NOVEL :Daftar Peserta Novel Gratis Dan Nama Pemenang (Putaran Pertama,Juli 2012)

NOVEL gratis putaran pertama ini khusus Facebooker yang punya alamat di Bojonegoro, Jawa Timur. Jadi, walaupun berdomisili di luar kota Bojonegoro, boleh ikut. Sementara hanya satu pemenang. Bagi yang belum dapat, akan diikutsertakan pada putaran kedua tanpa harus mendaftar ulang. Putaran kedua diundi dan diumumkan 15 Agustus 2012 pukul 17:00 WIB.

Jumlah peserta yang mendaftar ada sekita 100 peserta. Sesudah diseleksi, tinggal sekitar 44 peserta (mungkin bisa berkurang lagi). Hal ini karena ada yang mendaftar dua kali atau tiga kali. Yang kami ikut sertakan hanya satu nama.

A.Daftar nama peserta

Menyusul.

B.Nama pemenang tunggal

Telah diundi secara jujur dan pemenangnya adalah:

.————————————————————————————————————————————-

Nama FB: Ariyati Aliet

Nama asli : Mariyati

Alamat: Jl.P.Diponegoro 1/69

Padangan

BOJONEGORO

.————————————————————————————————————————————

Mohon mengirimkan ke inbox kami :Nama lengkap dan alamat lengkap (RT/RW/Kodepos)

Novel akan ikirim melalui TIKI/JNE/Surat Kilat Khusus

C.Putaran kedua

Bagi yang belum dapat akan diikutsertakan pada putaran kedua yang boleh diikuti semua Facebooker dan bahkan para pengunjung blog kami. Diundi dan diumumkan pada 15 Agustus sore sekitar pukul 17:00 WIB.

D.Novel boleh diperbanyak/difotokopi.

Novel, boleh diperbanyak dalam bentuk fotokopi (tidak dalam bentuk cetakan). Novel asli/fotokopi boleh dijual.

E.Bagi yang ingin beli, informasinya di:

http://tokoonline9999.wordpress.com/2011/03/12/telah-terbit-dan-segera-terbit-novel-novel-bermutu-karya-hariyanto-imadha/

Mulai 1 Agustus 2012 harga novel naik menjadi Rp 60.000 (termasuk biaya kirim se-Indonesia).

Terima kasih.

Hariyanto Imadha
Novelis & Cerpenis

HUMOR: Ingin Punya Anak Laki-Laki

DI sebuah desa, di pegunungan, tinggallah Pak Djamien beserta seorang istri dan tiga anak perempuannya. Dia seorang petani miskin, pendidikannya SD tidak tamat. Bertahun-tahun menginginkan anak laki-laki, tetapi selalu anak perempuan yang didapat. Padahal, tiap hari sudah berdoa memohon kepada Gusti Allah agar anaknya akan lahir laki-laki. Lha, kok perempuan terus.

Dasar orang desa dan bodoh lagi, maka suatu hari dia berangkat menuju ke rumah mbah dukun yang cukup terkenal di desanya. Maka terjadilah dialog antara Pak Djamien dan mbah dukun yang bernama Mbah Klowor.

Pak Djamien:”Mbah, kedatangan saya kemari ada perlu. Sudah lama saya ingin punya anak laki-laki, tetapi yang keluar anak perempuan terus. Dulu mbah sudah pernah menyuruh saya berpuasa, tetapi hasilnya tetap nihil”

Mbah Klowor:”O, itu sih gampang. Kalau ingin punya anak laki-laki ada ritualnya. Kalau di tempat tidur, sampeyan harus naik dari sebelah kiri tubuh istri sampeyan. Turunnya di sebelah kanan. Lakukan itu setiap malam Jumat Kliwon”

Pak Djamien pun pulang dengan wajah berseri-seri karena ada harapan mempunyai anak laki-laki. Maklum dia seorang petani tentu anak laki-lakinya diharapkan bisa menjadi petani yang baik.

Diapun segera mempraktekkan saran Mbah Klowor. Istrinya dalam posisi terlentang di tempat tidur. Diapun segera melakukan ritual. Yaitu naik dari sebelah kiri dan turun di sebelah kanan tubuh istrinya.

Namun, sampai tiga bulan tidak ada hasilnya. Akhirnya Pak Djamien pergi ke Mbah Klowor.

Pak Djamien:” Sudah saya praktekkan,Mbah. Saya naik dari kiri tubuh istri saya dan saya turun di sebelah kanan tubuhnya”

Mbah Klowor:”Mampir di tengah,nggak?”

Pak Djamien:”Tidak,Mbah…”

 

Sumber gambar: cinta pendidikan.co.cc

Hariyanto Imadha

Facebooker & Blogger

CERPEN: Meneguk Gelas Kosong

“SESUNGGUHNYA orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (Al Quran (24) An Nuur : Ayat 11)

NAMANYA Duddy Dastin. Sudah 30 tahun tidak pernah bertemu. Dulunya sih, teman satu kampung di Jawa Timur. Itupun kenal tak begitu akrab. Tiba-tiba saja bertemu di FB (Facebook).

“Maaf, apakah ini Harry yang dulu tinggal di Bojonegoro,” tanyanya pertama kali di FB. Karena namanya sangat jarang dikembari orang, atau bahkan satu-satunya di dunia, saya yakin dia Duddy Dastin dari Bojonegoro.

“Iya. Betul. Ini Duddy Dsatin dari Bojonegoro,ya?” ganti saya bertanya.

“Iya”, singkat jawabnya. Selanjutnya kami Cuma bertemu di FB, berbicara di FB dan ngobrol-ngobrol lewat FB.

“Harry, saya merasa beruntung karena pernah kuliah di luar negeri,” ceritanya. Tentu hebat, sebab sewaktu di Bojonegoro da berasal dari keluarga miskin. Bahkan siapa ayahnya, juga tidak jelas.

“Wah, hebat,dong. Di mana saja?” sayapun ingin tahu. Lha, wong saya yang dari keluarga mampu hanya kuliah di Indonesia saja.

“Hmmm, saya pernah kuliah di Hokaido University, Jepang,”

“Wah, mengambil jurusan apa?” saya kagum.

“ Di Hokaido University saya ambil Si-1 kedokteran. Terus melanjutkan ke Jerman,” Duddy Dastin bercerita dengan nada bangga,

“Wah, hebat sekali. Di Jerman kuliah di mana?”

“Saya ambil S-2 di Universitas Johann Wolfgang von Goethe Frankfurt,” katanya sangat meyakinkan.

“Kok tidak ambil S-3 sekalian?” saya terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan.

“S-3 saya kuliah di Perancis. Tepatnya di Universite d’Avignon et des Pays du Vaucluse,”

ceritanya, membuat saya berdecak kagum. Selanjutnya, di FB Duddy Dustin cerita pengalamannya kuliah di Hokaido University. Katanya, dia pernah berfoto bersama dengan Miyabi, bintang film porno yang pernah batal datang ke Indonesia.

Kemudian, sewaktu di Jerman dia kos di rumah cucunya Adolf Hitler yang terkenal sebagai penjahat perang. Dan, Duddy Dastin mengatakan ketemu jodoh sewaktu kuliah di Perancis. Asli gadis Perancis. Namanya Estelle Dion,” begitu Duddy Dastin bercerita di inbox FB saya. Bahkan foto Estelle Dion juga dilampirkan. Wow, cantik sekali. Bagaikan bintang film terkenal.

“Terus, sekarang kegiatannya apa?” masih di FB, saya bertanya.

“Saya sekarang sudah profesor. Tiap hari saya tugas di rumah sakit melakukan penelitian tentang hal-hal yang berhubungan dengan mikrobiologi. Tepatnya saya di laboratorium,”

Lain hari, masih di FB saya juga, Duddy Dastin bercerita kalau sudah lama menjadi ustadz.

“Jadi ustadz? Lho, dulu kamu kan beragama Katolik?” saya heran.

“Dulu adalah masa lalu. Kehidupan ini penuh perubahan. Saya dan isteri sayapun pindah ke agama Islam. Sebab saya yakini Islam adalah agama yang sempurna,” katanya. Dulu, Duddy Dastin sekolah di SMK Katholik, Bojonegoro.

Lain hari, entah kenapa kok saya iseng-iseng tanya ke Duddy dastin menggunakan bahasa Jerman.

“Wie geht es Ihnen…?” tanya saya. Ternyata dia tidak menjawab dalam bahasa Jerman. Katanya, sudah puluhan tahun tidak menggunakan bahasa Perancis, jadi sudah lupa. Karena dia pernah kuliah di Jepang, sayapun bertanya dalam bahasa Jepang.

“Nani ga on’nanoko nitsuite no go ikendesu ka?”

Lagi-lagi Duddy Dustin tidak menjawab. Terakhir saya bertanya dalam bahasa Perancis.

“Ou habitez-vous?” sederhana pertanyaan saya. Namun, pertanyaan ini juga tidak dijawab. Katanya, di Jepang, Jerman dan Perancis kuliahnya memakai bahasa Inggeris. Jadi, dia tak begitu faham dengan bahasa Jepang, Jerman atau Perancis. Hanya mengerti sedikit-sedikit saja.

Terakhir, karena Duddy Dustin mengaku ustadz, maka sayapun bertanya lagi. Walaupun bahasa Indonesia, namun saya menggunakan huruf Arab. Lagi-lagi tidak dijawab. Alasannya, dia memakai huruf Arab hanya kalau sedang mengajar anak-anak di tempat tinggalnya.

Akhirnya saya tanya alamatnya. Diapun memberikan alamat di daerah Tangerang.Lengkap dengan RT/RW. Cuma, tidak ada nomor telepon maupun ponsel.

Hari Minggu, saya meluangkan waktu mencari alamat rumahnya. Maklum, teman lama tidak pernah bertemu. Apalagi, dia termasuk orang sukses. Pernah kuliah di luar negeri, jadi profesor juga seorang ustadz.

Dengan susah payah, akhirnya alamat itu saya temukan. Ternyata bukan alamat dia, melainkan alamat seorang dokter. Ketika saya tanya tentang Duddy Dastin, dokter itu heran. Sayapun dipersilahkan duduk, mungkin dikira saya saudaranya Duddy Dustin. Setelah saya ceritakan pengalaman saya dengan Duddy Dastin di FB, dokter yang bernama Harno Purboyo itupun tertawa.

“Kenapa, Pak,” saya penasaran ingin tahu. Akhirnya Dokter Harnopun bercerita, kalau Duddy Dastin itu pembohong besar. Dia tidak pernah kuliah di mana-mana. Bukan profesor dan bukan ustadz.

“Dia itu pembohong besar. Pembual.Penghayal. Sudah banyak orang yang dibohongi. Kalau dia bilang punya isteri Perancis, itu juga bohong. Sejak dulu dia tak pernah menikah”. Dokter Harno ternyata dokter jiwa yang sampai hari ini merawat Duddy Dustin.

“Dia bukan psikopat.Dia normal-normal saja, tetapi rohaninya sakit. Memang ada gangguan jiwa, tetapi masih dalam batas toleransi.Yang pasti dia pembohong besar! Bahkan dia pernah mengaku sebagai Nabi.Dia sekarang kerja di rumjah sakit tempat saya bekerja sebagai tukang bersih-bersih kamar mandi.Sejak kecil dia mengalami krisis agama”

“Astaga!” seru saya dalam hati. Saya hanya bisa mengelus dada.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973.

CERPEN : Abdul Bakhil di Penghujung Jalan

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180)

SIAPA sih yang tidak kenal Pak Abdul Bakhil? Dia tinggal di Komplek Perumahan BSD Nusaloka. Rumahnya paling meawah. Namun, di sekitarnya adalah perkampungan masyarakat miskin. Walaupun di BSD Nusaloka, namun dia beli tanah dari masyarakat kampung dan bukan dari pengembang BSD Nusaloka. Rumahnya berlantai tiga dan dilengkapi dengan kolam renang.

Sebenarnya kalau dikatakan rumahnya satu komplek dengan BSD Nusaloka, sebab menurut peta rumahnya di luar komplek. Cuma, karena berdekatan dengan komplek perumahan, maka orang sering menyebut rumah Pak Bakhil berada di komplek BSD Nusaloka, sebuah komplek perumahan elit. Dia punya bisnis macam-macam dan tergolong sukses.

Suatu hari ada suami istri warga dari masyarakat miskin datang ke rumah Pak Bakhil. Setelah memencet bel berkali-kali di dekat pintu pagar, Pak Bakhilpun keluar. Kebetulan dia belum punya pembantu.

“Ada apa?” Pak Bakhil bertanya dengan pandangan penuh curiga.

“Ini, Pak. Isteri saya mau melahirkan,” ujar Pak Darmin, suami dari Sukinah, istrinya.

“Maksudnya?”

“Ya, kalau boleh pinjam uang, Pak. Untuk biaya melahirkan,” Pak Darmin meminta tolong dengan wajah memelas.

“Wah, sampeyan apa nggak pernah nonton televisi kalau masyarakat tidak mampu bisa dapat keringanan biaya kesehatan? Coba deh, minta surat keterangan tidak mampu ke Kepala Desa, bawa pengantar dari Ketua RT/RW. Dari lurah bawa Surat Keterangan Tidak Mampu dan tunjukkan ke rumah sakit,” ketus jawaban Pak Bakhil.

Pak Darminpun akhirnya saling berpandangan dengan isterinya. Mereka tahu kalau Pak Bakhil itu orang kikir, tapi masih juga mencoba pinjam uang. Akhirnya, suami isteri itupun mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu atau SKTM dari kelurahan.

Lain hari Pak Martopun menita bantuan ke Pak Bakhil, karena isterinya terkena tipus, namun jawabannya sama saja. Begitu pula usaha Pak Karmin meminta bantuan untuk membayar sekolah anak-anaknya juga ditolak. Pokoknya, ada puluhan masyarakat setempat yang kecewa atas sikap Pak Bakhil yang kikir itu.

Bahkan Darno, Kusmin, Sutomo, Daryo,Gimin dan Gondo yang pernah bekerja untuk membangun rumah Pak Bakhilpun permohonan bantuannya ditolak. Mereka bekerja sebagai tukang batu, pengaduk semen pasir, tukang kayu, tukang batu,tukang listrik dan tukang cat.

Masyarakat sekitar tahu, lebaran tahun yang lalu, Pak Bakhil yang Cuma punya anak satu itu memanjakan anaknya dengan membelikan kembang api senilai Rp 5 juta. Hanya satu dua jam habis. Teman-temannya datang membawa mobil mewah diparkir di halamannya yang luas. Namun, tidak sebutir kuepun yang terbagikan ke masyarakat sekitarnya. Bahkan, yang memantu acara-acara di rumahnya adalah karyawan yang bekerja di perusahaannya.

Sodaqoh? Zakat? Infaq? Jangan tanya itu. Tidak satupun uangnya keluar dari dompetnya untuk sodaqoh, zakat maupun infaq. Padahal, saat itu ratusan warga antri di depan pagar menunggu datangnya secuil rezeki. Namun, justru mereka diusir oleh dua orang satpamnya. Untunglah, masyarakat bersabar dan bisa menahan emosi. Pak Bakhil kawatir kalau terlalu banyak mengeluarkan uang untuk sodaqoh, zakat, infaq atau apalah namanya, uangnya akan habis.

“Saya kerja kedras, kok orang lain tinggal minta saja. Kalau ingin duit, kerja,dong. Dagang, dong. Jualan pisang goreng,kek. Jualan jagung rebus,kek. Saya tidak suka dengan masyarakat yang malas. Tubuh masih sehat begitu kok minta-minta. Kerja!” begitu kata-kaata yang sering terlontar jika ada masyarakat miskin meminta bantuan.

Sebenarnya, apa yang dikatakan Pak Bakhil ada benarnya. Kebiasaan meminta-minta memang bisa menimbulkan sikap malas berusaha. Malas untuk bekerja. Hanya gampangnyasaja, tinggal minta. Tapi Pak Bakhil lupa bahwa kebanyakan masyarakat miskin tidak punya keterampilan, pendidikannya rendah dan cara berpikirnya sangat sederhana. Andaikan disuruh dagang pisang gorengpun, mereka butuh modal. Buat beli minyak dan lain-lain.

Sampai suatu hari. Anak tunggalnya yang masih duduk di bangku asyik bermain play station (PS) dikejutkan karena ada korsluiting listrik. Pak Bakhilpun segera mencoba mengatasinya. Terlambat, percikan api menyambar drum berisi BBM yang ada di garasi yang kebetulan letaknya berdekatan. Dalam hitungan detik, api telah membesar,membakar tiga buah mobil dan seisi rumahnya.

“Toloong…!!! Toloong…!!! Tolooong…!!!,” Pak Bakhil yang Cuma berpakaian celana pendek itu berteriak-teriak meminta tolong ke masyarakat sekitar. Rumah Pak Bakhil memang jaraknya agak jauh dengan rumah masyarakat sehingga tidak mungkin api akan membakar rumah masyarakat sekitar. Bahkan, merupakan rumah tunggal di kaveling itu.

Melihat teriakan itu, apalagi melihat api membubung tinggi, masyarakat miskinpun berhamburan keluar dari rumahnya masing-masing. Apa yang terjadi? Seperti dikomando, tidak ada satupun masyarakat yang mau menolong Pak Bakhil. Apipun terus melalap dengan ganas. Akhirnya, seluruh kekayaannya ludes dilalap api. Akhirnya, Pak Bakhilpun jatuh miskin.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973

CERPEN : Si Sombie Ingin Menembus Bumi

ALLAH berfirman, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung,” (Al-Isra’: 37). “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain,” (HR Muslim [91]).

TIBA-TIBA ponsel saya berbunyi. Terpaksa saya memperlambat motor dan kemudian berhenti di bawah pohon rindang.

“Hallo! Ini Harry yang dulu kuliah FMIPA angkatan 08,ya?” tiba-tiba suara di ponsel langsung nyelonong.

“Ya,betul. Ini siapa,” karena namanya belum terdaftar di ponsel dan saya belum mengenal suaranya, maka sayapun ingin mengetahui namanya.

“Saya menemukan nama dan nomor ponsel Harry dari internet. Saya Sancoko” begitu mendengar nama Sancoko, maka saya langsung ingat. Dia dulu adalah teman satu fakultas di MIPA. Setelah lulus, bertahun-tahun kami tak pernah bertemu. Di kampus, teman-teman sering memanggilnya dengan sebutan Sombie, plesetan dari kata “sombong”. Maklum, selama di kampus memang Si Sombie terkenal sombong, angkuh dan suka membanggakan diri.

“Hai…apa,kabar? Di mana sekarang?” sayapun membalas sapaannya. Karena lalu lintas di sekitar saya ramai sekali, maka saya mendengarkan ponsel sambil menutup telinga sebelah kanan.

“Saya sekarang jadi manajer. Sekarang saya punya dua gelar S-2, yaitu MBA dan MM,” sahutnya. Masih seperti dulu, menyombongkan diri,” Kamu bagaimana? Sudah S-1?” lanjutnya.

“Saya sih masih S-1. Belum ada duit buat meneruskan S-2,” jujur jawaban saya.

“Hahaha….goblok kamu! Pinteran saya dong.Sudah S-2!” Si Sombie mulai kambuh penyakit sombongnya.

Begitulah, selama telepon Si Sombie hanya berceloteh memamerkan jabatannya, gelarnya, kekayaannya, isterinya yang cantik dan apa saja yang bisa disombongkan ya disombongkan.

“Saya juga jadi anggota DPRRI, Harry,” tambahnya. Padahal saya tidak bertanya. Namun, menghadapi orang seperti itu justru saya angkat tinggi-tinggi dengan harapan suatu saat akan saya jatuhkan serendah-rendahnya.

“Waaah, wakil rakyat,dong. Tentu memperjuangkan nasib rakyat,ya?” tanya saya memancing.

“Rakyat? Hahaha…memperjuangkan rakyat itu prioritas ke-999. Lha,wong untuk jadi anggota DPR saya habis Rp 2 milyar. Ya, harus berjuang kembali modal dulu,dong…,” jawab Si Sombie. Dalam hati sayapun merasa prihatin. Selama sistem politik di Indonersia masih seperti sekarang, maka hancurlah keuangan negara. Korupsi akan merajalela sepanjang massa.

“Oke Harry. Saya minta alamatmu. Kapan-kapan saya akan ke rumahmu,” pintanya. Sayapun mengirim alamat lengkap melalui SMS. Sesudah itu percakapanpun selesai. Saya melanjutkan perjalanan ke WTC Mall.

Betul saja, sesuai dengan hari yang telah dijanjikan, Si Sombie datang ke rumah saya. Naik mobil Mercy baru gres dan mengajak isterinya yang cantik. Walaupun sombong, saya tetap berkewajiban menyambutnya sebagai tamu yang baik. Mereka berduapun duduk di ruang tamu.

“Oh, rumahmu kok kecil,Harry?” Si Sombie mulai meledek. Saya tak heran. Sejak zamannya kuliah memang Si Sombie suka merendahkan teman-temannya yang miskin. Saya diam saja. Pembantukupun menaruh minuman dingin dan kue-kue seadanya di meja.

“Wah, nggak usah minum, Har. Saya tidak biasa minum teh es manis. Memangnya saya orang miskin apa?” Si Sombie tertawa. Maklumlah, orang kaya baru tingkah lakunya ya seperti itu.

“Oh, ya Harry. Saya sudah dua kali naik haji. Saya sukses!,” lagi-lagi, tanpa saya tanya Si Sombie bercerita. Dia tak menyadari bahwa sesungguhnya kesuksesan adalah karena atas izin Allah swt. Manusia tidak mungkin sukses tanpa restu dari Allah swt.

“Syukurlah kalau sukses besar,” saya ucapkan selamat. Saya lihat isterinya cuma tersenyum saja.

Terus terang, selama kuliah, Si Sombie dijauhi teman-teman. Andaikan bicara juga tak pernah ditanggapi teman-teman. Hanya saya saja yang bisa memahami kesombongannya. Oleh karena itu tak heran kalau dia tetap menjadi sahabat baik saya.

Tanpa saya tanya, Si Sombiepun bercerita macam-macam sambil sedikit-sedikit menyisipkan ayat Al Qur’an. Bukannya ayat-ayat itu digunakan secara benar, melainkan digunakan untuk menyerang orang lain. Seolah-olah Si Sombie merasa paling Islam sendiri dan orang lain kurang Islam.

Saya akui, Si Sombie di samping sombong, suka membanggakan diri, suka merendahkan diri, juga licik dan kikir. Tak pernah beramal. Tak pernah bersodaqoh. Tak pernah berzakat.

Tak lama kemudian, Si Sombiepun pamit pulang dan tak ketinggalan meledek rumah saya. Katanya, rumah saya mirip rumah kelinci. Saya tak membalas. Malahan saya iyakan saja. Soalnya, kalau saya bantah dia pasti marah-marah.

Satu bulan kemudian, saya baca koran Kompas. Ada berita yang menarik, Si Sombie ditangkap KPK karena terlibat kasus korupsi senilai Rp 51,2 Milyar. Membaca berita itu saya Cuma tersenyum saja. Pikir saya, walaupun punya gelar MBA, MM, gelar haji, kaya raya, isteri cantik dan mobil mewah, tapi kalau cacat moral buat apa? Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh ke got juga.

Hariyanto Imadha
Penulis Cerpen
Sejak 1973

CERPEN : Luka Hati Si Badroen

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (Q.S Al-Kahfi 18:24)

SEBENARNYA sih, namanya bagus. Cuma kenalan-kenalannya sering memanggil di Si Badroen. Entah bagaimana asal usulnya, Si Badroen sendiri lupa. Saya baru saja kenal beberapa bulan yang lalu ketika saya mampir ke rumah sahabat saya di kawasan Bintaro.

Dia seorang wiraswastawan, badannya kurus, tinggi sekitar 166 cm. Bicaranya ceplas-ceplos tanpa memikir dan tanpa melihat dengan siapa dia percaya. Seolah apa yang dikatakan pasti benar. Dalam pertemuan itu dia punya rencana mendirikan kafe di kawasan Sunter Hijau Permai, Jakarta Utara,

Kebetulan, saya pernah tinggal di daerah itu dan kebetulan juga saya berniat mendirikan kafe, maka bersambutlah dua ide yang sama. Si Badroen yang kekurangan modal senang sekali melihat saya juga ingin bergabung mendirkian kafe. Akhirnya, kami berdua saling tukar kartu nama.

“Oh, ya. Kalau bisa, kita ketemu di Sunter Hijau Permai. Kita bicarakan bersama,”ajaknya bersemangat. Dia mengajak bertemu Minggu pagi antara pukul 09:00 hingga pukul 11:00 WIB dan akan ditunggu di Restoran Ayam Goreng Listy.

“Minggu jam 09:00-11:00 WIB di Restoran Ayam Goreng Listy,ya?” saya meyakinkan tempat pertemuan itu.

“Insya Allah! Saya akan menunggu,” kata Si Badroen yang terburu-buru akan pulang .”Maaf ya, sayang pulang duluan,” diapun langsung masuk ke mobilnya dan langsung melaju entah kemana.

Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Minggu. Saya sudah siap di tempat perjanjian.Mulai pukul 09:00 hingga pukul 10:00 WIB Si Badroen tidak datang. Saya kirimi SMS, tidak dibalas. Saya telepon, tidak diangkat. Saya pikir,mungkin dia sedang dalam perjalanan sehingga tak sempat membalas SMS ataupun telepon saya.

Sayapun kembali menunggu hingga pukul 11:00 WIB, Si Badroen tidak datang juga.Lagi-lagi, SMS dan telepon saya dari ponsel tidak dibalas atau tidak diangkat. Sayapun berpikir,mungkin ada halangan di jalan. Akhirnya, karena waktu janji sudah terlewati, maka sayapun pulang dengan dongkol. Apalagi rumah saya jauh, yaitu di BSD Nusaloka, Tangerang.

Esok harinya secara tak sengaja saya bertemu dengan Si Badroen di stasiun Kota. Kebetulan saya mengantarkan tamu saya dari Bojonegoro yang akan pulang ke kota asalnya. Kebetulan juga Si Badroen juga mengantarkan familinya yang akan pulang ke Yogyakarta. Sayapun mengingatkan tentang rencana membuka kafe.

“Oh, iya, Saya kemarin lupa. Ya,ya,ya saya lupa.bagaimana kalau besuk pagi saja, tetapi kita ketemu di Carrefour Blok M saja. Saya tunggu di sana pukul 09:00-11:00 WIB

“Boleh. Di Carrefour Blok M Square,ya?” sya mengingatkan.

“Insya Allah. Saya pasti datang,” janjinya. Setelah ngobrol-ngobrol tentang konsep bisnisnya, maka dia mengubah rencananya akan membuka kafe di Blok M Square saja.

Besoknya, tetap waktu saya sudah berada di depan pintu masuk Carrefour. Detik demi detik, menit demi menit, jaam demi jam, ternyata tak datang juga. Beberapa kirim SMS dan telepon, tak ada jawaban. Akhirnya pukul 11:15 WIB sayapun mengisi acara sendiri pergi ke Harco Mangga Dua.

Malam harinya sya telepon dan Si badroen mengangkatnya. Lagi-lagi soal janji dia bilang lupa. Dan membuat janji lagi. Katanya akan ke rumah saya di BSD Nusaloka, Tangerang. Waktunya sama, pukul 09:00-11:00 WIB.

“Insya Allah, saya besok pagi saya akan datang. Kebetulan saya tidak ada kesibukan apa-apa,” ujarnya di ponsel. Sayapun berkali-kali mengingatkan jangan sampai lupa lagi. Si Badroen berjanji tidak akan ingkar janji lagi. Katanya, yang kemarin benar-benar lupa.

Esok harinya, sesuai dengan waktu yang telah disepakati, sayapun menunggu dan menunggu. Namun, hasilnya sama. Hingga pukul 11:00 Si Badroen tidak datang juga. Akhirnya sayapun memanfaatkan acara cadangan saya, yaitu pergi ke ITC untuk membeli harddisk baru dan keperluan lainnya.

Sudah tiga kali Si Badroen mengucapkan “Insya Allah” dan sudah tiga kali pula ingkar janji. Tidak ada tanda-tanda Si badroen berusaha menepati janjinya. Memang, harus diakui bahwa umat Islam Indonesia sangat mudah sekali mengucapkan “Insya Allah”, namun dengan enteng pula ingkar janji. Seolah-olah, dengan mengucapkan “Insya Allah,” maka ingkar janjinya tidak bisa disalahkan.

Lain hari bertemu lagi di Kampus Universitas Trisakti. Kali ini saya yang berjanji untuk datang ke rumahnya di kawasan Tanjung Duren. Sayapun minta digambarkan denah atau peta menuju ke lokasi rumahnya. Sayapun berjanji pada jam yang sama.

“Insya Allah,” saya akan datang antara pukul 09:00-11:00 WIB,” ucap saya.

Terus terang, saya ingin memberikan pelajaran bagi ummat Islam yang dengan entengnya mengucapkan “Insya Allah”, namun dengan entengnya ingkar janji. Dan esok harinya, sengaja saya tidak datang dan mengisi acara membeli AC di ruko yang ada di dekat rumah saya.

Ketika sedang memilih-milih AC, ponsel saya berbunyi. Dari Si Badroen. Sebenarnya saya malas untuk menerima teleponnya. Tapi, tak apalah, saya ingin tahu apa reaksinya. Ternyata dia marah-marah karena sudah menunggu berjam-jam kok saya tidak datang. Sayapun disalahkan, katanya sudah janji kok tidak ditepati.

Akhirnya sayapun bilang, kalau Si Badroen sudah tiga kali ingkar janji dan saya tidak marah. Kenapa saya baru satu kali tidak datang,kok marah-marah. Sayapun menasehati Si Badroen.

“Lain kali kalau mau mengucapkan ‘Insya Allah’ dipikir dulu, kira-kira bisa tidak. Itupun harus dibuktikan dengan adanya usaha. Sudah berusaha untuk menepati janji. Mana usahamu? Nggak ada,kan? Andaikan ada halangan, misalnya macet di jalan, mobil rusak atau ada halangan lain, kamu memberi informasi ke saya,dong!”

Akhirnya, Si Badroen meminta maaf ke saya. Begitulah, kuman di seberang nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak. Seharusnya mengucapkan “Insya Allah” ada etikanya. Yaitu, harus dibuktikan bahwa sudah ada usaha untuk memenuhi janji itu. Andaikan gagal, maka harus memberi informasi, apa penyebabnya sampai tak bisa menepati janji. Alasan lupa adalah alasan yang tak bertanggung jawab, sebab orang berjanji harus mengingat-ingat betul janjinya.Jika ingkar, apapun alasannya, wajib meminta maaf, sebab ingkar janjinya telah melukai perasaan orang lain. Janji,jika perlu dicatat. Dengan demikian seorang muslim atau muslimah bisa menepati janjinya secara berkualitas. Dan tidak seribu kali mengucapkan Insya Allah, tapi seribu kali ingkar janji.

Di Indonesia sangat banyak muslim/muslimah yang bermental seperti Si Badroen.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973

CERPEN : Seuntai Tasbih Buat Ningsih

MAKA sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. (Thaha 130)

Keutamaanya adalah menghapus semua dosa-dosa yang awal dan yang akhir,yang lama dan yang baru,yang disengaja atau yang tidak disengaja,yang kecil atau yang besar,dan yang terang terangan maupun yang tersembunyi.(Abu Dawud,Ibnu Majah,Thabrani)

.—————————————————————————————————–

SAAT itu saya baru saja diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya. Juga, baru pada semester pertama. Pulang kuliah saya mengantarkan teman baru saya yang rumahnya di Jl.Pucang Anom Timur. Naik motor bebek.

“Saya di sini, kos,” kata Agus. Demikian namanya.”Tetapi khusus cowok.” Tambahnya

“Oh, begitu. Lantas, kalau makan bagaimana?” saya ingin tahu.

“Di seberang ada restoran murah meriah yang dikelola Bu Haji,” Agus menunjuk sebuah resto. Sayapun melihat resto itu. Tampaknya cukup bersih dan nyaman.

“Makan siang dulu,yuk! Saya traktir…” ajak saya.
Kami berduapun segera menyeberang jalan berjalan kaki. Kemudian duduk di kursi dan memesan makanan. Tak lama kemudian masuk seorang gadis bertampang mahasiswi.

“Hai, Ningsih!,” panggil Agus. Gadis itu menengok ke arah Agus. Kemudian mereka berdua berbincang-bincang sebentar. Akhirnya, gadis itupun memenuhi tawaran Agus untuk makan bersama. Sayapun siap mentraktir gadis itu. Maklum, dia putih dan cantik. Akhirnya, sayapun berkenalan.

“Harry,” saya mulai memperkenalkan diri. Saya jabat tangannya yang halus mulus itu.

“Ningsih. Setyaningsih,” ucapnya singkat sambil tersenyum.

Itulah awal perkenalan saya dengan Ningsih yang rumahnya di sekitar Karangmenjangan, dekat Kampus Unair.

Satu hal yang membuat heran, saya secara tak sengaja sering bertemu dengan Ningsih. Baik di kampus, di apotek, di Tunjungan atau di resto tempat pertama kalinya saya bertemu. Akhirnya sayapun memberanikan diri untuk datang ke tempat kosnya. Sambutannya cukup baik. Enak diajak bicara. Pantaslah kalau di kampus dia punya banyak teman.

Namun, menemui Ningsih tidaklah mudah. Berkali-kali ke tempat kos, dia sedang pergi. Kata teman-teman satu kos, Ningsih sedang memperdalam agama Islam di salah satu rumah seorang guru agama yang mereka tidak tahu siapa nama dan alamat rumah ustadz tersebut. Bahkan, Ningsih juga tidak pernah mau memberitahukan. Walaupun demikian, Ningsih masih seperti dulu. Tak pernah memakai jilbab ataupun pakaian muslimah. Masih berpakaian seperti mahasiswi pada umumnya.

Namun, kalau kebetulan saya bertemu di kampusnya, Ningsih suka sekali berbicara tentang agama Islam. Bukan berdiskusi atau berdebat, tetapi bicara ringan-ringan saja. Dan soal bertemu di kampus atau di fakultasnya, sudah berkali-kali. Yaitu di fakultas kedokteran.

Selama enam bergaul dengan Ningsih, saya menganggapnya sebagai sosok yang misterius. Banyak hal yang tak pernah terjawab secara tuntas. Misalnya, siapa dan di mana alamat guru agamanya. Siapa dan di mana orang tuanya. bahkan ketika saya tanyakan ke Agus, maka Aguspun ternyata juga tidak tahu siapa Ningsih sesungguhnya.

Tanpa terasa, persahabatan saya dengan Nngsih sudah berlangsung satu tahun dan terus terang saya mencintainya. Namun, Ningsih selalu mengatakan jangan terburu-buru mencintainya karena suatu saat akan menyesal. Menyesal? Itulah yang membua saya bertanya-tanya dalam hati. Ketika saya tanyakan kenapa saya akan menyesal, Ningsih cuma mengatakan suatu saat akan tahu. Wah, semakin misterius saja. Hal inipun sering saya diskusikan dengan Agus.

“Ada kejanggalan lainnya,tidak?” suatu saat Agus bertanya ke saya ketika selesai kuliah. Saya dan Agus memang sering ngobrol-ngobrol da kampus. Dia merupakan salah satu sahabat baik saya.

“Hmmm, apa ya?” saya berpikir keras. “Yang saya tahu sih, dia selalu memakai payung walaupun tidak hujan. Kelihatannya alergi sinar matahari…” ucap saya.

“Bagus…! Itu satu petunjuk yang pelu kita pelajari. Siapa tahu ada hubungannya dengan penyakit…” komentar Agus.
“Penyakit?” saya tak faham maksud Agus. Namun, bisa saja kata Agus ada benarnya.

Saat saya bertemu dengan Ningsih, sayapun sempat menanyakan kenapa kok selalu memakai payung, padaha masih pagi hari. Jawabnya, sudah lama alergi dengan sinar matahari. Katanya, bukan penyakit, hanya alergi saja. Sementara saya puas dengan jawabannya yang masuk akal itu. Namun saya melihat satu erubahan yang terjadi pada diri Ningsih. Karena, sekarang mulai berpakaian muslimah dan mengenakan jilbab. Dan dia lebih senang berbicara tentang agama Islam. Tap anehnya, lebih suka bicara tenang kematian.

Hal itupun saya bicarakan dengan Agus. Dan Agus mengambil kesimpulan, kemungkinan Ningsih mengidap penyakit tertentu ang bisa menimbulkan kematian. Tetapi apa? Aguspun tidak bisa menjawab. Yang pasti Agus yakin Nngsih mengidap penyakit, apalagi ketika saya bercerita pernah bertemu Ningsih di sebuah apotek.

Suatu saat, ketika saya makan bersama dengan Agus, maka Aguspun bercerita bahwa wajah Ningsih yang cantik itu agak aneh. Karena, di sektar hidung dan pipi agak kemerahan.Ada sedikit bercak-bercak merah, walaupun tidak begitu menyolok.

“Penyakit apa ya kira-kira?” saya bergumam penasaran. Akhirnya, saya dan Agus bersepakat ntuk browsing internet. Kamipun menuju ke sebuah wanet yang tidak jauh dari resto tempat kami makan. Saya dan Agus masing-masing menggunakan satu kmputer. Namun, dua jam kami mencari petunjuk di Google, hasilnya nol. Demikian juga di hari-hari lain, Google tak memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan ketiga saya dan Agus bertanya ke mahasiswa fakultas kedokteran semester empat, juga tidak tahu.

Suatu saat ketika saya ke tempat kos Ningsih, saya sempat melihat d bawah menjanya botol. Karena agak gelap, saya cuma sempat membaca kata “Noni” saja. Namun saya tidak menanyakan itu kepada Ningsih. bahkan pura-pura tidak melihat botol itu. Karena Ningsih suka bicara tentang agama Islam, maka saya lebih banyak bicara tentang agama Islam juga. Terutama tentang hal-hal yang ada kaitannya dengan kematian.

Esok harinya, ketika selesai kuliah, sayapun ceritakan temuan saya tentang botol di bawah meja di tempat kos Ningsih. Segera, kami berdua ke warnet lagi. Akhirnya, jawabannya ditemukan. Label botol itu selengkapnya berbunyi “Tahitian Noni Juice”. Obat penyakit lupus. Saya dan Aguspn mencari nfomasi tentang penyakit lupus. Akhinya cocok. Ciri-ciri an ada di wajah Nngsih adalah ciri-ciri penyakit lupus. Penyakit mematikan setara kanker.

“Oh,pantaslah,Ningih selalu mengatakan kepada saya, saya akan menyesal kalau berpacaran dengan dia,” ujar saya ke Agus yang saat itu masih asyik browsing internet.

Atas nasehat Agus, akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan pendekatan lagi ke Ningsih. Tepat pada hari ulang tahun Ningsih pada  22 Juli, sayapun memberikan sebuah kado yang unik, yaitu seuntai tasbih.

“Selamat ulang tahun Ningsih. Saya hanya bisa memberikan kado berupa seuntai tasbih. Semoga bermanfaat bagi Ningsih,” itu saya katakan ketika saya menemui Ningsih di kampusnya. Ningsih cuma bisa meneteskan air mata. Dia sadar bahwa, kado itu merupakan pemberian saya yang pertama dan terakhir.

Enam bulan kemudian, apa yang ditakutkan Ningsihpun terjadi. Ningsih meninggal di tempat kosnya. Saya dan Agus turut mengantarkan jenasahnya.

“Selamat jalan,Ningsih,” saya dan Aguspun meninggalkan tempat di mana Ningsih dimakamkan.

 
Hariyanto Imadha
Penulis Cerpen
Sejak 1973