CERPEN : Andaikan Tuhan Mengembalikan Mariska

“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga)”.(QS Ali Imron : 14).

SANGEH. Ini merupakan salah satu objek wisata di Bali. Merupakan hutan kecil dari dua kerajaan kera. Kera-kera di sini jinak-jinak dan lucu-lucu. Tapi jangan terkejut. Barang-barang bawaan Anda yang kecil-kecil seperti kacamata, kamera, ponsel atau apa saja bisa dicopet dan dibawa lari dan langsung dibawa ke atas pohon. Barang-barang tersebut akan dikembalikan ke Anda jika Anda sudah menunjukkan kepada mereka buah pisang atau makanan lain kesukaan mereka. Mereka akan turun dan menukar barang-barang hasil copetan dengan pisang atau buah lain yang Anda berikan.

“Harry…!Harry…! Tolong…! Kamera saya dibawa lari kera…!” Teriak Mariska yang saat itu sedang duduk di warung kecil bersama teman-teman cewek lainnya. Sedangkan saat itu saya sedang bincang-bincang dengan pemandu wisata. Sayapun segera membantu Mariska untuk mendapatkan kamera yang dicopet kera itu.

Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 2 IPS SMAN 4  . Mariska teman satu kelas. Sudah enam bulan saya berpacaran dengan Mariska. Dia pindahan dari SMAN Malang sedangkan saya pindahan dari SMAN Bojonegoro. Mariska memang cantik dan enak diajak bicara. Begitu kenal, langsung akrab.

“Terima kasih, Harry!” ucap Mariska ketika kera itu bersedia mengembalikan kamera itu ke Mariska. Kera itupun kemudian naik ke pundak saya karena saya beri pisang. Saya dan Mariskapun berfoto bersama dengan kera-kera yang ada di Sangeh itu. Tentu, yang memfoto adalah teman-teman lainnya.

Selanjutnya, ke manapun saya selalu bersama Mariska, walaupun masih di Sangeh. Mulai dari minum es kelapa muda, membeli cindera mata, berfoto di kerajaan kera, berfoto bersama bule-bule atau wisatawan asing.

Saya masih ingat. Saat itu Mariska mengenakan T-Shirt ungu muda. Celana jean. Rambut pendek. Senyumnya selalu ceria. Suka mengobrol. Suka bercanda. Suka bergaul. Tak heran kalau Mariska punya banyak teman di sekolah. Bahkan, semua guru juga sayang dengan Mariska.

Bagi saya, Mariska adalah cinta pertama saya. Dan bagi Mariska, saya adalah cinta pertamanya. Semua diakui secara jujur. Tentu, cinta pertama adalah cinta yang sangat indah. Sampai kapanpun tak akan terlupakan.

Saat itu Sangehpun terasa indah. Langit cerah. Balum begitu siang. Maklum, berangkat dari Denpasar agak pagi sedikit. Udara terasa segar. Tak henti-hentinya saya dan Mariska berkeliling sekitar Sangeh. Entah sudah berapa puluh kali kami berfoto berdua. Tak terhitungkan.

“E, coba lihat. Betapa lucu kera itu. Yuk, kita dekati…” ajak Mariska. Benar, ada seekor kera melihat ke arah kami. Lucunya, kera itu memberi isyarat dengan tangannya tanda dia minta minum. Kebetulan, Mariska membawa minuman botol. Diberikan minuman botol itu ke kera itu.

“Astaga…! Seperti manusia, Harry.” Komentar Mariska. Senang melihat kera yang seang minum minuman botol. Cara memegangnyapun seperti manusia. Lebih lucu lagi, ketika minumannya habis, botolnya dikembalikan ke Mariska. Ketika saya ajak bersalaman, kera itupun mengerti. Membalas salam saya dan salam Mariska.

“Lucu sekali…” komentar Mariska. Tak lama kemudian kera itupun bergabung dengan teman-temannya. Tentu, teman se-kerajaannya.

Konon, kalau kita hanya memberi kera-kera di satu kerajaan saja, maka kera-kera yang ada di kerajaan sebelahnya akan marah kepada kita. Oleh karena itu kita harus adil membagikan makanan untuk mereka.

“Harry…Indah sekali hari ini…” ucap Mariska. Kami berjalan bergandengan. Sesekali saya cium pipinya.

Di hutan Sangeh itulah, saya dan Mariska berjanji sehidup semati.

“Mariska. Demi Allah swt. Saya hanya mencintai Mariska. Kelak, suatu saat saya menginginkan menjadi seorang ibu yang baik dari anak-anak kita…” Itulah kalimat yang saya ucapkan.
“Terima kasih, Harry. Sayapun berjanji akan mendidik anak-anak kita dengan baik. Sayapun akan berbakti kepada suami tercinta. Demi Allah swt. Tidak ada laki-laki lain di hati saya, selain Harry…”. Janji Mariska. Kamipun berpelukan erat. Saya lihat Mariska menangis. Menangis terharu dan tentunya campur rasa senang. Sayapun merasa bahagia. Betapa tidak. Mariska cantik dan cerdas.

“Kumpul…Kumpul…Kumpul…Kita menuju ke objek wisata selanjutnya…! Teriak Martanto yang saat itu menjadi ketua panitia. Anak-anak SMAN 4   saat itupun berkumpul di bus masing-masing. Semua ada lima buah bus full AC. Atau ada sekitar 200 siswa dan guru yang ikut serta. Maklum, hari libur panjang. Dan katanya, setahun sekali SMAN tersebut mengadakan rekreasi ke luar kota. Tahun lalu kabarnya ke Yogyakarta dan sekitarnya.

Tak berapa lama kemudian, semua peserta sudah masuk ke bus masing-masing. Mariska satu bus dengan saya. Bahkan duduk berdampingan. Bus melanjutkan perjalanan ke objek wisata lainnya. Antara lain ke Puri Besakih.

” Maaf, Harry. Saya tidak bisa ikut masuk ke komplek Puri Besakih.” Mariska memberi tahu saya.

“Kenapa?”
“Tahu sendirilah. Saya, kan cewek. Lagi M. Menurut ketentuan, tidak boleh memasuki komplek Puri Besakih”

“Oh, ya. Saya baru ingat.” Aya membenarkan. Saya dan teman-temanpun diwajibkan mengenakan semacam selendanh yang diikatkan dipinggang. Entah apa maksudnya, saya tidak tahu. Sementara itu Mariska berada di luar komplek ditemani Enny, Sandra dan Maya yang kebetulan sama-sama sedang M.

Begitulah. Dari objek wisata ke objek wisata lainnya. Semua peserta merasa senang. Dan syukurlah tidak ada yang mabuk. Semuanya sehat dan gembira. Suara tertawa tak henti-hentinya di sepanjang perjalanan.

Sore harinya kami pulang ke hotel. Dan kemudian malam harinya diisi dengan nonton acara Tari Barong, Tari Kecak dan lain-lain. Malam hari, kembali ke hotel. Kemudian ngobrol-ngobrol sampai larut malam.

Pagi harinya, rombongan menuju ke Pantai Kuta. Bayangkan, dua ratus siswa SMAN 4 memenuhi pantai itu. Saat itu pantainya masih bersih. Sesekali kami melihat wisatawan-wisatawan asing berbaring dalam kondisi setengah telanjang. Angin pantai cukup keras. Ombak laut kecil-kecil saja. Puluahn siswapun mulai ke air pantai. Tak peduli celana basah. Tak peduli rok basah. Semua ceria. Saling siram-siraman air.

“Yuk, renang…” ajak Mariska.

“Enggak,ah. Saya tidak bisa renang.” Saya berkata jujur.

“kalau begitu Mariska renang bersama teman-teman,ya?”

“Boleh, tapi hati-hati,ya?”

Mariska,Wenny, Dewi, Carla dan entah siapa lagi saya tidak hafal. Dengan menggunakan pakaian penuh mereka berenang di tepian pantai. Sayapun beristirahat di bawah pohon kelapa dan ngobrol-ngobrol dengan Tommy, Sigfried, Tjahjo. Ngobrol apa saja. Bercanda tentang apa saja.

“Tolooong…!” tiba-tiba terdengar beberapa teman berteriak keras. Sempat saya lihat tiba-tiba datang gelobang cukup besar. Saya dan teman-temanpun spontan berdiri dan bergegas melihat ke arah laut. Beberapa teman yang bisa berenang segera berusaha menolong. Perasaan saya menjadi tidak enak.

Dan betul saja. Beberapa siswa SMAN 4 terseret ombak. Hanya Sandra, Maya, Inggrid, Vinka, Dewi, Martanto, Dedy, Ronny, Gaguk yang terselamatkan. Sedangkan Virly, Nungkie, Tata, terbawa arus laut. Di mana Mariska? Tanya saya ke teman-teman.

Alhamdulillah. Saya lihat Budi membopong Mariska yang kelihatannya pingsan. Sayapun segera berlari ke arah Mariska yang dibaringkan agak jauh dari pantai. Saya lihat, Mariska masih bernafas. Sayapun mengucap syukur ke Allah swt. Mariska yang sudah siumanpun saya peluk dan saya cium pipinya berkali-kali.

Saat itu juga suasana menjadi gempar. Tim SAR yang selalu siap 24 jam pun membantu mencari teman-teman yang hilang. Sekitar lima buah perahu karet bermotor tempel segera meluncur mencari teman-teman yang hilang. Tentunya di tepi-tepi pantai yang lautnya tidak dalam.

Malam harinya, hanya satu teman yang hilang yang ditemukan, yaitu Gaguk. Namun, dalam kondisi sudah tewas. Suasana yang semula bergembira berubah menjadi acara duka. Hampir semua teman-teman cewek menangis.

“Harry..!” Tiba-tiba saya mendengar teriakan Tommy . sayapun bergegas ke Tommy.

“Ada apa Tommy…?”

“Harry…Maaf Harry. Tadi, asmanya Mariska kambuh. Saya dan teman-teman sudah berusaha menolong, tetapi…”. Belum sempat Tommy menyelesaikan pembicaraannya, saya langsung berlari ke kamar Mariska . Saya lihat Mariska terlentang di kasur di lantai. Beberapa teman cewek merangkul dan menangisinya.

“Mariska…!.” Saya berteriak histeris. Saya sadar.Sadar. Mariska telah tiada. Sayapun meneteskan air mata. Sedih sekali. Berkali-kali saya berteriak memanggil Mariska. Tapi tak ada gunanya. Saya hanya bisa memeluk tubuhnya yang kaku. Saya hanya bisa mencium pipinya yang sudah pucat pasi.

Itulah yang terjadi pada 5 Mei 1970. Sudah lama. Lama sekali. Tapi, demi Allah swt, saya tak akan melupakan peristiwa itu.

“Andaikan hari ini, 5 Mei 2012, Tuhan mengembalikan Mariska di hadapan saya, alangkah bahagianya saya…” kata saya dalam hati.

Sumber foto: wisata.ubuntumine.com

Hariyanto Imadha

Facebooker & Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: