CERPEN : Misteri Jembatan Kali Ketek

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa’ : 29) “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).” (QS. Al-Kahfi ; 6)

BOJONEGORO, 1969. Saat itu saya duduk di bangku kelas 1, SMAN 1. Dulu namanya SMA Negara. Tepatnya saya di ruang 1-4.

“Harry! Kelas ini ada mahluk halusnya,” tiba-tiba Anggraeni yang duduk di sebelah saya berkata pelan. Maklum, saat itu Pak Boediono sedang mengajar di depan papan tulis.
“Banyak?”. Saya ingin tahu. Anggraeni adalah pacar saya sejak saya di bangku SMP Negeri 2. Di SMP-pun saya satu kelas. Bahkan juga satu bangku. Sejak SMP, saya tahu Anggraeni memang mempunya indera keenam, antara lain mampu melihat mahluk halus.
“Ada dua mahluk. Satu mahluk pocong satu lagi berbentuk ular berkepala manusia,” katanya lagi. Pelan.Namun perbincangan berhenti karena kemudian Pak Boediono mengadakan tanya jawab tentang materi pelajaran yang baru saja diajarkan.

Sesudah shalat Jum’at di sekolah, pelajaranpun diteruskan. Pulang sekolah, saya dan Anggraeni dengan masing-masing bersepeda, langsung ke Restoran Orion di Bombok. Makan siang bersama. Seperti biasa, saya dan Anggraeni bersepeda menuju ke jembatan Kali Ketek. Sambil mengayuh sepeda, kami berbicara apa saja. Terasa indah cinta kami berdua saat itu.

Tanpa terasa, kami telah sampai ke jembatan Kaliketek yang terletak di Sungai Bengawan Solo. Tepatnya di sebelah Utara Kota Bojonegoro. Kenapa harus ke jembatan itu? Maklum, tempat pacaran di kota tersebut sangat minim. Paling ke pemandian atau kolam renang Dander. Tapi terlalu jauh, skitar 14 kilometer dari kota. Sedangkan jembatan Kali Ketek hanya sekitar lima kilo dari sekolah..

Akhirnya sampailah ke jembatan itu. Sepeda kami parkir di jalur pejalan kaki. Dulu, jalur pejalan kaki masih bagus. Masih ada kayu-kayu yang bagus dan kuat. Selanjutnya kami memandangi arus sungai yang saat itu cukup deras.

“Harry…! Saya melihat mahluk halus…,” Anggraeni tiba-tiba berbicara lagi.
“Siang-siang kok ada mahluk halus?”. Komentar saya.
“Mahluk halus tidak pernah tidur, Harry”
“Di mana Anggra melihatnya?”
” Di bawah. Paling tidak saya melihat ada empat mahluk halus. Semuanya pocong. Yuk kesana…!”
“Ngapain?”
“Saya ingin ngobrol-ngobrol dengan mereka.” Kalau Anggra bicara seperti itu, bagi saya tidak aneh. Sewaktu masih di SMP-pun pernah ngobrol-ngobrol dengan hantu WC.

Saya dan Anggraenipun mengambil sepeda dan kemudian meluncur menuju ke bawah. Sesudah menyandarkan sepeda, Anggraenipun mengajak saya ke bawah sebuah pohon yang cukup angker. Di situ, Anggraeni mulai bertanya ke mahluk-mahluk halus itu. Seolah-olah berbicara sendiri. Maklum, saya tidak bisa melihat mahluk itu.

Sekitar 15 menit kemudian, Anggraeni mulai bercerita.
“Mereka semuanya cewek. Yang pertama bernama Anisa. Dia meninggal karena bunuh diri. Terjun dari jembatan Kali Ketek. Dia lakukan itu akibat patah hati. Dia hamil, tetapi cowoknya tidak mau bertanggung jawab…”
“Yang kedua?”. Saya ingin tahu.
“Kedua, namanya Wanti. Sri Wanti Agustini. Dia juga bunuh diri. Sebelum terjun dari jembatan, dia minum racun tikus. Dia bunuh diri karena akan dijodohkan dengan ayahnya. Dia tidak mau karena akan dijodohkan dengan lelaki yang sudah punya isteri.”

“Terus?”
“Ketiga. Namanya Sumarni. Penjual jamu. Umurnya 23 tahun. Dia diperkosa oleh pedagang sapi. Dia merasa malu dengan saudara-saudaranya. Tidak tahu apa yang harus diperbuat. Akhirnya dia nekat bunuh diri dengan cara yang sama. Terjun dari jembatan Kali Ketek.”

“Terakhir?”
“Terakhir namanya Sumini. Dia dari desa seberang. Ketika akan ke Bojonegoro berjalan kaki, di tengah jembatan, dia dirampok. Perhiasannya dirampas. Kemudian dia dilemparkan ke Sungai Bengawan Solo”
“Oh,…Mengerikan sekali nasib mereka. Kenapa musti harus bunuh diri? Apakah tidak ada jalan lain?”.Komentar saya.
“Orang yang bunuh diri adalah orang yang mengalami putus asa luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, dia merasa tidak ada jalan keluar yang tepat, kecuali bunuh diri. Biasanya, orang yang bunuh diri adalah orang-orang yang tertutup. Tidak pernah membicarakan secara terbuka masalahnya kepada orang lain. Dipendam sendiri. Akhirnya,merekapun bunuh diri.” Anggraeni bercerita.

Kata Anggraeni, sebenarnya di sekitar Jembatan Kali Ketek cukup banyak mahluk halus bergentayangan. Terutama pada hari Jumat Kliwon. Saat itu mereka berkumpul dan saling berkomunikasi. Mereka memang punya komunitas sendiri.
“Mereka itu mahluk halus yang berasal dari manusia atau setan yang menyamar sebagai manusia?”. saya penasaran. Sebab, guru agama saya pernah bilang bahwa manusia yang sudah meninggal, dunianya adalah alam kubur. Tidak mungkin bisa berada di alam manusia yang masih hidup. Sebab, dimensinya lain.

“Betul Harry. Saya setuju dengan pendapat itu. Mereka sebenarnya bukan jelmaan manusia yang telah meninggal. Tetapi, mereka adalah setan-setan yang bisa mewakili manusia-manusia yang bunuh diri itu. Mereka memalsukan dirinya. Bisa merubah bentuk seperti arwah-arwah yang telah meninggal. Jadi, mereka tahu apa yang dilakukan merekayang bunuh diri.” Cerita Anggraeni yang punya indera keenam.

“Lantas, apa maksud mereka bergentayangan di dunia kita?”
“Setan suka mengganggu orang yang masih hidup.Jangan heran kalau di jembatan itu sering terjadi kecelakaan. Ketika kereta api masih bisa melintasi jembatan itu, banyak orang yang tewas terserempet kereta api. bahkan, ada yang tertabrak langsung. Sejak itulah, maka kereta api tidak boleh lagi melintas di situ. Penduduk terpaksa kalau bepergian naik sepeda, becak atau dokar…”
“Oh, pantaslah. Tak ada lagi kereta api lewat di situ”. Saya manggut-manggut tanda mengerti. Saya yang saat itu punya perpustakaan komik dan buku-buku ilmu pengetahuan, Anggraeni tidak hanya mampu melihat mahluk halus, tetapi juga bisa melihat masa lalu dan masa yang akan datang.

“Oh, ya. Kenapa ya, jembatan ini dinamakan Kali Ketek?”
“Oh, itu sesuai namanya. Dulu, di seberang ana, di Desa Banjarsari dan Desa Kalisari dan desa-desa sekitarnya, masih berupa hutan kecil. Banyak kera atau ketek yang berkeliaran. Dulu jembatan itu berupa jembatan dari bambu. Banyak kera berkeliaran di jembatan itu. Tetapi mereka kera yang baik. Tidak suka mengganggu manusia..”
“Oh, begitu?”

“Lantas, misteri apa lagi yang ada di jembatan ini?”
“Kata ayah saya, kalau malam Jumat akan terdengar suara gending. Tapi kalau kita cari, nggak bakalan ketemu. Ayah saya juga pernah melihat ada dua orang Belanda di jembatan itu, tetapi tiba-tiba menghilang. Atau kadang-kadang ada bau wangi semerbak, tetapi cepat berubah menjadi bau busuk…”
“Kenapa bisa begitu?”
“Kabarnya, dulu banyak pejuang kemerdekaan Indonesia yang dibunuh oleh Belanda di jembatan itu. Ditutup matanya, langsung ditembak…”

“Apa lagi?”
“Ingat peristiwa G-30-S/PKI?”
“Oh, tentu…”
“Nah, di sungai ini, hampir tiap hari kita bisa melihat mayat-mayat mengapung. Tidak hanya satu dua. Tetapi puluhan. Mereka adalah mayat-mayat orang-orang yang diduga atau dipastikan pendukung PKI”
“Oh,ya. Ingat-ingat…”
“Sebagian mayat mereka tersangkut dan tenggelam di bawah jembatan. Jadi, sebetulnya banyak roh-roh di sini. Semakin banyak roh, semakin banyak mahluk halus di sini. Bukan berasal dari roh mereka, tetapi dari mahluk-mahluk halus lainnya.Mereka boleh dikatakan sebagai mediator dari roh-roh manusia dengan kita. Itulah sebabnya, pocong-pocong yang tadi saya ajak bicara, bukan berasal dari manusia yang telah meninggal. Tetapi, mahluk-mahluk halus yang menyamar dan mewakii roh-roh manusia yang meninggal secara tidak wajar…”

Apa yang dikatakan Anggraeni memang sulit dipahami orang biasa. Tetapi, saya yang sejak SMP membaca buku-buku psikologi, terutama yang berhubungan dengan indera keenam, tepatnya ESP (extra Sensory Perception), tentu saya bisa mengerti. Psikologi mengatakan memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan clair voyance, telepati dan lain-lain.

Karena hari sudah sore, saya dan Anggraenipun segera mengayuh sepeda. Menyusuri jalan-jalan Bojonegoro. Menuju pulang ke rumah masing-masing.Anggraeni menuju ke Jl.Dr.Wahidin. Sedangkan saya menuju ke Jl.Trunojoyo No.4 yang sekarang menjadi kantor pajak.

Sumber foto:
1.gambar-gambar-lucu.blogspot.com
2.indowebster.web.id
3. 1.bp.blogspot.com

Catatan:
Cerpen ini merupakan cerita fiktif.

Hariyanto Imadha
Novelis & Cerpenis

8 Tanggapan

  1. keren bray ceritanya22

  2. Tambh lg donk..cerpen’X.

  3. Menerikan sekali misteri jembatan ketekan !!!!!

  4. Menekut kan sekali cerita jembatan ketekan

  5. Oh gitu toh buat yang baca memang bayak mahluk astral di sekitar kita tapi kekuatan yang tidak bisa tertandinga adalah kekuatan allah Swt

  6. Wih

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s