CERPEN : Tragedi Wisma Nusantara Jl.MH Thamrin Jakarta Pusat

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS. As Syura, 42 : 30)

SEPULUH tahun sebelum terjadinya kasus ditabrakkannya pesawat ke Gedung WTC, Amerika, oleh para teroris, saya sudah mimpi tentang hal itu. Dan apa yang saya lihat di televise, persis apa yang saya lihat dalam mimpi. Namun mimpi yang saya alami bukanlah mimpi dalam keadaan tidur, tetapi justru dalam keadaan tidak tidur. Di dalam psikologi ada istilah “clair voyance”. Mungkin itu salah satu kelebihan yang saya miliki. Itulah sebabnya saya terhindar dari kecelakaan ketika akan naik bus Sumber Kencono dari terminal Jember, Jawa Timur. Juga beberapa kejadian lainnya.

Satu bulan sesudah terjadinya kasus Gedung WTC, saya “bermimpi” lagi. Saya melihat sebuah pesawat terbang menabrak Wisma Nusantara, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Bukan perbuatan teroris.Melainkan karena pesawat tersebut mengalami kerusakan mesin dan peralatan lainnya.

Saat itu, sekitar pukul 11:00 WIB. Semua karyawan Wisma Nusantara sedang sibuk bekerja. Ada juga yang bekerja sambil tertawa. Mereka tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Sayapun segera menelepon Dhea, pacar saya yang bekerja menjadi sekretaris salah satu perusahaan di situ. Tepatnya di lantai 16.

“Dhea…!”

“Ya, Dhea di sini. Ada apa, Harry?”

“Tolong, segera tinggalkan Wisma Nusantara segera. Akan terjadi musibah besar…”
“Musibah apa?”

“Jangan Tanya…! Dhea hanya punya waktu 10 menit untuk meninggalkan Wisma Nusantara…”

Tidak hanya Dhea yang saya beritahu. Resepsionis Wisma Nusantara juga sudah saya hubungi dan agar segera mengumumkannya ke semua karyawan yang bekerja di Wisma Nusantara. Saya beritahu, hanya ada waktu 10 menit untuk segera meninggalkan gedung itu.

Dhea yang tahu bahwa saya memiliki indera keenampun menyanggupi segera meninggalkan kantor. Tak lama kemudian Dhea berlari kea rah saya di mana saat itu saya sedang menunggu di halaman Hotel Indonesia. Saya dan Dhea segera menyiapkan kamera masing-masing untuk mengabadikan tragedi itu.

Sayapun melihat sekitar dua ratus karyawan berlari terburu-buru meninggalkan gedung itu. Terlalu sedikit, sebab di gedung itu ada ribuan karyawan. Mungkin mereka tidak percaya apa yang saya katakana dan diteruskan oleh resepsionis gedung itu.

Benar! Sekitar satu menit kemudian, sebuah pesawat terbang terbang sangat rendah dari arah Timur. Dan…Seperti yang saya lihat di dalam “mimpi”, pesawat itu menghantam gedung. Sebuah ledakan besar terdengar. Memekakkan telinga. Diikuti semburan api merah menyala dan asap hitam membubung ke langit. Dan sebagian tubuh pesawat rontok ke bawah. Sebagian gedung itupun hancur lebur.

“Oh, Tuhan…!” Teriak Ghea dan beberapa orang yang ada di halaman Hotel Indonesia. Saat itupun suasana menjadi gempar. Beberapa mobil yang diparkir di gedung itu hancur lebur tertimba rontokan pesawat dan rontokan gedung. Lalu lintas menjadi macet karena banyak yang ingin melihat apa yang sedang terjadi.

Saya dan Ghea melihat, gedung yang semula menjulang tinggi, sedikit demi sedikit akhirnya ambruk rata dengan tanah. Sebagian bangunan di sebelahnya terbakar hebat. Suasana menjadi sangat mengerikan.

Baru 30 menit kemudian polisi bermotor berdatangan untuk mengatur arus lalu lintas. Puluhan ambulan segera mendekati gedung itu. Dua buah helicopter berputar-putar di atas puing-puing gedung. Memantau tragedi itu. Ribuan orang, tanpa diperintah segera memberikan bantuan. Tubuh-tubuh, baik yang sudah meninggal, pingsan, terluka, lemah, apapun kondisinya segera di selamatkan ke tempat agak jauh. Bagi yang masih hidup tapi terluka segera dimasukkan ke ambulan dan segera dibawa ke rumah sakit.

“Oh, Tuhan…Kenapa ini harus terjadi? Kenapa Harry tidak member itahu pihak Wisma Nusantara satu minggu sebelum kejadian?”. Tanya Ghea setengah protes.

“Sebenarnya, satu bulan sebelum kejadian, saya sudah memberitahukan ke pihak manajemen Wisma Nusantara, tetapi tidak ditanggapi. Saya sudah mengirim beberapa surat pembaca ke berbagai surat kabar, tapi tidak dimuat. Mungkin mereka tidak percaya…”. Saya menjelaskan ke Ghea bahwa saya sebetulnya telah berusaha memberitahukan ke pihak manajemen Wisma Nusantara.

Peristiwa itu benar-benar seperti yang pernah saya mimpikan beberapa waktu sebelumnya.

“Mas Harry sering mengalami isyarat kejadian yang akan terjadi…?”. Ghea ingin tahu.

“Kan, saya sudah pernah ceritakan semuanya. Mulai dari SD hingga lulus universitas, sudah puluhan kali saya mendapat mimpi tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi. Misalnya, 15 tahun sebelum Megawati terpilih sebagai presiden, saya sudah bercerita ke banyak orang. Tetapi, mereka tertawa…Tidak percaya…Saya dianggap pembual dan pengkhayal…”

“Oh, ya,ya. Ingat…” Komentar Ghea. Kami berdua masih tetap di halaman Hotel Indonesia. Kami melihat sudah ada ratusan wartawan, reporter televise, mengambil gambar itu. Mungkin ada puluhan ribu orang memadati Jl.MH Thamrin. Jalan-jalan di sekitarnya macet total.

“Clair voyance itu apa sih,Harry?”

“Clair voyance adalah kemampuan untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu secara langsung tanpa melalui indera.Baik yang sudah terjadi, sedang terjadi maupun akan terjadi”

“Apakah clair voyance bias dipelajari?”. Ghea penasaran.

“Clairvoyance merupakan kemampuan indera ke-6 manusia untuk melihat dengan menggunakan feeling. Semua orang punya indera ke-6 tersebut. Yang penting perlu latihan. Namun, kalau punya kemampuan clair voyance sejak lahirt, tentu tidak perlu belajar. Tinggal mengembangkan…”

“Wow,…boleh dong Ghea diajari,” pinta Ghea yang cantik itu.

“Boleh…”. Singkat jawab saya. Saya lihat Ghea tersenyum senang.

Sementara itu. Kerumunan masyarakat semakin lama semakin padat. Sebagian korban terpaksa dievakuasi memakai helicopter. Suasananya masih mencekam. Kejadiannya benar-benar mirip terjadinya pesawat terbang yang ditabrakkan ke Gedung WTC, Amerika. Ribuan orang di Gedung WTC tewas. Mungkin tidak ada satupun yang selamat. Namun kabarnya, ribuan orang Israel saat kejadian, sedang berlibur. Entah libur apa. Tampaknya mereka sudah tahu akan terjadinya peristiwa itu.

Sampai sore, kerumunan masyarakat mulai berkurang. Lalu lintas mulai lancar. Mobil, motor sudah bias melewati Jl. MH Thamrin dan sekitarnya. Ratusan polisi tetap berjaga-jaga. Semua punya kesibukan sesuai tugas masing-masing. Boleh dikatakan tak ada lagi wartawan ataupun reporter televise.

Saya dan Ghea kemudian menuju ke mobil yang saya parker di Hotel Wisata, belakang Hotel Indonesia. Sayapun kemudian mengantarkan Ghea pulang ke rumahnya di kawasan Pondok indah. Kemudian saya menuju pulang ke rumah saya di kawasan BSD City, Tangerang Selatan.

Catatan:

Apa yang saya ceritakan di atas adalah sebuah mimpi yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Dan mimpi itu selalu terjadi berulang kali. Mungkin sudah sepuluh kali. Mimpinya sama persis. Mungkinkah mimpi buruk saya itu akan menjadi kenyataan? Mungkinkah Wisma Nusantarta akan benar-benar akan ditabrak pesawat terbang? Mungkinkah? Wallahu’alam bishawab.

Sumber foto:

1.Pesawat:akhyaree.multiply.com

2.Wisma Nusantara: sangoperator.blogspot.com

3.Gedung WTC: moeflich.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Facebooker & Blogger.

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: