NOVEL : Nama Pemenang Tunggal Novel Gratis (Putaran Kedua,Agustus 2012)

Judul novel : Di Telaga Sarangan Pernah Ada Cinta

Karya: Hariyanto Imadha

Novel  gratis putaran kedua ini berlaku untuk semua Facebooker  yang bergabung di akun FB kami di kota/negara mana saja berada. Sementara hanya satu pemenang.

Jumlah peserta yang mendaftar ada sekita 100 peserta. Sesudah diseleksi, tinggal sekitar 44 peserta (mungkin bisa berkurang lagi). Hal ini karena ada yang mendaftar dua kali atau tiga kali. Yang kami ikut sertakan hanya satu nama.

Sesudah diundi (menggunakan software The Hat) maka pemenangnya adalah:

A.Nama pemenang tunggal

.————————————————————————————————————————————-

Nama FB: Ophie Tari

Nama asli: Nofi Kharomah Wati Lestari

.————————————————————————————————————————————

B.Mohon mengirimkan ke inbox kami :Nama lengkap dan alamat lengkap (RT/RW/Kodepos)

C.Novel akan dikirim melalui TIKI/JNE/Surat Kilat Kusus (sesudah lebaran)

D.Jika sudah menerima mohon kirim informasi ke inbox kami.

E.Novel boleh diperbanyak/difotokopi.

F.Bagi yang ingin beli, informasinya di:

http://tokoonline9999.wordpress.com/2011/03/12/telah-terbit-dan-segera-terbit-novel-novel-bermutu-karya-hariyanto-imadha/

Mulai 1 Agustus 2012 harga novel naik menjadi Rp 60.000 (termasuk biaya kirim se-Indonesia).

Terima kasih.

Hariyanto Imadha

Novelis & Cerpenis

CERPEN MISTERI : Misteri Kamar Penyimpan Beras

BOJONEGORO. Saat itu saya masih duduk di bangku SMPN 2 Kelas 1. Dekat dengan rumah saya yang berlokasi di Jl.Trunojoyo No.4. Sebuah rumah besar seperti  istana dan berdiri di atas tanah seluas 5.000 meter persegi. Sekarang dipakai untuk kantor pelayanan pajak. Sebesar kantor PMI. Lokasi di tengah kota. Di situlah masa kecil saya. masa kanak-kanak saya yang sangat menyenangkan.

Saat itu kakak-kakak saya sudah pindah ke Surabaya, jakarta dan lain-lain untuk melanjutkan kuliah ataupun bekerja. Ayah sibuk mengurus Yayasan SMP Nuswantara yang ada di belakang rumah. Ibu sibuk memasak di dapur. Tak jarang saya bermain sendiri di rumah. Atau menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku komik, buku silat, psikologi, ekonomi dan apa saja.

Ada satu hal yang membuat saya merasa aneh. Kenapa tiap kali saya mengambil sepeda ontel yang disimpan di kamar penyimpan beras, buluk kuduk saya berdiri. Padahal itu pagi hari. Memang terasa aneh, padahal tidak ada sesuatu yang sebenarnya patut dicurigai. Tapi indera keenam saya mengatakan, ada sesuatu di kamar itu. Entah apa, saya belum bisa menjabarkannya.Yang pasti kamar tersebut juga berfungsi untuk menyimpan berkarung-karung beras untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Di hari yang lain, ketika saya akan mengambil sepeda di kamar tersebut, saya mendengar suara anak kecil menangis. Hanya beberapa detik. Bulu kuduk sayapun merinding. Meskipun demikian saya tetap memberanikan mengambil sepeda. Hal itupun sudah saya ceritakan ke ibu saya.

“Ah, kamu halusinasi saja. Ibu kan sudah puluhan tahun menempati rumah ini. Tidak pernah sekalipun mendengar suara-suara aneh di kamar penyimpan beras itu. Apalagi tiap hari ibu atau Mbok Ni juga mengambil beras. Tidak ada apa-apa. Sudahlah, jangan dipikirkan.” begitu jawaban ibu. Sebenarnya saya mangkel juga mendengar jawaban seperti itu. Tapi apa boleh buat, saya tidak bisa meyakinkan ibu saya.

Seminggu kemudian, suara anak kecil menangis itu terulang lagi. Hanya beberapa detik. Saya memberanikan diri untuk melihat seisi kamar penyimpan beras itu. Semua lemari saya buka, tidak ada apa-apa. Tiap sudut saya periksa, tidak ada apa-apa. sayapun ceritakan hal tersebut ke ayah saya. jawabannya sama dengan ibu saya. katanya, saya mengalami halusinasi. Kebetulan sejak SMP saya suka membaca buku-buku psikologi sehingga saya tahu apa itu halusinasi dan sekaligus saya yakin saya tidak mengalami halusinasi. Tetapi, lagi-lagi saya tak punya cara untuk meyakinkan ayah akan adanya suara yang aneh itu.

Akhirnya, sewaktu di sekolah, saya ceritakan hal tersebut ke teman-teman. Antara lain ke Supartono, Mulyono, Agus Mulyono, Santoso dan lain-lain. Sebagian mentertawakan saya namun sebagian mempercayai cerita saya.

“Coba deh, tanyakan ke guru agama kita,” usul Mulyoso yang cukup masuk akal. Karena saat itu jam istirahat, sayapun memberanikan diri menghadap guru agama (saya lupa namanya) di ruang guru. saya ceritakan semua kejadian yang saya alami. Beliau cuma memberi saran, agar saya mencoba sering-sering shalat di kamar penyimpan beras itu. Masuk akal.

Selama seminggu, saya memberanikan shalat di kamar itu. Kadang saat Dhuhur, kadang Ashar. Yang pasti saya tidak berani memasui kamar itu saat Maghrib, Isya maupun Subuh. Menyeramkan. walaupun rumah itu indah, tetapi memiliki aura yang negatif. Entah ada apa sebelum rumah itu dibangun saya tidak tahu.

Sampai suatu saat, tengah malam sekitar pukul 23:00 WIB dan kebetulan Malam Jumat, saya terbangun dari tidur karena ingin buang air kecil. Maklum udara malam itu dingin sekali. Celakanya, kamar mandi yang ada di dalam rumah sedang tidak ada air karena krannya rusak. Terpaksa saya harus buang air ke kamar mandi di rumah bagian belakang. Urut-urutannya kamar makan, kamar penyimpan beras, dapur dan kamar mandi. Tetapi, ketika tepat melewati kamar penyimpan beras, tiba-tiba pintu kamar itu yang semula tertutup mendadak terbuka. Luar biasa terkejut saya. Padahal saya tahu di dalam pasti tidak ada orang. Dengan menahan rasa takut, saya tetap melanjutkan berjalan menuju ke kamar mandi.

Esoknya saya ceritakan kejadian itu ke ayah dan ibu. Lagi-lagi saya dikatakan mengalami halusinasi. Menyebalkan sekali. Saat itu saya agak ngotot dan mengatakan seyakin-yakinnya bahwa apa yang saya lihat benar-benar terjadi. bahkan saya mengatakan demi Allah SWT saya benar-benar mengalaminya. Akhirnya ayah saya berjanji akan mengundang orang pintar.

“Sabarlah. Satu dua hari ini ayah akan mencarikan orang pintar untuk memeriksa kamar itu,” janji ayah. Agak lega juga saya mendengar janji itu.

Malam harinya, ketika saya tidur. Saya merasa jari-jari kaki saya terasa ada yang memegangnya. Sayapun terbangun. Tetapi tidak ada siapa-siapa. Namun tiba-tiba saya melihat bayangan anak kecil telanjang bulat yang berlari cepat meninggalkan kamar tidur saya sambil tertawa kecil. Menembus pintu kayu yang tertutup. Hampir saya berteriak ketakutan, tapi tak mampu. Saya tak berani bangkit dari tempat tidur. Saya cuma berdoa semoga saya tidak diganggu mahluk halus. Sampai pagi, saya tidak bisa tidur.

Esoknya adalah har Minggu. Seperti biasa saya bermain bulu tangkis di halaman belakang rumah di bawah pohon mangga yang rindang. saat itu teman SMP saya yang datang yaitu Mulyoso, Supartono dan Yayan atau Yudho Heryanto yang rumahnya di belakang rumah saya. Bulu tangkis adalah hobi saya sejak kecil. Sambil bermain bulutangkis, sesekali saya bercerita kepada Mulyoso dan Supartono tentang mahluk halus di kamar penyimpan beras.

“Coba deh, saya mau lihat kamarnya,” ujar Mulyoso seusai latihan bulu tangkis. Sayapun mengajak Mulyoso dan Supartono untuk masuk ke kamar penyimpan beras itu. Dan benar saja, sekitar satu menit di kamar itu, kami bertiga mendengar suara anak kecil menangis. Hanya beberapa detik. Supartono yang penakut itupun langsung lari terbirit-birit meninggalkan saya dan Mulyoso.

“Hmmm. Sekarang saya baru percaya,” komentar Mulyoso sesudah kami berada di luar kamar tersebut. Akhirnya, sayapun saat itu punya saksi yang menguatkan pengalaman saya bahwa di kamar itu memang ada mahluk halusnya. Tetapi, kenapa sampai menempati kamar itu?

Sampai suatu hari, datanglah orang pintar yang dijanjikan ayah. Namanya Pak Nadjamuddin dari desa Jasem, Sroyo. Beliau memasuki kamar penyimpan beras diikuti ayah dan ibu saya. Saya di luar kamar. Saya lihat Pak Nadjam memeriksa seluruh ruangan. Matanya melihat ke sana kemari. Dan akhirnya beliau mengatakan bahwa ada anak kecil telanjang di kamar itu.

“Jahat atau tidak?” ibu saya yang bertanya.

“Tidak jahat, tetapi dia suka mengganggu. Maklum, dia anak kecil. Tapi kalau diganggu, dia bisa jahat juga…” ujar Pak Nadjam. Tak lama kemudian ayah, ibu dan Pak Nadjampun berbincang-bincang di luar kamar.

“Bagaimana? Kenapa dia ada di sini? Apakah dulu sebelum dibangun rumah ini dulu ada makam?” ayah saya ingin tahu.

“Tidak. Tidak ada kuburan. Dulu ada pohon beringin di sini. Pohon itu rumah anak kecil itu. Dia memang mahluk halus.” Pak Nadjam menerangkan.

“Bisa dipindahan,Pak?” ibu saya ingin tahu, setengah meminta agar mahluk halus itu dipindahkan.

“Akan saya usahakan.” janji Pak Nadjam. Pak Nadjampun kembali memasuki kamar tersebut. Membacakan beberapa ayat suci Al Qur’an dan berkomunikasi dengan mahluk halus itu. Kemudian keluar ruangan. Seolah-olah sedang membimbing anak kecil, Pak Nadjam berjalan menuju pohon mangga yang ada di paling utara dekat tembok pagar. Kemudian kembali mendekati ayah dan ibu.

“Bagaimana, Pak Nadjam,” penasaran ibu saya.

“Sudah,Bu. Kebetulan dia mau saya pindahkan ke pohon mangga itu. Namun dengan catatan, mohon tidak ada yang coba-coba menaiki pohon itu karena bisa jadi akan terjatuh atau terkena halangan lainnya. Juga, jangan ada yang memakan mangga yang berasal dari pohon mangga itu,” pesan Pak Nadjam. Ayah dan ibu sayapun mengucapkan terima kasih. Sesudah menerima upah, Pak nadjampun pulang menaiki sepeda tuanya . Bersepeda ke desa Jasem, Sroyo yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah. Bersepeda. Lumayan jauh. Maklum, jaman dulu yang punya motor masih jarang.

Dua tahun berlalu. Aman-aman saja. Kamar penyimpan beras tidak ada yang aneh. kalau saya memasuki kamar itupun tidak merinding lagi. Membuat saya jadi senang. Hidup aman. Tidak ada lagi yang perlu saya takuti. Sayapun bisa belajar dengan tenang.

Masalahnya adalah, suatu hari Minggu, teman-teman SMP datang main-main ke halaman belakang rumah yang cukup luas. Sebagian main bulu tangkis, sebagian bermain-main dengan kelinci saya yang saat itu jumlahnya ada 21 ekor. Satu hal yang di luar pengetahuan saya, salah seorang teman saya memancat pohon mangga yang di dekat tembok pagar itu. Sayapun ingat nasehat Pak Nadjam. sayapun berteriak memohon agar teman saya turun. Dia sudah naik cukup tinggi. Sekitar 15 meter. Namun teman saya yang bernama Darmawan justru tertawa.

“Memangnya saya penakut? Ha ha ha…Saya sudah terbiasa naik pohon mangga, Har…” jawabnya. Akhirnya saya cuma menasehati supaya hati-hati. Baru saja saya membalikkan tubuh karena akan menuju ke tempat kelinci-kelinci saya bermain, saya mendengar benda berat jatuh. Teman-teman berteriak. saya menengok ke ke belakang.

“Astaga…”. Darmawan jatuh. Kepalanya berdarah. Segera teman-teman memanggil becak dan membawanya ke rumah sakit. Terlambat. Begitu tiba di rumah sakit, Darmawan sudah menghembuskan nafas yang terakhir. Saya merasa bersalah dan berdosa karena sebelumnya saya lupa melarang teman-teman agar tidak naik ke pohon mangga itu. Namun semuanya sudah terjadi.

Catatan:
Cerita ini merupakan cerita fiktif.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973

NOVEL : Beda Novel Dan Sok Novel

MENURUT pengamatan saya, apa yang dijual di toko buku dan dikelompokkan dalam buku novel, ternyata sebenarnya bukanlah novel. Ada anggapan keliru yang mengatakan bahwa novel adalah cerita yang panjang. Bahkan itu merupakan pengalaman pribadi. Ceritanyapun klise. Tidak ada karakterisasi. Lebih parah lagi tak ada pesan maupun sesuatu yang baru.

Apakah novel itu?

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita”.

Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.

Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Novel)

Jadi, apakah unsur-unsur daripada sebuah novel?

Antara lain:

-karya fiksi

-berbentuk prosa

-naratif

-lebih komplek daripada cerpen

-tidak ada batasan struktural dan metrikal

-menonjolkan karakter tiap pelaku

-ada pesan yang disampaikan

-ada sesuatu baru

-inspiratif

-ada unsur pencerahan

Kelemahan novel masa sekarang

Cukup banyak novel yang sebenarnya kurang begitu berbobot karena di samping tidak memenuhi berbagai ciri novel, juga karena:

-ceritanya klise

-jalan ceritanya mudah ditebak

-tidak ada sesuatu yang baru

-apa yang diceritakan sudah biasa terjadi

-kebanyakan hanya bercerita tentang cinta tanpa variasi lain

-tidak memberikan pencerahan kepada pembaca

-tidak didukung sebuah penalaran yang logis dan benar

-tidak menambah pengetahuan baru bagi para pembacanya

-tidak meluruskan pandangan-pandangan yang keliru

-dialognya bertele-tele dan tanpa makna

Penilaian novel yang keliru

Banyak pembaca mengatakan novel yang dibacanya bagus, hanya karena jalan ceritanya menarik. Padahal dari segi kualitas novel tersebut tak ada bobotnya.

Bukan sarjana sastra

Kalau boleh jujur, saya katakan bahwa novel-novel yang dijual di toko buku, dibuat oleh bukan sarjana sastra. Mereka tak faham linguistik dan bagian-bagiannya. Tak mengerti logika bahasa.Tak faham psikologi kata. Tak menguasai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak menguasai sistimatika alur cerita. Menggunakan dialog-dialog yang bertele-tele tapi tanpa makna.

Penerbit komersial

Celakanya, kebanyakan penerbit juga bukan sarjana sastra.Mereka lebih mementingkan segi komersil. Lebih mementingkan nama penulis novel yang sudah terkenal. Atau memilih judul yang “bombastis”. Atau karena faktor nepotisme. Bahkan ada penerbit yang menerbitkan buku-buku di mana biaya penerbitannya dibayar sepenuhnya oleh penulis novel hanya karena penulisnya orang kaya dan ingin terkenal (terutama buku-buku para politisi).

Hanya pembaca yang cerdas

Kualitas sebuah novel, hanya bisa diketahui oleh pembaca novel yang cerdas, terutama punya latar pendidikan fakultas sastra, atau punya penguasaan sastra yang baik atau seorang otodidak yang punya wawasan pikir yang sangat luas. Mereka tahu, mana novel yang berkualitas dan mana novel picisan.

Semoga bermanfaat

Sumber gambar: singgalangmasuksekolahh.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

SASTRA: Cara Menilai Novel Dengan Benar dan Objektif

NOVEL termasuk karya sastra dan sekaligus merupakan ilmu sosial. Ilmu sosial adalah ilmu yang kebenarannya sangat relatif. Bukan berarti ilmu sosial itu merupakan ilmu yang tidak mempunyai kebenaran dan kepastian, melainkan kebenarannya dan kepastiannya tergantung dari sudut pandang. Sudut pandang ada dua macam, yaitu sudut pandang subjektif dan sudut pandang objektif. Menilai sebuah novel tidak boleh dari sudut pandang subjektif, melainkan harus dari sudut pandang yang objektif. Tetapi, bagaimana caranya?

A.Syarat-syarat penilai novel

Ada beberapa syarat untuk menjadi penilai sebuah novel

1.Merupakan sebuah Tim Penilai terdiri dari lima hingga sepuluh orang

2.Semua anggota tim haruslah sarjana sastra

3.Semua anggota tim sudah membaca secara sempurna novel yang aka dinilainya

4.Tim telah merumuskan kriteria tentang sebuah novel yang akan dinilainya

5.Sedapat mungkin semua anggota tim belum mengenal secara pribadi penulis novel tersebut

6.Semua anggota tim harus memahami hakekat sastra dan hakekat sebuah novel

7.Tidak menggunakan metode survei, apalagi kalau respondennya orang-orang yang awam sastra atau novel

8.Penilaian tidak hanya pada faktor estetika sebuah novel tetapi lebih kepada faktor kualitas

9.Butir-butir pada kriteria penilaian haruslah yang relevan dan signifikan

10.Penilaian diakhiri dengan nilai rata-rata dari semua nilai dari semua anggota tim penilai

B.Contoh kriteria penilaian

Terdiri dari jawaban non-nilai dan jawaban nilai dengan interval antara 1 hingga 100 (juga ditentukan interval : Buruk,Cukup dan Baik).

1.Bagaimana judul novel sudah mengena?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

2.Bagaimana hubungan antara judul dan isi relevan?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

3.Bagaimana jalan ceritanya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

4.Bagaimana dialognya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

5.Bagaimana  pesan yang disampaikan?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

6.Bagaimana sesuatu yang baru?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

7.Bagaimana  kritik membangun?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

8.Bagaimana unsur pencerahan?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

9.Bagaimana sistimatika ceritanya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

10.Bagaimana nilai inspiratifnya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

11.Bagaimana kelebihannya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

12.Bagaimana kekurangannya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

13.Bagaimana penggambaran suasananya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

14.Bagaimana karakterisasi para pemeran?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

15.Bagaimana pemeran utama?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

16.Bagaimana peran pembantu?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

17.Bagaimana orisinalitas ceritanya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

18.Bagaimana klimak dan antiklimaknya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

19.Bagaimana ending ceritanya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

20.Bagaimana bahasanya?

Jawab:(1).Baik (2).Cukup (3).Buruk.  Nilai:………………..

Catatan.

1.Jawaban (1).baik (2)Cukup (3) Buruk bisa diganti atau disesuaikan dengan bentuk pertanyaan. Tiap pertanyaan harus dijelaskan apa maksudnya.

2.Dan masih bisa ditambah lagi hingga 50 atau 100 pertanyaan.

3.Harus diambil nilai rata-ratanya

4.Betapapun juga, penilaian terhadap novel relatif sifatnya.

5.Meskipun demikian,metode tersebut cukup benar dan objektif.

Semoga bermanfaat

Sumber gambar: bukubukubekas.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Novelis dan Cerpenis