CERPEN: Gerimis Tanah Lot

TAHUN 1973. Seusai mengikuti ujian semester di Fakultas Ekonomi ,Universitas Trisakti, saya dan anggota kelompok belajar, mengadakan rekreasi bersama ke Bali. Apalagi, kebanyakan teman-teman saya belum pernah ke Bali. Dari Jakarta ke Banyuwangi naik kereta api. Dan dari Banyuwangi ke Denpasar naik bus melewati Selat Bali. Semua sekitar sepuluh mahasiswa. Termasuk saya. Sepanjang perjalanan hanya rasa senang saja yang menyelimuti kami. Tertawa, tersenyum, bernyanyi, main gitar, makan makanan kecil, minum-minuman ringan, bercanda, saling meledek dan apa saja.

Tanpa terasa sampai di hotel. Semua masuk ke kamar masing-masing yang telah ditentukan. Satu kamar dua tempat tidur. Kamar mandi dalam. Full AC. Kamar sangat bersih dan nyaman. Halaman parkir luas. Sesudah menyimpan barang-barang di lemari, mandi dan ganti baju, maka kamipun menuju ke rumah makan seberang untuk makan siang bersama.

Sesuai jadwal, sesudah makan, langsung masuk bus mini berkapasitas 15 tempat duduk. Sepuluh tempat duduk untuk rombongan kami, sebagian untuk dua orang pemandu wisata dan sisanya kosong. Bus mini telah kami carter selama seminggu penuh.

“Ke mana kita?” tanya Momos yang rambutnya gondrong, bertubuh tegap dan suka humor.

“Kita ke Tanah Lot dulu,” sahut Doddy, koordinator rekreasi. Buspun berangkat sesuai dengan jadwal yang telah kami tentukan. Dalam perjalanan, tak henti-hentinya kami bersendau-gurau. Sungguh, hari yang sangat menyenangkan.

Sampai di tempat parkir, rombonganpun turun. Ternyata, di samping kami, juga baru masuk rombongan mahasiswa. Sesudah saya amati, mereka mengenakan jaket Universitas Widya Mandala, Surabaya. Sementara kami semua mengenakan jaket Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti  Jakarta, walaupun kegiatan kami merupakan kegiatan pribadi atau kelompok.

“Kita menyeberang. Selagi air laut turun…” kata Mas Bramantyo sang pemandu wisata. Terus terang, kami belum pernah ke Tanah Lot. Kamipun turun ke pantai di mana air laut sedang surut. Setelah berjalan sekitar 100 meter, kamipun menaiki sebuah pulai sangat kecil. Itulah Pulau Tanah Lot. Ternyata, rombongan mahasiswa yang berjumlah sekitar 50 mahasiswapun punya tujuan yang sama.

Pulau kecil itu memang indah. Di sana-sini ada patung atau arca yang menarik. Agak ke tengah ada pura kecil. Rombongan kamipun berpencar. Jalan sendir-sendiri sesuai selera masing-masing.

“Dari Surabaya,ya?” tanya saya ke seorang mahasiswi yang kebetulan berdiri di dekat saya saat berada di dekat pura kecil. Agak kaget mahasiswi itu.

“Oh, iya…”

“Dari universitas mana?” saya bertanya belaga bego. Mahasiswi itu menunjukkan jaketnya.

“Oh, dari Universitas Widya Mandala,ya?” saya menegaskan. Mahasiswi itu mengangguk. Saya lihat, boleh juga mahasiswi itu. Langsing, putih dan cantik. Rambutnya pendek, bulu matanya lentik dan bibirnya yang mungil itu cukup menggemaskan.

“Kalau kamu dari mana?” ganti mahasiswi itu tanya ke saya.

“Trisakti. Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti, Jakarta”. Ganti saya menunjukkan jaket almamater saya.

“Oh, baru masuk ya? Sama. Saya cuma baru semester satu. Kenal nggak sama Shanty?” tanyanya.

“Shanty Mintaredja?”

“Iya. Dia puteri tante saya,” dia meyakinkan.

“Oh, dia satu rombongan dengan saya. Ada kok, tadi ikut…” saya menoleh ke kanan-ke kiri mencari Shanty.

“Itu dia…” saya menunjuk Shanty yang sedang berjalan dengan Widyarini.

“Oh,ya. Betul. Itu Shanty. Yuk ke sana….” ajaknya. Tentu, saya tidak menolak ajakannya. Diapun meninggalkan dua orang temannya. Saya dan mahasiswi itupun berjalan menuju ke tempat Shanty berada.

“Oh, ya. Kita belum kenalan….Saya Harry…” saya memperkenalkan diri. saya mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Oh, ya. Saya Siska. Siska Marina Yordhant,” diapun membalas perkenalan saya. Betapa lembut telapak tangannya. Ada rasa indah di hati saya.

“Hei, Shanty…” teriak kecil Siska. Shantypun terkejut surprise melihat Siska. Keduanyapun berbincang-bincang. Sementara saya mengobrol-ngobrol dengan Widyarini. Sekitar 15 menit kemudian, Siska minta ke saya untuk diantarkanke teman-temannya.

Baru selangkah, tiba-tiba gerimis turun.

“Oh, untung saya bawa payung lipat…” ujar Siska sambil mengambil payung lipat dari tas kecilnya. Payungpun dibentangkan. Kami berduapun berjalan bersama. Satu payung untuk berdua. Tak heran kalau bahu kami kadang-kadang saling bersentuhan. Kesempatan saya untuk merangkul.Eh, ternyata Siska diam saja.

Sungguh, saya merasakan getaran-getaran indah di hati. Apakah ini yang dinamakan cinta? Mungkin iya,mungkin tidak. Yang pasti, sikap Siska sangat menyenangkan sekali. Di dalam perjalanan, saya mencatat alamat dan nomor telepon Siska yang berdomisili di Surabaya. Ternyata dia tinggal di Jl. Bengawan, dekat Jl. Raya Darmo, kawasan elit.

Sesudah Siska berkumpul dengan dua temannya tadi, saya dan Siskapun foto bersama, baik menggunakan kamera saya maupun kamera Siska. Tentu minta bantuan temannya. Kemudian saya kembali ke rombongan saya sendiri. Berkumpul dengan Ardani, Bambang Sutedjo, Treesye dan lain-lain. Kamipun menikmati pemandangan indah di pulau kecil itu sambil makan makanan kecil. Tetap ceria. Tetap gembira. Gerimispun reda.

Berikutnya, melanjutkan perjalanan ke objek-objek wisata lainnya. Sore harinya kembali ke hotel. Dan malam harinya nonton Tari Kecak. Tentu, jalan-jalan melihat keramaian malam Kota Denpasar. Senang sekali masa mahasiswa. Masa muda yang tak pernah terlupakan. Hmmm…indah sekali hari itu.

Keesokan harinya, rombongan menuju ke Istana Tapaksiring, atau ada yang menamakan Tampak Siring. Oh Tuhan…Ternyata Tuhan mempertemukan lagi dengan Siska yang kali ini semua rombongannya berpakaian bebas, sama dengan rombongan kami.

“Hai, Harry…Ketemu lagi kita…” sapa Siska sambl tersenyum. Sayapun mendekatinya. Kali itu, Siska lebih suka mengikuti rombongan saya. sayapun memperkenalkan Siska ke Momos, Bambang,Widyarini dan lain-lain. Cuma, karena Shanty merupakan familinya, walaupun Siska bergabung dengan rombongan kami, namun lebih banyak bersama Shanty. Terpaksa, saya cari acara sendiri bersama Ardani, Momos dan Taufik. Lihat-lihat kolam, lihat-lihat aneka tanaman yang ada di situ, melihat burung-burung berterbangan dan tentu foto bersama.

Mendadak gerimis turun lagi. Sayapun bergegas mencari tempat berteduh. Eh, di tempat berteduh itu saya berkumpul lagi dengan Siska. Ngobrol-ngobrol lagi. Terkadang tertawa senang. Tak lupa juga foto bersama.

Hari ketiga, rombongan kami menuju ke Pura Besakih. Lagi-lagi, Tuhan mempertemukan lagi saya dengan Siska.
“Kok kita bertemu lagi,” sapa saya. Siska cuma tertawa kecil. Wow, cantik sekali kalau tertawa. Hati saya terasa nyaman dan teduh mendengar tertawanya.

“Kok nggak ikut masuk pura,” saya ingin tahu.

“Ssst..Cewek yang sedang berhalangan tidak boleh masuk. Ada peraturannya…” ucap Siska sambil menmpelkan telunjuk jarinya ke bibirnya yang mungil itu.

“Oh, ya,” saya baru ingat. Akhirnya di luar pura, saya menemani Siska. Berfoto bersama di sekitar pura. Kebetulan, kamera kami masing-masing dilengkapi tripod dan merupakan kamera otomatis. Menyenangkan sekali. Solah-olah kami sudah saling mengenal puluhan tahun yang lalu.

Lagi-lagi gerimis datang lagi. Saya dan Siskapun lari-lari kecil mencari tempat berteduh. Dan lagi-lagi mengobrol ke sana ke mari. Wow, indah sekali hari itu. Cukup lama kami ngobrol. Apapun yang saya bicarakan, selalu konek. Selalu ditanggapi dengan tepat. Pertanda Siska mahasiswi yang pandai dan berpengetahuan luas. Akhirnya, saya berjanji suatu saat akan ke Surabaya. Dengan senang hati Siska mempersilahkan datang ke Surabaya.

Begitulah. Satu bulan kemudian, sayapun rajin ke Surabaya. Jumat sore berangkat dari Jakarta naik kereta api. Malam hari ke rumah Siska. Saya menginap di rumah famili di kawasan Pucang. Minggu pagi jalan-jalan pakai motor bebek milik Siska. Ke Tunjungan, enjeran atau ke mana kami suka. Termasuk ke ice cream Rendevous di Kayun.

Hubungan kami berjalan selama dua tahun. Kami resmi saling jatuh cinta. Siska yang cantik itu resmi menjadi pacar saya. Sampai suatu saat Shanty mendkati saya.

“Harry. Harry benar-benar mencintai Siska?” Shanty bertanya. wajahnya tanpa senyum.

“Lho, iya dong. kalau tidak, buat apa tiap minggu saya ke Surabaya?. Kok, wajah Shanty sedih, sih?”

Shanty tetap diam.

“Ada apa Shanty,” saya lebih heran lagi melihat Shanty meneteskan ar mata,” Ada apa Shanty?”.

“Maaf Harry…Saya terpaksa memberitahukan Harry. Tadi pagi Shanty menerima telepon dari mamanya Siska…”

“Kenapa Shanty…Ada apa dengan Siska…?” saya terus mendesak  Shanty. Perasaan jadi tidak enak.

Akhirnya Shanty berkata jujur. Semalam Siska telah meninggal di rumah sakit karena menderita kanker otak.

“Siskaaa…!”. Histeris saya berteriak.

Saya pingsan di kampus.

 

Sumber foto: susususussusu.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Cerpenis & Novelis
Iklan

TELAH TERBIT DAN SEGERA TERBIT: Novel-Novel Bermutu Karya Hariyanto Imadha

Ciri khas novel karya Hariyanto Imadha

1.Ada something new 2.Ada message 3.Ada pencerahan 4.Ada sisipan ilmu pengetahuan populer 5.Ada ajakan untuk berpikir.

.

Biodata Hariyanto Imadha
https://fsui.wordpress.com/biodata-hariyanto-imadha/

.

1.Novel: Di Telaga Sarangan Pernah Ada Cinta

Halaman : 225 halaman

Kertas : HVS

Bahasa : Indonesia

1.Harga : Rp 55.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk buku).

Sudah bisa dipesan

2.Harga : Rp 25.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk CD)

Sudah bisa dipesan

3.Harga: Rp 10.000 dikirim lewat E-mail Anda (berbentuk file)

Sudah bisa dipesan

Pembelian lewat bank : Pembelian lewat bank: . Kirim ke HARIYANTO,Bank BRI Unit Bojonegoro, No.Rek.3846-01-000524-50-6. Kirim copy bukti transfer ke HARIYANTO, BSD Nusaloka Sektor XIV-5,Jl.Bintan 2 Blok S-1/11,Tangerang 15318. Konfirmasi lewat SMS ke: 081-330-070-330. Buku/CD  novel dikirim lewat TIKI/JNE. File novel dikirim lewat E-mail Anda.

Gambar:

2.Novel: Misteri Terbunuhnya Mahasiswa Gigolo di Apartemen Orchid

Halaman : Sekitar 225 halaman

Kertas : HVS

Bahasa : Indonesia

1.Harga : Rp 55.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk buku).

Belum bisa dipesan

2.Harga : Rp 25.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk CD)

Sudah bisa dipesan

3.Harga: Rp 10.000 dikirim lewat E-mail Anda (berbentuk file)

Sudah bisa dipesan

Pembelian lewat bank : Pembelian lewat bank: . Kirim ke HARIYANTO,Bank BRI Unit Bojonegoro, No.Rek.3846-01-000524-50-6. Kirim copy bukti transfer ke HARIYANTO, BSD Nusaloka Sektor XIV-5,Jl.Bintan 2 Blok S-1/11,Tangerang 15318. Konfirmasi lewat SMS ke: 081-330-070-330. Buku/CD  novel dikirim lewat TIKI/JNE. File novel dikirim lewat E-mail Anda.

Gambar:

3.Novel: Misteri Gelas Pecah

Halaman : Sekitar 225 halaman

Kertas : HVS

Bahasa : Indonesia

1.Harga : Rp 55.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk buku).

Belum bisa dipesan

2.Harga : Rp 25.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk CD)

Sudah bisa dipesan

3.Harga: Rp 10.000 dikirim lewat E-mail Anda (berbentuk file)

Sudah bisa dipesan

Pembelian lewat bank : Pembelian lewat bank: . Kirim ke HARIYANTO,Bank BRI Unit Bojonegoro, No.Rek.3846-01-000524-50-6. Kirim copy bukti transfer ke HARIYANTO, BSD Nusaloka Sektor XIV-5,Jl.Bintan 2 Blok S-1/11,Tangerang 15318. Konfirmasi lewat SMS ke: 081-330-070-330. Buku/CD  novel dikirim lewat TIKI/JNE. File novel dikirim lewat E-mail Anda.

Gambar:


4.Novel: Misteri Tewasnya Sekretaris PT Ayodhia Pratama Perkasa

Halaman : Sekitar 225 halaman

Kertas : HVS

Bahasa : Indonesia

1.Harga : Rp 55.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk buku).

Belum bisa dipesan

2.Harga : Rp 25.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk CD)

Sudah bisa dipesan

3.Harga: Rp 10.000 dikirim lewat E-mail Anda (berbentuk file)

Sudah bisa dipesan

Pembelian lewat bank : Pembelian lewat bank: . Kirim ke HARIYANTO,Bank BRI Unit Bojonegoro, No.Rek.3846-01-000524-50-6. Kirim copy bukti transfer ke HARIYANTO, BSD Nusaloka Sektor XIV-5,Jl.Bintan 2 Blok S-1/11,Tangerang 15318. Konfirmasi lewat SMS ke: 081-330-070-330. Buku/CD  novel dikirim lewat TIKI/JNE. File novel dikirim lewat E-mail Anda.

Gambar:

5.Novel: Balada Pantai Lovina

Halaman : Sekitar 225 halaman

Kertas : HVS

Bahasa : Indonesia

1.Harga : Rp 55.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk buku).

Belum bisa dipesan

2.Harga : Rp 25.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk CD)

Sudah bisa dipesan

3.Harga: Rp 10.000 dikirim lewat E-mail Anda (berbentuk file)

Sudah bisa dipesan

Pembelian lewat bank : Pembelian lewat bank: . Kirim ke HARIYANTO,Bank BRI Unit Bojonegoro, No.Rek.3846-01-000524-50-6. Kirim copy bukti transfer ke HARIYANTO, BSD Nusaloka Sektor XIV-5,Jl.Bintan 2 Blok S-1/11,Tangerang 15318. Konfirmasi lewat SMS ke: 081-330-070-330. Buku/CD  novel dikirim lewat TIKI/JNE. File novel dikirim lewat E-mail Anda.

Gambar:

6.Novel: Misteri Peniti Emas

Halaman : Sekitar 225 halaman

Kertas : HVS

Bahasa : Indonesia

1.Harga : Rp 55.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk buku).

Belum bisa dipesan

2.Harga : Rp 25.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk CD)

Sudah bisa dipesan

3.Harga: Rp 10.000 dikirim lewat E-mail Anda (berbentuk file)

Sudah bisa dipesan

Pembelian lewat bank : Pembelian lewat bank: . Kirim ke HARIYANTO,Bank BRI Unit Bojonegoro, No.Rek.3846-01-000524-50-6. Kirim copy bukti transfer ke HARIYANTO, BSD Nusaloka Sektor XIV-5,Jl.Bintan 2 Blok S-1/11,Tangerang 15318. Konfirmasi lewat SMS ke: 081-330-070-330. Buku/CD  novel dikirim lewat TIKI/JNE. File novel dikirim lewat E-mail Anda.

7.Kumpulan 100 Cerpen: Ketika Matahari Terbit dari Barat

Halaman : Sekitar 225 halaman

Kertas : HVS

Bahasa : Indonesia

1.Harga : Rp 55.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk buku).

Belum bisa dipesan

2.Harga : Rp 25.000 termasuk ongkos kirim (berbentuk CD)

Sudah bisa dipesan

3.Harga: Rp 10.000 dikirim lewat E-mail Anda (berbentuk file)

Sudah bisa dipesan

Pembelian lewat bank : Pembelian lewat bank: . Kirim ke HARIYANTO,Bank BRI Unit Bojonegoro, No.Rek.3846-01-000524-50-6. Kirim copy bukti transfer ke HARIYANTO, BSD Nusaloka Sektor XIV-5,Jl.Bintan 2 Blok S-1/11,Tangerang 15318. Konfirmasi lewat SMS ke: 081-330-070-330. Buku/CD  novel dikirim lewat TIKI/JNE. File novel dikirim lewat E-mail Anda.

Gambar:

8. Dan lain-lain yang masih dalam proses.

Informasi:

Hariyanto Imadha

SMS Only : 081-330-070-330

CERPEN: Cintaku Jauh di Shanghai

SAAT itu saya masih menjadi mahasiswa di Fakultas MIPA di salah satu perguruan tinggi di Jakarta dan duduk di semester enam. Sekaligus berarti sudah enam tahun saya pacaran dengan Audi, mahasiswi satu angkatan dengan saya. Audi memang penampilannya sangat menyenangkan. Enak diajak bicara. Kalau diajak diskusi selalu konek. Kebetulan, dia cantik dan cerdas. Dia cewek peranakan. Papanya keturunan Cina sedangkan mamanya orang Sunda.

“Harry, saya mau bicara sebentar, nih. Boleh ngobrol-ngobrol di kantin”, suatu hari Audi bicara seperti itu. Agak aneh, sebab biasanya sayalah yang mengajak Audi ke kantin. Tapi saya Cuma mengangguk saja. Saya dan Audipun menuju ke kantin. Sambil menunggu bakso dan minuman yang kami pesan, Audipun langsung bicara “to the point”.

“Begini Harry. Kakak saya yang di Shanghai kan baru saja meninggal. Nah, saya diminta papa untuk menggantikan kakak saya mengelola hotel milik papa di sana. Di Shanghai. Bagaimana menurut pendapat Harry?”, Audi menatap wajah saya. Sebenarnya saya terkejut juga mendengar rencana kepindahan Audi ke luar negeri.

“Apakah tidak ada saudara lain yang bisa menggantikannya?”, saya mencari alternatif.

“Kakak saya hanya satu orang itu dan saya tidak punya adik. Jadi, sekarang saya satu-satunya anak papa-mama yang masih hidup. Memang, saya berat meninggalkan Harry. Berat meninggalkan Indonesia. Tapi, bagaimana kira-kira solusi terbaik?”.

“Hmm, bagaimana ,ya?”, pikiran saya masih buntu. Berkali-kali saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Oh, ya. Saya punya ide. Bagaimana kalau tiap tiga bulan sekali Harry ke Shanghai> Biaya pesawat nanti saya yang tanggung. Dan hotel, tentu saja gratis…”, wajah Audi tampak agak ceria karena menemukan solusi. Namun, saya tidak langsung menerimanya.

“Bagaimana kalau saya minta waktu satu hari untuk memikirkannya?”, pinta saya. Audi menyetujuinya. Kemudian kami berdua asyik makan bakso sambil bicara tentang matakuliah-matakuliah di Fakultas MIPA tempat kami kuliah. Kata Audi, kemungkinan di Shanghai akau menggunakan waktunya sepenuh hati untuk mengelola hotel milik papanya. Artinya, dia tidak akan kuliah lagi. Tak apalah, kalau memang itu merupakan pilihan terbaik bagi Audi.

Dan keesokan harinya kami bertemu lagi.

“Baiklah Audi. Kalau itu merupakan keputusan terbaik bagi Audi dan keluarga, tak apalah. Kalau memang kita jodoh, suatu saat kita akan bertemu lagi dan menikah”, begitu kalimat-kalimat yang saya utarakan ke Audi. Audi yang cerdas dan mampu berbahasa Mandarin itu memandang saya dengan penuh perhatian.

“Baiklah, Harry. Walaupun kita nanti berjauhan. Saya harap tiap tiga bulan atau tiap bulan, datang saja ke Shanghai. Soal biaya, tidak usah dipikirkan. Saya tetap berharap agar hubungan kita tetap berlanjut walaupun jarak kita berjauhan…”, ucap Audi penuh kedewasaan. Audi memang keturunan Cina, namun dia beragama Islam. Sama dengan agama saya.

Tepat tanggal 18 Juni tahun 2005, Audipun meninggalkan Jakarta. Saya hanya bisa mengantarkannya sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Ketika pesawat sudah terbang dan tak terlihat lagi, saya baru merasakan betapa sepinya hidup saya. Seakan-akan saya merasakan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Dengan langkah gontai, sayapun menuju ke mobil yang berada di tempat parkir. Kemudian saya kemudikan pelan menuju Tangerang dan menuju ke rumah saya di kawasan BSD City, Tangerang Selatan.

Benarlah, satu bulan kemudian, Audi transfer uang ke rekening saya untuk keperluan membeli tiket pesawat dan mengurus persiapan ke Shanghai. Saya sengaja berangkat hari Kamis karena hari Jumat, Sabtu dan Minggu tidak ada jadwal perkuliahan.

Saat itu pesawat yang saya tumpangipun menuju ke Shanghai. Ini adalah pengalaman saya pergi ke Shanghai. Kalau ke Amerika atau Eropa sih sudah sering saya lakukan sejak saya masih duduk di bangku SMP. Shanghai adalah kota terbesar Republik Rakyat Cina dan terletak di tepi delta Changjiang. Kota ini dalam beberapa dekade terakhir telah membuatnya menjadi pusat ekonomi, perdagangan, keuangan dan komunikasi  terpenting Cina.Shanghai juga merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di dunia. Shanghai, 99% dihuni suku Han dan sekitar 10% suku Hui. Papa Audi termasuk suku Han.

Setelah berjam-jam di udara, akhirnya pesawatpun mendarat di Bandara Internasional Pudong, Shanghai. Mendarat dengan mulus. Udara saat itupun cerah. Saat itu Bandara Pudong baru satu tahun digunakan. Resminya dibangun tahun 1999.

Seperti yang sudah dijanjikan Audi, kamipun dengan mudah bertemu dengan Audi di bandara. Langsung kami saling berpelukan. Maklum, kami saling menyinta. Audipun mengajak saya ke luar bandara. Kemudian naik ke mobilnya yang ternyata dikemudikan sendiri oleh Audi.

“Capek, ya?”, Audi memulai pembicaraan.

“Wah, lumayanlah. Untunglah tiba di Shanghai udaranya sangat cerah…”

Mobil mewah yang dikendarai Audipun pun terus meluncur di jalan-jalan mulus yang ada di Shanghai. Shanghai terletak di Cina bagian Timur.

“  Di Cina ada beberapa kota yang mendapat gelar sebagai  kota pariwisata terbaik tingkat nasional,lho. diantaranya kota  Shanghai, Guangzhou, Chengdu, Shenyang, Beijing, Tianjin, Chongqing, Shenzhen, Hangzhou, Dalian, Nanjing, Xiamen, Qingdao, Ningbo, Xi’an, Harbin, Jinan, Changchun dan Lhasa…,” Audi sambil mengemudi sambil bercerita memperkenalkan Shanghai dan kota-kota lainnya. Terutama kota-kota pariwisata. Audi tahu kalau saya suka mengunjungi objek-objek wisata.

Tak lama kemudian, mobilpun melewati  Zhangyang Road,  merupakan salah satu sebuah kawasan elit di Shanghai. Kemudian, mobilpun masuk ke halaman sebuah hotel yang cukup besar. Namanya hotel Pudong City Intercontinental. Luar biasa, sebuah hotel yang tinggi dan megah. Kedatangan Audiapun langsung disambut petugas khusus. Selanjutnya, Audi mengantarkan saya ke sebuah kamar hotel yang tergolong VVIP Room. Luar biasa.

“Silahkan istirahat dulu, Harry. Saya pulang ke rumah dulu. Nanti siang saya akan kemari lagi,” ucap Audi yang kemudian meninggalkan kamar. Sayapun bergegas mandi dan ganti pakaian. Sesudah pesan makanan lewat telepon, sayapun menikmati makanan pagi berupa Chinese Food. Untung, saya sudah terbiasa makan makanan Cina di Jakarta, sehingga saya hafal benar mana makanan yang cocok buat saya. Selesai makan, saya ke teras. Melihat ke arah jauh. Melihat pemandangan di bawah sana yang cukup indah. Maklum, kamar saya berada di lantai sepuluh.

Siang harinya Audi benar-benar datang lagi ke hotel. Kemudian mengajak saya menuju ke rumahnya yang semula ditempati kakaknya. Sampai di lobby hotel, saya ditawari beberapa paket wisata di mana pihak hotel memang menjalan kerja sama dengan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang travel and tour.

Saya dan Audipun segera memasuki bus tour yang menjemput kami di hotel. Kemudian bus tour yang mewah itupun satu persatu mengunjungi Yu Garden, Old town Market, The Bund, Silk factory, Nanjing Road, Jade Buddha Temple, Shanghai Museum dan terakhir Xin Tian Di. Sebuah wisata yang sangat memuaskan. Semua objek wisata itupun pasti saya abadikan menggunakan kamera ponsel saya. Bahkan juga menggunakan handycam.

Begitulah ceritanya. Atas permintaan Audi, sayapun akhirnya sebulan sekali pergi ke Shanghai atas biaya Audi. Maklumlah, kalau semua biaya saya tanggung sendiri, saya bisa bangkrut. Saya bukan orang kaya raya, melainkan berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi biasa-biasa saja. Untunglah, Audi berasal dari keluarga yang mampu.

Tanpa terasa, akhirnya kuliah saya di Fakultas MIPA-pun selesai. Saat wisuda, Audi beserta kedua orang tuanya, kedua orang tua saya dan audara-saudara sayapun hadir. Wisuda diadakan di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Cukup meriah. Cukup menyenangkan. Cukup mengesankan. Terasa cepat sekali perkuliahan yang saya jalani.

Dua bulan kemudian saya dan Audipun menikah di Jakarta. Mantan teman-teman kuliah di Fakulta MIPA-pun saya undang. Begitu pula keluarga Audi juga turut hadir. Teman-teman Audi yang dari Shanghaipun ada yang datang. Pernikahan yang sangat menyenangkan.

Selesai menikah, saya dipercaya ayah Audi untuk memegang salah satu perusahaan yang berada di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Dengan senang hatipun saya menerimanya. Rasa-rasanya hidup saya terasa sempurna. Kuliah selesai. Dapat pekerjaan dengan gaji besar. Dapat isteri cantik dan cerdas. Saya tinggal di rumah baru di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Rumah mewah. Mobil mewah. Uang banyak. Apa lagi? Tidak ada kekurangan apapun.  Setahun kemudianpun kami dikaruniai anak perempuan cantik bermata sipit. Audipun akhirnya menetap di Jakarta. Sebulan sekali Audi ke Shanghai untuk memantau hotelnya yang mewah di Shanghai.

Hariyanto Imadha

Novelis dan Cerpenis
Sejak 1973

CERPEN : Guru Bahasa Indonesiaku yang Sombong

SAAT itu saya duduk di kelas 2 SMPN 2 di salah satu kota di Jawa Timur. Sudah dua bulan teman-teman diajar guru baru untuk matapelajaran Bahasa Indonesia. Namanya Bu Nani. Menggantikan guru yang lama yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

Saya, sebagai ketua OSIS sebearnya sudah menerima keluhan dari beberapa teman sekelas maupun yang tidak sekelas, maka Bu Nani dipandang sebagai guru yang sombong dan semena-mena.  Rapat OSIS-pun pernah saya adakan. Namun semua anggota OSIS mengambil kesimpulan bahwa belum ada kasus yang benar-benar untuk ditindak lanjuti.

Sampai pada suatu hari, pagi itu sebelum matapelajaran pertama, kebetulan Bahasa Indonesia, dimulai. Tiba-tiba saya merasa sakit perut. Sayapun berpesan kepada teman sekelas akan ke toilet karena sakit perut. Saya pesan supaya nanti hal tersebut diberitahukan ke Bu Nani.

Sekitar 15 menit kemudian, sayapun meninggalkan toilet dan memasuki kelas. Ternyata, pelajaran telah dimulai. Sayapun  menghadap Bu nani yang saat itu sedang menulis di papan tulis. Saya jelaskan kalau saya terlambat masuk karena sakit perut.

Namun, apa yang terjadi? Saya tidak diijinkan masuk dengan alasan, siswa yang terlambat masuk 15 menit, tidak boleh mengikuti pelajaran. Untuk yang kedua kalinya saya memberikan alasan bahwa saya terlambat masuk karena sakit, bukan karena hal-hal lain. Namun, alasan saya membuat Bu Nani marah. Meskipun demikian saya tetap ngotot menuju ke bangku saya dan duduk.

“Silahkan kamu keluar. Menurut peraturan sekolah ini, siswa yang terlambat 15 menit atau lebih, tidak boleh mengikuti pelajaran…!”, bentak Bu Nani secara emosional. Saya tetap duduk. Bu Nani tetap menyuruh saya keluar. Saya tetap duduk karena saya merasa saya punya alasan yang kuat.

Karena Bu Nani tetap memaksa saya keluar, akhirnya saya sebagai Ketua Kelas memberi isyarat ke teman-teman sekelas supaya semuanya ramai-ramai meninggalkan kelas. Benar. Begitu melihat saya keluar, teman-teman sekelaspun kompak meninggalkan kelas. Apalagi, teman-tman juga sudah lama sebel dengan guru yang baru dua bulan mengajar. Walaupun Bu Nani melarang teman-teman meninggalkan ruangan kelas, namun semuanya kompak. Kelaspun sepi. Teman-teman hanya duduk-duduk di luar kelas ataupun di bawah pohon kedondong yang rimbun.

Ribut-ribut itupun akhirnya terdengar hingga ke dewan guru, termasuk kepala sekolah.  Esok harinya, kepala sekolahpun memanggil saya. Ketika saya memasuki ruang rapat sekolah, saya lihat, di amping ada kepala sekolah, juga ada dewan guru, termasuk Bu Nani. Rupa-rupanya ada rapat. Saya dan Bu nanipun dipersilahkan menceritakan kronologi peristiwa itu.

Bu Nanipun menceritakan, keputusannya untuk menolak saya masuk kelas karena ada peraturan sekolah yang melarang siswa mengikuti pelajaran jika terlambat lebih dari 15 menit. Bu Nanipun menunjukkan nbukti tertulis. Namun saya menjelaskan ke dewan guru, bahwa saya punya alasan yang kuat, yaitu karena sakit perut.

Kepala sekolah yang tahu ayah saja merupakan pejabat di dinas kependidikanpun tampaknya bingung untuk mengambil keputusan. Memihak saya, salah. Memigak Bu Nanipun salah. Akhirnya, kepala sekolah yang bernama Pak Satmokopun menyarankan agar kasus itu tidak perlu diperpanjang. Dan menyarankan agar Bu nani dan saya saling memaafkan.

Namun, Bu Nani yang merasa benar itupun tidak mau melakukan permintaan kepala sekolah. Sayapun demikian. Akhirnya, rapatpun ditutup tanpa solusi yang memuaskan semua pihak. Sesuai rapat itu, sayapun mengadakan rapat Pengurus OSIS, tentu saat jam istirahat. Rapat itu tentu saja juga dihadiri semua ketua kelas, mulai kelas satu hingga kelas tiga. Sebagian mengusulkan supaya diadakan aktivitas mogok belajar khusus Bu Nani, dengan alasan sudah ada beberapa kasus kesewenang-wenangan yang dilakukan Bu nani selama dua bulan ini. Setelah divoting, ternyata 90% menyetujui aksi mogok.

Begitulah, mulai esok harinya aksi mogok khusus Bu Nanipun berlangsung. Semua siswa kelas 1 hingga kelas 3 kompak. Hal ini tentu saja mengundang perhatian kepala sekolah dan dewan guru. Akhirnya hari itu ada rapat antara kepala sekolah,tanpa dewan guru,beserta pengurus inti  atau pengurus harian OSIS. Pengurus inti yaitu ketua,wakil ketua,sekretaris,wakil sekretaris,bendahara dan wakil bendahara. Walaupun kepala sekolah menganjurkan agar masalah itu diselesaikan secara baik-baik, namun saya sebagai ketua OSIS tetap menyampaikan aspirasi para siswa, agar Bu Nani dikeluarkan dari sekolah. Apalagi, teman-teman juga dapat info, perilaku Bu Nani di sekolah lain sebelum menjadi guru SMPN 2 juga buruk. Namun keputusan kepala sekolah mengecewakan saya dan teman-teman OSIS. Kepala sekolah tetap mempertahankan Bu nani dengan alasan pihak sekolah baru bisa mengeluarkan Bu Nani jika Bu Nani sudah satu tahun mengajar atau terlibat tindak pidana. Itu sesuai peraturan, kata kepala sekolah.

Ternyata teman-teman se-SMPN 2 tetap kompak. Aktivitas mogok belajar tetap berjalan. Bahkan berlangsung hingga satu bulan. Ayah saya, yang kebetulan pejabat dinas pendidikan akhirnya memanggil kepala sekolah. Namun, tetap tidak ada solusi yang memuaskan bagi para siswa. Aksi mogok belajarpun tanpa terasa telah berjalan selama dua bulan.

Akhirnya, berdasarkan rapat dewan guru dan pihak depdiknas, diputuskan mengganti guru Bahasa Indonesia dengan guru baru. Tentu, keputusan itu membuat semua siswa SMPN 2 bersorak gembira. Aksi mogok belajarpun berakhir. Ternyata, guru bahasa Indonesia yang baru, orangnya penyabar, bijaksana,mengajarnya enak dan penuh perhatian terhadap para siswa. Namanya Bu Wiwiek, pindahan dari SMPN 1. Sedangkan Bu Nani dipindahkan ke SMPN 1. Jadi, telah terjadi pertukaran guru.

Saya merasa beruntung punya posisi yang kuat. Yaitu sebagai ketua kelas, ketua OSIS dan apalagi ayah saya pejabat depdiknas yang punya wewenang cukup besar di bidang pendidikan. Terakhir saya mendengar informasi, di SMPN 1-pun Bu Nani didemo para siswanya karena kesombongan dan kesewenang-wenangannya.

Begitulah. Seorang guru memang tidak hanya wajib menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus memahami psikologi pendidikan, terutama psikologi perilaku. Harus mengerti psikologi para siswanya. Betapapun benar posisi dan argumentasi seorang guru, tetapi kalau terkesan sombong dan sewenang-wenang, bisa berakibat fatal. Seorang guru harus berpikir cerdas dan mengambil kebijakan yang tepat tanpa menimbulkan gejolak dan merugikan semua pihak.

Catatan:

Cerpen ini berdasarkan mimpi penulis pada Senin, 18 Juni 2012, dinihari pukul 02:00 WIB.

Hariyanto Imadha
Penulis novel dan cerpen
Sejak 1973