SASTRA : Apakah Sastra Itu dan Bagaimana Perkembangannya?

TENTU, perkembangan sastra harus dilihat dari keberadaan sejarah sastra itu sendiri. Sesungguhnya tiap karya sastra ditandai adanya sastrawan-sastrawan yang muncul pada era atau tahun-tahun tersebut. Jadi, perkembangan sastra lebih dilihat dari manusia sastranya dan bukan pada karya sastranya sendiri.

Apakah sastra itu?

1.Definisi lama

Sastra merupakan sarana penumpahan ide atau pemikiran tentang kehidupan dan sosialnya dengan menggunakan kata – kata yang indah.Yang terdiri dari tiga macam genre, yaitu genre sastra terdiri dari tiga bentuk (yaitu puisi, prosa, dan drama). Puisi Indonesia dibedakan menjadi puisi lama dan puisi modern. Puisi lama Indonesia umumnya berbentuk pantun atau syair.

2.Definisi baru

Sastra merupakan sarana penumpahan ide atau pemikiran tentang “apa saja” dengan menggunakan bahasa bebas, mengandung “something new” dan bermakna “pencerahan”. Keindahan sastra tidak ditentukan keindahan kata atau kalimat melainkan keindahan substansi ceritanya.

Perkembangan sastra berdasarkan angkatan dan nama sastrawan saat itu

1.Angkatan Balai Pustaka

Sastrawan paling terkenal saat itu: Muhammad Yamin

2.Angkatan Pujangga Baru

Sastrawan paling terkenal saat itu: Amir Hamzah

3.Angkatan ‘45

Sastrawan paling terkenal saat itu: Chairil Anwar

4.Angkatan‘66

Sastrawan paling terkenal saat itu: Rendra

5.Angkatan ’70-an

Sastrawan paling terkenal saat itu: Sutardji Calzoum Bachri

6.Angkatan ’90-an

Sastrawan paling terkenal saat itu: Sides Sudyarto D.S.

7.Angkatan‘2000-an

Sastrawan paling terkenal saat itu: Nenden Lilis Aisyah

 

Perkembangan sastra menurut bentuknya

1.Sastra lama

-Puisi : Masih terikat ketentuan 1 bait harus 4 kalimat dan huruf akhirnya harus sama

-Prosa : Menggunakan kalimat-kalimat yang indah

2.Sastra baru

-Puisi : Puisi bebas. Tidak terikat lagi oleh keharusan 1 bait harus 4 kalimat dan huruf akhir tidak selalu sama. Tetapi masih mengobral keindahan kata

-Prosa: sama dengan puisi. Kalimatnya sudah bebas. Tidak mementingkan keindahan kata.

3.Sastra moderen

-Puisi : Mulai bernuansa kritik, terutama kritik sosial

-Prosa: Lebih banyak bercerita tentang masalah sosial dan cinta.

4.Sastra kontemporer

-Puisi : Bahasa bebas. Tidak perlu menggunakan kata-kata yang indah. Lebih mementingkan substansi daripada bentuk. Kritik bebas. Bernuansa menghendaki adanya perubahan. Ada sesuatu yang baru. Lebih bersifat pencerahan.

-Prosa : bahasa bebas. bahkan sebagian menggunakan bahasa gaul. Lebih menitikkan substansi. Tidak harus cerita cinta, tetapi apa saja.Ada sesuatu yang baru. Lebih bersifat pencerahan.

Apakah novel itu?
MENURUT pengamatan saya, apa yang dijual di toko buku dan dikelompokkan dalam buku novel, ternyata sebenarnya bukanlah novel. Ada anggapan keliru yang mengatakan bahwa novel adalah cerita yang panjang. Bahkan itu merupakan pengalaman pribadi. Ceritanyapun klise. Tidak ada karakterisasi. Lebih parah lagi tak ada pesan maupun sesuatu yang baru.

Apakah novel itu?

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita”.

Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.

Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Novel)

Jadi, apakah unsur-unsur daripada sebuah novel?

Antara lain:

-karya fiksi

-berbentuk prosa

-naratif

-lebih komplek daripada cerpen

-tidak ada batasan struktural dan metrikal

-menonjolkan karakter tiap pelaku

-ada pesan yang disampaikan

-ada sesuatu baru

-inspiratif

-ada unsur pencerahan

Kelemahan novel masa sekarang

Cukup banyak novel yang sebenarnya kurang begitu berbobot karena di samping tidak memenuhi berbagai ciri novel, juga karena:

-ceritanya klise

-jalan ceritanya mudah ditebak

-tidak ada sesuatu yang baru

-apa yang diceritakan sudah biasa terjadi

-kebanyakan hanya bercerita tentang cinta tanpa variasi lain

-tidak memberikan pencerahan kepada pembaca

-tidak didukung sebuah penalaran yang logis dan benar

-tidak menambah pengetahuan baru bagi para pembacanya

-tidak meluruskan pandangan-pandangan yang keliru

-dialognya bertele-tele dan tanpa makna

Penilaian novel yang keliru

Banyak pembaca mengatakan novel yang dibacanya bagus, hanya karena jalan ceritanya menarik. Padahal dari segi kualitas novel tersebut tak ada bobotnya.

Bukan sarjana sastra

Kalau boleh jujur, saya katakan bahwa novel-novel yang dijual di toko buku, dibuat oleh bukan sarjana sastra. Mereka tak faham linguistik dan bagian-bagiannya. Tak mengerti logika bahasa.Tak faham psikologi kata. Tak menguasai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak menguasai sistimatika alur cerita. Menggunakan dialog-dialog yang bertele-tele tapi tanpa makna.

Penerbit komersial

Celakanya, kebanyakan penerbit juga bukan sarjana sastra.Mereka lebih mementingkan segi komersil. Lebih mementingkan nama penulis novel yang sudah terkenal. Atau memilih judul yang “bombastis”. Atau karena faktor nepotisme. Bahkan ada penerbit yang menerbitkan buku-buku di mana biaya penerbitannya dibayar sepenuhnya oleh penulis novel hanya karena penulisnya orang kaya dan ingin terkenal (terutama buku-buku para politisi).

Hanya pembaca yang cerdas

Kualitas sebuah novel, hanya bisa diketahui oleh pembaca novel yang cerdas, terutama punya latar pendidikan fakultas sastra, atau punya penguasaan sastra yang baik atau seorang otodidak yang punya wawasan pikir yang sangat luas. Mereka tahu, mana novel yang berkualitas dan mana novel picisan.

Beda puisi dan sok puisi

SAYA punya teman. Kalau soal lukisan, memang dia jagonya. Apa alirannya, tidak jelas. Tapi soal puisi, jelas bukan puisi dalam arti sesungguhnya. Hanya kumpulan katayang tak jelas maknanya. Hanya menonjolkan indahnya kata tanpa arti. Jelas, teman saya tak besa membedakan mana yang pusi dan mana yang sok puisi.

Beda puisi dan sok puisi.

Puisi

-Menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat biasa yang mudah dipahami.

-Tata bahasanya benar.

-Istilah yang digunakan benar.

-Menggunakan kata atau kalimat yang mudah dipahami

-Tiap kata dan kalimat ada arti atau maknanya

-Tiap kata dan kalimat tak pernah menyimpang dari judul

Contoh

“Negeri Para Begundal”

Kita ini hidup di negeri begundal

Pejabatnya sibuk mengurusi politik sundal

Rebutan jabatan dan berlomba hidup royal

Dengan cara main suap atau saling jegal

Kita ini hidup di negeri sundal

Pemilu berantakan dikatakan normal

Rakyat dibohongi lembaga survei yang tak bermoral

Karena dibayar oleh politikus bermoral kadal

Kita ini hidup di negeri abnormal

Orang salah dapat jabatan orang benar terpental

Mau jadi polisi,mau jadi PNS,mau jadi TNI, rumah dan tanah terjual

Karena oknum pejabatnya sudah rusak mental

Kita ini hidup di negeri terpental

Rakyat dibohongi angka-angka statistik yang tak masuk akal

Padahal utang bangsa kita sudah sangat fatal

Pemilu banyak menghasilkan pemimpin dan wakil rakyat yang begundal

Oleh: Hariyanto Imadha

Sok puisi

-Menggunakan kata atau kalimat berbunga-bunga

-Menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang sulit dipahami.

-Tata bahasanya sering keliru.

-Istilah yang digunakan kadang keliru.

-Tiap kata dan kalimat kurang atau tidak ada arti atau maknanya

-Tiap kata dan kalimat terkadang menyimpang dari judul.

-ATidak ada pesan yang disampaikan

Contoh

“Pelangi Sendu Beratap Gulana”

ketika sepi menyendiri menepi tanpa kisi-kisi

sembilu merah mengalir darah

terlunta kata dan cinta

terpana masa lama yang sirna

entah kapan buaian itu berhenti

tanpa kinanti mengguncang harap

tertata rindu kecup di birunya langit

kelam,kelam dan kelam

terantuk tergaruk dan luka lecet di jari kelingking

menggapai rindu tepian laut

ketika debur ombak berhenti bernafas

bertebar galau merebak jiwa

o,sendunya,sendunya

tak terkatakan kemana cinta berlari

dari ujung makam hingga rel kereta api

hanya noda cinta memagut harap

nan jauh dari kilau fatamorgana

Oleh: Gatoloco Dot Com

Nah, semoga Anda bisa membedakan mana yang “puisi” dan mana yang “sok puisi”

Semoga bermanfaat.

Kesimpulan

1.Selama ini perkembangan sastra hanya dilihat dari nama sastrawan dan angkatannya. Tidak berdasarkan perkembangan adanya perubahan bentuk ataupun substansi.

2.Yang terpenting, perkembangan sastra harus dilihat dari substansinya, bentuknya, muatannya, misinya,tujuannya dan manfaatnya .

3.Jadi, di era sekarang, sastra seharusnya tidak hanya bicara tentang cinta, tetapi tentang “apa saja” dengan menggunakan bahasa yang bebas dan seharusnya memiliki “something new”.

4.Sampai hari ini, masih banyak pengarang yang belum memahami perkembangan sastra dari waktu ke waktu, sehingga karya-karyanya masih berkiblat pada sastra “tempo doeloe”.

Artikel ini merupakan hasil analisa penulis sesudah membaca berbagai artikel tentang sastra,sastrawan,bentuk sastranya,periodesasi sastranya dan perubahan bentuk dan substansi sastranya.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha
Novelis dan cerpenis
Sejak 1973

Satu Tanggapan

  1. situs goblok g tau maksud sastra

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: