CERPEN : Seuntai Tasbih Buat Ningsih

MAKA sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. (Thaha 130)

Keutamaanya adalah menghapus semua dosa-dosa yang awal dan yang akhir,yang lama dan yang baru,yang disengaja atau yang tidak disengaja,yang kecil atau yang besar,dan yang terang terangan maupun yang tersembunyi.(Abu Dawud,Ibnu Majah,Thabrani)

.—————————————————————————————————–

SAAT itu saya baru saja diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya. Juga, baru pada semester pertama. Pulang kuliah saya mengantarkan teman baru saya yang rumahnya di Jl.Pucang Anom Timur. Naik motor bebek.

“Saya di sini, kos,” kata Agus. Demikian namanya.”Tetapi khusus cowok.” Tambahnya

“Oh, begitu. Lantas, kalau makan bagaimana?” saya ingin tahu.

“Di seberang ada restoran murah meriah yang dikelola Bu Haji,” Agus menunjuk sebuah resto. Sayapun melihat resto itu. Tampaknya cukup bersih dan nyaman.

“Makan siang dulu,yuk! Saya traktir…” ajak saya.
Kami berduapun segera menyeberang jalan berjalan kaki. Kemudian duduk di kursi dan memesan makanan. Tak lama kemudian masuk seorang gadis bertampang mahasiswi.

“Hai, Ningsih!,” panggil Agus. Gadis itu menengok ke arah Agus. Kemudian mereka berdua berbincang-bincang sebentar. Akhirnya, gadis itupun memenuhi tawaran Agus untuk makan bersama. Sayapun siap mentraktir gadis itu. Maklum, dia putih dan cantik. Akhirnya, sayapun berkenalan.

“Harry,” saya mulai memperkenalkan diri. Saya jabat tangannya yang halus mulus itu.

“Ningsih. Setyaningsih,” ucapnya singkat sambil tersenyum.

Itulah awal perkenalan saya dengan Ningsih yang rumahnya di sekitar Karangmenjangan, dekat Kampus Unair.

Satu hal yang membuat heran, saya secara tak sengaja sering bertemu dengan Ningsih. Baik di kampus, di apotek, di Tunjungan atau di resto tempat pertama kalinya saya bertemu. Akhirnya sayapun memberanikan diri untuk datang ke tempat kosnya. Sambutannya cukup baik. Enak diajak bicara. Pantaslah kalau di kampus dia punya banyak teman.

Namun, menemui Ningsih tidaklah mudah. Berkali-kali ke tempat kos, dia sedang pergi. Kata teman-teman satu kos, Ningsih sedang memperdalam agama Islam di salah satu rumah seorang guru agama yang mereka tidak tahu siapa nama dan alamat rumah ustadz tersebut. Bahkan, Ningsih juga tidak pernah mau memberitahukan. Walaupun demikian, Ningsih masih seperti dulu. Tak pernah memakai jilbab ataupun pakaian muslimah. Masih berpakaian seperti mahasiswi pada umumnya.

Namun, kalau kebetulan saya bertemu di kampusnya, Ningsih suka sekali berbicara tentang agama Islam. Bukan berdiskusi atau berdebat, tetapi bicara ringan-ringan saja. Dan soal bertemu di kampus atau di fakultasnya, sudah berkali-kali. Yaitu di fakultas kedokteran.

Selama enam bergaul dengan Ningsih, saya menganggapnya sebagai sosok yang misterius. Banyak hal yang tak pernah terjawab secara tuntas. Misalnya, siapa dan di mana alamat guru agamanya. Siapa dan di mana orang tuanya. bahkan ketika saya tanyakan ke Agus, maka Aguspun ternyata juga tidak tahu siapa Ningsih sesungguhnya.

Tanpa terasa, persahabatan saya dengan Nngsih sudah berlangsung satu tahun dan terus terang saya mencintainya. Namun, Ningsih selalu mengatakan jangan terburu-buru mencintainya karena suatu saat akan menyesal. Menyesal? Itulah yang membua saya bertanya-tanya dalam hati. Ketika saya tanyakan kenapa saya akan menyesal, Ningsih cuma mengatakan suatu saat akan tahu. Wah, semakin misterius saja. Hal inipun sering saya diskusikan dengan Agus.

“Ada kejanggalan lainnya,tidak?” suatu saat Agus bertanya ke saya ketika selesai kuliah. Saya dan Agus memang sering ngobrol-ngobrol da kampus. Dia merupakan salah satu sahabat baik saya.

“Hmmm, apa ya?” saya berpikir keras. “Yang saya tahu sih, dia selalu memakai payung walaupun tidak hujan. Kelihatannya alergi sinar matahari…” ucap saya.

“Bagus…! Itu satu petunjuk yang pelu kita pelajari. Siapa tahu ada hubungannya dengan penyakit…” komentar Agus.
“Penyakit?” saya tak faham maksud Agus. Namun, bisa saja kata Agus ada benarnya.

Saat saya bertemu dengan Ningsih, sayapun sempat menanyakan kenapa kok selalu memakai payung, padaha masih pagi hari. Jawabnya, sudah lama alergi dengan sinar matahari. Katanya, bukan penyakit, hanya alergi saja. Sementara saya puas dengan jawabannya yang masuk akal itu. Namun saya melihat satu erubahan yang terjadi pada diri Ningsih. Karena, sekarang mulai berpakaian muslimah dan mengenakan jilbab. Dan dia lebih senang berbicara tentang agama Islam. Tap anehnya, lebih suka bicara tenang kematian.

Hal itupun saya bicarakan dengan Agus. Dan Agus mengambil kesimpulan, kemungkinan Ningsih mengidap penyakit tertentu ang bisa menimbulkan kematian. Tetapi apa? Aguspun tidak bisa menjawab. Yang pasti Agus yakin Nngsih mengidap penyakit, apalagi ketika saya bercerita pernah bertemu Ningsih di sebuah apotek.

Suatu saat, ketika saya makan bersama dengan Agus, maka Aguspun bercerita bahwa wajah Ningsih yang cantik itu agak aneh. Karena, di sektar hidung dan pipi agak kemerahan.Ada sedikit bercak-bercak merah, walaupun tidak begitu menyolok.

“Penyakit apa ya kira-kira?” saya bergumam penasaran. Akhirnya, saya dan Agus bersepakat ntuk browsing internet. Kamipun menuju ke sebuah wanet yang tidak jauh dari resto tempat kami makan. Saya dan Agus masing-masing menggunakan satu kmputer. Namun, dua jam kami mencari petunjuk di Google, hasilnya nol. Demikian juga di hari-hari lain, Google tak memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan ketiga saya dan Agus bertanya ke mahasiswa fakultas kedokteran semester empat, juga tidak tahu.

Suatu saat ketika saya ke tempat kos Ningsih, saya sempat melihat d bawah menjanya botol. Karena agak gelap, saya cuma sempat membaca kata “Noni” saja. Namun saya tidak menanyakan itu kepada Ningsih. bahkan pura-pura tidak melihat botol itu. Karena Ningsih suka bicara tentang agama Islam, maka saya lebih banyak bicara tentang agama Islam juga. Terutama tentang hal-hal yang ada kaitannya dengan kematian.

Esok harinya, ketika selesai kuliah, sayapun ceritakan temuan saya tentang botol di bawah meja di tempat kos Ningsih. Segera, kami berdua ke warnet lagi. Akhirnya, jawabannya ditemukan. Label botol itu selengkapnya berbunyi “Tahitian Noni Juice”. Obat penyakit lupus. Saya dan Aguspn mencari nfomasi tentang penyakit lupus. Akhinya cocok. Ciri-ciri an ada di wajah Nngsih adalah ciri-ciri penyakit lupus. Penyakit mematikan setara kanker.

“Oh,pantaslah,Ningih selalu mengatakan kepada saya, saya akan menyesal kalau berpacaran dengan dia,” ujar saya ke Agus yang saat itu masih asyik browsing internet.

Atas nasehat Agus, akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan pendekatan lagi ke Ningsih. Tepat pada hari ulang tahun Ningsih pada  22 Juli, sayapun memberikan sebuah kado yang unik, yaitu seuntai tasbih.

“Selamat ulang tahun Ningsih. Saya hanya bisa memberikan kado berupa seuntai tasbih. Semoga bermanfaat bagi Ningsih,” itu saya katakan ketika saya menemui Ningsih di kampusnya. Ningsih cuma bisa meneteskan air mata. Dia sadar bahwa, kado itu merupakan pemberian saya yang pertama dan terakhir.

Enam bulan kemudian, apa yang ditakutkan Ningsihpun terjadi. Ningsih meninggal di tempat kosnya. Saya dan Agus turut mengantarkan jenasahnya.

“Selamat jalan,Ningsih,” saya dan Aguspun meninggalkan tempat di mana Ningsih dimakamkan.

 
Hariyanto Imadha
Penulis Cerpen
Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s