CERPEN : Lakum Dinukum Waliyadin

”DAN janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan” (Al Quran, Surat Al-An’am ayat 108)

 YOGYAKARTA 1980. Sebenarnya perkenalan saya dengan Anita terjadi secara tak sengaja. Yaitu, ketika saya sedang asyik berjalan-jalan di trotoar Malioboro sambil melihat-lihat etalase toko, tanpa sengaja saya menabrak seorang gadis sehingga buku-buku yang dibawanya terjatuh.

“Oh, maaf…Tak sengaja” Saya langsung merunduk membantu mengambilkan buku-bukunya yang terjatuh.

“Oh, nggak usah Mas. Biar saya ambil sendiri…” Dia juga merunduk mengambil bukunya. Sepintas saya melihat di sampul bukunya ada huruf berbunyi “Anita”. Mungkin itu namanya.

“Namanya Anita,ya?” Saat itu kami berdua telah berdiri. Gadis yang masih berseragam SMA itu terkejut.

“Kok,tahu kalau nama saya Anita?”

Saya tertawa

“Dari buku Anita” Saya menunjuk namanya yang ada di bukunya.

“Ah,curang. Situ namanya siapa,dong?”

Akhirnya kamipun berkenalan. Kebetulan siang itu saya belum makan siang.

“Setuju tidak kalau saya traktir Anita makan siang di Restoran Hellen?” Saya mengajak Anita sambil menunjuk restoran yang ada di seberang jalan.

“Wow, kalu ditraktir sih,boleh”

Akhirnya kami berdua makan di restoran itu. Kami duduk berhadapan. Sangat jelas saya melihat kecantikan wajahnya. Katanya, Anita duduk di kelas III salah satu SMA di Yogyakarta. Dia tinggal di Asrama Putri Stella Duce. Siang itu baru saja pulang sekolah untuk membeli buku novel karya Mira W kesukaannya.

Sayapun memperkenalkan diri bahwa saya mahasiswa Fakultas Filsafat, UGM. Sayapun katakan bahwa saya kos di daerah Lobaningratan. Perkenalan itu lancar saja. Kami saling ngobrol dan tertawa. Seolah-olah kami telah berkenalan lama.

Pertemuan pertama itupun tentu ada kelanjutannya. Tiap Sabtu kami berjanji bertemu di Restoran Hellen. Sebenarnya sulit untuk bertemu sebab Asrama Putri Stella Duce sangat keras disiplinnya. Jadi, seringkali Anita kabur dari asramanya hanya karena ingin bertemu dengan saya.

Suatu saat ketika kami berdua di Samas, maka itu adalah kenangan terindah pertama yang kami nikmati. Tidak ada kata cinta sebab bahasa tubuh kami telah berbicara tentang hal itu. Paling indah ketika saya mencium bibir Anita dan dia diam pasrah. Indah sekali hari itu. Tubuh kami dibelai angin pantai yang dingin sejuk.

Tak lupa kenangan yang indah itu kami abadikan dalam bentuk foto. Tentu, atas bantuan orang lain untuk memfoto kami.

Tanpa terasa, Anita telah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi UGM. Tak heran kalau saya sering ke kampusnya. Bahkan tak jarang berpacaran di ruang perpustakaan kampusnya. Kebetulan, saya juga suka membaca buku-buku psikologi.

Tiga tahun sudah. Kebetulan, kuliah saya di fakultas filsafat telah selesai. Hari wisuda saya juga dihadiri Anita. Saat itulah, saya harus kembali ke Jakarta.

“Anita, rencananya dua hari lagi saya akan kembali ke Jakarta” Saya pamit ke Anita.

“Lantas, bagaimana dengan hubungan kita? Berlanjut atau sampai di sini?” Anita memandang saya penuh harap.

“Pertanyaan itu sangat sulit untuk dijawab, Anita?

“Kenapa?” Anita penasaran.

Saya mengajak Anita ke kantin dan membicarakan hubungan saya dengan Anita. Memang, saya baru menyadari kalau antara saya dan Anita berbeda agama.

“Maaf Anita. Mungkin Anita tahu, saya seorang muslim sedangkan Anita beragama Kristen.”

“Emangnya itu masalah? Kalau menurut hukum Indonesia, kita bisa menikah secara sah. Pada prinsipnya sebuah perkawinan sah secara hukum apabila memenuhi kedua syaratnya, baik syarat materiil maupun formil. Di Indonesia, syarat sahnya perkawinan di atur dalam Undang-Undang No.1

Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Dalam Undang-undang ini, tepatnya dalam pasal 2 diatur bahwa sebuah perkawinan sah secara hukum apabila dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaan dari masing-masing pihak yang akan menikah dan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.” Anita menjelaskan dari sudut pandang hukum.

“Iya,sih. Menurut pandangan Islam, Dalam agama Islam, terdapat dua aliran yang memberikan pandangan mengenai hal ini. Aliran yang pertama menyatakan bahwa dimungkinkan adanya perkawinan beda agama. Hanya saja hal ini dapat dilakukan jika pihak pria beragama Islam, sementara pihak perempuan beragama non-Islam (Al Maidah(5):5). Jika kemudian kondisinya sebaliknya, maka menurut aliran ini, perkawinan beda agama tidak dapat dilakukan (Al Baqarah(2):221). Di sisi yang lain, aliran yang satunya lagi menyatakan bahwa dalam agama Islam, apapun kondisinya, perkawinan beda agama tidak dapat dilakukan (Al-Baqarah [2]:221).” Saya menjelaskan posisi saya ke Anita.

Sayapun menambahkan.

“Bahkan menurut agama Anita, Kristen Protestan, dikatakan bahwa Dalam agama Kristen (Protestan) perkawinan beda agama tidak dapat dilakukan. Alasan apapun yang mendasarinya, dalam agama ini perkawinan beda agama dilarang. (I Korintus 6 : 14-18).”

“Tapi kita bisa menikah di luar negeri. Berdasarkan UU No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan, di Indonesia tidak dimungkinkan untuk melakukan perkawinan beda agama. Yang kemudian mungkin dapat dilakukan adalah melakukan perkawinan beda agama di luar negeri kemudian mencatatkan perkawinan tersebut di KUA / Kantor Catatan Sipil.” Anita menjelaskan.

“Iya sih. Tapi, Perlu digarisbawahi bahwa dengan dicatatkannya perkawinan beda agama yang dilakukan di luar negeri tidak serta merta membuat perkawinan itu sah di mata hukum Indonesia. (KUA/KCS hanya lembaga pencatat perkawinan)” Saya mengutip sebuah kalimat yang pernah saya baca bberapa hari yang lalu.

Cukup lama saya dan Anita membicarakan masalah perbedaan agama itu. Tentu tidak mungkin saya sebagai seorang muslim harus berpindah agama ke Kristen Protestan. Sebaliknya, Anitapun tidak mau kalau demi pernikahan harus meninggalkan agamanya.

“Begini Anita. Andaikan kita nanti masuk sorga, kita tidak mungkin akan bertemu. Surgaku adalah surgaku. Surgamu adalah surgamu”

Saya lihat. Anita berwajah sedih. Matanya berkaca-kaca. Kemudian satu persatu air matanya meleleh di pipinya.

“Jadi, kita harus berpisah?”

Sulit saya menjawabnya.

“Anita. Sesungguhnya saya mencintai Anita. Tapi demi masa depan, sebaiknya kita mengambil jalan yang terbaik. Baik bagi agama saya dan baik bagi agama Anita. Hari ini kita harus mengambil kuputusan, Anita. Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dari saya…”

“Jadi, kita harus berpisah?” Anita memandang saya sambil mengusap air mata di pipinya menggunakan sapu tangan. Saya tak bisa menjawab.

Sekitar 15 menit kami saling berdiam diri.

“Baiklah, Harry. Mungkin kita belum berjodoh. Tolong simpan kalung ini untuk kenang-kenangan dari saya”. Anita mencopot kalung dengan hiasan salib. Saya menerimanya dengan sedih sekali.

Secara kebetulan, dari tempat kos saya sudah menyiapkan tasbih buat kenang-kenangan Anita.

“Anita. Saya hanya bisa memberikan ini” Saya menyerahkan untaian tasbih ke Anita. Anitapun menerimanya dengan penuh rasa sedih.

Itulah pertemuan saya dengan Anita untuk yang terakhir kalinya. Ketika kereta api mengantarkan saya ke Jakarta, Anitapun mengantarkan sampai di stasiun Tugu, Yogyakarta. Dari jendela kereta api, saya hanya bisa melambaikan tangan ke Anita dan Anitapun melambaikan tangan ke arah saya.

Keretapun mulai berjalan, meninggalkan stasiun Tugu, meninggalkan Yogyakarta, meninggalkan Anita, meninggalkan sejuta kenangan indah.

 Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: