CERPEN : Perjalanan Menuju ke Neraka

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dar siksa kubur dan siksa neraka, dari fitnah hidup dan fitnah mati serta dari fitnah al-Masih Dajjal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

JEMBER 1988. Saat itu saya bekerja sebagai Konsultan Mapatda, salah satu proyek Dirjen PUOD, Departemen Dalam Negeri. Saya ditugaskan di Kantor Dispenda. Saat itu bupatinya Bapak Soerjadi. Dan Kepala Dinas Dispenda, Bapak Zaenuri.

Seperti biasa, tiap Sabtu saya berlibur ke Surabaya. Dari terminal Jember, naik bus Sumber Kencono. Lima belas menit sesudah bus berjalan, saya punya perasaan yang tidak enak. Entah apa, saya tidak bisa menjabarkan perasaan itu.

Tiba-tiba, semua penumpang berteriak histeris. Dan sayapun tiba-tiba tidak ingat apa-apa. Beberapa saat kemudian, dari lihat saya melihat bus bertabrakan dengan truk bermuatan semen dari arah yang berlawanan. Bus dan truk sama-sama hancur.

Betapa terkejut saya ketika melihat semua penumpang tewas. Lebih terkejut lagi ketika saya melihat tubuh saya di dalam bus dalam keadaan terlentang di bangku.

“Oh,Tuhan? Saya sudah meninggal? Innalillahi wa inilahi rojiun…”. Tersadar. Saya telah meninggal. Terasa rohku ringan sekali. Bisa melayang-layang seperti burung. Untuk berjalan, cukup mengendalikannya dengan “kemauan”.

Selanjutnya saya melihat, semua korban dibawa ke rumah sakit, termasuk tubuh saya. Berdasarkan KTP, maka pihak rumah sakit menghubungi kepolisian kota Bojonegoro, kemudian pihak kepolisian memberitahukan ke kedua orang tua saya.

Esoknya, kedua orang tua saya dating ke Jember, membawanya pulang dan kemudian tubuh saya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Rider, Jl. Teuku Umar, Bojonegoro. Saya melihat kedua orang tua saya, saudara-saudara saya, family-famili saya dan teman-teman saya berdoa dan menaburkan bunga di makam saya.

Hari-hari selanjutnya saya berada di alam yang sangat gelap. Alam kubur. Hingga dating cahaya sedikit demi sedikit.Saat itu hubungan dunia sudah terputus.Tidak ada istilah lapar ataupun haus. Tak ada istilah kemarin, sekarang atau besok. Tak ada lagi istilah Senin, Selasa hingga Minggu. Dunia alam kubur samasekali lain.

Hingga datanglah saatnya. Semua roh dikumpulkan di alam Barzakh. Yaitu di mana semua roh menunggu adzab ataupun nikmat.

Tahap berikutnya, saya mendengar tiupan sangkakala yang ditiup Malaikat Israfil. Matilah semua yang di langit Dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT. Seluruh alam semesta hancur lebur. Saya tersadar, itulah kiamat qubro. Kemudian, alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.

“Oh, Tuhan…Ampunilah segala dosa saya…”. Saya hanya bisa berdoa.

Maka tiba-tiba saya keluar dengan segera dari kubur dan  menuju kepada Rabb . Itu terjadi saat sangkakala ditiup untuk yang kedua kalinya. Saya sadar, itulah hari berbangkit. Ternyata, saya berkumpul dengan banyak orang dalam posisi berdiri pada sebuah bumi yang lain. Sebuah bumi yang saya belum pernah melihat. semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Di bumi yang baru ini cukup lama. Karena amat lamanya Hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja. Terasa siang terus menerus.

Saat itu saya risau karena tidak mendapatkan syafaat. Berarti, selama saya hidup, saya tergolong  musrik, kafir dan munafik. Oh, Tuhan. Selanjutnya saya memasuki tahap dihisab di mana saya harus berkata jujur. Tidak bisa berbohong. Semua saya akui, termasuk perbuatan korupsi. Saya juga bicara jujur jarang shalat, jarang puasa, jarang ke masjid, jarang berzakat. Tidak mungkin berbohong. Saya hanya bisa menyesal sambil berlutut. Saya menyesal. Saya menangis. Semua catatan kehidupan saya, lebih banyak buruknya daripada baiknya. Semua catatan perilaku semasa hidup telah saya terima dan tidak mungkin saya ingkari. Saya baru sadar, semasa hidup, malaikat terus menerus mencatat perilaku saya.

“Oh, Tuhan. Ampunilah dosa saya,” sebuah penyesalan yang sangat terlambat.

Tahap berikutnya saya menghadapi tahap Mizan, di mana Tuhan letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya.

Tahap berikutnya, semua roh harus melewatan jembatan Shirat. Sebuah jembatan selebar rambut dibelah tujuh dan berada di atas api neraka. Siapa yang berhasil melewati jembatan Shirat, akan langsung memasuki jannah atau sorga dan yang gagal akan terjatuh ke neraka jahanam.

Saya sempat melihat, ayah, ibu dan saudara-saudara saya telah berhasil melewati jembatan shirat dengan selamat. Mereka telah diterima di sorga. Sementara saya masih tertatih-tatih melewati jembatan itu.

Ketika tepat di tengah jembatan Shirat, sayapun terpeleset dan jatuh ke bawah.

“Oh, bapak…ibu….Maafkan segala kesalahan saya….! Oh,Tuhan…ampuni segala dosa saya…!”. Saya berteriak histeris.

Terlambat. Saya telah terjatuh di neraka. Sebuah dunia yang luar biasa panas. Berbagai siksaan saya alami. Semua akibat dosa-dosa yang pernah saya lakukan, termasuk korupsi, malas shalat, malas berpuasa, malas berzakat dan perilaku buruk lainnya. Sakit sekali.

Tiba-tiba…Saya meliihat sesuatu yang lain. Saya melihat ada televisi. Ada laptop di atas meja. Ada segelas kopi. Ada kue-kue. Ada di jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul 01:30 WIB.

“Astaga! Saya bermimpi…”.

Saya menganggap mimpi itu sebagai teguran keras. Dan kalau saya terbangun dini hari setelah tidur, maka saya harus melakukan sesuatu. Saya ambil air wudlu. Sayapun shalat tahajjud.

Catatan:

Cerpen ini merupakan cerita fiktif yang diilhami sebuah artikel di http://www.taushiyah-online.com

Sumber gambar: newyorkermen.multiply.com

Hariyanto Imadha

Novelis dan Cerpenis

3 Tanggapan

  1. anjing

  2. anjing loh………………

  3. blog ini bisa membuat saya sadare

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: