CERPEN: Cintaku Jauh di Shanghai

SAAT itu saya masih menjadi mahasiswa di Fakultas MIPA di salah satu perguruan tinggi di Jakarta dan duduk di semester enam. Sekaligus berarti sudah enam tahun saya pacaran dengan Audi, mahasiswi satu angkatan dengan saya. Audi memang penampilannya sangat menyenangkan. Enak diajak bicara. Kalau diajak diskusi selalu konek. Kebetulan, dia cantik dan cerdas. Dia cewek peranakan. Papanya keturunan Cina sedangkan mamanya orang Sunda.

“Harry, saya mau bicara sebentar, nih. Boleh ngobrol-ngobrol di kantin”, suatu hari Audi bicara seperti itu. Agak aneh, sebab biasanya sayalah yang mengajak Audi ke kantin. Tapi saya Cuma mengangguk saja. Saya dan Audipun menuju ke kantin. Sambil menunggu bakso dan minuman yang kami pesan, Audipun langsung bicara “to the point”.

“Begini Harry. Kakak saya yang di Shanghai kan baru saja meninggal. Nah, saya diminta papa untuk menggantikan kakak saya mengelola hotel milik papa di sana. Di Shanghai. Bagaimana menurut pendapat Harry?”, Audi menatap wajah saya. Sebenarnya saya terkejut juga mendengar rencana kepindahan Audi ke luar negeri.

“Apakah tidak ada saudara lain yang bisa menggantikannya?”, saya mencari alternatif.

“Kakak saya hanya satu orang itu dan saya tidak punya adik. Jadi, sekarang saya satu-satunya anak papa-mama yang masih hidup. Memang, saya berat meninggalkan Harry. Berat meninggalkan Indonesia. Tapi, bagaimana kira-kira solusi terbaik?”.

“Hmm, bagaimana ,ya?”, pikiran saya masih buntu. Berkali-kali saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Oh, ya. Saya punya ide. Bagaimana kalau tiap tiga bulan sekali Harry ke Shanghai> Biaya pesawat nanti saya yang tanggung. Dan hotel, tentu saja gratis…”, wajah Audi tampak agak ceria karena menemukan solusi. Namun, saya tidak langsung menerimanya.

“Bagaimana kalau saya minta waktu satu hari untuk memikirkannya?”, pinta saya. Audi menyetujuinya. Kemudian kami berdua asyik makan bakso sambil bicara tentang matakuliah-matakuliah di Fakultas MIPA tempat kami kuliah. Kata Audi, kemungkinan di Shanghai akau menggunakan waktunya sepenuh hati untuk mengelola hotel milik papanya. Artinya, dia tidak akan kuliah lagi. Tak apalah, kalau memang itu merupakan pilihan terbaik bagi Audi.

Dan keesokan harinya kami bertemu lagi.

“Baiklah Audi. Kalau itu merupakan keputusan terbaik bagi Audi dan keluarga, tak apalah. Kalau memang kita jodoh, suatu saat kita akan bertemu lagi dan menikah”, begitu kalimat-kalimat yang saya utarakan ke Audi. Audi yang cerdas dan mampu berbahasa Mandarin itu memandang saya dengan penuh perhatian.

“Baiklah, Harry. Walaupun kita nanti berjauhan. Saya harap tiap tiga bulan atau tiap bulan, datang saja ke Shanghai. Soal biaya, tidak usah dipikirkan. Saya tetap berharap agar hubungan kita tetap berlanjut walaupun jarak kita berjauhan…”, ucap Audi penuh kedewasaan. Audi memang keturunan Cina, namun dia beragama Islam. Sama dengan agama saya.

Tepat tanggal 18 Juni tahun 2005, Audipun meninggalkan Jakarta. Saya hanya bisa mengantarkannya sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Ketika pesawat sudah terbang dan tak terlihat lagi, saya baru merasakan betapa sepinya hidup saya. Seakan-akan saya merasakan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Dengan langkah gontai, sayapun menuju ke mobil yang berada di tempat parkir. Kemudian saya kemudikan pelan menuju Tangerang dan menuju ke rumah saya di kawasan BSD City, Tangerang Selatan.

Benarlah, satu bulan kemudian, Audi transfer uang ke rekening saya untuk keperluan membeli tiket pesawat dan mengurus persiapan ke Shanghai. Saya sengaja berangkat hari Kamis karena hari Jumat, Sabtu dan Minggu tidak ada jadwal perkuliahan.

Saat itu pesawat yang saya tumpangipun menuju ke Shanghai. Ini adalah pengalaman saya pergi ke Shanghai. Kalau ke Amerika atau Eropa sih sudah sering saya lakukan sejak saya masih duduk di bangku SMP. Shanghai adalah kota terbesar Republik Rakyat Cina dan terletak di tepi delta Changjiang. Kota ini dalam beberapa dekade terakhir telah membuatnya menjadi pusat ekonomi, perdagangan, keuangan dan komunikasi  terpenting Cina.Shanghai juga merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di dunia. Shanghai, 99% dihuni suku Han dan sekitar 10% suku Hui. Papa Audi termasuk suku Han.

Setelah berjam-jam di udara, akhirnya pesawatpun mendarat di Bandara Internasional Pudong, Shanghai. Mendarat dengan mulus. Udara saat itupun cerah. Saat itu Bandara Pudong baru satu tahun digunakan. Resminya dibangun tahun 1999.

Seperti yang sudah dijanjikan Audi, kamipun dengan mudah bertemu dengan Audi di bandara. Langsung kami saling berpelukan. Maklum, kami saling menyinta. Audipun mengajak saya ke luar bandara. Kemudian naik ke mobilnya yang ternyata dikemudikan sendiri oleh Audi.

“Capek, ya?”, Audi memulai pembicaraan.

“Wah, lumayanlah. Untunglah tiba di Shanghai udaranya sangat cerah…”

Mobil mewah yang dikendarai Audipun pun terus meluncur di jalan-jalan mulus yang ada di Shanghai. Shanghai terletak di Cina bagian Timur.

“  Di Cina ada beberapa kota yang mendapat gelar sebagai  kota pariwisata terbaik tingkat nasional,lho. diantaranya kota  Shanghai, Guangzhou, Chengdu, Shenyang, Beijing, Tianjin, Chongqing, Shenzhen, Hangzhou, Dalian, Nanjing, Xiamen, Qingdao, Ningbo, Xi’an, Harbin, Jinan, Changchun dan Lhasa…,” Audi sambil mengemudi sambil bercerita memperkenalkan Shanghai dan kota-kota lainnya. Terutama kota-kota pariwisata. Audi tahu kalau saya suka mengunjungi objek-objek wisata.

Tak lama kemudian, mobilpun melewati  Zhangyang Road,  merupakan salah satu sebuah kawasan elit di Shanghai. Kemudian, mobilpun masuk ke halaman sebuah hotel yang cukup besar. Namanya hotel Pudong City Intercontinental. Luar biasa, sebuah hotel yang tinggi dan megah. Kedatangan Audiapun langsung disambut petugas khusus. Selanjutnya, Audi mengantarkan saya ke sebuah kamar hotel yang tergolong VVIP Room. Luar biasa.

“Silahkan istirahat dulu, Harry. Saya pulang ke rumah dulu. Nanti siang saya akan kemari lagi,” ucap Audi yang kemudian meninggalkan kamar. Sayapun bergegas mandi dan ganti pakaian. Sesudah pesan makanan lewat telepon, sayapun menikmati makanan pagi berupa Chinese Food. Untung, saya sudah terbiasa makan makanan Cina di Jakarta, sehingga saya hafal benar mana makanan yang cocok buat saya. Selesai makan, saya ke teras. Melihat ke arah jauh. Melihat pemandangan di bawah sana yang cukup indah. Maklum, kamar saya berada di lantai sepuluh.

Siang harinya Audi benar-benar datang lagi ke hotel. Kemudian mengajak saya menuju ke rumahnya yang semula ditempati kakaknya. Sampai di lobby hotel, saya ditawari beberapa paket wisata di mana pihak hotel memang menjalan kerja sama dengan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang travel and tour.

Saya dan Audipun segera memasuki bus tour yang menjemput kami di hotel. Kemudian bus tour yang mewah itupun satu persatu mengunjungi Yu Garden, Old town Market, The Bund, Silk factory, Nanjing Road, Jade Buddha Temple, Shanghai Museum dan terakhir Xin Tian Di. Sebuah wisata yang sangat memuaskan. Semua objek wisata itupun pasti saya abadikan menggunakan kamera ponsel saya. Bahkan juga menggunakan handycam.

Begitulah ceritanya. Atas permintaan Audi, sayapun akhirnya sebulan sekali pergi ke Shanghai atas biaya Audi. Maklumlah, kalau semua biaya saya tanggung sendiri, saya bisa bangkrut. Saya bukan orang kaya raya, melainkan berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi biasa-biasa saja. Untunglah, Audi berasal dari keluarga yang mampu.

Tanpa terasa, akhirnya kuliah saya di Fakultas MIPA-pun selesai. Saat wisuda, Audi beserta kedua orang tuanya, kedua orang tua saya dan audara-saudara sayapun hadir. Wisuda diadakan di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Cukup meriah. Cukup menyenangkan. Cukup mengesankan. Terasa cepat sekali perkuliahan yang saya jalani.

Dua bulan kemudian saya dan Audipun menikah di Jakarta. Mantan teman-teman kuliah di Fakulta MIPA-pun saya undang. Begitu pula keluarga Audi juga turut hadir. Teman-teman Audi yang dari Shanghaipun ada yang datang. Pernikahan yang sangat menyenangkan.

Selesai menikah, saya dipercaya ayah Audi untuk memegang salah satu perusahaan yang berada di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Dengan senang hatipun saya menerimanya. Rasa-rasanya hidup saya terasa sempurna. Kuliah selesai. Dapat pekerjaan dengan gaji besar. Dapat isteri cantik dan cerdas. Saya tinggal di rumah baru di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Rumah mewah. Mobil mewah. Uang banyak. Apa lagi? Tidak ada kekurangan apapun.  Setahun kemudianpun kami dikaruniai anak perempuan cantik bermata sipit. Audipun akhirnya menetap di Jakarta. Sebulan sekali Audi ke Shanghai untuk memantau hotelnya yang mewah di Shanghai.

Hariyanto Imadha

Novelis dan Cerpenis
Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: