CERPEN: Seuntai Leontin untuk Yovindha Pasaribu

“BELI buku?” saya tanya ke seorang mahasiswi. Saat itu saya sedang berada di bursa buku, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia.

” Ha ha ha…Ya,iyalah. masak mau beli bakso,” jawabnya. Agak tersinggung juga. Saya tanya serius kok jawabannya tertawa. Namun, karena saya tertarik kecantikannya, maka rasa ketersinggungan itu saya buang jauh-jauh.

“Mahasiswi baru, ya?” Saya tanya lagi. Dari judul buku yang dibelinya, saya tahu dia mahasiswi baru.

” Ya, iyalah. Lihat saja buku-buku yang saya beli,” sambil menunjukkan tiga buku yang dibelinya. Sayapun lihat satu persatu.

“Memangnya kamu mau apa?” dia ingin tahu.

“Ya, beli buku juga. Tapi untuk semester ketiga.”

“Oh, kakak kelas saya dong kalau begitu,” enak jawabannya.

Itulah perkenalan pertama saya dengan dia. Pertemuan yang tidak sengaja. Namanya Yovindha Pasaribu. Gadis Batak yang beragama Islam, berkulit putih dan rambut pendek model Lady Dianna. Ternyata enak juga diajak bicara. Selalu nyambung. Dan yang menyenangkan adalah, walaupun baru kenal, Yovindha tidak menolak saya ajak minum-minum di kantin. Obrolanpun lancar. Sepertinya sudah mengenal bertahun-tahun yang lalu.

Secepat itu pula saya tahu kalau Yovindha baru putus dengan pacarnya dan saat itu dia tidak punya pacar. Sayapun berkata jujur kalau saya juga baru putus dari pacar saya. Seperti cerita novel saja, kamipun saat itu saling jatuh cinta. Cepat sekali.

Hari-hari berikutnya saya sering mengantarkan berangkat kuliah dan pulang kuliah. Kami mengambil program ekstensi dan perkuliahan masuk sore hingga malam hari. Hanya pada matakuliah tertentu kami bisa kuliah dalam satu ruangan. Sedangkan matakuliah-matakuliah lainnya kami tidak pernah bertemu.

Sering saya ke rumahnya. Dia tergolong muslimah yang rajin mengikuti pengajian. Tak jarang kami berdiskusi tentang agama Islam. Nah, di sinilah seringkali ada perbedaan pendapat. Mungkin pengaruh dari guru agamanya. Pengaruh dari guru ngajinya. Semula saya selalu meng”iya”kan. Tetapi, lama-lama hati kecil saya tidak bisa demikian. Sayapun memberikan pencerahan-pencerahan tentang pemahaman agama Islam. maklum, saya saat itu juga merangkap kuliah di fakultas filsafat, juga belajar psikologi, juga memperdalam ilmu logika dan tentu saja saya punya banyak buku tentang agama Islam.

“Begini. Kita harus cerdas mendengarkan pendapat-pendapat dari guru agama kita. Jangan langsung kita terima mentah-mentah. Harus kita analisa benar tidaknya pendapatnya. Lagipula kita harus bisa membedakan, itu pendapat Al Quran, Nabi Muhammad SAW, hadis ataukah pendapat dia pribadi. Ataukah, dia menafsirkan ayat-ayat dan hadis-hadis secara keliru…” kata saya suatu ketika berada di taman kampus. Kami juga sering ngobrol-ngobrol di taman kampus saat sore hari sambil makan bakso.

“Wah, di situlah sulitnya. Cara guru ngaji saya memposisikan saya tidak boleh berbeda pendapat. Kalau saya berbeda pendapat, selalu disalahkan. Pokoknya, saya harus menganggap semua pendapatnya benar, lebih benar, paling benar dan selalu benar sampai kiamat…” keluhnya.

“Ha ha ha…! Itulah yang menyebabkan banyak umat Islam yang cara berpikirnya dogmatis-pasif. Enggan menerima pendapat-pendapat dari orang lain walaupun pendapat orang lain itu benar.” saya menjelaskan.

“Wah, berarti kreativitas berpikir saya terpasung, dong.”

” Ha ha ha…Konsekuensinya begitu. Seharusnya agama Islam terutama penganut agama Islam memiliki wawasan yang terbuka luas. mau menerima masukan-masukan dari pihak lain. Tidak bermain-main dalam wilayah ayat-ayat saja. Tetapi harus cerdas dalam wilayah berlogika. harus mampu bernalar.”

“Susahnya memang di situ. Lain ulama lain pendapat. Lain  hadis lain pendapat. Tiap ulama merasa pendapatnyalah yang paling benar. Untuk penetapan 1 Syawal dan 1 Ramadhan saja ratusan tahun tidak pernah ada titik temu. Semuanya merasa pendapatnya sendiri yang paling benar…” ujar Yovindha.

“Di situlah pentingnya kita belajar imu logika. Tidak cuma belajar Islam saja. Tidak cuma belajar ilmu hukum saja. Pokoknya kita tidak boleh berpikir dogmatis-pasif. Harus pragmatis-aktif. Tidak boleh memiliki rasa benci kepada suku lain, agama lain, ras atau bangsa lain serta antargolongan lain yang berbeda-beda…” seperti biasa, saya memberikan pencerahan.

Biasanya, kami pulang kuliah sekitar pukul 21:00 WIB. Cukup malam. Terpaksa, harus makan di kantin kampus atau di resto yang ada di dekat-dekat kampus. Terutama resto dekat Gedung Bank BRI, Rawamangun.  Malam itu saya antarkan Yovindha memakai mobil Honda Jazz putih menuju rumahnya di kawasan Menteng. Tepatnya di Jl. Pasuruan, jakarta Pusat. Rumahnya cukup besar dan mewah. Maklum, ayahnya seorang konglomerat. Punya beberapa pabrik, hotel, resto dan usaha-usaha lainnya. Sebenarnya sih, Yovindha juga punya mobil pribadi, namun sejak kenal saya, dia tak pernah memakainya lagi ke kampus.

Senang sekali punya pacar secantik Yovindha. Enak diajak bicara. Bicara apa saja selalu konek. Ternyata dia juga kuliah merangkap, yaitu di fakultas psikologi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Kebetulan, saya juga pecinta psikologi. Lebih menyenangkan sekali dialog-dialog kami berdua. Apalagi, kebetulan kami juga punya hobi yang sama. Yaitu, rekreasi, fotografi, musik dan kuliner. Wah, semakin asyik saja hubungan kami.

Tanpa terasa hubungan kami telah berjalan dua tahun. Lancar-lancar saja. Tak pernah ada masalah.  Di mana ada saya, di situ ada Yovindha. Gadis Batak yang cantik dan enak diajak bicara. Banyak teman-teman cowok saya di kampus yang iri. Katanya, saya bagaikan dapat bidadari. Ada lagi yang bilang katanya saya pandai merayu cewek cantik.

Namun, suatu hari, Yovindha berkata dengan wajah sendu.

“Harry. Kalau boleh, Yovin meminta maaf,” katanya ketika di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumahnya.

“Lho, memangnya ada apa?” saya ingin tahu. Sambil terus mengemudi mobil.

“Aduh, susah untuk mengatakannya.”

“Kenapa susah?”

“Harry mau janji? Tidak akan marah?”

“Katakanlah…”

Nah, dalam perjalanan pulang itu, Yovindha bercerita kalau pacar lamanya telah berbalik lagi. Bahkan mengajaknya menikah dan pindah ke Jerman karena mantan pacarnya bekerja di Jerman. Terkejutkah saya? Oh, tidak. Sejak SMP saya sudah berpengalaman pacaran. Sudah berpengalaman ditinggalkan cewek dan juga berpengalaman meninggalkan cewek.

“Kok, Harry diam…?”

“Oh…Anu, maaf, konsentrasi..Maklum jalan ini penerangan jalannya sangat kurang,” alasan saya.

“Terus, bagaimana jawabannya?”

“Sekarang?”

“Terserah. Sekarang boleh, besok boleh…”

“Hmm…Saya tidak keberatan. Mungkin kita bukan jodoh. Kembalilah, kalau itu dianggap sebagai jalan yang terbaik. Bagi saya tidak masalah…”

“Benar, nih?” Yovindha menunggu jawaban. Di depan rumahnya, mobil saya hentikan sebentar. Saya cium bibir Yovindha dengan hangat.
“Ini ciuman terakhir dari saya…” ucap saya. Yovindha menangis kecil.

Sebulan kemudian perpisahan itupun terjadi. Yovindha bulan depan akan menikah.

“Terimalah ini. Kenang-kenangan buat Yovindha,” kata saya di bursa buku, tempat pertama kali kami bertemu. Pelan Yovindha menerima kotak kecil yang masih tertutup. Pelan dibukanya.

“Wow! Leontin yang indah sekali…!” wajahnya bersinar cerah.

Ternyata, Yovindha juga mengambil sesuatu dari tas kecilnya. Berupa kotak kecil juga. Dalam hati saya bertanya, apa isinya? Pelan saya terima kotak kecil itu. Saya buka pelan-pelan.

“Wow! Arloji Swiss…” ganti saya yang merasa kagum.

Itulah hari terakhir kami bertemu. Di bursa buku pertama kali kami bertemu. Di bursa buku pula kami berpisah.

Sejak hari itu, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Yovindha.

Hariyanto Imadha

Cerpenis dan Novelis

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s