CERPEN: Gerimis Tanah Lot

TAHUN 1973. Seusai mengikuti ujian semester di Fakultas Ekonomi ,Universitas Trisakti, saya dan anggota kelompok belajar, mengadakan rekreasi bersama ke Bali. Apalagi, kebanyakan teman-teman saya belum pernah ke Bali. Dari Jakarta ke Banyuwangi naik kereta api. Dan dari Banyuwangi ke Denpasar naik bus melewati Selat Bali. Semua sekitar sepuluh mahasiswa. Termasuk saya. Sepanjang perjalanan hanya rasa senang saja yang menyelimuti kami. Tertawa, tersenyum, bernyanyi, main gitar, makan makanan kecil, minum-minuman ringan, bercanda, saling meledek dan apa saja.

Tanpa terasa sampai di hotel. Semua masuk ke kamar masing-masing yang telah ditentukan. Satu kamar dua tempat tidur. Kamar mandi dalam. Full AC. Kamar sangat bersih dan nyaman. Halaman parkir luas. Sesudah menyimpan barang-barang di lemari, mandi dan ganti baju, maka kamipun menuju ke rumah makan seberang untuk makan siang bersama.

Sesuai jadwal, sesudah makan, langsung masuk bus mini berkapasitas 15 tempat duduk. Sepuluh tempat duduk untuk rombongan kami, sebagian untuk dua orang pemandu wisata dan sisanya kosong. Bus mini telah kami carter selama seminggu penuh.

“Ke mana kita?” tanya Momos yang rambutnya gondrong, bertubuh tegap dan suka humor.

“Kita ke Tanah Lot dulu,” sahut Doddy, koordinator rekreasi. Buspun berangkat sesuai dengan jadwal yang telah kami tentukan. Dalam perjalanan, tak henti-hentinya kami bersendau-gurau. Sungguh, hari yang sangat menyenangkan.

Sampai di tempat parkir, rombonganpun turun. Ternyata, di samping kami, juga baru masuk rombongan mahasiswa. Sesudah saya amati, mereka mengenakan jaket Universitas Widya Mandala, Surabaya. Sementara kami semua mengenakan jaket Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti  Jakarta, walaupun kegiatan kami merupakan kegiatan pribadi atau kelompok.

“Kita menyeberang. Selagi air laut turun…” kata Mas Bramantyo sang pemandu wisata. Terus terang, kami belum pernah ke Tanah Lot. Kamipun turun ke pantai di mana air laut sedang surut. Setelah berjalan sekitar 100 meter, kamipun menaiki sebuah pulai sangat kecil. Itulah Pulau Tanah Lot. Ternyata, rombongan mahasiswa yang berjumlah sekitar 50 mahasiswapun punya tujuan yang sama.

Pulau kecil itu memang indah. Di sana-sini ada patung atau arca yang menarik. Agak ke tengah ada pura kecil. Rombongan kamipun berpencar. Jalan sendir-sendiri sesuai selera masing-masing.

“Dari Surabaya,ya?” tanya saya ke seorang mahasiswi yang kebetulan berdiri di dekat saya saat berada di dekat pura kecil. Agak kaget mahasiswi itu.

“Oh, iya…”

“Dari universitas mana?” saya bertanya belaga bego. Mahasiswi itu menunjukkan jaketnya.

“Oh, dari Universitas Widya Mandala,ya?” saya menegaskan. Mahasiswi itu mengangguk. Saya lihat, boleh juga mahasiswi itu. Langsing, putih dan cantik. Rambutnya pendek, bulu matanya lentik dan bibirnya yang mungil itu cukup menggemaskan.

“Kalau kamu dari mana?” ganti mahasiswi itu tanya ke saya.

“Trisakti. Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti, Jakarta”. Ganti saya menunjukkan jaket almamater saya.

“Oh, baru masuk ya? Sama. Saya cuma baru semester satu. Kenal nggak sama Shanty?” tanyanya.

“Shanty Mintaredja?”

“Iya. Dia puteri tante saya,” dia meyakinkan.

“Oh, dia satu rombongan dengan saya. Ada kok, tadi ikut…” saya menoleh ke kanan-ke kiri mencari Shanty.

“Itu dia…” saya menunjuk Shanty yang sedang berjalan dengan Widyarini.

“Oh,ya. Betul. Itu Shanty. Yuk ke sana….” ajaknya. Tentu, saya tidak menolak ajakannya. Diapun meninggalkan dua orang temannya. Saya dan mahasiswi itupun berjalan menuju ke tempat Shanty berada.

“Oh, ya. Kita belum kenalan….Saya Harry…” saya memperkenalkan diri. saya mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Oh, ya. Saya Siska. Siska Marina Yordhant,” diapun membalas perkenalan saya. Betapa lembut telapak tangannya. Ada rasa indah di hati saya.

“Hei, Shanty…” teriak kecil Siska. Shantypun terkejut surprise melihat Siska. Keduanyapun berbincang-bincang. Sementara saya mengobrol-ngobrol dengan Widyarini. Sekitar 15 menit kemudian, Siska minta ke saya untuk diantarkanke teman-temannya.

Baru selangkah, tiba-tiba gerimis turun.

“Oh, untung saya bawa payung lipat…” ujar Siska sambil mengambil payung lipat dari tas kecilnya. Payungpun dibentangkan. Kami berduapun berjalan bersama. Satu payung untuk berdua. Tak heran kalau bahu kami kadang-kadang saling bersentuhan. Kesempatan saya untuk merangkul.Eh, ternyata Siska diam saja.

Sungguh, saya merasakan getaran-getaran indah di hati. Apakah ini yang dinamakan cinta? Mungkin iya,mungkin tidak. Yang pasti, sikap Siska sangat menyenangkan sekali. Di dalam perjalanan, saya mencatat alamat dan nomor telepon Siska yang berdomisili di Surabaya. Ternyata dia tinggal di Jl. Bengawan, dekat Jl. Raya Darmo, kawasan elit.

Sesudah Siska berkumpul dengan dua temannya tadi, saya dan Siskapun foto bersama, baik menggunakan kamera saya maupun kamera Siska. Tentu minta bantuan temannya. Kemudian saya kembali ke rombongan saya sendiri. Berkumpul dengan Ardani, Bambang Sutedjo, Treesye dan lain-lain. Kamipun menikmati pemandangan indah di pulau kecil itu sambil makan makanan kecil. Tetap ceria. Tetap gembira. Gerimispun reda.

Berikutnya, melanjutkan perjalanan ke objek-objek wisata lainnya. Sore harinya kembali ke hotel. Dan malam harinya nonton Tari Kecak. Tentu, jalan-jalan melihat keramaian malam Kota Denpasar. Senang sekali masa mahasiswa. Masa muda yang tak pernah terlupakan. Hmmm…indah sekali hari itu.

Keesokan harinya, rombongan menuju ke Istana Tapaksiring, atau ada yang menamakan Tampak Siring. Oh Tuhan…Ternyata Tuhan mempertemukan lagi dengan Siska yang kali ini semua rombongannya berpakaian bebas, sama dengan rombongan kami.

“Hai, Harry…Ketemu lagi kita…” sapa Siska sambl tersenyum. Sayapun mendekatinya. Kali itu, Siska lebih suka mengikuti rombongan saya. sayapun memperkenalkan Siska ke Momos, Bambang,Widyarini dan lain-lain. Cuma, karena Shanty merupakan familinya, walaupun Siska bergabung dengan rombongan kami, namun lebih banyak bersama Shanty. Terpaksa, saya cari acara sendiri bersama Ardani, Momos dan Taufik. Lihat-lihat kolam, lihat-lihat aneka tanaman yang ada di situ, melihat burung-burung berterbangan dan tentu foto bersama.

Mendadak gerimis turun lagi. Sayapun bergegas mencari tempat berteduh. Eh, di tempat berteduh itu saya berkumpul lagi dengan Siska. Ngobrol-ngobrol lagi. Terkadang tertawa senang. Tak lupa juga foto bersama.

Hari ketiga, rombongan kami menuju ke Pura Besakih. Lagi-lagi, Tuhan mempertemukan lagi saya dengan Siska.
“Kok kita bertemu lagi,” sapa saya. Siska cuma tertawa kecil. Wow, cantik sekali kalau tertawa. Hati saya terasa nyaman dan teduh mendengar tertawanya.

“Kok nggak ikut masuk pura,” saya ingin tahu.

“Ssst..Cewek yang sedang berhalangan tidak boleh masuk. Ada peraturannya…” ucap Siska sambil menmpelkan telunjuk jarinya ke bibirnya yang mungil itu.

“Oh, ya,” saya baru ingat. Akhirnya di luar pura, saya menemani Siska. Berfoto bersama di sekitar pura. Kebetulan, kamera kami masing-masing dilengkapi tripod dan merupakan kamera otomatis. Menyenangkan sekali. Solah-olah kami sudah saling mengenal puluhan tahun yang lalu.

Lagi-lagi gerimis datang lagi. Saya dan Siskapun lari-lari kecil mencari tempat berteduh. Dan lagi-lagi mengobrol ke sana ke mari. Wow, indah sekali hari itu. Cukup lama kami ngobrol. Apapun yang saya bicarakan, selalu konek. Selalu ditanggapi dengan tepat. Pertanda Siska mahasiswi yang pandai dan berpengetahuan luas. Akhirnya, saya berjanji suatu saat akan ke Surabaya. Dengan senang hati Siska mempersilahkan datang ke Surabaya.

Begitulah. Satu bulan kemudian, sayapun rajin ke Surabaya. Jumat sore berangkat dari Jakarta naik kereta api. Malam hari ke rumah Siska. Saya menginap di rumah famili di kawasan Pucang. Minggu pagi jalan-jalan pakai motor bebek milik Siska. Ke Tunjungan, enjeran atau ke mana kami suka. Termasuk ke ice cream Rendevous di Kayun.

Hubungan kami berjalan selama dua tahun. Kami resmi saling jatuh cinta. Siska yang cantik itu resmi menjadi pacar saya. Sampai suatu saat Shanty mendkati saya.

“Harry. Harry benar-benar mencintai Siska?” Shanty bertanya. wajahnya tanpa senyum.

“Lho, iya dong. kalau tidak, buat apa tiap minggu saya ke Surabaya?. Kok, wajah Shanty sedih, sih?”

Shanty tetap diam.

“Ada apa Shanty,” saya lebih heran lagi melihat Shanty meneteskan ar mata,” Ada apa Shanty?”.

“Maaf Harry…Saya terpaksa memberitahukan Harry. Tadi pagi Shanty menerima telepon dari mamanya Siska…”

“Kenapa Shanty…Ada apa dengan Siska…?” saya terus mendesak  Shanty. Perasaan jadi tidak enak.

Akhirnya Shanty berkata jujur. Semalam Siska telah meninggal di rumah sakit karena menderita kanker otak.

“Siskaaa…!”. Histeris saya berteriak.

Saya pingsan di kampus.

 

Sumber foto: susususussusu.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Cerpenis & Novelis

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: