CERPEN : Abdul Bakhil di Penghujung Jalan

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180)

SIAPA sih yang tidak kenal Pak Abdul Bakhil? Dia tinggal di Komplek Perumahan BSD Nusaloka. Rumahnya paling meawah. Namun, di sekitarnya adalah perkampungan masyarakat miskin. Walaupun di BSD Nusaloka, namun dia beli tanah dari masyarakat kampung dan bukan dari pengembang BSD Nusaloka. Rumahnya berlantai tiga dan dilengkapi dengan kolam renang.

Sebenarnya kalau dikatakan rumahnya satu komplek dengan BSD Nusaloka, sebab menurut peta rumahnya di luar komplek. Cuma, karena berdekatan dengan komplek perumahan, maka orang sering menyebut rumah Pak Bakhil berada di komplek BSD Nusaloka, sebuah komplek perumahan elit. Dia punya bisnis macam-macam dan tergolong sukses.

Suatu hari ada suami istri warga dari masyarakat miskin datang ke rumah Pak Bakhil. Setelah memencet bel berkali-kali di dekat pintu pagar, Pak Bakhilpun keluar. Kebetulan dia belum punya pembantu.

“Ada apa?” Pak Bakhil bertanya dengan pandangan penuh curiga.

“Ini, Pak. Isteri saya mau melahirkan,” ujar Pak Darmin, suami dari Sukinah, istrinya.

“Maksudnya?”

“Ya, kalau boleh pinjam uang, Pak. Untuk biaya melahirkan,” Pak Darmin meminta tolong dengan wajah memelas.

“Wah, sampeyan apa nggak pernah nonton televisi kalau masyarakat tidak mampu bisa dapat keringanan biaya kesehatan? Coba deh, minta surat keterangan tidak mampu ke Kepala Desa, bawa pengantar dari Ketua RT/RW. Dari lurah bawa Surat Keterangan Tidak Mampu dan tunjukkan ke rumah sakit,” ketus jawaban Pak Bakhil.

Pak Darminpun akhirnya saling berpandangan dengan isterinya. Mereka tahu kalau Pak Bakhil itu orang kikir, tapi masih juga mencoba pinjam uang. Akhirnya, suami isteri itupun mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu atau SKTM dari kelurahan.

Lain hari Pak Martopun menita bantuan ke Pak Bakhil, karena isterinya terkena tipus, namun jawabannya sama saja. Begitu pula usaha Pak Karmin meminta bantuan untuk membayar sekolah anak-anaknya juga ditolak. Pokoknya, ada puluhan masyarakat setempat yang kecewa atas sikap Pak Bakhil yang kikir itu.

Bahkan Darno, Kusmin, Sutomo, Daryo,Gimin dan Gondo yang pernah bekerja untuk membangun rumah Pak Bakhilpun permohonan bantuannya ditolak. Mereka bekerja sebagai tukang batu, pengaduk semen pasir, tukang kayu, tukang batu,tukang listrik dan tukang cat.

Masyarakat sekitar tahu, lebaran tahun yang lalu, Pak Bakhil yang Cuma punya anak satu itu memanjakan anaknya dengan membelikan kembang api senilai Rp 5 juta. Hanya satu dua jam habis. Teman-temannya datang membawa mobil mewah diparkir di halamannya yang luas. Namun, tidak sebutir kuepun yang terbagikan ke masyarakat sekitarnya. Bahkan, yang memantu acara-acara di rumahnya adalah karyawan yang bekerja di perusahaannya.

Sodaqoh? Zakat? Infaq? Jangan tanya itu. Tidak satupun uangnya keluar dari dompetnya untuk sodaqoh, zakat maupun infaq. Padahal, saat itu ratusan warga antri di depan pagar menunggu datangnya secuil rezeki. Namun, justru mereka diusir oleh dua orang satpamnya. Untunglah, masyarakat bersabar dan bisa menahan emosi. Pak Bakhil kawatir kalau terlalu banyak mengeluarkan uang untuk sodaqoh, zakat, infaq atau apalah namanya, uangnya akan habis.

“Saya kerja kedras, kok orang lain tinggal minta saja. Kalau ingin duit, kerja,dong. Dagang, dong. Jualan pisang goreng,kek. Jualan jagung rebus,kek. Saya tidak suka dengan masyarakat yang malas. Tubuh masih sehat begitu kok minta-minta. Kerja!” begitu kata-kaata yang sering terlontar jika ada masyarakat miskin meminta bantuan.

Sebenarnya, apa yang dikatakan Pak Bakhil ada benarnya. Kebiasaan meminta-minta memang bisa menimbulkan sikap malas berusaha. Malas untuk bekerja. Hanya gampangnyasaja, tinggal minta. Tapi Pak Bakhil lupa bahwa kebanyakan masyarakat miskin tidak punya keterampilan, pendidikannya rendah dan cara berpikirnya sangat sederhana. Andaikan disuruh dagang pisang gorengpun, mereka butuh modal. Buat beli minyak dan lain-lain.

Sampai suatu hari. Anak tunggalnya yang masih duduk di bangku asyik bermain play station (PS) dikejutkan karena ada korsluiting listrik. Pak Bakhilpun segera mencoba mengatasinya. Terlambat, percikan api menyambar drum berisi BBM yang ada di garasi yang kebetulan letaknya berdekatan. Dalam hitungan detik, api telah membesar,membakar tiga buah mobil dan seisi rumahnya.

“Toloong…!!! Toloong…!!! Tolooong…!!!,” Pak Bakhil yang Cuma berpakaian celana pendek itu berteriak-teriak meminta tolong ke masyarakat sekitar. Rumah Pak Bakhil memang jaraknya agak jauh dengan rumah masyarakat sehingga tidak mungkin api akan membakar rumah masyarakat sekitar. Bahkan, merupakan rumah tunggal di kaveling itu.

Melihat teriakan itu, apalagi melihat api membubung tinggi, masyarakat miskinpun berhamburan keluar dari rumahnya masing-masing. Apa yang terjadi? Seperti dikomando, tidak ada satupun masyarakat yang mau menolong Pak Bakhil. Apipun terus melalap dengan ganas. Akhirnya, seluruh kekayaannya ludes dilalap api. Akhirnya, Pak Bakhilpun jatuh miskin.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s