CERPEN : Guru Bahasa Indonesiaku yang Sombong

SAAT itu saya duduk di kelas 2 SMPN 2 di salah satu kota di Jawa Timur. Sudah dua bulan teman-teman diajar guru baru untuk matapelajaran Bahasa Indonesia. Namanya Bu Nani. Menggantikan guru yang lama yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

Saya, sebagai ketua OSIS sebearnya sudah menerima keluhan dari beberapa teman sekelas maupun yang tidak sekelas, maka Bu Nani dipandang sebagai guru yang sombong dan semena-mena.  Rapat OSIS-pun pernah saya adakan. Namun semua anggota OSIS mengambil kesimpulan bahwa belum ada kasus yang benar-benar untuk ditindak lanjuti.

Sampai pada suatu hari, pagi itu sebelum matapelajaran pertama, kebetulan Bahasa Indonesia, dimulai. Tiba-tiba saya merasa sakit perut. Sayapun berpesan kepada teman sekelas akan ke toilet karena sakit perut. Saya pesan supaya nanti hal tersebut diberitahukan ke Bu Nani.

Sekitar 15 menit kemudian, sayapun meninggalkan toilet dan memasuki kelas. Ternyata, pelajaran telah dimulai. Sayapun  menghadap Bu nani yang saat itu sedang menulis di papan tulis. Saya jelaskan kalau saya terlambat masuk karena sakit perut.

Namun, apa yang terjadi? Saya tidak diijinkan masuk dengan alasan, siswa yang terlambat masuk 15 menit, tidak boleh mengikuti pelajaran. Untuk yang kedua kalinya saya memberikan alasan bahwa saya terlambat masuk karena sakit, bukan karena hal-hal lain. Namun, alasan saya membuat Bu Nani marah. Meskipun demikian saya tetap ngotot menuju ke bangku saya dan duduk.

“Silahkan kamu keluar. Menurut peraturan sekolah ini, siswa yang terlambat 15 menit atau lebih, tidak boleh mengikuti pelajaran…!”, bentak Bu Nani secara emosional. Saya tetap duduk. Bu Nani tetap menyuruh saya keluar. Saya tetap duduk karena saya merasa saya punya alasan yang kuat.

Karena Bu Nani tetap memaksa saya keluar, akhirnya saya sebagai Ketua Kelas memberi isyarat ke teman-teman sekelas supaya semuanya ramai-ramai meninggalkan kelas. Benar. Begitu melihat saya keluar, teman-teman sekelaspun kompak meninggalkan kelas. Apalagi, teman-tman juga sudah lama sebel dengan guru yang baru dua bulan mengajar. Walaupun Bu Nani melarang teman-teman meninggalkan ruangan kelas, namun semuanya kompak. Kelaspun sepi. Teman-teman hanya duduk-duduk di luar kelas ataupun di bawah pohon kedondong yang rimbun.

Ribut-ribut itupun akhirnya terdengar hingga ke dewan guru, termasuk kepala sekolah.  Esok harinya, kepala sekolahpun memanggil saya. Ketika saya memasuki ruang rapat sekolah, saya lihat, di amping ada kepala sekolah, juga ada dewan guru, termasuk Bu Nani. Rupa-rupanya ada rapat. Saya dan Bu nanipun dipersilahkan menceritakan kronologi peristiwa itu.

Bu Nanipun menceritakan, keputusannya untuk menolak saya masuk kelas karena ada peraturan sekolah yang melarang siswa mengikuti pelajaran jika terlambat lebih dari 15 menit. Bu Nanipun menunjukkan nbukti tertulis. Namun saya menjelaskan ke dewan guru, bahwa saya punya alasan yang kuat, yaitu karena sakit perut.

Kepala sekolah yang tahu ayah saja merupakan pejabat di dinas kependidikanpun tampaknya bingung untuk mengambil keputusan. Memihak saya, salah. Memigak Bu Nanipun salah. Akhirnya, kepala sekolah yang bernama Pak Satmokopun menyarankan agar kasus itu tidak perlu diperpanjang. Dan menyarankan agar Bu nani dan saya saling memaafkan.

Namun, Bu Nani yang merasa benar itupun tidak mau melakukan permintaan kepala sekolah. Sayapun demikian. Akhirnya, rapatpun ditutup tanpa solusi yang memuaskan semua pihak. Sesuai rapat itu, sayapun mengadakan rapat Pengurus OSIS, tentu saat jam istirahat. Rapat itu tentu saja juga dihadiri semua ketua kelas, mulai kelas satu hingga kelas tiga. Sebagian mengusulkan supaya diadakan aktivitas mogok belajar khusus Bu Nani, dengan alasan sudah ada beberapa kasus kesewenang-wenangan yang dilakukan Bu nani selama dua bulan ini. Setelah divoting, ternyata 90% menyetujui aksi mogok.

Begitulah, mulai esok harinya aksi mogok khusus Bu Nanipun berlangsung. Semua siswa kelas 1 hingga kelas 3 kompak. Hal ini tentu saja mengundang perhatian kepala sekolah dan dewan guru. Akhirnya hari itu ada rapat antara kepala sekolah,tanpa dewan guru,beserta pengurus inti  atau pengurus harian OSIS. Pengurus inti yaitu ketua,wakil ketua,sekretaris,wakil sekretaris,bendahara dan wakil bendahara. Walaupun kepala sekolah menganjurkan agar masalah itu diselesaikan secara baik-baik, namun saya sebagai ketua OSIS tetap menyampaikan aspirasi para siswa, agar Bu Nani dikeluarkan dari sekolah. Apalagi, teman-teman juga dapat info, perilaku Bu Nani di sekolah lain sebelum menjadi guru SMPN 2 juga buruk. Namun keputusan kepala sekolah mengecewakan saya dan teman-teman OSIS. Kepala sekolah tetap mempertahankan Bu nani dengan alasan pihak sekolah baru bisa mengeluarkan Bu Nani jika Bu Nani sudah satu tahun mengajar atau terlibat tindak pidana. Itu sesuai peraturan, kata kepala sekolah.

Ternyata teman-teman se-SMPN 2 tetap kompak. Aktivitas mogok belajar tetap berjalan. Bahkan berlangsung hingga satu bulan. Ayah saya, yang kebetulan pejabat dinas pendidikan akhirnya memanggil kepala sekolah. Namun, tetap tidak ada solusi yang memuaskan bagi para siswa. Aksi mogok belajarpun tanpa terasa telah berjalan selama dua bulan.

Akhirnya, berdasarkan rapat dewan guru dan pihak depdiknas, diputuskan mengganti guru Bahasa Indonesia dengan guru baru. Tentu, keputusan itu membuat semua siswa SMPN 2 bersorak gembira. Aksi mogok belajarpun berakhir. Ternyata, guru bahasa Indonesia yang baru, orangnya penyabar, bijaksana,mengajarnya enak dan penuh perhatian terhadap para siswa. Namanya Bu Wiwiek, pindahan dari SMPN 1. Sedangkan Bu Nani dipindahkan ke SMPN 1. Jadi, telah terjadi pertukaran guru.

Saya merasa beruntung punya posisi yang kuat. Yaitu sebagai ketua kelas, ketua OSIS dan apalagi ayah saya pejabat depdiknas yang punya wewenang cukup besar di bidang pendidikan. Terakhir saya mendengar informasi, di SMPN 1-pun Bu Nani didemo para siswanya karena kesombongan dan kesewenang-wenangannya.

Begitulah. Seorang guru memang tidak hanya wajib menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus memahami psikologi pendidikan, terutama psikologi perilaku. Harus mengerti psikologi para siswanya. Betapapun benar posisi dan argumentasi seorang guru, tetapi kalau terkesan sombong dan sewenang-wenang, bisa berakibat fatal. Seorang guru harus berpikir cerdas dan mengambil kebijakan yang tepat tanpa menimbulkan gejolak dan merugikan semua pihak.

Catatan:

Cerpen ini berdasarkan mimpi penulis pada Senin, 18 Juni 2012, dinihari pukul 02:00 WIB.

Hariyanto Imadha
Penulis novel dan cerpen
Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: