah libur apa. Tampaknya mereka sudah tahu akan terjadinya peristiwa itu.

Sampai sore, kerumunan masyarakat mulai berkurang. Lalu lintas mulai lancar. Mobil, motor sudah bias melewati Jl. MH Thamrin dan sekitarnya. Ratusan polisi tetap berjaga-jaga. Semua punya kesibukan sesuai tugas masing-masing. Boleh dikatakan tak ada lagi wartawan ataupun reporter televise.

Saya dan Ghea kemudian menuju ke mobil yang saya parker di Hotel Wisata, belakang Hotel Indonesia. Sayapun kemudian mengantarkan Ghea pulang ke rumahnya di kawasan Pondok indah. Kemudian saya menuju pulang ke rumah saya di kawasan BSD City, Tangerang Selatan.

Catatan:

Apa yang saya ceritakan di atas adalah sebuah mimpi yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Dan mimpi itu selalu terjadi berulang kali. Mungkin sudah sepuluh kali. Mimpinya sama persis. Mungkinkah mimpi buruk saya itu akan menjadi kenyataan? Mungkinkah Wisma Nusantarta akan benar-benar akan ditabrak pesawat terbang? Mungkinkah? Wallahu’alam bishawab.

Sumber foto:

1.Pesawat:akhyaree.multiply.com

2.Wisma Nusantara: sangoperator.blogspot.com

3.Gedung WTC: moeflich.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Facebooker & Blogger.

HUMOR: Sekitar Fatwa Haram Merokok


Si A dan Si B adalah dua sahabat baik. Di mana ada Si A, di situ ada Si B. Atau sebaliknya, di mana ada Si B, di situ pasti ada Si A. Keduanya adalah perokok berat.

Sayang, nasib orang memang sulit ditebak. Si A akhirnya meninggal dunia akibat kebanyakan merokok. Jenasahnya akhirnya dikubur di makam di RT 001/RW 007.

Dua bulan kemudian Si B juga meninggal. Penyebabnya sama, yaitu akibat terlalu banyak merokok. Jenasah Si B pun dikubur di tempat yang sama.

Masalahnya adalah, ada perlakuan yang berbeda di akherat. Si B dimasukkan ke neraka, sedangkan Si A berada di sorga. Padahal mereka punya dosa yang sama dan perokok berat.

Si A protes ke malaikat:

“Malaikat!Protes! Dosa saya dan dosa Si A sama! Kami berdua juga sama-sama perokok berat. Kenapa Si A masuk sorga sedangkan saya dimasukkan ke neraka?

Jawab malaikat:

“Si A meninggal sebelum ada fatwa haram merokok dari Majelis Ulama Indonesia. Sedangkan ente meninggal sesudah ada fatwa tersebut”

Si A tetap memprotes malaikat:

“Kalau begitu, yang menentukan manusia masuk sorga atau neraka itu MUI atau Tuhan,malaikat?”

Jawab malaikat:

“Tidak tahu. Tanya saja sama MUI”

Sumber foto: fransnoel26102008.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN : Tuhan Kenapa Rezekiku Seret?

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad).

SUDAH enam bulan ini saya berlangganan kue bacang . Penjualnya menggunakan sepeda onthel dan tiap hari lewat depan rumah. Paling tidak, seminggu tiga kali saya membelinya. Lumayan buat sarapan pagi. Di samping rasanya enak, harganya juga terjangkau. Penjualnya bernama Wagimin. Usia sekitar 25 tahun. Sudah berkeluarga dengan seorang anak berusia balita.

Suatu hari sesudah membayar kue bacang, Wagimin menatap rumah saya.

“Wah, enak ya,Pak. Punya rumah bertingkat. Punya mobil.Uang banyak. Tidak seperti saya.Tiga tahun saya berjualan bacang, nasib saya tidak berubah.” Keluhnya.

“Ya, rezeki orang kan berbeda-beda. Kalau mau berusaha pasti rezeki akan dxatang. Tuhan tidak pernah keliru membagikan rezeki asal manusia mau berusaha,” saya mencoba memberikan semangat.

“Saya sih, sudah tiga tahun berusaha, Pak. Tapi nasib tetap begini-begini saja. Tempat tinggal Cuma sewa rumah kontrak. Rumah petak yang kecil. Sedangkan penghasilan saya tidak mencukupi. Apalagi kalau isteri atau anak sakit, terpaksa harus utang ke sana kemari…” Wagimin terus mengeluh.

Sesaat saya terdiam. Sebetulnya saya malas melanjutkan perjalanan karena pagi itu saya ada acara. Ada janji akan ke rumah teman saya di Pamulang tak jauh dari rumah saya di BSD Nusaloka, Tangerang Selatan. Namun saya sadar, saya punya kewajiban untuk memberikan semangat dan motivasi kepada siapa saja. Apalagi, hati kecil saya mudah tersentuh dan terharus melihat kesulitan yang dialami wong cilik.

“Mungkin ada nasehat,Pak Harry?”. Pertanyaan Wagimin mengejutkan saya yang sedang melamun.

“Oh, ya ya ya…Saya mau tanya dulu. Agama Wagimin apa?”

“Islam, Pak?”. Wagimin menjawab singkat.

“Rajin shalat lima waktu?”

“Wah, sangat jarang,Pak. Seminggu satu kali itu sudah hebat…”
“Nah, kamu minta rezeki tetapi kamu tidak mau melakukan kewajibanmu. Kalau rezeki mau lancar, lakukan semua perintah Tuhan. Jauhkan semua larangannya…”

“Oh, begitu ya,Pak? Akan saya coba. Terima kasih,Pak Harry…”. Wagiminpun melanjutkan perjalanannya menawarkan kue bacang. Dia memang Cuma berjualan kue bacang. Tidak ada kue-kue lain. Itu kue buatan isterinya.

Sebulan kemudian, Wagimin tanya lagi.

“Pak Harry. Saya sudah rajin shalat. Bahkan rajin shalat Jum’at. Kok, tetap tidak ada perubahan? Justru saya terlibat utang gara-gara anak saya sakit. Buat beli obat…” Keluhnya. Sebenarnya saya ingin bersikap masa bodoh. Tetapi, hati kecil saya mengatakan saya wajib memberinya semangat.

“Tentu, Tuhan tidak akan langsung mengabulkan. Berarti masih ada hal-hal lain yang perlu kamu lakukan. Coba, jangan Cuma berjualan kue bacang. Tambah kue yang lain. Misalnya, lemper dan arem-arem. Bisa kan isterimu membuat lember dan arem-arem?”. Saran saya secara rasional saja.

“Oh, bisa,Pak Harry. Akan saya coba”.

Sebulan kemudian, Wagimin bercerita kalau rezekinya sudah mulai meningkat. Sudah bisa membayar utang.

“Terima kasih, Pak Harry. Saya sudah bisa melunasi utang. Bahkan sudah bisa menabung. Namun rezeki saya masih tetap seret. Sebab, kebutuhan hidup terus meningkat. Apalagi, akhir-akhir ini isteri saya juga kadang-kadang sakit. Apalagi adik saya dari kampung ikut datang dan bertempat tinggal di rumah petak saya…”. Lagi-lagi Wagimin mengeluh.

“Begini, ya. Rezeki seret sebabnya banyak. Antara lain jenis kue yang kamu jual kurang banyak, kurang berkualitas dan semacamnya. Tapi kalau saya lihat kuemu selalu habis terjual, pasti penyebabnya bukan itu. Jangan lupa, mungkin di masa lalu kamu punya dosa. Cobalah meminta maaf kepada kedua orang tua. Kalau orang tua sudah meninggal, doakan semoga semua dosa-dosa kedua orang tuamu dimaafkan Tuhan. Yang lebih penting lagi, kamu juga harus meminta maaf dan meminta pengampunan kepada Tuhan agar semua dosa-dosamu diampuni Tuhan…”. Begitulah, nasehat yang bisa saya berikan ke Wagimin.

“Bagaimana caranya,Pak?”

“Yah, banyak-banyaklah beristighfar…”

“Bagaimana caranya,Pak? Saya bukan lulusan ponpes sih, Pak”

“Baca saja ‘Astaghfirullah” seratus kali perhari. Sepuluh kali sebelum dan sepuluh kali sesudah shalat fardlu…”.

“Oh, ternyata mudah, ya,Pak? Saya baru tahu….”

Sebulan kemudian, Wagimin bercerita kalau ada hal-hal aneh yang dialami. Antara lain, kok tiba-tiba ada orang berbaik hati kepadanya. Misalnya, ada tetangga menawarkan bea siswa untuk adiknya yang baru lulus SMP dan tidak punya uang untuk melanjutkan ke SMA. Juga, tiba-tiba kalau membeli beras atau beras ketan, dia mendapat diskon walaupun jumlahnya tidak banyak.

“Wah, betul, Pak Harry. Banyak kejutan-kejutan yang saya alami. Bahkan saya sudah mulai bisa menabung. Barngkali ada saran lainnya,Pak?”

“Wah! Saya ini juga bukan lulusan ponpes. Saya bukan ustadz. Saya bukan ulama.Saya juga belum naik haji. Cuma, dari buku-buku yang saya baca, dan juga saya lakukan, cobalah baca ‘ Sayyidul Istighfar’.Insya Allah, Tuhan akan mempermudah segala urusan”

“Wah, boleh, Pak. Bagaimana doanya?”

Sayapun masuk ke rumah sebentar untuk mengambil kertas dan ballpoint. Kemudian saya menulis doa tersebut lengkap dengan artinya.

“Sabar,ya?”. Kata saya sambil menulis di meja kecil dekat garasi mobil.

Bunyinya:” “Allahumma anta Rabbi Laa ilaaha illa anta, Kholaqtanii, wa anaa abduka, wa anaa ‘alaa ‘ahdika, wa wa’dikaa maa astato’tu, a’udzubikaa min sari maa shona’tu, abuuka laka, bib’matika ‘alayyaa wa abuuka bidanbii fghfirlii fainnahu la yaghfiruddunuuba illa anta.”

Artinya:

“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, Tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku dan akulah hamba-Mu. Akan kutepati janjiku (kepada-Mu) dengan seluruh kemampuanku.Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan-kejahatan yang telah kuperbuat. AKu mengakui di hadapan-mu anugerah yang Engkau limpahkan kepadaku.Kuakui dosa-dosaku. Ampunilah dosa-dosaku. Karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosaku selain Engkau.”(HR. Bukhari dan Nasai).

Sayapun memberikan kertas itu ke Wagimin sambil berpesan.

“Tapi tolong,ya. Tanyakan dulu ke ulama atau orang yang faham. Tolong dikoreksi, benar atau salah doa itu. Saya manusia biasa, bisa salah. Maaf kalau salah…”.

Sesudah itu, saya tidak pernah lagi bertemu dengan Wagimin. Entah kemana, saya tidak peduli. Terpaksa saya beli bacang dari penjual yang lain.

Enam bulan kemudian, ketika saya naik motor menuju ke toko material, tiba-tiba saya disalip motor dan mendadak berhenti tepat di depan motor saya. Semula saya terkejut dan ingin marah. Tetapi ketika pengendaranya membuka helmnya, sayapun terkejut.

“Maaf, Pak Harry. Saya Wagimin…”. Dia mendekati saya sambil tersenyu, Dijabatnya tangan saya.

“Wah, sudah punya motor,ya?”. Puji saya.

“Ya, motor kredit, Pak. Oh, ya,Pak. Saya dapat kerja di perusahaan karpet di Tangerang. Gaji lumayan. Sebagian untuk kredit motor. Bisnis jualan kue bacang saya operkan ke tetangga saya, Pak…”
“Oh, syukurlah kalau begitu…Semoga semakin sukses…”.
“Ya, semua berkat saran, nasehat dan motivasi dari Pak Harry. Terima kasih atas kebaikan Pak Harry memberikan saya solusi…”
“Hallah…!Kalau mau berterima kasih, berterima kasihlah kepada Tuhan. Karena Tuhanlah yang mendatangkan rezeki…”

“Iya, Pak. Saya betul-betul merasakan keajaiban-keajabaiban sesudah membaca Sayyidul Istighfar. Demi Allah, Pak. Saya tidak berbohong…”

“Ya, iyalah. Yang penting jangan berhenti sampai di sini saja. Kamu harus punya target punya rumah sendiri…”.
“Iya, Pak. Saya juga sudah mengkredit tanah milik tetangga saya. Tanah di perkampungan, Pak…”
“Nggak apa-apa,yang penting nanti punya tanah sendiri.Punya rumah sendiri.”
“Iya, Pak. Sekarang saya juga sudah pindah tempat. Kontrak rumah yang agak besar dekat pabrik dan dekat sekolah adik saya…”

Setelah bgobrol ngalor ngidul, Wagiminpun pamit untuk melanjutkan perjalanan.

“Alhamdulillah….”. Kata hati saya.

Sayapun melanjutkan perjalanan m,enuju ke ruko untuk membeli barang-barang tertentu.

Hariyanto Imadha

Facebookert & Blogger

HUMOR: Bangsa Indonesia Terpuruk Akibat Lagu dan Dongeng Anak-Anak

TAHUKAH Anda, bangsa Indonesia terpuruk bukan karena moral bejat, iman yang tipis, tetapi karena akibat dari lagu anak-anak? Kok bisa? Coba lihat bukti-buktinya di bawah ini. Yaitu berdasarkan pengalaman Si Mawar sejak kecil.

Catatan:
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pengarang lagu ini, mohon artikel ini dipahami sebagai humor atau guyonan saja. Mohon jangan dianggap serius.

 1.Kenapa suka korupsi?

Lagu: Balonku Ada Lima

Balonku ada lima.

Rupa-rupa warnanya.

Hijau, kuning, kelabu.

Merah muda dan biru.

Meletus balon hijau DOR!

Komentar:
Kalau memang balonnya ada lima (hijau,kuning,kelabu,merah muda dan biru), kenapa tiba-tiba ada balon keenam (hijau) yang meletus.

Ketahuanlah, Si Mawar telah melakukan korupsi dan ketahuan.

Inilah yang menyebabkan korupsi merajalela di Indonesia.

 2.Kenapa suka ngeyel?

Lagu: Burung Kakak Tua

Burung kakaktua

Hinggap di jendela.

Nenek sudah tua

Giginya tinggal dua

Komentar:
Ketika S Mawar diberi tahu bahwa ada nenek yang giginya lebih dari dua, Si Mawar ngeyel dan mengatakan bahwa yang namanya nenek itu giginya pasti dua.

Inilah yang menyebabkan banyak orang Indonesia, termasuk sarjana dan pejabat yang suka ngeyel.

3.Kenapa suka naik kereta api tidak membayar?

Lagu: Naik Kereta Api.

Naik kereta api … tut … tut … tut.

Siapa hendak turut.

Ke Bandung … Surabaya

Bolehlah naik dengan percuma.

Komentar:
Sejak kecil Si Mawar sudah diajari bahwa kalau naik kereta api tidak usah membayar. Itlah sebabnya, di Indonesia ini banyak sekali orang Indonesia kalau naik kereta api tidak mau membayar.

4.Kenapa ilmu matematikanya lemah?

Lagu :Bangun Pagi

Satu dua, tiga empat

Lima enam, tujuh delapan

Siapa rajin kesekolah

Cari ilmu sampai dapat

Komentar:
Si Mawar sejak kecil diajar berhitung hanya sampai angka “delapan”. Tidak hean kalau di kemudian banyak pelajar atau mahasiswa sangat lemah di dalam ilmu matematika.

5.Kenapa suka mencuri?

Dongeng: Kancil Nyolong Timun

Komentar:
Sejak kecil, Si Mawar mendengar cerita dari gurunya tentang kancil nyolong timun. Itulah sebabnya, ketika Si Mawar sudah dewasa, juga suka mencuri. Demikian juga orang-orang lain, akibat dongeng itu, ketika besar suka mencuri.

6.Kenapa NKRI terancam pecah?

Lagu: Satu Satu Aku Sayang Ibu

Satu satu, aku sayang ibu.

Dua dua, juga sayang ayah.

Tiga tiga.. sayang adik kakak.

Satu-dua-tiga, sayang semuanya

Komentar:
Gara-gara lagu inilah, Si Mawar ketika dewasa, hanya sayang ayah,ibu,adik dan kakak. Tidak sayang terhadap bangsa dan negara. Pantaslah, banyak gerakan-gerakan yang mengancam keutuhan NKRI.

7.Kenapa waktu gosok giginya salah?

Lagu:Bangun Tidur

Bangun tidur kuterus mandi

Tidak lupa menggosok gigi

Habis mandi kutolong ibu

Membersihkan tempat tidurku

Komentar:

Sejak kecil S Mawa diajari menggosok gigi pada waktu yang salah. Yaitu, pada saat mandi, terus gosok gigi. Padahal, dokter-dokter se-dunia menganjurkan gosok gigi yang benar yaitu sesudah makan pagi/siang/malam. Kesalahan ini menyebabkan bangsa Indonesia banyak yang sakit gigi atau giginya keropos.

8.Kenapa menjadi pejabat manja?

Lagu: Bunda Piara

Bila kuingat lelah

Ayah bunda

Bunda piara piara akan daku

Sehingga aku besarlah

Waktuku kecil hidupku

Amatlah senang

Senang dipangku dipangku dipeluknya

Serta dicium dicium dimanjakan

Namanya kesayangan

Komentar:
Seja kecil Si Mawar suka dimanja. Keika besar akan menjadi pejabat,pemimpin atau wakil  rakyatpun menjadi manja. Minta fasilitas mobil mewah, rumah mewah, WC mewah, ruang rapat/sidang mewah,pesawat kepresidenan yang mewah. Pokoknya ingin hidup dimanja.

9.Suka Berbohong

Lagu: Mobilku

Dodoli dodoli pret

Suara mobilku

Rodanya dari karet

Warnanya biru

Komentar:

Sewaktu kecil Si Mawar diajari berbohong bahwa warna roda mobil bukan hitam tetapi biru. Padahal warna rodanya hitam. Ketika Si Mawar sudah dewasa dan menjadi pejabat,pemimpin atau wakil rakyatpun, Si Mawar suka berbohong.

10.Kenapa malas sekolah/kuliah/bekerja/rapat?
Lagu:Gelang Sipaku Gelang

Gelang sipaku gelang

Gelang si rama rama

Mari pulang

Marilah pulang

Marilah pulang

Bersama-sama

Komentar:
Sejak kecil Si Mawar diajari cepat-cepat pulang. Ketika Si Mawar dewasa menjadi pejabat.pemimpin/wakil rakyat, maka selalu pulang duluan. Yang penting sudah tanda tangan dan terima gaji utuh. Itulah yang terjadi di Indonesia.

11.Kenapa menjual kekayaan alam dengan murah?
Lagu: Ibu Pertiwi

Kulihat ibu pertiwi

Sedang bersusah hati

Air matamu berlinang

Mas intanmu terkenang

Hutan gunung sawah lautan

Simpanan kekayaan

Kini ibu sedang susah

Merintih dan berdoa

Komentar:

Sejak kecil Si Mawar diajari untuk hidup susah. Setelah Si Mawar menjadi pejabat/pemimpin/wakil rakyat, maka dijual murahlah kekayaan tambang emas,intan,hutan,gunng,sawah,lautan dan semua kekayaan alam ke kapitalis asing.

12.Kenapa tidak kreatif?
Lagu: Kebunku

Lihat kebunku

Penuh dengan bunga

Ada yang putih,

Dan ada yang merah

Setiap hari

Kusiram semua

Mawar melati,

semuanya indah!

Komentar:
Sejak kecil Si Mawar diajari tidak kreatif. Memelihara bungapun hanya warna merah dan putih. Itulah sebabnya, ketika Si Mawar menjadi pejabat/pemimpin/wakil rakyat, lebih suka impor sembako dari pada berpikir kreatif untuk mandiri pangan.

13.Kenapa banyak penebangan pohon?
Lagu:Naik Gunung

Naik – naik, ke puncak gunung

Tinggi – tinggi sekali

Naik – naik, ke puncak gunung

Tinggi – tinggi sekali

Kiri – kanan kulihat saja

Banyak pohon cemara

Kiri – kanan kulihat saja

Banyak pohon cemara

Komentar:

Sejak kecil Si Mawar diajari bahwa yang namanya gunung atau hutan hanya untuk pohon cemara. Setelah dewasa dan Si Mawar menjadi pejabat/pemimpin/wakil rakyat, maka hutan-hutan jati dan semacamnya dibabat habis oleh kapitalis lokal maupun asing. Hanya pohon cemara saja yang tidak boleh ditebang.

14.Kenapa banyak ikan Indonesia dicuri kapal asing?

Lagu : Nenek Moyangku

Nenek moyangku orang pelaut

Gemar mengarung luas samudra

Menerjang ombak tiada takut

Menempuh badai sudah biasa

Komentar:

Sejak kecil Si Mawar diberitahu bahwa nenek moyangnya adalah pelaut yang suka mengarungi samudera yang luas. Artinya, nenek moyangnya bukanlah nelayan pencari ikan. Maka, setelah Si Mawar jadi pejabat/pemimpin/wakil rakyat, dibiarkan saja ikan-ikan di lautan Indonesia dicuri kapal-kapal asing.

15.Kenapa tak mamp berlogika secara baik?

Lagu: Nina Bobo

Nina bobo oh nina bobo

Kalau tidak bobo digigit nyamuk

Nina bobo oh nina bobo

Kalau tidak bobo digigit nyamuk

Komentar:
Sejak kecil Si Mawar diajari logika yang tidak benar. Katanya, kalau tidak tidur akan digigit namuk. Apakah kalau tidur tidak akan digigit nyamuk? Tidak tidur saja digigit nyamuk, apalagi kalau tidur. Nyamuk-nyamuk malahan merajalela menggigit nyamuk. Kesalahan berlogika demikian terus dibawa hingga Si Mawar hingga menjadi pejabat/pemimpin/wakil rakyat.

16.Kenapa banyak pelajar/mahasiswa/warga tawuran?

Lagu : Soleram

Soleram soleram

Soleram anak yang manis

Anak manis janganlah dicium sayang

Kalau dicium merahlah pipinya

Komentar:
Sejak kecil, Si Mawar merupakan anak manis, tetapi tidak pernah dicium kedua orang tuanya. Tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Tidak heran ketika Si Mawar menjadi pelajar/mahasiswa suka tawuran. Bahkan ketika menjadi warga dan aktif di partai politikpun Si Mawar suka tawuran.

17.Kenapa ada oknum TNI/Polri main tembak?

Lagu:Aku Seorang Kapiten

Aku seorang Kapiten

Mempunyai pedang panjang

Kalau berjalan prok-prok-prok

Aku seorang Kapiten

Komentar:
Sewaktu kecil, Si Mawar diberitahu bahwa yang namanya kapiten itu harus membawa pedang panjang atau senjata tajam. Itulah sebabnya, ketika Si Mawar aktif di kepolisian/TNI, Si Mawar suka membawa senjata tajam atau senjata api dan main tembak seenaknya.

18.Kenapa suka narkoba atau menghayal?
Lagu:Bintang Kecil

Bintang kecil, di langit yang tinggi

Amat banyak, menghias angkasa

Aku ingin, terbang dan menari

jauh tinggi ke tempat kau berada

Komentar:
Bayangkan. Sewaktu masih kecil saja Si Mawar diajari menghayal. Terbang dan menari jauh tinggi di sana. Setelah dewasa, Si Mawa suka menjadi pecandu nakoba sambil menghayal yang indah-indah.

19.Kenapa menjadi rakus?
Lagu: Dua Mata Saya

Dua mata saya

Hidung saya satu

Dua kaki saya pakai sepatu baru

Dua telinga saya yang kiri dan kanan

Satu mulut saya

Tidak berhenti makan

Komentar:
Sejak kecil Si Mawar diajari berbuat rakus. Makan terus. Tidak berhenti makan. Ketika Si Mawar sudah dewasa dan menjadi pejabat/pemimpin/wakil rakyat, maka mental rakusnyapun menjadi-jadi. Semua proyek negara ingin dikuasainya sendiri. Mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya dengan segala cara. Termasuk korupsi,kolusi,nepotisme,suap,sogok,pungli dan semacamnya.

20.Kenapa suka memanipulasi data atau informasi?

Lagu:  Pelangi

Pelangi pelangi

Alangkah indahmu

Merah, kuning, hijau

Di langit yang biru

Komentar:
Sejak kecil Si Mawar diajari secara salah bahwa warna pelangi hanya ada tiga warna, yaitu merah,kuning dan hijau. Padahal yang benar, warna pelangi ada tujuh warna. Yaitu: Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu. Itulah sebabnya, ketika Si Mawar menjadi pejabat/pemimpin/wakil rakyat, selalu menyampaikan informasi yang tidak benar kepada rakyat. Informasinya selalu dimanipulasi.

Kesimpulan

Nah, kalau Anda bertanya, kenapa bangsa Indonesia terpuruk? Semua akibat lagu anak-anak yang tidak berbasiskan kepada Ilmu Logika yang logis dan benar.

Catatan:

1.Sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pengarang lagu ini, mohon artikel ini dipahami sebagai humor atau guyonan saja. Mohon jangan dianggap serius.

2.Artikel ini boleh di-copy-paste dengan syarat: a).Sesuai aslinya b).Menuliskan URL/http blog kami dan c).Tidak mengganti/menghapus nama penulis.

Karya asli:
Hariyanto Imadha

Facebooker & Blogger