CERPEN: Di Antara Daun-daun Kering

FACEBOOK-CerpenDiAntaraDaunDaunKering

SAYA dan istri bersimpuh di depan sebuah makam. Daun-daun kering berserakan di sekeliling makam. Sudah tiga hari petugas kebersihan makam tidak masuk kerja karena sakit. Saya bersihkan sendiri batu nisan yang kotor itu. Saya pandangi namanya “Yunita”. Dia meninggal pada usia  15 tahun. Usia yang masih muda. Itu terjadi lebih dari 35 tahun yang lalu.

Ya, lebih dari 35 tahun yang lalu saya duduk di bangku SMAN kelas 1 dan Yunita kelas 3 SMPN di Palembang. Singkat cerita, semuda itu saya sudah berpacaran. Masa remaja memang masa yang sangat menyenangkan. Tak jarang pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah, melainkan jalan-jalan dulu dari toko ke toko. Atau sekadar makan bakso dan minum es kelapa muda. Sore baru pulang.

“O, ya. Jangan lupa Minggu nanti Cherry ulang tahun” Yunita mengingatkan saya. Ceri adalah teman sekelasnya.

“O,ya. Kita pasti datang. Kado apa ya yang cocok untuk dia?”. Ujar saya sambil minum es kelapa muda. Saat itu Yunita tengah menghabiskan baksonya.

“Kalau menurut saya sih, Cherry suka boneka-boneka yang lucu begitu”

“Ah, sudah besar kok suka boneka?”

“Dia kan punya hobi koleksi boneka-boneka lucu”

“O” Saya baru mengerti kalau Cherry punya hobi seperti itu. Sehabis makan bakso, saya dan Yunita segera ke salah satu toko untuk mencari boneka yang lucu. Sesudah pilih-pilih akhirnya kami memilih boneka yang diberi nama pussycat. Boneka kucing yang mengenakan pita berwarna merah jambu. Lucu dan menggemaskan. Hampir seperti kucing asli.

Dan memang Minggunya saya dan Yunita hadir di pesta ulang tahun Cherry. Hampir semua teman Cherry di SMPN hadir. Bahkan beberapa guru juga hadir, antara lain Pak Partono, Pak Mulyoso, Bu Niniek, Bu Wahyu dan lain-lain.

“Hallo Cherry. Selamat hari ulang tahun” Ucap Yunita sambil mencium pipi Cherry. Kemudian menyerahkan bungkusan berisi boneka pussycat. Setelah saya memberi ucapan selamat, saya dan Yunita segera mengambil makanan yang sudah dipersiapkan.

Kebetulan, selama makan, Yunita lebih banyak ngobrol dengan guru-guru. Sedangkan saya lebih banyak ditemani Cherry. Entah kenapa, sikap Cherry begitu ramah terhadap saya. Mungkin dia tahu kalau yang membelikan kado pussycat itu saya, sehingga Cherry menghargai kehadiran saya? Yang pasti saya tidak mau gede rasa. Walaupun dalam hati saya mengakui Cherry lebih cantik daripada Yunita.

Ternyata Yunita cemburu juga. Sepulang dari acara ulang tahun Yunita marah-marah.

“Kenapa sih, berduaan terus sama Cherry?” Begitu dia mulai marah.

“Wah, dia kan yang punya rumah. Wajar dong kalau saya dihargai. Apalagi saya satu-satunya yang bukan dari SMPN. Saya satu-satunya teman baru Cherry. Dia Cuma tanya tentang pelajaran di SMAN. Sulit atau tidak. Dia juga tanya, enaknya masuk IPA atau IPS. Cherry meminta pertimbangan,kok” Penjelasan saya cukup panjang lebar. Memang, Cherry menanyakan semua itu. Tampaknya Yunita mengerti. Meskipun demikian wajahnya tetap mendung.

Nah, seminggu kemudian, ganti ketika saya ulang tahun, sayapun mengundang teman-teman SMA saya. Hanya dua anak SMPN yang saya undang, yaitu Yunita dan Cherry. Rumah saya cukup ramai. Dihadiri sekitar 50 teman-teman akrab.

Tampak Cherry yang berpakaian kontemporer itu menjadi primadona pesta. Banyak teman-teman pria saya se SMAN yang menanyakan nama Cherry. Bahkan minta tolong dikenalkan. Ya, semua saya jawab apa adanya. Bahkan dua tiga teman saya perkenalkan dengan Chelsea.

Yang membuat masalah adalah, ketika saya memotong kue tart. Di luar kesadaran saya, potongan pertama saya berikan ke Cherry. Kontan teman-teman SMAN bersorak riuh dan bertepuk tangan meriah. Mereka Cherry adalah pacar saya.

Nah di situlah tragedinya. Yunita tak tahan menahan emosi, kue tart yang sudah saya serahkan ke Cherry direbutnya. Cherry mempertahankan kue itu. Perkelahian tak terhindarkan. Jambak menjambak rambutpun terjadi.

“Kamu mau merebut cowok saya ya?” Bentak Yunita.

“Bukan salah saya dong kalau saya diberi kue tart yang pertama” Bantah Cherry. Pertengkaran dan perkelahian itu hanya berlangsung singkat. Teman-teman dan dua guru saya yang hadir ikut melerainya. Sayang, Yunita langsung keluar ruangan dan langsung pulang naik sepeda motor. Kebetulan kami berangkat memakai sepeda motor masing-masing.

Ketika saya akan mengejar Yunita, tangan saya dipegang Cherry.

“Hargai dong kedatangan saya”. Anehnya, saya menurut saja. Sejak hari itu Cherry sering datang ke rumah saya. Ceritanya, Cherry sering bertengkar dengan Yunita di sekolah. Di pihak lain, tiap kali saya menjemput Yunita, Yunita selalu menghindar. Bahkan tiap kali saya datang ke rumah Yunita, dia tak mau menemui saya. Akhirnya, Cherry benar-benar menjadi pacar saya.

Tiga bulan kemudian, saya dikejutkan berita yang di luar dugaan. Yunita bunuh diri dengan cara meminum obat serangga. Dia meninggalkan surat untuk saya dan Cherry. Isinya singkat. Cuma ucapan semoga saya dan Cherry berbahagia.

Itu sudah terjadi lebih dari tigapuluh tahun yang lalu. Saya hanya bersimpuh di depan makam Yunita. Selesai berziarah, saya dan istri saya, yang tak lain adalah Cherry, segera meninggalkan makam Yunita. Kami hanya berdoa semoga arwah Yunita bisa diterima di hadirat Allah swt.

Saya dan Cherry menuju ke mobil diiringi jatuhnya beberapa daun kering.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973

%d blogger menyukai ini: