CERPEN : Namaku Bukan Imadha

FACEBOOK-CerpenNamakuBukanImadha

JAKARTA,Senin 11 Februari 1985.Baru saja peristiwa itu terjadi.Di kantorku,Pusat Pelayanan Manajemen PLN Pusat Jakarta.Hari itu mendadak saya emosi,saya membanting gelas.Geger!Lantas saya ditangkap satpam karena tangan saya sebelah kiri kebetulan sedang memagang pisau.Lantas kemudian saya dituduh mengancam akan membunuh salah seorang kepala dinas di situ.

Heran,padahal pisau kecil itu saya gunakan untuk memotong kertas akibat beberapa hari yang lalu beberapa “cutter” milik saya hilang entah ke mana.Saya membanting gelas karena kesal beberapa bulan kerja tapi tak ada “job descriptions” yang jelas.Lantas peristiwa kecil itu didramatisir.Saya akan di-PHK.Hari itu saya memang sedang apes.Terkena fitnah!

Agak sore saya pulang kantor,karena saya dibawa ke kantor satpam dan memberikan penjelasan panjang lebar tentang urut-urutan peristiwa kecil itu.Dari situlah saya tahu,ada seseorang menelpon satpam yang mengatakan dirinya akan saya bunuh.Fitnah memang selamanya lebih kejam daripada pembunuhan.

Hari sudah sore.Saya bersiap-siap untuk pulang.Ketika saya akan memasukkan “clock card” (kartu waktu) ke “time recorder” (mesin pencatat waktu) hati saya terasa tertusuk pisau dan tergores pecahan gelas.Kenapa? Karena di “clock card” itu namaku ditulis lengkap:”Hariyanto Imadha”.Sedih sekali rasanya.Tampaknya orang-orang sekantor belum mengerti asal-usul nama itu.Memang,antara kejadian hari itu tak ada hubungannya dengan nama saya.

BOJONEGORO,1 Januari 1970.Beberapa tahun yang lalu,saya aktif di PPSMA (Persatuan Pelajar SMA) atau OSIS SMA menurut istilah sekarang.Saya pada tahun 1970 masih duduk di kelas 1 SMA Negeri 1,Bojonegoro,Jawa Timur.

“Jangan lupa,nanti sore siaran!”,kata saya suatu saat sewaktu saya mengantarkan Rohandha pulang ke rumahnya di Jl.Diponegoro No.29A.Nama lengkapnya yaitu Yudha Rohandha,sahabat se SMA sekaligus sahabat seorganisasi.Juga,sama-sama penyiar radio amatir ARMADA-151 yang berlokasi di rumah saya di Jl.Netral No.151A (sekarang Jl.Ade Irma Suryani Nasution No.5A).

“Beres”,jawabnya sambil tersenyum.Tak lupa dia mencium pipiku seperti biasa.Seminggu kemudian,tepatnya tanggal 10 Januari 1970,saya merasa gelisah.Sudah sepuluh hari Yudha tidak masuk sekolah.Kabarnya dia sakit.Pembawaanku sejak kecil,jika dalam keadaan gelisah,pasti melampiaskan kegelisahan itu dengan cara membanting gelas!Rapat PPSMA yang waktu itu saya adakan pun bubar!Rapat saya tutup atau kutunda meninggu sampai Yudha sembuh.

Malam hari,pukul 23:00 giliran saya untuk siaran,mengisi acara “Parade Call & Song”,pesan dan lagu.

Kriiing…Telepon berdering.Diterima Erry Amanda yang pada waktu itu bertugas sebagai operator.

“Harry,ada telepon dari papanya Yudha”,kata Erry.Aneh saya pikir,selama ini papanya Yudha tidak pernah menelepon saya.Tapi,telepon saya terima juga.

Alangkah terkejutnya saya,setengah tak percaya,rasa sedih pun bangkit menggelegak.

“Kenapa Harry?”,Erry ingin tahu.Saya diam tak bisa menjawab.Gagang telepon saya taruh pelan.Saya diam.Mata saya berkaca.Air mata hampir jatuh.

“Erry,kau mau antarkan saya…? Ke rumah Yudha?”,tanya saya.Kemudian,pemancar radio saya matikan.

“Malam-malam begini? Memangnya ada apa?”,Erry penasaran.Dipandangi saya dengan penuh keheranan.

“Kamu tahu bukan selama ini Yudha mengidap penyakit leukemia?Lima menit yang lalu…Yudha telah pergi.Pergi untuk selama-lamanya..”,terbata-bata saya berkata.

Detak jantung berpacu.Sedih,perih,luka menganga.Saya terobos gelap malam.Pipi terasa dingin.Setetes air membasahi pipi.

Saya masih terlalu muda untuk menerima beban yang berat ini.Apalagi,hanya kepada Yudha lah pertama kali saya mengenal keakraban sejati.

Yudha Rohandha.Saya tak akan melupakan nama ini.Nama seorang gadis yang cantik,cerdas,suka berorganisasi,ramah,menyukai seni rupa seperti saya.

Hampir sebulan saya terbaring di rumah sakit.

————————————————————————————————————

SURABAYA 1971.Akhirnya,saya memutuskan untuk pindah sekolah ke Surabaya.Di kota ini saya melanjutkan di SMA Negeri 6,Jl.Pemuda.Di SMA ini saya tetap aktif di organisasi SMA seperti sebelumnya.Kali ini saya mengelola buletin ELKA atau LK (Lingkaran Kreasi).Saya aktif membuatvignet,cerpen,kritik sosial,menggambar,artikel-artikel ilmiah pop,dll.

Kesibukan-kesibukan di SMAN 6 menyebabkan saya sedikit demi sedikit bisa melupakan almarhumah Yudha Rohandha.

Suatu pagi cerah,langit biru muda,rombongan SMAN 6 mengadakan “study tour” ke Pulau Bali.Tak saya sangka,di Pantai Kuta saya saya berkenalan dengan gadis cantik siswi SMAN 5 Jl.Wijaya Kusuma Surabaya.

“Namaku Ika…”,jawabnya ketika saya menanyakan namanya.

“Lengkapnya?”,saya ingin tahu.

“Ika Asokawati Putri Pertiwi”,jawabnya sambil tersenyum.Saya lihat bulu matanya lentik indah.Kenangan indah itu terjadi tanggal 4 Juli 1971 hari Minggu.

Tahun 1973 saya ke Bali lagi.Cuma bedanya,kali ini saya sudah berstatus mahasiswa dari Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti,Jakarta angkatan 08.Ika yang waktu itu menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga turut bergabung dengan saya ke Bali.

Memang,saya tak pernah menyangka bahwa hubungan saya dengan Ika telah berlangsung selama tiga tahun (1971-1973) telah menumbuhkan benih-benih kasih cinta yang ceria.

Kemudian di pantai Kuta kami bergamit tangan sepanjanga pantai yang indah itu.Persis seperti kami bertemu tiga tahun yang lalu.

Kelelahan menyusuri pantai menyebabkan saya merebahkan diri di bawah pohon,sementara itu Ika bermain air menantang ombak.

Tiba-tiba saya dikejutkan suara Ika berteriak meminta tolong.Saya gugup.Saya pun berteriak meminta tolong ke orang-orang yang ada di sekitar pantai itu.Puluhan orang segera mencebur ke laut,tetapi kemudian kembali lagi.Tak berani meneruskan lebih jauh .Laut terlalu ganas.Lantas laut sepi.Pantai ribut.Saya panik.Bahkan tim SAR dari Universitas Udayana tak berhasil menemukan Ika.

Hari kedua saya baru menerima kabar bahwa Ika diketemukan di Pantai Kuta jauh ke Selatan.Ika telah tiada.Saya menggigit bibir.Saya berteriak histeris.Enam gelas saya banting.Pecah.Hati saya pun pecah.Saya masih ingat,hari itu hari Minggu,13 Juli 1973.Tidak mungkin saya akan melupakan tanggal tersebut.

————————————————————————————————————

YOGYAKARTA 1973-1975.Untuk melupakan kepergian Ika,maka saya sering mondar-mandir Jakarta-Yogyakarta.Di Yogya ini saya punya teman baik,seorang pemuda berbakat seni,namanya Erry Amanda.Kepadanyalah saya sering berdiskusi tentang hidup,penghidupan dan kehidupan.Kepadanyalah saya sering saya sering mengemukakan masalaha-masalah pribadi.

“Kamu tak usah putus asa.Lupakan saja Yudha dan Ika.Mereka tak mungkin kembali.Memang pahit,tetapi itu kenyataan.”,Erry menasehati sambil tangannya coret-coret di kanvas.Dia sedang mencoba melukis dengan aliran kubisme.

Saya hanya bisa diam.

“Saya juga pernah mengalami peristiwa serupa.Nungkie dan Rensalitawati juga tiada.Kita ini punya nasib sama.Cuma bedanya,saya mencoba melupakannya peristiwa itu dengan cara menumpahkan kepedihan ke atas kanvas.Kamu?”,tanyanya.

“Saya mengadakan sublimasi dalam bentuk cerita pendek,kartun,vignet,puisi,dan lain-lain”,jawab saya sambil meminum teh celup Sariwangi.

Sore harinya saya pamit pulang.Erry mengantarkan saya sampai di setasiun kereta api.Ternyata saya hampir terlambat,kereta telah merangkak berangkat.Saya bergegas.Setengah berlari saya mengejar kereta.Tanpa sengaja seorang gadis yang mengantarkan temannya naik kereta tersenggol.Dia hampir terjatuh.Entah kenapa,bukan saya yang meminta maaf,tetapi malahan tanya alamat rumah saya.

“Kamu tinggal di mana”,justru saya balik bertanya.Lantas gadis itu menyebutkan alamatnya dengan lengkap.Alamatnya mudah dihafal.Entah kenapa,gadis itupun menyebutkan namanya.

“Saya Erna.Mas siapa…?”,pertanyaannya tak sempat saya balas.Saya sudah berada di atas kereta yang terus melaju semakin cepat.

“Saya akan berkirim surat untukmu…!”,saya setengah berteriak.Saya lambaikan tangan kearahnya.Dia membalasnya.

Aneh.Perkenalan saya dengan Erna memang aneh.Perkenalan yang tidak sengaja.Tapi,begitulah kenyataannya.

Sesampai di Jakarta sayapun memenuhi janji.Saya kirimkan surat untuk Erna di Yogya.Isinya biasa-biasa saja.Dari balasan suratnya saya baru tahu kalau Erna merupakan primadona di Fakultas Psikologi UGM.Katanya,di kampus dia sering dipanggil Maya.Ternya Erna punya nama yang cukup panjang,yaitu Umariyah Fransiska Erna Purnamasari.Namanya unik.Maklum,dia memeluk dua agama sekaligus,Islam dan Kristen.Setiap hari shalat lima waktu,sedangkan kalau Minggu ke gereja.Dulu,sewaktu masih sekolah di SMA,dia sering dipanggil Erna Stella.Soalnya,dulu Erna merupakan gadis paling cantik di asrama putri Stella Duce.

“Kenapa Mas Harry mencintai Erna? Saya orang miskin,tidak punya apa-apa”,tanya Erna atau Maya pada suatu hari saya menjemputnya di Kampus Bulaksumur.

“Cinta tak pernah membedakan kaya atau miskin.Kalau saya dari keluarga mampu,itu kebetulan saja”,saya meyakinkan.

Sayang,keindahan demi keindahan yang kureguk bersama Maya hanya berlangsung beberapa saat saja.Mendung gelap segera menyelimuti kota Yogya dan hati saya.Sore itu Nia,salah seorang sahabat Maya yang jadi pramugari Garuda datang ke Hotel Maerakaca tempat saya menginap.Dia membawa kabar buruk.Katanya,Maya mengalami kecelakaan berat.Meninggal langsung di Jl.Malioboro di depan restoran Hellen.Hari itu Selasa 11 Maret 1975.

Dengan demikian,saya telah mengalami tiga kali tragedi menyedihkan,yaitu meninggalnya Ika,Maya dan Yudha.Tiga nama itu : (I)ka,(Ma)ya dan Yu(dha) dan saya singkat menjadi Imadha.Nama ini sering saya pakai setiap saya membuat cerpen,dll.Akhirnya saya gabung dengan nama asli saya menjadi: Hariyanto Imadha.

Iklan

CERPEN: Ksatria Gemblung dari Desa Cikampret

PAK Kades sebenarnya punya nama asli, yaitu Pak Keboyono. Dia terpilih sebagai kades  pertamakali karena ada kongkalikong dengan salah seorang oknum panitia pemilihan. Caranya yaitu, memanipulasi data perolehan suara. Dan sebagai imbalannya, oknum panitia pemilihan tersebut diangkat sebagai sekdes atau sekretaris desa.

“Pak Keboyono itu borosnya bukan main. Masak untuk proyek pembangunan desa, sudah dapat bantuan dari pemerintah, masih juga berhutang ke bank. Kekayaan desa dijadikan jaminan. Celakanya warga desa Cikampret yang harus membayar utang-utang itu beserta bunganya…,” begitu gerutu salah seorang warga Desa Cikampret bernama Pak Singodimejo.

“Betul. Lagipula warga juga curiga. Jangan-jangan sebagian uang pinjaman dari bank itu dikorupsi. Soalnya. hidup Pak Keboyono mewah sekali. Uang kas desa juga dibelikan mobil mewah. Masak sih, mobil kades harganya milyaran rupiah? Sementara kehidupan warga desa masih banyak yang miskin,” sahut Mbok Marginem.

Begitulah selentingan omongan warga yang sedang makan di warung Mbok Tulkiyem. Kebetulan saat itu saya juga sedang makan siang di warung itu. Saya termasuk warga baru di desa tersebut. Pindahan dari Desa Sumbang, Kecamatan Mbegudul, Jawa Tengah. Saya agak kagum melihat pembangunan didesa itu. Banyak berdiri rumah-rumah mewah, tetapi kabarnya kebanyakan milik orang kota. Pegawai-pegawai kantor Pak Kades juga hidupnya mewah. Semua pegawainya punya mobil.

“Iya, sih. Hidupnya mewah. Tetapi warga dibebani utang bank yang sangat besar. Mungkin sampai tujuh turunan juga tidak akan lunas,” kata Bu Mintuk kepada saya yang saat itu juga sedang makan siang di warung Mbok Tulkiyem. Saya hanya bisa manggut-manggut prihatin.

“Kabarnya banyak tanah desa yang dijual ke orang-orang kota, ya Bu,” tanya saya ke Bu Mintuk.

“Oh, iya,Pak Harry. Tanah-tanah desa dijual itu saat Pak Keboyono mau menghadapi pemilihan kades yang kedua. Uangnya dibagi-bagikan ke rakyat sebagai money politic. Juga, kabarnya dia juga menyuap oknum panitia pemilihan untuk memanipulasi data perolehan suara. Hasilnya, dia menang lagi. Dan sebagai imbalannya oknum tersebut diangkat sebagai bendahara desa…” jawab Bu Mintuk. Lagi-lagi saya hanya bisa manggut-manggut.

“Tapi, kenapa Pak Keboyono diolok-olok sebagai Ksatria Gemblung?” saya ingin tahu.

“Ha ha ha…! Ceritanya, Pak Keboyono dapat penghargaan dari Pak Gubernur karena dianggap telah berhasil memajukan desanya. Gelar aslinya sih Ksatria Padesan. Karena banyak warga di sini tidak suka, maka warga di sini menjulukinya sebagai Ksatria Gemblung. Karena perut pak kades gendut seperti orang terkena penyakit kembung. Ha ha ha…” cerita Bu Mintuk.

“Ha ha ha…!” sayapun ikut tertawa terpingkal-pingkal.

“Warga curiga, jangan-jangan Ksatria Gemblung ini korupsi besar-besaran, tetapi warga mengalami kesulitan untuk membuktikannya. Soalnya kalau ada warga yang bernada menuduh, pasti akan dipukul babinsa, aparatnya Pak Kades. Bahkan Pak Kades juga didukung preman-preman bayaran. Jadi, warga berada di pihak yang tidak bisa berbuat banyak…” Bu Mintuk menjelaskan.

“Wah, korupsi ada di mana-mana, ya? Bukan hanya di jakarta, tetapi sudah melanda Desa Cikampret.”

“Betul! Ada sih warga yang membentuk komunitas anti korupsi. Tetapi tidak bisa berbuat banyak karena terus dapat intimidasi dari preman-preman bayaran itu. Atau ada oknum komunitas anti korupsi yang disuap. Warga dalam posisi yang lemah…”. Tak henti-hentinya Bu Mintuk bercerita tentang kebusukan-kebusukan Pak Keboyono alias Ksatria Gemblung.

Walaupun saya tinggal di Desa Cikampret, namun dari masukan-masukan warga desa, saya tahu watak-watak Pak Keboyono. Antara lain pesolek seperti hombreng. Suka curhat kemana-mana. Tidak tegas alias peragu. Bahkan penakut. Kabarnya, pernah mau berkunjung ke desa sebelah, Desa Cikesah, karena akan didemo, akhirnya Pak Keboyono membatalkan rencananya berkunjung.

Pak Keboyono termasuk kades yang sangat boros. Suka melakukan perjalanan ke berbagai kota, terutama kota-kota besar. Alasannya macam-macam. Menghadiri rapat inilah rapat itulah. Bahkan senang sekali mengumpulkan penghargaan dan pujian-pujian dari para bupati dari berbagai kota yang dikunjungi.

Di samping boros, praktek-praktek korupsi di kantor desa juga bukan main. Uang apa saja yang dibayarkan warga, pasti dikorupsi. Besarnya korupsi sekitar 30%, begitu hasil audit dari pihak kabupaten. Namun sayangnya tidak ada tindakan lebih lanjut. Rupa-rupanya korupsi memang sudah berjamaah. Jangan-jangan yang mengaudit juga sudah disuap.

“Semua proyek ditangani antek-anteknya Pak Keboyono…” sambung Bu Mintuk. Lagi-lagi saya cuma bisa manggut-manggut. Berbeda sekali dengan desa saya sebelumnya, bersih, jujur, aman dan tidak ada korupsi. Toh desa saya sebelumnya juga bisa maju pesat.

Memberantas korupsi memang sulit. Apalagi kalau sudah berjamaah. Apalagi melibatkan oknum aparat penegak hukum, melibatkan oknum tentara, melibatkan orang-orang politik. Hampir tidak mungkin memberantasnya. Semuanya sudah gila harta. Ingin hidup mewah. Agama hanya merupakan simbol saja. Ibadahnya hanya basa-basi saja, hanya untuk memberi kesan mereka itu orang suci. Padhal moralnya sudah bejat. Semua warga Desa Cikampret tahu semua itu, tetapi tetap tidak berdaya.

“Lantas, bagaimana mengatasi masalah ini?” tanya saya.

“Ya, kita hanya berharap bahwa pemilihan kades mendatang akan menghasilkan kades yang bersih, jujur dan tegas. Untuk itu warga harus mengamati dengan cerdas siapa saja yang akan duduk di panitia pemilihan. Juga harus cerdas melihat kualitas para calon kades. Maklum, kades dipilih langsung oleh warga”. Cukup panjang Bu Mintuk menjelaskan.

“Ya, semoga warga akan mendapatkan calon kades yang amanah, fatonah, shidiq dan tabliq…Jangan sampai dapat kades seperti Ksatria Gemblung lagi…,” ujar saya. Sesudah membayar makanan, sayapun meninggalkan warung Bu Tulkiyem. Segera menuju ke motor dan mengendarainya berputar-putar ke pelosok desa. Melihat kehidupan nyata warga desa yang kebanyakan masih hidup miskin, sementara pak kades dan para aparatnya hidup bermewah-mewah.

Di zaman edan ini memang sulit mencari pemimpin yang jujur, bersih, cerdas, berwibawa, nisa dipercaya dan merakyat. Zaman yang penuh kepalsuan, penuh penipuan, penuh kecurangan, penuh kedholiman. Orang menjadikan agama hanya sebagai aksesori kehidupan. Ibadahnya hanya basa-basi saja. Di mana ada kesempatan korupsi, maka korupsilah mereka. Mereka lebih mengikuti bisikan-bisikan setan daripada bisikan-bisikan malaikat.

Di negeri ini cukup banyak pemimpin-pemimpin yang layak mendapat predikat sebagai “Ksatria Gemblung”. Gemblung bisa berarti tidak waras atau gila atau sinting. Kelihatannya waras, tetapi jiwanya sudah sakit parah. Moralnya bejat. Mereka tidak takut lagi hukuman yang akan dijatuhkan Tuhan. Mereka tak percaya dan tidak peduli neraka. Yang penting korupsi, hidup mewah, bersenang-senang, urusan belakangan. Kalau diadili, mereka kan menyuap atau mengintimidasi para penegak hukum. Andaikata dipenjara, mereka bisa membeli remisi. Bisa keluar masuk penjara kapan saja asal membayar. Zaman edan memang masih berlangsung lama.

“Dasar gemblung…,” gerutu saya sambil mengendarai motor menuju ke kota karena ada urusan bisnis dengan rekan bisnis saya. Bisnis modif motor.

—ooOoo—