CERPEN: Ksatria Gemblung dari Desa Cikampret

PAK Kades sebenarnya punya nama asli, yaitu Pak Keboyono. Dia terpilih sebagai kades  pertamakali karena ada kongkalikong dengan salah seorang oknum panitia pemilihan. Caranya yaitu, memanipulasi data perolehan suara. Dan sebagai imbalannya, oknum panitia pemilihan tersebut diangkat sebagai sekdes atau sekretaris desa.

“Pak Keboyono itu borosnya bukan main. Masak untuk proyek pembangunan desa, sudah dapat bantuan dari pemerintah, masih juga berhutang ke bank. Kekayaan desa dijadikan jaminan. Celakanya warga desa Cikampret yang harus membayar utang-utang itu beserta bunganya…,” begitu gerutu salah seorang warga Desa Cikampret bernama Pak Singodimejo.

“Betul. Lagipula warga juga curiga. Jangan-jangan sebagian uang pinjaman dari bank itu dikorupsi. Soalnya. hidup Pak Keboyono mewah sekali. Uang kas desa juga dibelikan mobil mewah. Masak sih, mobil kades harganya milyaran rupiah? Sementara kehidupan warga desa masih banyak yang miskin,” sahut Mbok Marginem.

Begitulah selentingan omongan warga yang sedang makan di warung Mbok Tulkiyem. Kebetulan saat itu saya juga sedang makan siang di warung itu. Saya termasuk warga baru di desa tersebut. Pindahan dari Desa Sumbang, Kecamatan Mbegudul, Jawa Tengah. Saya agak kagum melihat pembangunan didesa itu. Banyak berdiri rumah-rumah mewah, tetapi kabarnya kebanyakan milik orang kota. Pegawai-pegawai kantor Pak Kades juga hidupnya mewah. Semua pegawainya punya mobil.

“Iya, sih. Hidupnya mewah. Tetapi warga dibebani utang bank yang sangat besar. Mungkin sampai tujuh turunan juga tidak akan lunas,” kata Bu Mintuk kepada saya yang saat itu juga sedang makan siang di warung Mbok Tulkiyem. Saya hanya bisa manggut-manggut prihatin.

“Kabarnya banyak tanah desa yang dijual ke orang-orang kota, ya Bu,” tanya saya ke Bu Mintuk.

“Oh, iya,Pak Harry. Tanah-tanah desa dijual itu saat Pak Keboyono mau menghadapi pemilihan kades yang kedua. Uangnya dibagi-bagikan ke rakyat sebagai money politic. Juga, kabarnya dia juga menyuap oknum panitia pemilihan untuk memanipulasi data perolehan suara. Hasilnya, dia menang lagi. Dan sebagai imbalannya oknum tersebut diangkat sebagai bendahara desa…” jawab Bu Mintuk. Lagi-lagi saya hanya bisa manggut-manggut.

“Tapi, kenapa Pak Keboyono diolok-olok sebagai Ksatria Gemblung?” saya ingin tahu.

“Ha ha ha…! Ceritanya, Pak Keboyono dapat penghargaan dari Pak Gubernur karena dianggap telah berhasil memajukan desanya. Gelar aslinya sih Ksatria Padesan. Karena banyak warga di sini tidak suka, maka warga di sini menjulukinya sebagai Ksatria Gemblung. Karena perut pak kades gendut seperti orang terkena penyakit kembung. Ha ha ha…” cerita Bu Mintuk.

“Ha ha ha…!” sayapun ikut tertawa terpingkal-pingkal.

“Warga curiga, jangan-jangan Ksatria Gemblung ini korupsi besar-besaran, tetapi warga mengalami kesulitan untuk membuktikannya. Soalnya kalau ada warga yang bernada menuduh, pasti akan dipukul babinsa, aparatnya Pak Kades. Bahkan Pak Kades juga didukung preman-preman bayaran. Jadi, warga berada di pihak yang tidak bisa berbuat banyak…” Bu Mintuk menjelaskan.

“Wah, korupsi ada di mana-mana, ya? Bukan hanya di jakarta, tetapi sudah melanda Desa Cikampret.”

“Betul! Ada sih warga yang membentuk komunitas anti korupsi. Tetapi tidak bisa berbuat banyak karena terus dapat intimidasi dari preman-preman bayaran itu. Atau ada oknum komunitas anti korupsi yang disuap. Warga dalam posisi yang lemah…”. Tak henti-hentinya Bu Mintuk bercerita tentang kebusukan-kebusukan Pak Keboyono alias Ksatria Gemblung.

Walaupun saya tinggal di Desa Cikampret, namun dari masukan-masukan warga desa, saya tahu watak-watak Pak Keboyono. Antara lain pesolek seperti hombreng. Suka curhat kemana-mana. Tidak tegas alias peragu. Bahkan penakut. Kabarnya, pernah mau berkunjung ke desa sebelah, Desa Cikesah, karena akan didemo, akhirnya Pak Keboyono membatalkan rencananya berkunjung.

Pak Keboyono termasuk kades yang sangat boros. Suka melakukan perjalanan ke berbagai kota, terutama kota-kota besar. Alasannya macam-macam. Menghadiri rapat inilah rapat itulah. Bahkan senang sekali mengumpulkan penghargaan dan pujian-pujian dari para bupati dari berbagai kota yang dikunjungi.

Di samping boros, praktek-praktek korupsi di kantor desa juga bukan main. Uang apa saja yang dibayarkan warga, pasti dikorupsi. Besarnya korupsi sekitar 30%, begitu hasil audit dari pihak kabupaten. Namun sayangnya tidak ada tindakan lebih lanjut. Rupa-rupanya korupsi memang sudah berjamaah. Jangan-jangan yang mengaudit juga sudah disuap.

“Semua proyek ditangani antek-anteknya Pak Keboyono…” sambung Bu Mintuk. Lagi-lagi saya cuma bisa manggut-manggut. Berbeda sekali dengan desa saya sebelumnya, bersih, jujur, aman dan tidak ada korupsi. Toh desa saya sebelumnya juga bisa maju pesat.

Memberantas korupsi memang sulit. Apalagi kalau sudah berjamaah. Apalagi melibatkan oknum aparat penegak hukum, melibatkan oknum tentara, melibatkan orang-orang politik. Hampir tidak mungkin memberantasnya. Semuanya sudah gila harta. Ingin hidup mewah. Agama hanya merupakan simbol saja. Ibadahnya hanya basa-basi saja, hanya untuk memberi kesan mereka itu orang suci. Padhal moralnya sudah bejat. Semua warga Desa Cikampret tahu semua itu, tetapi tetap tidak berdaya.

“Lantas, bagaimana mengatasi masalah ini?” tanya saya.

“Ya, kita hanya berharap bahwa pemilihan kades mendatang akan menghasilkan kades yang bersih, jujur dan tegas. Untuk itu warga harus mengamati dengan cerdas siapa saja yang akan duduk di panitia pemilihan. Juga harus cerdas melihat kualitas para calon kades. Maklum, kades dipilih langsung oleh warga”. Cukup panjang Bu Mintuk menjelaskan.

“Ya, semoga warga akan mendapatkan calon kades yang amanah, fatonah, shidiq dan tabliq…Jangan sampai dapat kades seperti Ksatria Gemblung lagi…,” ujar saya. Sesudah membayar makanan, sayapun meninggalkan warung Bu Tulkiyem. Segera menuju ke motor dan mengendarainya berputar-putar ke pelosok desa. Melihat kehidupan nyata warga desa yang kebanyakan masih hidup miskin, sementara pak kades dan para aparatnya hidup bermewah-mewah.

Di zaman edan ini memang sulit mencari pemimpin yang jujur, bersih, cerdas, berwibawa, nisa dipercaya dan merakyat. Zaman yang penuh kepalsuan, penuh penipuan, penuh kecurangan, penuh kedholiman. Orang menjadikan agama hanya sebagai aksesori kehidupan. Ibadahnya hanya basa-basi saja. Di mana ada kesempatan korupsi, maka korupsilah mereka. Mereka lebih mengikuti bisikan-bisikan setan daripada bisikan-bisikan malaikat.

Di negeri ini cukup banyak pemimpin-pemimpin yang layak mendapat predikat sebagai “Ksatria Gemblung”. Gemblung bisa berarti tidak waras atau gila atau sinting. Kelihatannya waras, tetapi jiwanya sudah sakit parah. Moralnya bejat. Mereka tidak takut lagi hukuman yang akan dijatuhkan Tuhan. Mereka tak percaya dan tidak peduli neraka. Yang penting korupsi, hidup mewah, bersenang-senang, urusan belakangan. Kalau diadili, mereka kan menyuap atau mengintimidasi para penegak hukum. Andaikata dipenjara, mereka bisa membeli remisi. Bisa keluar masuk penjara kapan saja asal membayar. Zaman edan memang masih berlangsung lama.

“Dasar gemblung…,” gerutu saya sambil mengendarai motor menuju ke kota karena ada urusan bisnis dengan rekan bisnis saya. Bisnis modif motor.

—ooOoo—

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: