CERPEN : Tuhan Kenapa Rezekiku Seret?

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad).

SUDAH enam bulan ini saya berlangganan kue bacang . Penjualnya menggunakan sepeda onthel dan tiap hari lewat depan rumah. Paling tidak, seminggu tiga kali saya membelinya. Lumayan buat sarapan pagi. Di samping rasanya enak, harganya juga terjangkau. Penjualnya bernama Wagimin. Usia sekitar 25 tahun. Sudah berkeluarga dengan seorang anak berusia balita.

Suatu hari sesudah membayar kue bacang, Wagimin menatap rumah saya.

“Wah, enak ya,Pak. Punya rumah bertingkat. Punya mobil.Uang banyak. Tidak seperti saya.Tiga tahun saya berjualan bacang, nasib saya tidak berubah.” Keluhnya.

“Ya, rezeki orang kan berbeda-beda. Kalau mau berusaha pasti rezeki akan dxatang. Tuhan tidak pernah keliru membagikan rezeki asal manusia mau berusaha,” saya mencoba memberikan semangat.

“Saya sih, sudah tiga tahun berusaha, Pak. Tapi nasib tetap begini-begini saja. Tempat tinggal Cuma sewa rumah kontrak. Rumah petak yang kecil. Sedangkan penghasilan saya tidak mencukupi. Apalagi kalau isteri atau anak sakit, terpaksa harus utang ke sana kemari…” Wagimin terus mengeluh.

Sesaat saya terdiam. Sebetulnya saya malas melanjutkan perjalanan karena pagi itu saya ada acara. Ada janji akan ke rumah teman saya di Pamulang tak jauh dari rumah saya di BSD Nusaloka, Tangerang Selatan. Namun saya sadar, saya punya kewajiban untuk memberikan semangat dan motivasi kepada siapa saja. Apalagi, hati kecil saya mudah tersentuh dan terharus melihat kesulitan yang dialami wong cilik.

“Mungkin ada nasehat,Pak Harry?”. Pertanyaan Wagimin mengejutkan saya yang sedang melamun.

“Oh, ya ya ya…Saya mau tanya dulu. Agama Wagimin apa?”

“Islam, Pak?”. Wagimin menjawab singkat.

“Rajin shalat lima waktu?”

“Wah, sangat jarang,Pak. Seminggu satu kali itu sudah hebat…”
“Nah, kamu minta rezeki tetapi kamu tidak mau melakukan kewajibanmu. Kalau rezeki mau lancar, lakukan semua perintah Tuhan. Jauhkan semua larangannya…”

“Oh, begitu ya,Pak? Akan saya coba. Terima kasih,Pak Harry…”. Wagiminpun melanjutkan perjalanannya menawarkan kue bacang. Dia memang Cuma berjualan kue bacang. Tidak ada kue-kue lain. Itu kue buatan isterinya.

Sebulan kemudian, Wagimin tanya lagi.

“Pak Harry. Saya sudah rajin shalat. Bahkan rajin shalat Jum’at. Kok, tetap tidak ada perubahan? Justru saya terlibat utang gara-gara anak saya sakit. Buat beli obat…” Keluhnya. Sebenarnya saya ingin bersikap masa bodoh. Tetapi, hati kecil saya mengatakan saya wajib memberinya semangat.

“Tentu, Tuhan tidak akan langsung mengabulkan. Berarti masih ada hal-hal lain yang perlu kamu lakukan. Coba, jangan Cuma berjualan kue bacang. Tambah kue yang lain. Misalnya, lemper dan arem-arem. Bisa kan isterimu membuat lember dan arem-arem?”. Saran saya secara rasional saja.

“Oh, bisa,Pak Harry. Akan saya coba”.

Sebulan kemudian, Wagimin bercerita kalau rezekinya sudah mulai meningkat. Sudah bisa membayar utang.

“Terima kasih, Pak Harry. Saya sudah bisa melunasi utang. Bahkan sudah bisa menabung. Namun rezeki saya masih tetap seret. Sebab, kebutuhan hidup terus meningkat. Apalagi, akhir-akhir ini isteri saya juga kadang-kadang sakit. Apalagi adik saya dari kampung ikut datang dan bertempat tinggal di rumah petak saya…”. Lagi-lagi Wagimin mengeluh.

“Begini, ya. Rezeki seret sebabnya banyak. Antara lain jenis kue yang kamu jual kurang banyak, kurang berkualitas dan semacamnya. Tapi kalau saya lihat kuemu selalu habis terjual, pasti penyebabnya bukan itu. Jangan lupa, mungkin di masa lalu kamu punya dosa. Cobalah meminta maaf kepada kedua orang tua. Kalau orang tua sudah meninggal, doakan semoga semua dosa-dosa kedua orang tuamu dimaafkan Tuhan. Yang lebih penting lagi, kamu juga harus meminta maaf dan meminta pengampunan kepada Tuhan agar semua dosa-dosamu diampuni Tuhan…”. Begitulah, nasehat yang bisa saya berikan ke Wagimin.

“Bagaimana caranya,Pak?”

“Yah, banyak-banyaklah beristighfar…”

“Bagaimana caranya,Pak? Saya bukan lulusan ponpes sih, Pak”

“Baca saja ‘Astaghfirullah” seratus kali perhari. Sepuluh kali sebelum dan sepuluh kali sesudah shalat fardlu…”.

“Oh, ternyata mudah, ya,Pak? Saya baru tahu….”

Sebulan kemudian, Wagimin bercerita kalau ada hal-hal aneh yang dialami. Antara lain, kok tiba-tiba ada orang berbaik hati kepadanya. Misalnya, ada tetangga menawarkan bea siswa untuk adiknya yang baru lulus SMP dan tidak punya uang untuk melanjutkan ke SMA. Juga, tiba-tiba kalau membeli beras atau beras ketan, dia mendapat diskon walaupun jumlahnya tidak banyak.

“Wah, betul, Pak Harry. Banyak kejutan-kejutan yang saya alami. Bahkan saya sudah mulai bisa menabung. Barngkali ada saran lainnya,Pak?”

“Wah! Saya ini juga bukan lulusan ponpes. Saya bukan ustadz. Saya bukan ulama.Saya juga belum naik haji. Cuma, dari buku-buku yang saya baca, dan juga saya lakukan, cobalah baca ‘ Sayyidul Istighfar’.Insya Allah, Tuhan akan mempermudah segala urusan”

“Wah, boleh, Pak. Bagaimana doanya?”

Sayapun masuk ke rumah sebentar untuk mengambil kertas dan ballpoint. Kemudian saya menulis doa tersebut lengkap dengan artinya.

“Sabar,ya?”. Kata saya sambil menulis di meja kecil dekat garasi mobil.

Bunyinya:” “Allahumma anta Rabbi Laa ilaaha illa anta, Kholaqtanii, wa anaa abduka, wa anaa ‘alaa ‘ahdika, wa wa’dikaa maa astato’tu, a’udzubikaa min sari maa shona’tu, abuuka laka, bib’matika ‘alayyaa wa abuuka bidanbii fghfirlii fainnahu la yaghfiruddunuuba illa anta.”

Artinya:

“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, Tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku dan akulah hamba-Mu. Akan kutepati janjiku (kepada-Mu) dengan seluruh kemampuanku.Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan-kejahatan yang telah kuperbuat. AKu mengakui di hadapan-mu anugerah yang Engkau limpahkan kepadaku.Kuakui dosa-dosaku. Ampunilah dosa-dosaku. Karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosaku selain Engkau.”(HR. Bukhari dan Nasai).

Sayapun memberikan kertas itu ke Wagimin sambil berpesan.

“Tapi tolong,ya. Tanyakan dulu ke ulama atau orang yang faham. Tolong dikoreksi, benar atau salah doa itu. Saya manusia biasa, bisa salah. Maaf kalau salah…”.

Sesudah itu, saya tidak pernah lagi bertemu dengan Wagimin. Entah kemana, saya tidak peduli. Terpaksa saya beli bacang dari penjual yang lain.

Enam bulan kemudian, ketika saya naik motor menuju ke toko material, tiba-tiba saya disalip motor dan mendadak berhenti tepat di depan motor saya. Semula saya terkejut dan ingin marah. Tetapi ketika pengendaranya membuka helmnya, sayapun terkejut.

“Maaf, Pak Harry. Saya Wagimin…”. Dia mendekati saya sambil tersenyu, Dijabatnya tangan saya.

“Wah, sudah punya motor,ya?”. Puji saya.

“Ya, motor kredit, Pak. Oh, ya,Pak. Saya dapat kerja di perusahaan karpet di Tangerang. Gaji lumayan. Sebagian untuk kredit motor. Bisnis jualan kue bacang saya operkan ke tetangga saya, Pak…”
“Oh, syukurlah kalau begitu…Semoga semakin sukses…”.
“Ya, semua berkat saran, nasehat dan motivasi dari Pak Harry. Terima kasih atas kebaikan Pak Harry memberikan saya solusi…”
“Hallah…!Kalau mau berterima kasih, berterima kasihlah kepada Tuhan. Karena Tuhanlah yang mendatangkan rezeki…”

“Iya, Pak. Saya betul-betul merasakan keajaiban-keajabaiban sesudah membaca Sayyidul Istighfar. Demi Allah, Pak. Saya tidak berbohong…”

“Ya, iyalah. Yang penting jangan berhenti sampai di sini saja. Kamu harus punya target punya rumah sendiri…”.
“Iya, Pak. Saya juga sudah mengkredit tanah milik tetangga saya. Tanah di perkampungan, Pak…”
“Nggak apa-apa,yang penting nanti punya tanah sendiri.Punya rumah sendiri.”
“Iya, Pak. Sekarang saya juga sudah pindah tempat. Kontrak rumah yang agak besar dekat pabrik dan dekat sekolah adik saya…”

Setelah bgobrol ngalor ngidul, Wagiminpun pamit untuk melanjutkan perjalanan.

“Alhamdulillah….”. Kata hati saya.

Sayapun melanjutkan perjalanan m,enuju ke ruko untuk membeli barang-barang tertentu.

Hariyanto Imadha

Facebookert & Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: